[TIPS] BERTANGGUNG JAWAB ATAS SAMPAHMU
By: Date: December 11, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Rensti Raharti

Salah satu tren gaya hidup yg dipilih banyak orang saat ini adalah Zero Waste life style. Kesadaran hidup minim sampah menurut saya sangat perlu dilakukan saat ini. Banyak isu yang menaruh perhatian pada masalah sampah yang sudah mengancam keberlangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain. Sayangnya, masih ada yang melakukan sebatas mengikuti tren tanpa kesadaran untuk mencapai dampak yang lebih luas. Misalnya, membeli barang baru untuk mendukung aktivitas zero waste-nya ketimbang menggunakan apa yang tersedia, menjadi tidak sejalan dengan semangat zero waste jika pada akhirnya menimbulkan barang lain yang tidak dapat digunakan.

Cara hidup yg minim membentuk sampah sebenarnya dimulai menurut aku kecil menurut norma yg ditanamkan sang orangtua. Sedari mini aku hayati pada kota kecil pada pulau ujung timur Indonesia. Keterbatasan akses dan jua gaya hayati, membantu kami buat mengutamakan asal & bahan yang tersedia. Saya juga telah dikenalkan menggunakan sistem pengelolaan sampah, walau sebatas organik dan anorganik saja.

Saya nir mengenal jajan karena tidak tersedia pedagang kuliner jadi. Sekolah dan rumah yang jaraknya sangat dekat, membuat aku punya ketika buat pergi makan siang. Orangtua saya bekerja & disediakan fasilitas mess yang lengkap menyajikan makanan selama 24 jam. Jika kami bosan kuliner rumah & ingin sajian yg tidak sama, kami akan menikmati santapan pada mess. Alternatif lain merupakan bertukar makanan dengan keluarga lain yang dari dari daerah lain. Selain makanan, kami juga sering bertukar barang (sandang & buku). Setiap keluar tempat tinggal , selalu tersedia botol minum dan minimal sekotak penganan ringan pada pada tas, bahkan saat perjalanan keluar kota sekalipun.

Seiring perkembangan dan tuntutan kehidupan, juga lantaran kami pindah ke Ibukota, gaya hidup pun turut berubah. Saya beradaptasi dengan ritme kota modern yg serba cepat, penuh persaingan, tergesa, individualis, dan simpel. Seakan hampir tanpa ruang untuk memberi kebaikan & selaras dengan alam.

Berpindah kota beberapa kali, mengalami banyak pengalaman & situasi yg berbeda-beda, kami (saya dan suami) mulai tersadar akan pentingnya menjalani hidup yang lebih selaras menggunakan lingkungan alam. Kami sadar & merasa perlu mengganti cara hidup kami buat memberi kesempatan kepada anak kami melihat bahwa pada global ini banyak hal baik & mampu berdampak baik. Kami sendiri yang bertanggungjawab atas pilihan & tindakan diri sendiri.

Kekhawatiran juga timbul dengan deraan warta tentang perkara yg banyak terj

adi pada berkehidupan pada warga secara generik & pertarungan lingkungan hidup secara spesifik. Kami melihat bahwa global dan perubahan di atasnya sanggup membawa efek negatif bagi anak. Namun sadar bahwa tindakan kita sebagai insan bisa membawa perubahan ke arah yang baik, maka kami berani berangkat dari situ.

Sebagai orangtua, kami berusaha memberi teladan menggunakan segenap kepala, hati, dan tangan kami dengan konsisten melaksanakan apa yang kami yakini baik yg akan berdampak baik jua adanya. Kami membuat planning, memperhitungkan imbas, & merepotkan diri sedikit dengan persiapan sebelum berkegiatan. Harapan kami kebiasaan sederhana dengan impak luas akan tertanam dalam diri anak.

Setiap aspek kegiatan sehari-hari bukan tanpa risiko sampah. Kami berusaha merencanakan setiap kegiatan sambil jua belajar menahan diri. Tantangan besar berdasarkan hayati minim sampah adalah pola konsumsi instan & simpel yang telah menjadi bagian dari perkembangan diri & kemudian terasa menjadi kebutuhan. Kita seluruh tahu, seiring perkembangan industri, penyumbang sampah terbanyak ketika ini adalah bungkus praktis terutama yang terbuat dari plastik karena tidak mampu diurai alam secara eksklusif. Sebenarnya kemasan tersebut poly yang bisa digunakan balik atau didaur ulang. Namun poly juga yg hanya sekali pakai dan berakhir menjadi sampah.

Ada beberapa cara yg kami coba lakukan buat menuju minim sampah dalam kegiatan kami sehari-hari.

1. Menyusun hidangan kuliner selama 1-2 minggu ke depan

Menu makan sehari-hari direncanakan & diusahakan memasak sendiri. Belanja bahan disusun dan diatur agar tidak ada yg mubazir karena disimpan lebih lama menurut daya tahan bahan itu sendiri. Membawa wadah dan kantung sendiri asat belanja di pasar tradisional maupun supermarket. Kami seringkali mendapati pedagang di pasar berujar bahagia jika pembeli tidak memakai plastik yang mereka sediakan karenanya berarti pula menghemat pengeluaran belanja plastik mereka. Wadah jua membantu kami mengorganisir penyimpanan nantinya di tempat tinggal sehingga turut berhemat waktu.

Saat menentukan jajan, kami pula belajar menahan diri buat nir impulsif dan lebih merencanakan jajan kami (kecuali pada ketika darurat). Sedapat mungkin kami rencanakan apakah akan makan di tempat atau membawa pulang. Selain alat makan pakai ulang, di tas tersedia setidaknya 1-dua wadah kecil buat membungkus kuliner yang tidak habis atau ketika hasrat jajan impulsif mendera.

Selain itu berusaha mandiri pangan dengan menanam tanaman sayur dan buah juga turut berdampak baik. Melakukan pengawetan daging, sayur, dan buah dengan cara sederhana skala rumahan. Seperti menggunakan metoda pengasapan, pengasinan/pemanisan/pengasaman, membuat makanan instan untuk stok pribadi (contoh: nugget, sosis, fruit jam dan jelly), dll. Sebagai konsumsi pribadi tentu akan lebih ekonomis dan sehat.

Keju cheddar buatan sendiri

2. Memilah sampah.

Memilah barang & sampah sebenarnya tampak sepele, tapi dampaknya besar apabila paling nir pada ranah rumahtangga telah bisa melakukannya. Tumpukan sampah di TPA bisa berkurang drastis. Kami sudah berusaha melakukan sejak 3 tahun belakangan. Memilah sederhana semampu kami dengan memisahkan dan mengelola sampah anorganik (plastik, kertas, kaca, kaleng), & organik. Sampah anorganik dibedakan berdasarkan jenisnya; yang masih bisa digunakan/diolah pulang, dan tidak mampu. Sedapat mungkin dibersihkan dan diatur/dikemas sedemikian rupa buat mengurangi volume. Kemasan plastik dicuci bersih lalu ditiriskan, buat menghilangkan bau dan risiko munculnya serangga atau hewan. Botol plastik dicuci dan ditiriskan, ditipiskan/digepengkan, lalu dikumpulkan dalam satu wadah. Demikian pula sampah kertas, bungkus kotak dibuka & diratakan untuk memudahkan disusun. Sampah organik dimasukkan pada komposter sederhana atau dikubur dalam tanah.

Sedikit butuh usaha menjelaskan pada tamu yang berkunjung, lantaran kami perlu tetap konsisten tapi tanpa membuat tamu merasa digurui atau tersinggung. Tentu pula sambil berharap mereka tergerak melakukan hal yg sama. Dalam syarat perjalanan, kami kumpulkan sampah dan simpan pada tas apabila tidak menemukan tempat sampah. Alternatif pengelolaan sampah anorganik sanggup berhubungan dengan pemulung dan juga bank sampah yg sudah banyak bertumbuh kini ini. Atau bisa pula bekerjasama menggunakan komunitas perajin yg membuat aneka kerajinan menurut plastik bekas gunakan.

3. Membuat sendiri beberapa kebutuhan yang diubahsuaikan menggunakan kemampuan.

Kebutuhan sehari-hari yang dapat dibuat sendiri antara lain bahan pembersih. Kebutuhan pembersih beragam varian dan jumlahnya tergantung tujuan pemakaian. Banyak pembersih yang mengandung komposisi tidak ramah lingkungan. Jika memungkinkan, kita bisa membuat sendiri sabun (mandi maupun pencuci) dan sampo, juga pembersih serbaguna dari eco-enzyme yg terbuat dari sisa bahan organik dapur. Mudah dan ekonomis.

Atau membeli dari bulk store dengan membawa kemasan sendiri. Di Indonesia keberadaan toko seperti ini belum banyak tersedia, masih terbatas di kota besar.

Sabun kopi buatan sendiri

Eco-enzyme cleaner yg terbuat menurut kulit jeruk

Di samping memilah sampah, barang di rumah juga dipilah untuk dimanfaatkan kembali. Wadah sampah bisa menggunakan kotak kemasan atau kardus besar. Hal lainnya yang bisa dilakukan adalah vermak pakaian (repurpose) menjadi pakaian anak, tas, selimut, keset, atau alat kebersihan. Ide-ide untuk memanfaatkan kembali barang sudah banyak beredar dan mudah sekali diakses di internet. Memberikan barang layak pakai yang sudah amat jarang digunakan kepada orang lain yang membutuhkan, menyelenggarakan garage sale, atau bertukar barang dengan teman dekat bisa ditempuh untuk memperpanjang usia penggunaan barang.

Sabun serbaguna menurut minyak jelantah

4. Hemat energi dan cermat memanfaatkan alat elektronika pada rumah.

Apabila hendak membeli, pilihan indera elektro yang irit tenaga & berkapasitas daya listrik rendah telah poly tersedia pada pasaran. Tetapi apabila sudah terlanjur memiliki, perlu bijak menggunakan sesuai dengam kapasitasnya, jua mematikan dan melepas sambungan listriknya ketika tidak digunakan. Alat elektronik yang tetap tersambung meskipun nir digunakan akan mengkonsumsi daya listrik walau pada jumlah yg sangat kecil. Selain itu, juga menjaga alat berdasarkan kerusakan dan meminimalisir risiko korsleting. Melakukan perawatan rutin jua memperpanjang usia alat serta memperkecil risiko. Mengusahakan peralihan dari tergantung pada daya listrik yg tersedia menggunakan daya listrik yang bisa diusahakan sendiri. Seperti memakai alat elektronika bersumberdaya energi sinar mentari menurut yang kapasitas mini seperti lampu taman atau lampu meja.

Lampu taman energi sinar mentari

Menjalani gaya hidup minim sampah adalah cara hidup dengan penuh kesadaran untuk mengurangi dampak yg salah satunya berupa sampah. Tidak perlu dilakukan di titik extreme sampai tidak menggunakan plastik sekali pakai atau tidak menghasilkan sampah sama sekali, atau mengusahakan semua serba dibuat sendiri. Tapi menyesuaikan dengan sebisa yang kita mampu. Penting memiliki kesadaran bahwa ada dampak dari tindakan kita. Berkegiatan dengan keluarga dan teman yang memiliki kesadaran yang sama tentu akan mendukung pilihan gaya hidup kita. Kita bisa saling berbagi saran dan pengalaman terkait hidup minim sampah.

Secara generik cara yg kami lakukan sehari-hari masih dipercaya aneh oleh poly orang. Saat membeli makanan jadi contohnya, kami terbiasa langsung menyodorkan kotak makanan karena sudah dipersiapkan. Sering terdapat yg bertanya, kenapa kami membuat repot diri menyiapkan begitu banyak indera sementara sudah disediakan pihak penjual. Tentunya kami dengan senang hati akan menjelaskan alasan kami. Semoga mampu menggerakkan impian di dalam diri orang lain yang mendengarkan.

Dalam kegiatan luar rumah misalnya di sekolah & komunitas, sering masih menuntut kepraktisan dan kemudahan. Kegiatan berkumpul rutin yang disertai sajian penganan & minuman, ringan juga akbar. Masih memakai bungkus pembungkus makanan, wadah dan alat makan & minum sekali pakai, dan residu makanan yang berpotensi sampah. Penyajian kuliner & minuman juga tetap diusahakan tanpa memakai bahan non organik yang sekali pakai. Sebagai peserta, selalu berusaha jangan lupa buat membawa satu set alat makan dan minum sederhana. Sebagai pihak penyelenggara pun jua perlu berusaha & sadar buat turut mengurangi potensi sampah menurut hidangan.

Hidup minim sampah harus sanggup dilakukan dalam aneka macam situasi. Kami tak jarang melakukan bepergian keluar kota menggunakan menggunakan moda transportasi massal. Mengatur jam kepergian sedapat mungkin disesuaikan dengan jam makan dan tidur. Di pada tas selalu tersedia alat makan & minum sederhana, ditambah kantung untuk menampung sampah sementara. Botol minum dengan kapasitas akbar tentu lebih simpel. Di banyak sekali lokasi bandar udara sudah menyediakan stasiun pengisian ulang air minum. Kalaupun ingin membeli minuman, bisa pula membeli air minum kemasan botol kaca yang isinya dipindahkan ke botol kami.

Jajan di restoran dan membawa penganan pulang

Memiliki pencerahan memilih cara hidup ramah lingkungan menggunakan berusaha minim sampah merupakan tujuan yg baik & mulia. Tetapi tentunya perlu memahami kapasitas diri masing-masing. Tips yg aku bagikan pada goresan pena ini adalah hasil pembelajaran diri dan melalui berbagai proses selama bertahun-tahun. Bukan proses yg gampang dan kami pun masih akan terus belajar buat menyesuaikan dengan kondisi yang jua terus berubah.

Menurut pengamatan aku , terdapat kaitan erat antara hayati minim sampah menggunakan berdaulat asal daya. Daya upaya buat hayati sehat dan permanen minim sampah bisa dimulai berdasarkan memilih asal pangan sehat yang mudah kita temui dengan harga terjangkau, atau mampu kita sebaiknya sendiri misalnya dengan bertanam sederhana pada tempat tinggal . Kita sanggup bergantung dalam kearifan lokal tentang sumber daya dan komunitas dalam warga buat saling menyebarkan. Salah satu misalnya, beberapa tahun belakangan terdapat tren memakai garam himalaya yang dipercaya memiliki lebih banyak manfaat. Proses mendapatkannya membuat harganya sebagai mahal. Belum lagi transportasi yg membawanya ke Indonesia, selain memakan porto, juga mungkin mengakibatkan jejak karbon yg tinggi. Sementara, petani garam lokal banyak tersebar di sepanjang garis pantai pada Indonesia tentu dengan harga yg lebih terjangkau. Apakah sahih, sebegitu jauhnya disparitas manfaat garam Himalaya menggunakan garam lokal, sehingga kita harus memilih menggunakan garam impor tadi? Sudahkah pilihan itu diteliti dan ditimbang menggunakan baik? Padahal, menggunakan menentukan menentukan garam lokal, selain irit, pula turut mendukung kedaulatan garam. Ada banyak hal yg mampu kita pertimbangkan pada samping duduk perkara konsumsi.

Mungkin saja masih banyak sumber daya pada kurang lebih kita yang perlu dieksplorasi buat mendukung gaya hayati minim sampah. Kita sanggup mulai dengan memakai apa yg ada di sekitarmu berdasarkan tempat tinggal kita sendiri. Selamat memilih pilihan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *