[Jalan-jalan] Oleh-oleh dari Thailand
By: Date: December 3, 2017 Categories: Uncategorized

Pada akhir November hingga Desember 2002 yang lalu 2 orang aktivis KaIL, Intan Darmawati dan Patricia Siswandi, menerima kesempatan buat berkunjung & mengamati model-model dan metode-metode pembinaan di beberapa sentra pelatihan di Thailand. Yang terkait menggunakan isu lingkungan hayati, kami mengunjungi Pusat Pelatihan yang dipimpin sang Chirapol Sintunawa di Bangkok. Sayang sekali waktu itu kami nir sempat bertemu eksklusif dengan Mr Chirapol. Namun, menggunakan didampingi 2 orang rekan Mr Chirapol, KaIL diperbolehkan untuk terlibat pada keseluruhan proses training tadi.

Secara garis besar , ada beberapa persamaan metode pelatihan yg dipakai dalam pembinaan lingkungan hidup ini, dengan metode pembinaan yang selama ini digunakan pada Indonesia. Sebuah metode pembinaan yg memadukan antara simulasi permainan, diskusi grup, & pemutaran film, buat memunculkan adanya proses pencerahan sinkron dengan tema terkait.

Tetapi demikian terdapat beberapa metode yang baru bagi saya, & ini merupakan metode yang menurut saya cukuplah efektif buat menunjang timbulnya proses kesadaran para peserta. Beberapa metode baru yang menarik tadi antara lain:

1. Metode point.

Di awal proses pelatihan ini, setiap peserta dibagi dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok mendapat point yg sama akbar dengan gerombolan lain. Kelompok akan memperoleh penambahan point, saat grup sanggup menyelesaikan tugas-tugas pada setiap simulasi dengan baik & tepat waktu. Sementara itu, grup jua akan memperoleh pengurangan point, saat kelompok tidak mampu merampungkan tugas dan tidak mempunyai kepekaan akan kondisi lingkungan sekitar.

Kepekaan terhadap syarat lebih kurang tadi, biasanya diuji menggunakan adanya lampu yang menyala di siang hari bolong, air yang nir terpakai tetapi dibiarkan mengucur, dan poly hal lagi yang berkaitan menggunakan pemborosan tenaga.

Setiap gerombolan akan saling berkompetisi untuk mengumpulkan point sebesar-banyaknya, karena tentu saja disediakan hibah bagi grup yang terbaik, yg akan diberikan di penutupan proses pembinaan.

2. Permainan.

Permainan-permainan yang diubahsuaikan menggunakan tema, sangat meningkatkan kecepatan proses penyadaran dalam peserta. Seperti permainan mendistribusikan air. Dalam permainan ini, peserta dihadapkan dalam peta yang terdiri dari lima daerah besar . Tugas peserta adalah mendistribusikan air pada galon secara merata di kelima daerah tadi. Pendistribusian ini sebagai begitu sulit karena peserta diharuskan menggunakan indera yang tersedia.

Itulah sekilas pengalaman yang kami rasakan waktu berkesempatan mengunjungi, mengamati, dan terlibat pada proses pembinaan lingkungan hayati. Satu hal yang sangat berkesan bagi kami, materi tidak hanya disampaikan dalam proses tatap muka, akan tetapi dalam keseluruhan proses training selalu diwarnai menggunakan kaitan dalam tema. Penghematan air misalkan, training ini nir memberi kesempatan mandi sore hari, tetapi tengah malam begitu program selesai. Dasar pemikirannya merupakan tengah malam orang telah nir beraktivitas lagi. Sehingga mandi malam sahih-sahih berfungsi buat kesejukan & kebersihan seluruh badan.

(Patricia Siswandi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *