[Masalah Kita] Satu Episode Sedih Romantisme Aktivis Perempuan
By: Date: December 13, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Yusmadaniar Hanum – Manager Program LSM PERAK-Pidie

Mungkin semua orang pernah mengalami murung , tetapi sedih yg kurasa relatif berbeda. Pada saat seseorang gadis bergerak dewasa banyak cerita yg ingin beliau banggakan: cerita manisnya beserta sahabat jua oleh kekasih. Persoalan-duduk perkara di rakyat mungkin akan bisa segera terpecahkan (warga pengungsian), terdapat banyak sekali jalan keluar yang mampu ditempuh. Tetapi, tidak selaras menggunakan persoalan yg kuhadapi. Pada waktu Aceh ini dinyatakan sebagai daerah permasalahan, aku sebagai keliru satu aktivis wanita yang siap menggunakan konsekwensi apapun. Ketika itu, aku nir pernah resah menggunakan keamananku, makan, pakaian dan penampilan. Aku hanya galau terhadap keadaan rakyat / orang-orang yg terjebak diantara 2 pilihan; dukung GAM mati, tidak dukung GAM jua mangkat . Lokasi tempat tinggal mereka menjadi ajang pertempuran dan akhirnya mereka mengungsi buat mencari loka aman bagi anak & istri mereka ke sebuah jalan, yg jua adalah jalan pintas tujuan kampusku. Aku kuliah pada salah satu kampus partikelir yang terdapat pada Aceh.

Pada kondisi misalnya itu, kebanyakan perempuan hanya berdiam pada rumah, tanpa bisa melakukan apapun. Mereka hanya akan keluar jika diperlukan saja. Sebagai seseorang anak perempuan , tentulah dalam umumnya susah menerima ijin buat sanggup terjun pada aktivitas sosial, ditambah lagi saya dititipkan pada loka adik ibuku pada sini. Selain bekerja sebagai relawan di pos mahasiswa, aku pula aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) walaupun dalam saat itu masih sebagai anggota biasa.

Boleh dikatakan, langkah yang kutapaki berjalan dengan baik & mulus. Tapi buat semua itu, aku membutuhkan waktu buat meyakinkan orang tua, famili dan sekelilingku. Bahwa saya sebagai aktivis bukan berarti menjadi perempuan yg ngak benar. Keluargaku khawatir apabila Aku nantinya akan diperkosalah, diculik GAM, atau dibuang mayatnya.

Itu hanya garis besar ketakutan famili akbar ibuku saja. Tetapi langkahku tidak pernah surut selangkahpun. Karena komunikasi yang terus kubangun menggunakan ibuku, akhirnya beliau mengizinkan dan mengikhlaskanku untuk membantu rakyat lemah dan melawan penindasan. Ibuku nir pernah menyangka kalau Aceh seperti yg kuceritakan. Ijinnya di seberang kota yg tidak berakses konflik, membuatku konfiden terus buat melangkah, berjuang melawan penindasan.

Terbukti kini , aku dikatakan orang sukses berdasarkan teman-teman seangkatanku yg dulu menjadi mahasiswa patuh terhadap orang tua. Tentu dibalik semua itu poly duduk perkara yg kuhadapi. Disamping berdasarkan masalah-problem yang ada pada lapangan & organisasi yaitu perkara hati / perasaan. Kondisi ini lama kelamaan membuatku terbiasa & sudah kebal.

Ada beberapa kali hubungan yang terjalin, tetapi akhirnya putus di tengah jalan. Ini ditimbulkan beberapa hal, yaitu masalah waktu, pandangan (aliran), penampilan / style dan juga pekerjaan. Tetapi yg sebagai masalah primer berdasarkan retaknya hubungan itu antara lain dikarenakan pandangan dan pekerjaan. Sebagai seseorang aktivis ternyata berbagai masalah, apakah itu persoalan keluarga, lingkungan pula langsung, harus siap kuhadapi. Ini sangat berat, lantaran famili calon pasanganku menolak jika herbi seseorang aktivis. Dari oleh pujaan, juga agak berat atau sangat berat merelakan kekasih atau calonnya bekerja menjadi seorang aktivis / pekerja sosial di warga . Hal ini, sempat membuatku hampir putus asa buat meyakinkan tentang pekerjaanku.

Rasa percaya diriku tidak luntur, meskipun Aku wajib kehilangan sang pujaan hati, lantaran prinsipku, hayati hanya sekali & apa yg mampu kulakukan selama kuhidup? Kalau kita nir sanggup berguna bagi orang lebih kurang/ lain, maka manusia itu akan rugi. Inilah yg membuatku terus mantap melangkah untuk terus berjuang membela masyarakat kecil, lemah tuk melawan ketertinggalan. Aku konfiden suatu waktu Aku akan menemukan orang yang pantas & sesuai denganku. Insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *