[TIPS] TSUNDOKU VS KONMARI: MEMBUDAYAKAN BERBELANJA SECARA BERKESADARAN
By: Date: November 19, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Aristogama

Pernahkah kamu membeli kitab kemudian akhirnya buku itu nir dibaca dan menumpuk di sudut ruangan atau rak? Apabila pernah, kamu nir sendiri. Saya juga galat satu menurut orang yg melakukan tsundoku. Menurut Wikipedia, tsundoku (Bahasa Jepang: ???) merupakan memperoleh bahan bacaan namun membiarkannya menumpuk pada tempat tinggal tanpa membacanya.

Tsundoku

Ada beberapa alasan kenapa aku memiliki kebiasaan ini. Sewaktu mini saya adalah anak yang penyendiri. Saya lebih senang pada tempat tinggal berdasarkan pada bermain pada luar lantaran anak-anak lain bisa kejam. Mereka kerap mengolok-olok saya sehingga saya malas bergaul dengan mereka. Saya menemukan kenyamanan & kedamaian menggunakan membaca kitab . Buku merupakan sahabat terbaik saya yang mengerti diri aku & nir mengejek aku . Jadi, saya selalu mengasosiasikan buku menggunakan ketenangan, kenyamanan, loka yang kondusif, & hal-hal positif lain.

Alasan lain merupakan, walaupun aku senang buku dan senang membaca, dalam saat saya sekolah dan kuliah, saya tidak punya poly uang buat membeli kitab sebagai akibatnya aku kerap meminjam atau bertukar kitab dengan teman-sahabat pada sekolah atau kampus. Setiap kali saya pergi ke toko buku, saya hanya bisa memandangi buku-buku yang berjajar pada rak dan berandai-andai saya punya relatif uang buat membelinya. Wajar saat aku punya penghasilan sendiri, sebagian akbar saya habiskan buat membeli buku.

Sebenarnya tidak ada yang galat menggunakan norma ini sendiri. Masalah muncul ketika terdapat keterbatasan ruang penyimpanan atau dana. Saya pun mengalami perkara-perkara itu. Dahulu saya tinggal di Bogor. Di rumah orang tua aku , kamar aku relatif luas & aku bisa menyimpan cukup banyak buku di sana. Tetapi, kamar saya tidak dipasangi AC dan cuaca di Bogor sangat lembab sebagai akibatnya kertas buku-buku aku terkadang menguning. Debu jua dengan cepat menebal jika tidak sering dibersihkan.

Saya juga bermasalah menggunakan pengaturan keuangan yang berkenaan dengan kitab . Sering aku membeli buku secara impulsif. Tentu saja aku punya alasan tetapi alasan tersebut kerap kali adalah rasionalisasi yang dibentuk-untuk. Misalnya, tidak apa membeli buku ini, lantaran buku merupakan investasi, kitab merupakan jendela global, buku bermanfaat lantaran poly liputan bermanfaat di dalamnya & engkau bisa belajar poly darinya. Terkadang saya pula berkata kepada diri sendiri, kapan lagi bisa menemukan kitab ini, beli saja, lebih baik menyesal membeli daripada menyesal nir membeli. Singkat cerita uang saya selalu habis buat membeli kitab .

Para pembeli buku: Sudahkah mereka membeli sesuai kebutuhan?

Tsundoku tentunya nir akan menjadi perkara apabila engkau punya ruang dan dana yang tidak terbatas. Berhubung saya adalah, memakai kata zaman now, sobat miskin, saya memiliki keterbatasan asal daya. Lalu bagaimana cara aku mengatasi kasus-masalah tadi?

Beberapa tahun yang lalu, sebelum Marie Kondo menjadi terkenal seperti sekarang, teman saya meminjami saya buku The Life Changing Magic of Tidying Up. Buku itu membuat saya memikirkan kembali tentang hubungan saya dengan barang, terutama buku. Marie Kondo, penulis buku itu, mengajukan metode KonMari untuk berbenah. Di dalam metode ini, untuk setiap barang yang kita miliki, kita harus memegangnya dan bertanya, “Apakah barang ini memercikkan sukacita atau kebahagiaan?” atau tokimekidalam bahasa Jepangnya, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai spark joy.

Praktek metode KonMari yg dilakukan oleh penulis (sumber: dokumen eksklusif)

Saya pun mencoba metode ini & ternyata saya sadar bahwa sebagian buku-buku yang saya punya nir lagi memercikkan sukacita. Saya memisahkan kitab -kitab tadi ke pada dua tumpukan, simpan dan tanggal. Buku-kitab yang saya lepas saya berikan pada sahabat-sahabat aku atau saya sumbangkan ke loka-loka misalnya kafe baca.

Menurut Marie Kondo, seiring kita menyortir barang-barang kita, kemampuan kita untuk membedakan antara barang yang memercikkan sukacita dan yang  tidak akan terasah, bukan saja untuk barang-barang yang sudah kita miliki, tapi juga untuk barang-barang yang akan kita bawa ke tempat tinggal kita sehingga jumlah barang-barang yang menumpuk dan tidak terpakai berkurang. Misalnya, kini saat saya ke toko buku, saya bisa menyadari dorongan saya untuk membeli buku. Saya tidak menekan, melawan atau meredam dorongan itu, hanya mengamatinya dan seringkali dorongan itu berlalu dengan sendirinya. Dengan begitu saya menjadi tidak terlalu impulsif dan tidak mengikuti dorongan untuk membeli buku begitu saja. Keinginan atau dorongan itu tidak sama sekali hilang, saya masih membeli buku tetapi jumlahnya berkurang. Misalnya jika dahulu saya bisa keluar dari toko buku dengan tiga buku dalam satu waktu, kini saya hanya satu.

Metode KonMari juga menciptakan saya lebih mudah merelakan buku-buku aku . Jika saya telah terselesaikan membacanya dan aku nir ingin membacanya ulang pada lain waktu, aku tidak terlalu ambil pusing & memberikannya ke orang lain. Saya tetap menyimpan buku-kitab yg aku suka atau ingin baca lagi di kemudian hari. Hal lain yg aku perhatikan sesudah mempraktekkan metode KonMari adalah aku menyadari bahwa aku memiliki kemelekatan dengan benda-benda & hal itu herbi bukti diri & konsep diri saya. Mungkin hal yg ingin aku tampilkan kepada dunia merupakan saya sebagai orang yg pintar, intelek, berpendidikan & terpelajar dan dorongan itu ada sebagai harapan buat membeli buku.

Pengaturan buku menggunakan metode KonMari

Metode Konmari memungkinkan aku mengusut keadaan batin aku . Saya menyadari ternyata bukan hanya terhadap buku saja aku mempunyai kemelekatan. Seringkali kita melekatkan harga diri kita terhadap benda fisik, misalnya contohnya kendaraan beroda empat, rumah, sandang, telepon seluler, barang-barang mewah. Tidak terdapat salahnya mempunyai barang-barang tersebut. Namun kita wajib memiliki jarak yang sehat terhadap benda-benda itu. Jangan hingga kita dikuasai oleh benda-benda tadi.

Jadi, apakah tidak terdapat yang keliru menggunakan tsundoku? Metode KonMari menciptakan saya memikirkan balik pernyataan saya sebelumnya. Tsundoku mampu saja merupakan gejala dari suatu keadaan. Manifestasi fisik berdasarkan suatu keadaan psikologis. Di bagian atas tampak sebagai konduite membeli kitab yg berlebihan namun hanya ditumpuk & nir dibaca. Di bawahnya mungkin terdapat kemelekatan yang tidak sehat terhadap objek-objek fisik. Kita mampu melepaskan diri berdasarkan kemelekatan terhadap objek-objek fisik tadi dengan menyadari dorongan-dorongan pada balik perilaku kita buat memberikan jarak yg sehat antara kita dengan objek-objek fisik tadi.

Lepas dari kelekatan terhadap suatu barang membawa kita pada pencerahan yg lebih tinggi pada mengelola uang. Berkesadaran pada pengelolaan keuangan memampukan kita buat memilah mana pembelanjaan yang sesuai dengan kebutuhan & mana yg nir. Dengan demikian, kita menciptakan norma baik dan tidak berperilaku secara konsumtif. Kita merdeka berdasarkan ketergantungan uang yang memungkinkan buat membeli barang-barang yg inheren pada diri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *