[PIKIR] Relawan : Siapakah Mereka?
By: Date: December 12, 2017 Categories: Uncategorized

Dunia yang semakin tua ini kini penuh sang kecamuk masalah. Beragam perkara, mulai menurut perkara sosial kemasyarakatan, lingkungan, hingga kemanusiaan. Setiap permasalahan tak jarang berujung dalam degradasi kualitas hayati insan, dari segi kesehatan, kesejahteraan sampai moralitas.

Di tengah hiruk pikuk permasalahan  yang sering melanda masyarakat dunia, terdapat segelintir orang yang memberikan sumbangsih berupa tenaga, dana, pikiran, untuk mendorong ke arah penyelesaian masalah. Bahkan mengupayakan ke arah perubahan yang lebih baik. Para penggerak perubahan itu adalah para aktivis dan relawan. Ulasan tentang aktivis secara detail dapat juga Anda klik di sini.

Tidak semua aktivis adalah relawan. Tetapi, kebanyakan aktivis seringkali memulai debutnya dengan menjadi relawan. Bila aktivis mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keberpihakan tertentu, maka relawan adalah orang-orang yang menyisihkan sebagian waktunya untuk memberikan sumbangsih tertentu pada sebuah gerakan ke arah perubahan. Namun demikian, ada juga orang-orang yang memilih jalan hidupnya sebagai relawan full time. Jadi, ada beberapa orang menjalani hidupnya sebagai aktivis sekaligus relawan.

Menjadi Relawan : Tanpa Nyali dan Berani Mati?

Rachel Corrie, adalah nama yang sangat fenomenal di dalam dunia aktivis dan relawan. Lahir pada tahun 1979 di Washington, Amerika Serikat, gadis ini semenjak kecil telah memiliki keprihatinan pada masalah-masalah kemanusiaan. Semasa sekolah, ia telah menjadi relawan yang menyuarakan masalah-masalah kemiskinan, gelandangan dan kelaparan. Setelah lulus kuliah, gadis ini berangkat ke Palestina untuk menjadi aktivis perdamaian. Ia gugur oleh sebuah buldozer milik Israel yang melindas tubuhnya di Kota Rafah, Jalur Gaza. Buldozer milik Israel itu tengah menghancurkan perumahan warga Palestina dengan alasan hendak mencari kaum teroris di Kota Rafah.

Rachel Corrie

Sumber foto : www.Rachelcorrie.Org

apabila Anda ingat pada beberapa pemberitaan pada banyak sekali media elektro mengenai penanganan bencana maupun pertarungan, dari puluhan sampai ratusan relawan terjun buat membantu para korban. Ada relawan yg bertugas menggotong mayat-mayat korban bala, ad interim relawan lainnya masuk ke puing-puing tempat tinggal yang runtuh, menggunakan risiko nyawanya sendiri bisa melayang jika terjadi keruntuhan susulan. Relawan lainnya wajib berhadapan menggunakan pihak separatis atau militer tertentu yg secara brutal dapat memuntahkan peluru menurut senjatanya. Betapa hayati relawan seperti sebuah telur yang berada di ujung tanduk.

Namun demikian, ada juga relawan yang tak harus berhadapan dengan marabahaya. Misalnya, relawan donor darah atau relawan pendidikan yang bertugas mengajar anak-anak di tenda pengungsian. Ada juga relawan yang bergerak di pelestarian lingkungan hidup, dengan kegiatan penanaman pohon, kampanye nol sampah atau bersih-bersih sungai dari sampah. Jadi, tidak semua relawan harus berani mati atau tanpa nyali dalam melakukan kegiatannya. Namun demikian, bukan berarti relawan yang tak berhadapan dengan marabahaya bisa leyeh-leyehdalam melakukan tugasnya.

Semua orang yg menentukan buat terjun di pada dunia relawan memiliki tanggung jawab moral yang sama besarnya pada membantu menuntaskan masalah humanisme apapun bentuk pekerjaannya. Relawan adalah orang yang memiliki keprihatinan terhadap aspek tertentu di pada rakyat, kemudian beliau tergerak buat melakukan sesuatu, dan yang perlu digarisbawahi, orang-orang tersebut merealisasikan keberpihakannya dengan sukarela, tanpa pamrih.

Latar Belakang Seseorang Menjadi Relawan

Seseorang menjadi relawan dengan berbagai motivasi. Hal pertama yang sangat mungkin menggerakkan seseorang untuk menjadi relawan adalah adanya GERAKAN HATI. Hati yang tergerak karena menyaksikan ketidakadilan yang terjadi di depan mata. Hati yang gelisah karena terjadi penindasan yang menginjak-injak nilai kehidupan seorang manusia.

Gerakan hati mampu muncul lantaran perasaan yang peka pada diri seorang. Di sisi lain, gerakan hati nir timbul begitu saja misalnya wangsit undian berhadiah. Gerakan hati ada karena masa kemudian & pengalaman yg menempa seorang. Sebagai contoh, hati seorang tergerak buat mendedikasikan dirinya bagi perkembangan pendidikan dan permainan seseorang anak, karena orang tersebut mengalami sendiri masa kecilnya yg serba terkekang, & tidak mengalami kepuasan sebagaimana anak kecil pada umumnya.

Latar belakang lainnya yg menggerakkan seseorang sebagai relawan adalah, lantaran orang tadi ingin belajar sesuatu dari pengalaman kerelawanannya. Misalnya, menggunakan menjadi relawan lingkungan hidup, seseorang belajar memahami pengertian mengenai pemanasan dunia atau rapikan cara membentuk pupuk organik dan kertas daur ulang.

Selain motivasi belajar dan menambah pengalaman, seseorang menjadi relawan karena ia merasa bertanggung jawab pada masyarakatnya sendiri. Hal ini biasanya terjadi pada korban yang merasakan dampak dari kondisi yang tidak adil atau tidak sesuai dengan perikemanusiaan. Contoh nyata dapat kita temui pada penduduk lokal yang terkena bencana gempa atau tsunami. Para penduduk lokal rela bahu membahu menjadi relawan untuk mencari korban yang selamat di antara reruntuhan puing-puing bangunan yang rubuh akibat gempa. Ada juga penduduk lokal yang merelakan diri menjadi relawan kesehatan untuk ibu-ibu hamil dan menyusui di desanya. Atau, penduduk lokal yang mau menjadi relawan pendidikan untuk mengajari anak-anak putus sekolah di desanya.

Yanti, gadis pengungsi pasca tsunami Aceh, menjadi relawan pengajar di tenda pengungsi untuk anak-anak putus sekolah

Sumber foto : http://volunteer-story.blogspot.com/2012/03/kisah-para-relawan-guru-wanita-tujuan.html

Relawan : Turis yang Melakukan Wisata Kemanusiaan?

Bagaimana menggunakan orang-orang yang sebagai relawan semata-mata karena bahagia berada pada daerah terkena bala yg menurutnya bombastis? Orang-orang ini berniat menjadi relawan lantaran bahagia memacu adrenalinnya sendiri. Seperti orang yang hobi melakukan olahraga arung jeram atau panjat tebing, tapi, yg satu ini terjun menjadi relawan demi kepuasan dirinya sendiri.

Relawan dengan kriteria seperti disebutkan di atas, tidak akan pernah seratus persen mendedikasikan tenaga dan pikirannya buat dilema-duduk perkara kemanusiaan, darurat bala maupun lingkungan hayati. Ia membuahkan insiden-insiden tadi menjadi ajang pamer diri, tanpa pernah memaknai kontribusi dirinya terhadap duduk perkara-duduk perkara yang diterjuninya. Orang-orang seperti ini bagaikan seseorang turis pada sebuah wilayah wisata berpemandangan bencana atau fenomena lingkungan.

Contoh orang-orang misalnya ini dapat kita temukan dalam daerah-daerah bala, misalnya wilayah terkena lumpur Lapindo, daerah terkena tsunami Aceh, wilayah korban gempa di Padang atau Yogyakarta, wilayah terkena banjir bandang di Wasior, Papua sampai daerah-daerah perseteruan seperti Ambon, Sampit, Lampung Selatan. Relawan ?Turis?, akan memanfaatkan insiden kemanusiaan hanya ketika momen tersebut tengah menerima perhatian penuh berdasarkan banyak sekali pihak, dan diberitakan terus menerus sang media massa. Ketika perhatian pada insiden tersebut menurun, relawan ?Turis? Ini akan pulang & hilang tidak berbekas.

Meski demikian, ada beberapa orang yang berangkat sebagai relawan ?Turis? Dengan motivasi sekedar ingin tahu atau sekedar memacu adrenalin, mengalami perubahan diri setelah bersentuhan pribadi menggunakan kenyataan humanisme & lingkungan yang dihadapinya. Perubahan terjadi dalam komitmen dan pemaknaan diri mereka setelah terjun sebagai relawan. Perubahan ini sangat baik, lantaran adalah titik pulang bagi individu yang bersangkutan. Di pada dirinya terjadi transformasi diri, menurut langsung yg awalnya hanya memikirkan kesenangan & kepuasan diri, sebagai eksklusif yang rela melakukan sesuatu bagi orang lain.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan motivasi diri, ketika Anda memutuskan menjadi relawan. Senantiasa mengintrospeksi diri akan mengasah motivasi diri dalam melakukan sesuatu bagi orang lain dan lingkungan.

Relawan Greenpeace bergotong-royong membangun bendungan di hutan gambut, Desa Kuala Cenaku

Sumber foto : http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/picture-desk/lebih-dari-30-relawan-akan-bek/

Relawan : Dapat Apa?

Beberapa orang mungkin akan berpikir, buat apa susah-susah bekerja menjadi relawan, namun nir terdapat imbalan materi sedikit pun yang didapatkan. Orang-orang seperti ini akan berpikir seribu kali waktu tiba tawaran sebagai relawan buat sebuah aktivitas kemanusiaan atau lingkungan hayati. Jadi, sesungguhnya, apa yg menciptakan seseorang menentukan dan menjalani aktivitas sebagai relawan?

Meski bukan materi berlimpah berupa uang atau benda-benda glamor, seseorang relawan sesungguhnya menerima banyak hal. Hal yang terutama merupakan ekspresi. Seorang relawan akan merasa sebagai insan yg sesungguhnya, ketika bisa menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi orang lain & lingkungan hidup pada sekitarnya. Berangkat menurut ekspresi ini, selanjutnya akan membangkitkan kebahagiaan tersendiri pada dalam hayati, rasa percaya diri dan ketenangan batin.

Hal lain yg dihasilkan seseorang relawan diantaranya merupakan pengalaman & jaringan pertemanan. Pengalaman yg dihasilkan seseorang relawan bisa dijadikan bekal hidup pada lalu hari. Sementara jaringan pertemanan adalah investasi krusial pada segala hal.

Pada akhirnya, dengan semakin poly memberikan diri menjadi relawan, seorang akan semakin poly mendapat. Apa yg didapatnya bukanlah materi yg dengan mudah habis tak berbekas. Hal-hal yg didapat sang seseorang relawan bersifat menetap, bermanfaat, meski nir terlihat secara pribadi menurut luar. Manfaat pada pada diri itulah yang menciptakan seorang bisa memaknai kehidupannya, mensyukuri segala hal di pada hidupnya, dan melihat dunia melalui tatapan optimis.

Siapkah Anda sebagai relawan?

(Navita Kristi Astuti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *