[Opini] BERSIT-BERSIT MAKNA CINTA
By: Date: November 29, 2017 Categories: Uncategorized

Cinta adalah energi yg sangat besar . Lantaran itu seringkali kita kesulitan melukiskan makna cinta. ?Cinta terlalu luas, terlalu dalam buat dipahami, diukur atau dibatasi dengan sekedar bingkai istilah-istilah?, kata M. Scott Peck, pada The Roadless Travelled. Tetapi definisi cinta tetap penting, setidaknya lantaran banyak orang gundah memaknai cinta.

Sesuatu yg bukan cinta, dikira cinta. Seorang laki-laki yg tidak pernah mengijinkan pacarnya, buat pergi sendiri ke suatu tempat tanpa ia dampingi, menerka dirinya sangat mengasihi sang pacar. Padahal sesungguhnya laki-laki itu hanya sangat memanjakan sang pacar, dan sangat memanjakan tentu sama sekali nir sama menggunakan menyayangi. Banyak orang salah tahu cinta, dan perasaan-perasaan tertentu mereka kira sebagai cinta sejati. Sering kita dengar ?Cinta itu perasaan?, ?Cinta itu romantika?, ?Saya akan menemukan tujuan hidup menggunakan belahan jiwa saya?, ?Cinta akan menyembuhkan kesepian & penderitaan?.

Miskonsepsi lain tentang makna cinta bersangkut paut dengan jatuh cinta. Jatuh cinta dikira cinta, padahal bukan sama sekali. Jatuh cinta adalah pengalaman seksual erotik. Ia selalu berlandaskan motivasi seksual. Di samping itu, jatuh cinta, kendati selalu dihayati insan menjadi pengalaman luar biasa menakjubkan, selalu bersifat ad interim. Seperti bulan madu & romantika manusia, jatuh cinta selalu berkesudahan, bahkan tak sporadis berakhir sesudah suatu kurun yang singkat. Pada jatuh cinta, ego boundaries atau dinding ego mengalami kehancuran parsial dan sementara. Kehancuran itu bersifat mendadak, spontan, dan terjadi tanpa kerja energi manusia pemiliknya. Dinding ego adalah pengetahuan manusia tentang batas-batas dirinya, yg berada dalam khazanah mentalnya. Ia memungkinkan insan menghayati keterpisahan & sense of identity. Ketiadaannya mengakibatkan seseorang berusaha merengkuh komitmen, tetapi kemudian takut mewujudnyatakan komitmen itu. Anak yg mendadak ditinggalkan orang tuanya, misalnya karena kedua orangtuanya mati dunia, sanggup mengalami rasa nyeri hebat, karena kematian orangtua menetapkan pengalaman komitmen yg sebelumnya sudah dirintis ke 2 orang tuanya. Anak itu sanggup bertumbuh sebagai manusia yang takut merengkuh komitmen. Dia membutuhkan pengalaman baru yg mendasar dan memuaskan dalam naungan komitmen yg tangguh.

Cinta: Kebahagiaan pada Penderitaan

Ternyata cinta tidak sefantastik jatuh cinta. Cinta membebaskan manusia menurut kesepian. Ia menjadikan kelegaan, keleluasaan, kehangatan. Dengan istilah lain, dia membawa kebahagiaan. Tetapi cinta pula membawa rasa nyeri, lantaran dia hanya bisa diwujudnyatakan insan dengan upaya aktif, kerja keras, bahkan usaha sadar. Bahkan ternyata cinta penuh risiko. Acapkali insan yang menyayangi mesti berani menanggung risiko perubahan, yg jua membawa rasa takut. Risiko lainnya adalah keniscayaan melepaskan ketergantungan, keniscayaan mempertahankan komitmen, & risiko hidup di tengah kearifan pertikaian & kritik. Singkatnya, cinta membawa bersit-bersit rasa nyeri bahkan bercak-bercak penderitaan. Cinta merangkum kebahagiaan pada penderitaan.

Namun barangkali itulah penderitaan yg disebut Carl Gustav Jung, legitimate suffering, penderitaan yang absah, penderitaan yang patut dan layak ditanggung insan yang benar-benar menginginkan kebahagiaan. Bahkan secara tersirat Jung mengatakan bahwa legitimate suffering adalah kondisi yg pasti untuk kebahagiaan. Kata Jung: Neurosis is always a substitute for legitimate suffering. Manusia yang menghindar menurut keniscayaan menanggung legitimate suffering, akan mengidap kecemasan jiwani, neurosis. Dan tentu, pada tengah kecemasan jiwani itu sesungguhnya manusia kian banyak mengalami penderitaan. Rupanya kebahagiaan hanya sanggup sungguh diraih insan, bila beliau berani menanggung penderitaan (yg sah), pada cinta sanggup diandalkan untuk menyangga peradaban umat manusia yang terus menerus membutuhkan tenaga cinta. Maka pengalaman jatuh cinta mengingatkan insan berjiwa dewasa untuk terus memperjuangkan cinta sejati yang lestari.

Cinta Bukan Perasaan, Ia Mengatasi Perasaan

Ada perintah emas mengungkapkan, ?Cintailah musuh-musuhmu, dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kalian?. Bisa dibayangkan andai kata cinta hanyalah perasaan, niscayalah perintah itu hanyalah sebuah utopia, tidak ada insan yang mampu mewujudnyatakannya. Jika cinta adalah perasaan (just a feeling), insan yg dalam umumnya digelantungi perasaan benci atau tak suka pada musuhnya tentu tidak mungkin mencintai si musuh. Love is not a feeling.

Memang cinta bisa disertai perasaan. Tetapi ia bukan sekedar perasaan itu. Ia mengatasi perasaan. Cinta mampu terjadi tanpa adanya perasaan senang dalam orang lain, lantaran cinta dilandasi pilihan dan keputusan sadar nan arif. Cinta merupakan kehendak untuk berbagi diri & merawat tumbuh kembang orang lain. Lantas pelaku cinta tetapkan dirinya menentukan menyayangi.

Dengan demikian komitmen adalah bagian otentik yg sangat krusial pada cinta. Komitmen merebakkan rasa aman, yg sangat dibutuhkan buat perluasan ego, suatu peristiwa yang teralami sebagai suatu perubahan dan penjelajahan ke global baru yang beresiko. Manusia butuh rasa kondusif yang merekah berdasarkan komitmen, buat melakukan perubahan & penjelajahan yg pasti beliau nikmati mengandung risiko. Di samping itu, komitmen memungkinkan konsistensi proses. Cinta merupakan proses yang konsisten. Lantaran itu, ia membutuhkan komitmen.

(Bagus T. Nugroho)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *