[OPINI] KE-BHINNEKA-AN DI DALAM BINGKAI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
By: Date: December 5, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Umbu Justin

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, & oleh sebab itu maka penjajahan pada atas global harus dihapuskan lantaran tidak sinkron dengan peri humanisme & peri keadilan."

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan kemerdekaan sebagai dasar terpenting bagi terbangunnya Bangsa Indonesia. Kata ‘kemerdekaan’ merupakan titik berat dalam setiap paragraf, terus menerus diingatkan & ditulis berulang supaya sebagai catatan bagi semua pergerakan kita menuju sebuah negara yg manunggal, berdaulat, adil & makmur. Gagasan kemerdekaan ini kemudian dimeterai dengan dasar negara, Pancasila, yg pada dasarnya mengandung kedalaman filosofi tentang kemanusiaan universal suatu bangsa Indonesia yg merdeka.

Kemanusiaan yang universal. Sumber foto : KAIL

Menggali Makna Kemanusiaan Universal di Dalam Indonesia Merdeka

Lantas apakah itu suatu kemanusiaan universal yg akan ditumbuhkan dalam Indonesia yg merdeka?

Para Bapak Bangsa, pejuang kemerdekaan & kaum konvoi semenjak RM Tirto Adhi Soerjo, dr. Wahidin Soedirohoesodo, dr. Soetomo & kawan-kawan menurut Boedi Oetomo, hingga pada para penyusun Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah para perenung kemanusiaan universal tadi. Sebelum negara Indonesia lahir melalui proklamasi, sejarah negeri kepulauan ini senantiasa menghujani benak para perintis tersebut dengan riwayat kemanusiaan yang tertindas sang kolonialisme, intimidasi, intrik kekuasaan, politik kotor adu domba, kerja paksa, dan banyak sekali cerita yg memberi beban berat bagi bangsa kita. Dari situ tumbuh asa buat mengubah arah oleh sejarah, menurut perbudakan menuju kemerdekaan; Para Bapak Bangsa mulai menuliskan masa depan, suatu doa & pengharapan akan kemanusiaan universal Indonesia yang merdeka.

Kemanusiaan universal Indonesia bukan sekedar definisi atau ketetapan misalnya sebuah nama yg tercantum pada KTP juga akta kelahiran, melainkan adalah pengalaman konkret manusia-manusia yang hidup, bernapas & berjuang pada bumi Indonesia. Kemanusiaan yang demikian lahir menurut sejarah yang kaya akan pengalaman dan perenungan, otentik dan berdenyut beserta jatuh bangunnya para pelakon. Itulah rakyat yang sebenarnya, Marhaen, kata Bung Karno, menunjuk pada seseorang petani muda berpeluh pada tanah Jawa, ?Saidjah & Adinda?, karya Multatuli, ?Minke? Atau ?Kartini? Dalam karya Pramoedya, seluruh yang ditindas oleh permainan politik kaum oportunis, satu masyarakat yg disatukan bukan atas dasar apa pun selain penderitaan.

Pesan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Sumber foto : www.Gmniunp.Blogspot.Co.Id

Itulah masyarakat satu bangsa yang ditindas, berdasarkan satu tanah air yang dijajah, suatu daya bahasa yg dibungkam. Bagi para pemuda yang bersatu menyatakan Soempah Pemoeda 1928, Indonesia adalah pengalaman konkrit, adjective realistis, berupa cita-cita kemerdekaan bagi warga , tanah air dan bahasa yg dibungkam. Indonesia merupakan situasi murung yg disatukan pada penderitaan dan pembisuan. Indonesia pun merupakan tenaga yang berangkat bangun buat menempuh jalannya, mengganti takdir & merancang peluangnya sendiri. Inilah Indonesia yg darinya seluruh titik berat makna kemerdekaan dikontemplasikan ke dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Suatu humanitas yang membuatkan penderitaan, yang harus dipulihkan ke dalam prestise asali yang universal, bebas & merdeka, setara menggunakan segenap bangsa pada dunia.

Lebih berdasarkan 70 tahun Indonesia merdeka, integritas kebangsaan ternyata perlu dinyatakan pulang pada konkretisasi yang relatif tidak selaras: pertanyaan mengenai humanitas universal kita tiba menurut tantangan terpenting, apa itu identitas Indonesia? Sejarah kemerdekaan dicatat dengan banyak sekali kesedihan kendati begitu poly kemajuan sudah dicapai. Kita telah menyaksikan begitu poly penyalahgunaan kekuasaan, penganiayaan oleh penguasa dalam warga atas nama negara, korupsi yang begitu merajalela, cita-cita berkuasa yang vulgar & degradasi karakter politik mencapai taraf paling rendah: hilangnya pola pikir kritis negarawan. Namun sebuah gejala jua telah timbul seakan tanpa preseden, pengingkaran kebhinnekaan, fragmentasi bukti diri kebangsaan ke pada pecahan-pecahan egoisme narsistik yg akut. Pertanyaan yang konyol & menguras akal sehat sekarang berkumandang: siapa-siapa saja, ras mana saja, agama mana saja, grup mana saja, & seterusnya, yg pantas menyandang atribut Indonesia?

Indonesia yg diproklamasikan dulu, adalah warga tertindas yang berkiprah merdeka & berdaya independen merintis harkat & martabat kemanusiaannya sebagai komunitas bangsa – negara yang mengembangkan ruang humanitas pada antara segenap bangsa pada global beradab. Kita dibangun oleh penderitaan & perjuangan yg sama, bukan sang perkumpulan sesama jenis manusia, sesama ras, sesama agama atau sesama suku dalam suatu keadaan normal yang relaks buat membuat kategorisasi. Humanitas para pendiri bangsa, dan para pejuang, adalah humanisme yg menolak ditindas, sejarah yang berkecimpung membarui nasib pelakonnya. Mengingkari kebhinnekaan kita adalah sama absurdnya menggunakan mengingkari riwayat humanisme Indonesia.

Ketika para bapak bangsa merumuskan haluan bangsa ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, mereka memahami kemanusiaan Indonesia merdeka dalam perspektif humanitas universal yang memberi tempat pada harkat prestise insan di atas golongan, pandangan politik, berasal-usul geografis, agama, ras, suku-bangsa dan sebagainya. Hanya menggunakan begitu bangsa Indonesia sanggup sejajar & merogoh kiprah pada persaudaraan bangsa-bangsa untuk membentuk tatanan global yang berperikemanusiaan dan berkeadilan.

Indonesia yang Merdeka, Indonesia yang Bhinneka

Kebhinnekaan atau pluralitas adalah fakta inheren dalam keseluruhan semesta. Setiap unit utuh kehidupan, setiap anasir keberadaan, pasti saling berbeda, Pluralisme adalah pergerakan menuju unitas yang dinamis, paham untuk menghargai pluralitas dan memberi tempat bagi kebersamaan. Bhinneka Tunggal Ika yang dikutip dari kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular (Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa = Berbeda-beda manunggal, menyatu, sebab kebenaran tiada mendua) yang dijadikan metafor keutuhan bangsa pada lambang negara mengisyaratkan pemahaman yang jauh lebih mendalam dari sekadar memberi ruang bagi pluralitas.

Bhinneka Tunggal Ika adalah slogan buat melakukan satu perjalanan beserta, menjadi insan bersaudara menuju kebaikan bersama. Semboyan ini melampaui isi kata toleransi yg selama ini kita andalkan sebagai medium kebersamaan. Toleransi hanya memberi ruang secukupnya buat sekadar ada beserta, saling menghormati & tidak saling menggangu. Sekadar demikian tidak kan cukup untuk meniupkan energi kebangsaan, karena kebersamaan menjadi bangsa meminta kerelaan buat saling membantu, bekerjasama bahu-membahu demi cita-cita beserta. Bhinneka Tunggal Ika adalah slogan dengan energi yang kuat, menggunakan disparitas kita manunggal menjadi pernyataan humanisme yang bersaudara, sebangsa, setanah air dan seia-sekata sebahasa.

Lantas apa yg perlu kita lakukan menggunakan disparitas? Bukankah pada masa ini disparitas, pluralitas, diversitas menjadi senjata, & sekaligus duri pada daging?

Perbedaan adalah alamiah, hukum dasar keberlangsungan hayati. Setiap organisme, setiap spesies, setiap individu melakukan diferensiasi, diverting, mengganti jalannya supaya sanggup menjawab tantangan perubahan pada hidup. Dinamika adaptasi yg menggerakkan daya kreatif semesta adalah bentuk kehidupan itu sendiri. Kehidupan berjalan menuju diversifikasi, sebagai kaya dan bervariasi, beragam. Diversitas, keberagaman melalui diferensiasi cara hidup, itulah yg memperluas horison kehidupan pada semesta raya.

Diversitas pada bahan pembuatan jamu. Sumber foto : KAIL

Melawan keberagaman merupakan melawan daya hidup. Kelompok insan zombie yang berusaha melakukan radikalisasi diri menggunakan melawan diversitas sebetulnya sedang melakukan regresi menuju kehampaan. Perbedaan begitu gampang dihadirkan, itulah kabar kehidupan yg memenuhi segenap semesta. Melawan adanya disparitas artinya mereduksi keterangan hidup terus menerus sampai dalam absurditas.

Indonesia merupakan atribut penuh kenangan sejarah, bertabur mimpi dan harapan, sebuah kata yg memperlihatkan jati diri yg kaya dari komunitas manusia merdeka berdasarkan Sabang hingga Merauke. Itulah untaian kepulauan pada tenggara semenanjung Asia, Nusantara, Insulinde, Indische Archipel, Zamrud Khatulistiwa, Ibu Pertiwi, Indonesia (sebutan sang James Richardson Logan, 1847), begitu poly nama untuk sebuah kebenaran humanisme yang menderita di tanah air yang sedemikian latif & kaya — nama yang kemudian menggerakkan para pemuda, para pioner kemerdekaan dan para proklamator untuk menegaskan kemerdekaan. Kita kini , pelanjut semangat mereka, harusnya berjuang pula. Membangun, memajukan kehidupan, meluaskan wawasan, merayakan kemanusiaan & merencanakan hari esok.

Kita memang direpotkan sang para koruptor, politisi rendah kualitas, & kaum oportunis yang tak pernah surut. Tetapi melawan arus radikalisasi narsistik yg meneror diversitas adalah tantangan yg melelahkan lantaran sangat mengikis moril dan logika sehat. Kita wajib berangkat terus menerus, menurut pluralitas menuju pluralisme, menegaskan kembali semboyan kakawin Sutasoma: Bhinneka Tunggal Ika menjadi kebenaran kehidupan. Kita seyogianya terus menerus menjadi Indonesia; mengenakan nama itu sebagai atribut yg inheren dalam energi kebangsaan kita yg bersatu dari beribu suku, majemuk kepercayaan dan kepercayaan , poly ras, poly cerita, legenda geografis & dongeng dari-usul; dalam kesadaran bertanah air satu yang terdiri menurut mosaik beribu pulau, beratus gunung, jutaan tanjung – teluk, yang menyimpan limpahan kekayaan ratna mutu manikam; satu tutur istilah, satu budi bahasa menurut bermacam langgam bahasa budaya yg tak mungkin lagi dibungkam: Indonesia.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *