[Opini] LELAKI AKTIVIS PEREMPUAN
By: Date: November 22, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh Tabrani Yunis

Director Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Dalam program Temu Nasional Aktivis Perempuan Indonesia yg diselenggarakan sang Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jakarta, di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, lepas 28-31 Agustus 2006, masih ada beberapa laki-laki menjadi peserta dan juga panitia. Kehadiran beberapa lelaki pada tengah ? Tengah kurang lebih 300-an peserta aktivis wanita tadi, memang seperti mengundang sedikit perhatian bagi beberapa wanita yang hadir. Tetapi, bagi para aktivis wanita kehadiran atau keterlibatan beberapa lelaki menjadi peserta & panitia pada program tadi, bukanlah hal yg asing. Karena kehadiran laki-laki dalam memperjuangkan nasib kaum wanita yang termarginalkan sang banyak sekali faktor tersebut, sudah lazim ditemukan. Khususnya pada dunia LSM, sekarang telah poly kaum pria yang secara pribadi & sadar berjuang beserta kaum wanita buat mengangkat persoalan-masalah yg dihadapi oleh kaum perempuan marginal baik yg berada di perkotaan, maupun di pedesaan. Ada yang secara individu aktif pada pada warga dan terdapat juga yg memperjuangkannya melalui organisasi-organisasi seperti organisasi non pemerintah ( ORNOP). Pendeknya, baik secara individu juga melalui institusi Ornop, kini poly pria terlibat eksklusif memperjuangkan pemugaran nasib kaum wanita yang terpuruk.

Kehadiran laki-laki pada gerakan usaha wanita di tanah air juga dalam konteks dunia, memang belum sepenuhnya mampu dinyatakan menjadi sebuah bagian dari usaha perempuan . Belum semua pihak yakin & sanggup mendapat kehadiran laki-laki dalam konvoi itu, apalagi yang diklaim dengan lelaki aktivis perempuan atau lelaki feminist. Lelaki aktivis wanita atau laki-laki yang feminist, memang belum sepenuhnya mampu dipercaya atau diyakini dengan sungguh-sungguh oleh para wanita. Penolakan atau ketidakpercayaan tadi karena banyak perempuan yg melihat citra diri pria dalam perspektif yang penuh menggunakan rasa was-was. Bahkan ada yang menyampaikan, bagaimana seorang pria aktivis atau laki-laki feminis sanggup memperjuangkan hak dan nasib wanita. Dalam perpekstif ini laki-laki dikatakan akan tetap pria. Artinya, pria akan kembali pada ego kelelakiannya. Benarkah demikian?

Kiranya, pandangan demikian tidak selamanya sanggup dikatakan benar. Tetapi, juga nir bisa secara serta merta dikatakan keliru. Dikatakan demikian, lantaran pada empiris keseharian, pandangan yg radikal terhadap laki-laki tersebut memang tak jarang terbukti. Ketika, para wanita merasa sangat kagum terhadap seorang laki-laki yg pada kehidupannya sangat concern memperjuangkan pemugaran nasib perempuan , memperjuangkan hak-hak perempuan . Namun, banyak yg tidak konsisten menggunakan perjuangan tersebut. Lelaki yang dilihat & dilabelkan menjadi lelaki feminist atau lelaki aktivis wanita, terdapat yg tidak mampu mengontrol komitmen yg telah dibangun. Seorang pria aktivis wanita atau seseorang pria yang feminist, sebenarnya memiliki rambu-rambu yg harus dijaga dan dipatuhi, kalau ingin menjadi seorang aktivis atau feminist. Misalnya, menjaga hal-hal yg nir merugikan atau melecehkan perempuan . Idealnya, seseorang aktivis wanita atau lelaki feminist memang secara totalitas menjalankan prinsip-prinsip & nilai-nilai aktivis & feminist yang dianut. Seorang aktivis perempuan dan atau lelaki feminist, dibutuhkan mampu menyelaraskan antara kata dan perbuatan. Artinya, menjadi seorang aktivis atau seseorang lelaki feminist, bukan hanya ada pada ujaran atau ucapan-ucapan yg diekspresikan secara ekspresi, namun jua sesuai menggunakan perbuatan atau pendeknya, diimplementasikan dalam rutinitas atau kehidupan keseharian.

Seorang aktivis perempuan dan lelaki feminist, pula sangat diperlukan tidak berucap atau melakukan tindakan yg menyakiti perempuan , baik yang bersifat pelecehan, tindak kekerasan juga tindakan lain yang merugikan kaum perempuan . Sebagai salah satu model merupakan tindakan istri lebih dari satu. Karena poligami adalah sebuah tindakan yang merugikan & melemahkan posisi wanita. Poligami yg dibenci oleh poly orang baik laki-laki , apalagi kaum wanita dan aktivis serta lelaki feminist. Maka, jika terdapat pada antara aktivis perempuan yg melakukan poligami, para aktivis wanita dan perempuan secara generik akan mempersoalkan dan mengakibatkan masalah ini menjadi sebuah tindakan yg sangat menyakitkan. Oleh sebab itu para perempuan akan mengecamnya.

Sebuah perbincangan yang sangat hangat tentang masalah istri lebih dari satu di mailing list wanita, bukan lagi masalah poligami yg dilakukan AA Gym. Namun kali ini para aktivis wanita ketika ini merasa sangat dikecewakan sang sikap & tindakan seorang Ade Armando yang selama ini dianggap sangat concern menggunakan masalah wanita. Kekecewaan para wanita & aktivis perempuan terhadap perilaku dan tindakan Ade Armando yg melalukan istri lebih dari satu sanggup kita baca dalam goresan pena Adriana Venny , Direktur Jurnal Perempuan pada mailing list perempuan pada tanggal 15 Februari 2007 yg menulis pada tulisannya, Berpoligami pada hari kasih sayang. Tulisan itu mendapatkan banyak tanggapan menurut peserta yg pada biasanya sangat kecewa terhadap Ade Armando yg sudah terlanjur dianggap pro wanita.

Berpoligami atau melakukan hal-hal yg merugikan wanita sang pihak aktivis & lelaki feminist memang sangat dikecam. Lantaran ini sangat dikecam, maka persepsi dan tindakan aktivis perempuan dan lelaki feminist yg merugikan perempuan seringkali sebagai dilematis apabila tidak bisa berlaku konsisten. Sehingga, tatkala terperangkap pada jaring keterlanjuran, yang dilakukan adalah berusaha mencari alasan-alasan pembenaran. Dan bila nir, maka jalan akhir yg ditempuh merupakan jalan akhir menggunakan ucapan ?Aku juga manusia.? Nah, kalau sudah ini jawabanya, maka habislah upaya kita dalam mencari argumentasi. Kondisinya pun sebagai sangat kontroversi.

Agaknya, memang seorang lelaki sebagai aktivis wanita atau lelaki feminist, memang nir mudah. Banyak tantangan yg harus dihadapi. Seorang lelaki aktivis wanita atau lelaki feminist sanggup dicermati miris terutama menurut kalangan laki-laki yg kental menggunakan sifat kelelakiannya. Tantangannya semakin berat waktu taraf kepercayaan akan keberadaan lelaki aktif dan feminist masih sangat rendah. Dan semakin berat tantangannya tatkala ada orang-orang atau tokoh-tokoh sekaliber Ade Armando, Masdar & yang lainnya melakukan hal-hal yg kontroversial menggunakan apa yg seharusnya. Karena dalam empiris yang sedang berjalan, kala kaum wanita sangat mengecam istri lebih dari satu, kecaman itu misalnya disiram menggunakan tindakan aktivis & feminist menggunakan tindakan istri lebih dari satu. Mengecewakan bukan ? Barangkali, sangatlah lumrah, jikalau kualitas lelaki aktivis & lelaki feminist diragukan. Wajar pula kalau terdapat sebuah organisasi atau forum dana tidak percaya terhadap lelaki pemimpin sebuah Ornop yg memberdayakan & menguatkan wanita.

Dalam kondisi ini, walau keraguan itu masih tinggi, Kita memerlukan eksistensi laki-laki menjadi aktivis perempuan atau menjadi lelaki feminist. Ini perlu agar keterlibatan banyak laki-laki dalam membela dan memperjuangkan hak-hak perempuan yang tertindas. Dengan membentuk sikap pria aktivis perempuan , akan banyak laki-laki yang sadar akan perlunya gerakan beserta membela perempuan . Kalau hilang satu, akan terdapat pria aktivis perempuan lain yang masih mampu tetap berjuang. Bagaimana rekan-rekan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *