Editorial Pro:aktif April 2017
By: Date: November 23, 2017 Categories: Uncategorized

Selamat berjumpa balik pada Pro:aktif Edisi April 2017 ini. Sudah 4 bulan perjalanan waktu kita di tahun 2017, dengan aneka macam insiden yang terjadi, baik di lebih kurang kita juga di global. Edisi kali ini, Pro:aktif Online mengangkat tema ?Mengenal Diri Bagi Aktivis?.

Proses mengenal diri adalah proses yg nir berujung & terjadi pada siapapun jua, tak pandang usia, jenis kelamin, apalagi pekerjaan dan jalan hidup. Seorang aktivis sekalipun nir terlepas dari proses mengenal diri, baik yg disadari juga yg berlalu begitu saja. Terlebih banyak sekali bidang kerja dan layanan yg diberikan oleh seseorang aktivis, memerlukan pengenalan diri yang mampu membuatnya bertahan dalam isu yang dikerjakan atau malah menemukan ?Panggilan hayati? Yg selama ini dicari. Proses mengenal diri bukan berarti bahwa sebelumnya kita tidak kenal ?Siapa diri kita?, melainkan mempertanyakan balik , sejauh mana kita mengenal dan memahami diri sendiri.

Edisi April 2017 ini mencoba mengupas berbagai sudut pandang yang  disajikan oleh para kontributor penulis Pro:aktif Online, yang diawali dengan rubrik PIKIR yang diisi oleh Umbu, yang akan membawa kita pada masa lampau dimana dua orang pangeran beda kebangsaan, yakni Hamlet dan Diponegoro disandingkan. Rangkaian kata yang disusun oleh Umbu mengajak kita untuk menemukan diri di pusat keberadaan, dengan metafora bahwa kitalah sang penyair yang mewujudkan eksistensi kita dengan sajak kehidupan yang menyelami seluruh sisi kehidupan agar indera kita semakin tajam menyerap realitas di sekitar kita.

Rubrik PIKIR yg ke 2, ditulis sang penulis yang sama. Kali ini Umbu mengetengahkan sebuah upaya buat mengingatkan kita bahwa berpegang dalam nilai-nilai perikemanusiaan berarti melepaskan diri berdasarkan banyak sekali label yg inheren. Melalui tokoh Raden Mas Minke, kita diingatkan soal realita kehidupan yg selalu berpotensi melahirkan penindasan karena dinamika kekuasaan antar kelas. Siapapun yang terbangun & terpanggil untuk membela nilai-nilai perikemanusiaan tersebut, berempati dalam kaum tertindas, berjuang lantaran memang ?Sudah sepantasnya aku berjuang?. Di sini, Umbu pula mengingatkan kita pada siapa Raden Mas Minke menjadi tokoh sejarah yang dilupakan sang bangsa Indonesia.

Rubrik OPINI menghadirkan tulisan dari Anastasia Levianti yang dalam setiap baris tulisannya adalah proses refleksi itu sendiri, mencoba menyadarkan kita betapa pentingnya proses tersebut bagi seorang aktivis. Pilihan-pilihan atas isu yang dikerjakan, kepedulian atas isu sosial, maupun sumber stres pada bidang pekerjaan saat ini dapat ditemukan dengan menempatkan diri sebagai sumber masalah yang sekaligus juga sumber solusi. Rutinitas yang dijalani tanpa menyadari tujuan dari aksi yang dilakukan berpotensi menyesatkan seorang aktivis yang  kemudian bisa terjebak pada mengutamakan sarana, ketimbang tujuan yang hendak dicapai. Refleksi diri diharapkan menjernihkan kembali, mana yang sesungguhnya sarana dan mana yang menjadi tujuan yang seharusnya dilayani oleh sarana tersebut.

Rubrik MASALAH KITA yang ditulis oleh Siska mengulas konsep diri sebagai pusat refleksi, dimana apa yang ada di dalam pikiran kita  kemudian diwujudkan pada aksi-aksi yang dilakukan di dunia nyata. Konsep diri akan membantu kita membentengi diri dari persoalan-persoalan yang tidak perlu karena kita mengenal dan menerima batasan / kelemahan diri pada isu yang dikerjakan atau aksi yang dijalankan. Proses refleksi tidak dimaksudkan untuk meniadakan kelemahan, namun justru memampukan kita untuk memahami bahwa adanya kelemahan tersebut menjadi alarm ketika kita sudah melewati batas dan perlu menarik diri. Di samping itu, penguatan konsep diri tidak selalu tentang refleksi ke diri sendiri namun juga bercermin pada jalan hidup tokoh-tokoh dunia yang telah tertuang pada buku otobiografi.

Rubrik PROFIL kali ini, ada Alvieni Angelica yang mengajak kita berkenalan dengan Capacitar, sebuah organisasi nirlaba yang terbentuk di bumi Amerika Latin oleh seorang biarawati bernama Sr. Mary Hartmann, CSA. Capacitar memiliki tujuan utama memberdayakan manusia dalam aspek self-healing atau daya penyembuhan diri. Capacitar meyakini bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh kehidupan secara holistik. Penyakit-penyakit pada manusia seringkali timbul karena oleh trauma maupun luka batin yang belum tuntas.  Metoda penyembuhan yang menyerap dan mengadaptasi berbagai teknik tradisional dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan modern kemudian dibagikan kepada siapapun yang membutuhkan, untuk mendorong semakin tersebarnya pengetahuan tersebut.

Rubrik MEDIA, ditulis sang Any Sulistyowati, menaruh perspektif lain mengenai dunia internet yang justru sangat berguna buat membuat kita semakin kenal siapa kita. Terbukanya warta & pengetahuan secara bebas, berdampak dalam semakin mudahnya kita mengakses ilmu psikologi populer & berguna. Berbagai tes pemetaan kepribadian, mulai berdasarkan yang telah cukup dikenal misalnya Personality Plus dan MBTI, hingga Eneagram akan membantu kita mengidentifikasi ?Tipe kepribadian apakah saya??. Dengan bantuan internet, output tesnya bisa eksklusif dipandang disertai penjelasan yang cukup mudah buat dipahami.

Rubrik JALAN-JALAN pertama dipandu oleh Debby Josephine yang akan membawa para pembaca pada beberapa tempat asyik pada kota Bandung yg kiranya tidak terduga, tetapi bisa menciptakan Anda semakin mengenal diri Anda. Menjelajah tempat-loka tadi nir bisa dipisahkan menurut aktivitas yang sebaiknya Anda lakukan sambil berada pada loka tadi.

Rubrik JALAN-JALAN kedua terdapat Yanti Herawati yang menjadi pemandu Anda menjelajah di suatu wilayah Bumi Parahyangan yg pula nir terduga. Sebuah areal yg mungkin nir akrab pada indera pendengaran Anda, namun penjelajahan yang semakin pada akan membuat segalanya sebagai nir asing lagi. Memilih sebuah jalur perjalanan yang nir biasa, mungkin akan membawa keraguan pada diri Anda, yg kemudian akan terkikis seiring dengan penemuan diri di perbatasan laksana tepi tebing yang siap menciptakan Anda terjun bebas semakin pada dalam diri sendiri.

Rubrik TIPS menghadirkan Dyah Synta, seseorang pengajar yoga yg memberikan tips melakukan gerakan (asana) yang mampu membawa kita pada relaksasi serta menjadi proses sosialisasi diri melalui penghayatan atas bentuk-bentuk asana yang kita lakukan. Yoga benar-benar adalah tentang diri sendiri, karena kita nir melakukannya buat dipandang & dievaluasi sang orang lain, melainkan sebuah bentuk komunikasi diri kita yg lainnya , seperti pemikiran, perasaan, & energi.

Rubrik RUMAH KAIL kali ini mengajak para pembaca berkeliling dari perspektif seorang Melly Amalia pada menjelajah diri melalui salah satu bagian Rumah Kail. Tidak hanya bangunan fisik dari tempat tinggal tadi, tetapi jua dari aktivitas-aktivitas yang sudah menjadi satu bagian dari tempat tinggal itu sendiri. Di manakah Anda akan menemukan spot yg nyaman buat berefleksi pada Rumah Kail?

Akhir kata, semoga para pembaca semakin mengenali diri sendiri melalui artikel-artikel yang terdapat dalam edisi ?Mengenal Diri Bagi Aktivis?. Kiranya hayati aktivisme kita semakin positif melalui refleksi.

Selamat menemukan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *