[MASALAH KITA] BEKERJA DENGAN KEYAKINAN
By: Date: December 4, 2017 Categories: Uncategorized

Motivasi orang buat bekerja tentu majemuk. Ada yang bekerja untuk sesuap nasi, terdapat yg untuk segenggam berlian, ada yg untuk idealisme (‘panggilan’ entah kemanusiaan entah religius). Kita sendiri mungkin bekerja buat dan dengan alasan yang merupakan kombinasi menurut aneka macam faktor. Semua sungguh absah-sah saja.

Siang tersebut beberapa teman ngobrol-ngobrol mengenai kerja, profesionalisme, idealisme dan realita. Perdebatannya, jika kita bekerja profesional buat tujuan sosial (baca: untuk NGO) apa oke saja jika tidak dihargai & nir dibayar (diberi thank you pun nir!)? Atas nama sosial dan ‘panggilan’, apakah oke sebuah LSM akbar tidak menggaji layak (jauh dibawah UMR) staf atau volunteernya? Apalagi banyak LSM yang berteriak-teriak soal HAM, hak buruh, hak sosial ekonomi di luar akan tetapi terhadap staf atau orang-orang yg membantu mangkat -matian malah memberi janji bukan bukti. (Contoh nyata banyak! Ini sdh pendapat generik di publik non LSM).

Ada teman yg mencoba membela image LSM dengan menjatuhkan perusahaan (corporate). Seraya mengkerutkan kening, ia mencela sebuah konsultan public relation yg, ‘mau-maunya kerja menciptakan publikasi buat konglomerat dan pejabat?!’ saat perdebatan memanas, aku hanya sanggup jujur dengan apa yg saya pikir dan rasakan, ‘Lu boleh makan itu idealisme, akan tetapi kalo kepepet nggak sanggup bayar uang sekolah anak, gue nggak akan memalukan jadi standguide lagi, pake rok kecil senyum sana-sini dapat 200-300ribu rupiah satu shift! Masa bodo LSM, sama kaya VOC: kerja paksa tanpa bayar!’

Kami pulang dengan tertawa-tawa (maklum, baru kumpul-kumpul dengan sahabat usang). Namun ada bertanya-tanya tersisa buat aku . Tak adakah pekerjaan yang mendamaikan keduanya: idealisme dan kebutuhan kesejahteraan famili? Masa kita wajib memaksakan anggaran nir boleh berkeluarga agar bisa melayani sesama 24 jam tanpa bayaran?

Pikir punya pikir, apa pun pilihan kita, yang penting sesuai hati (atau sesuai tujuan kita diciptakan ha..Ha..Ha..). Yang juga penting, kita yakin akan apa yg kita kerjakan. Kalau honor tinggi akan tetapi kita gak yakin ‘produk jualan’ kita…? Atau kebalikannya kita percaya kecap kita nomor satu tapi disuruh kerja rodi, kerja seberat direktur tapi honor dibawah office boy? Beratlah…

Tiba-tiba saya teringat Eddie Rickenbacker, mantan penerbang Perang Dunia I, pendiri dan CEO Eastern Airlines (Amerika). Selain karena 135 kali luput dari maut, ia terkenal karena prinsip-prinsip manajemen bisnis dan personal. Dalam paper berjudul “My constitution”, Rickenbacker menulis,

"I will always keep in mind that I am in the greatest business in the world, as well as working for the greatest company in the world, and I can serve humanity more completely in my line of endeavor than in any other."

Nah…. Apakah kita telah seyakin itu menggunakan pekerjaan atau pilihan kita…..?

(Dikutip dari e-mail yang dikirimkan oleh Adeline MT, 15 Maret 2004)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *