[PIKIR] PENDIDIKAN BAGI ORANG DEWASA: PELATIHAN PARTISIPATIF VS SEMINAR
By: Date: November 30, 2017 Categories: Uncategorized

Pelatihan partisipatif adalah istilah yang sedang marak dipakai saat ini. Banyak orang menggunakan metode tadi untuk kepentingan sosialisasi pendidikan secara partisipatif baik bagi mahasiswanya, bagi karyawannya, maupun bagi relasi kerjanya. Tetapi demikian, tak jarang terjadi kesalahpahaman terhadap istilah yang sedang nge-animo ini, poly orang menyebut diri sedang melaksanakan pembinaan partisipatif, tetapi ternyata nir lebih berdasarkan sekadar seminar. Tulisan ini ingin memberikan pemahaman baru tentang definisi dan hal-hal fundamental yang kiranya perlu diperhatikan pada sebuah pelatihan partisipatif.

PENDIDIKAN PARTISIPATIF

Pendidikan partisipatif adalah sebuah metode pendidikan yg menitikberatkan dalam partisipasi aktif para peserta. Berangkat dari hal itulah maka penggunaan istilah-kata terhadap peran-peran yg ada dalam sebuah pelatihan pun mengalami pergeseran. Dulu kita lebih mengenal istilah instruktur atau trainer dan pesertanya diklaim menggunakan trainee. Dalam pelatihan ala tempo dulu, para instruktur merupakan satu-satunya asal pengetahuan dan peserta tinggal mendapat. Sejalan dengan perkembangan jaman, pelatihan-training nir lagi harus dengan contoh top-down seperti pada atas, namun jua melibatkan partisipasi aktif peserta. Istilah buat peran-kiprah dalam pembinaan pun mengalami perubahan. Saat ini kita lebih mengenal kata fasilitator dan bukan trainer, dan istilah trainee berubah sebagai partisipan.

Pergeseran terhadap kata peran tadi semakin memperlihatkan bahwa pada sebuah proses pendidikan yg diklaim menggunakan pelatihan partisipatif, fungsi fasilitator adalah memfasilitasi sebuah proses pendidikan, memfasilitasi para partisipan dalam menemukan sendiri makna-makna baru yg diperoleh dalam pembinaan tadi. Sehingga menggunakan demikian, tampak kentara bahwa fungsi narasumber dalam sebuah seminar sangat tidak selaras menggunakan fungsi fasilitator dalam sebuah pelatihan. Jika dalam sebuah seminar, solusi kasus harus dipecahkan sang narasumber maka dalam sebuah pembinaan, fasilitator hanya memfasilitasi proses sedemikian rupa sebagai akibatnya masalah ditemukan sendiri secara sadar sang para partisipan dan solusi masalah pun ada pada para partisipan itu sendiri.

Dalam training partisipantif, nir ada metode satu orang pada depan, & yang lain duduk mendengarkan. Tetapi justru semua orang duduk & berdiri pada posisi melingkar. Semua orang pada bundar mempunyai donasi dalam keberhasilan proses belajar menggunakan metode pendidikan partisipatif. Fokus utama terletak pada partisipan & bukan dalam fasilitator.

Metode permainan adalah metode yang acapkali dipakai dalam pendidikan partisipatif. Karena melalui metode ini dibutuhkan partisipan bisa berangkat menurut pengalamannya sendiri-sendiri untuk lebih lanjut merefleksikan pengalaman tersebut sebagai makna-makna pembelajaran baru.

ATURAN DASAR MEMFASILITASI

Dalam pendidikan partisipatif, absolut buat selalu melibatkan partisipasi para partisipan pada setiap prosesnya. Oleh karena itu, pada pendidikan partisipatif, pembuatan anggaran main bukanlah dipengaruhi oleh fasilitator, tetapi dipengaruhi secara beserta-sama, yakni fasilitator & partisipan. Demikian pula dalam realisasinya, anggaran main dibuat & dilakukan oleh semua orang yg terlibat dalam training, yakni seluruh tim fasilitator & semua partisipan. Tidak berlaku pada pendidikan partisipatif aturan main hanya bagi partisipan.

Dalam penentuan materi serta alur pelatihan pun, seseorang fasilitator dalam pendidikan partisipatif hendaknya mempunyai kesiapan dan kreativitas yang relatif tinggi. Hal ini disebabkan, pendidikan partisipatif adalah pendidikan yang menitikberatkan pada kebutuhan partisipan. Sehingga apabila pada proses training, alur materi yg disiapkan sang tim fasilitator ternyata bukan menjadi kebutuhan partisipan, maka seseorang fasilitator yang baik harus rela buat mengganti seluruh skenario, baik modul, alur, maupun permainan yg sudah disiapkan menggunakan skenario yang dibutuhkan sang partisipan. Dengan demikian proses training sahih-sahih menjadi milik partisipan secara penuh.

Selamat memfasilitasi!

(Patty)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *