[PIKIR] MENJALANKAN PERIKEMANUSIAAN
By: Date: December 17, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Umbu Justin

? Dia menyewa taksi ke Bandung dan minta diturunkan di jalan Braga. Hari sudah malam. Ia meninjau-ninjau & mengintip-ngintip ke pada tempat kerja redaksi Medan. Tak seseorang pun dikenalnya. Ia ragu-ragu untuk masuk, pula nir berusaha untuk bertanya. Kemudian dia pulang berjalan kaki?.

Seperti burung patah sayap ia berjalan merasuk, memasuki sebuah dangau kosong di pinggir jalan ? Beliau mengenangkan segala-galanya yang telah lewat. Betapa kedekut Tanah Air dan bangsanya dalam dirinya. Di Hindia ini betapa orang mudah melupakan, misalnya tulang- belulang paling keras pun, rapuh melenyap oleh kelembapan tanah tropis?

(Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer)

——Menjalankan Peri-kemanusiaan

Sebuah perspektif bagi para relawan

Kemanusiaan kita terikat dalam aneka macam narasi, bukan saja dalam kisah-kisah akbar alam semesta, kisah penciptaan baik pada mitologi, kepercayaan , pada cerita ilmiah mengenai jadinya galaksi & bintang-bintang, evolusi, dan terbangunnya spesies insan, sejarah, kebangsaan, suku golongan dan sebagainya?Namun juga dalam kisah-kisah mini yang spesifik seperti sejarah famili, kisah langsung, lebih jelasnya keseharian, pada cerita tentang kejadian-peristiwa personal, karakter, sifat-sifat dan bahkan etos pribadi. Tentang setiap kita, selalu bergantung pertanyaan mengenai siapakah kita, dari dari-usul, suku, dari tanah air, ikatan famili, sejarah pendidikan & seterusnya. Bahkan secara pribadi, setiap orang menginginkan hidupnya terbangun berdasarkan sebuah narasi yg bermakna ? Kita seakan selalu ingin menuliskan otobiografi yg sungguh memberi nilai pada kemanusiaan, kita ingin bercerita tentang kisah kita & ingin menjawab pertanyaan akbar mengenai siapakah kita dalam narasi yang bermakna.

Inilah tenaga terpenting kita, bangkit ke dalam narasi, bereksistensi berarti berada dalam paparan cerita, entah pada cerita riwayat keluarga, kita terlahir sebagai anak pada famili dengan runutan kisah yang sangat tua, kisah yg niscaya terekam dalam warna kulit, DNA, tempat lahir, nama famili, kebangsaan, virtual-impian dan trauma-syok yang teronggok pada lapisan kolektif yg dalam. Namun kita pasti bangkit pada narasi, ke dalam cerita yang wajib kita tulis sendiri, yang kita rangkai sebagai cara kita masuk ke pada kehidupan, mungkin tidak lewat pintu yg tersedia, lewat kesempatan-kesempatan yg senantiasa ditawarkan, melainkan melalui celah-celah tidak terduga yang kita buat sendiri atau yg terjadi begitu saja dampak peristiwa-insiden atau narasi-narasi tersembunyi yang luar biasa.

*******

Penggalan kisah jalan Braga pada atas, yg dinarasikan sang Pramoedya adalah tentang Raden Mas Minke (R.M. Tirto Adhi Soerjo, 1880 – 1918) yang kehilangan segalanya setelah kembali dari pembuangan. Ia pulang ke Bandung menggunakan kopor kaleng tua tak berisi buat menengok tempat kerja surat fakta yg dia dirikan semasa perjuangan, dan tak terdapat yang bisa beliau temukan lagi.

Raden Mas Minke yg jadi tokoh primer tetralogi pulau Buru, bangun dari narasi feodal yg diwarisinya, membaca dengan cermat narasi tersembunyi yang diderita bangsa pribumi Hindia Belanda, misalnya Multatuli, beliau tersadarkan oleh suatu semangat buat memberi diri ke dalam sebuah narasi baru, narasi perlawanan terhadap sistem penindasan sang para intelektual & birokrat Belanda. Ia adalah sang pemula pada seluruh sejarah perlawanan intelektual pribumi terhadap kolonisasi atas tanah Hindia Belanda. Ia memperkenalkan narasi tersembunyi yang selama ini hanya bisa dirasakan rakyat jelata, Minke menulis, menuturkan narasi murung ketertindasan pada semua tulisannya dalam koran yg ia terbitkan beserta mitra-kawannya, Medan Prijaji (1903). Ia lantas ditindas dan dibuang jauh agar tidak dapat didengar lagi.

*****

Minke menjadi sadar akan narasi tersembunyi, yg hanya bisa dibaca dengan menciptakan kepekaan kemanusiaan yg penuh penyerahan diri. Narasi yang tertimbun sang kebisuan penderitaan masyarakat jelata hanya bisa dibaca dan didengar oleh jiwa yang membuka mata, & menyendengkan indera pendengaran, yang terbangun dari tidur panjang kebodohan.

Minke priyayi menjalankan diri menjadi kelas menengah yang aktif, merelakan hayati, menjadi aktivis, sebagai relawan, bukan dengan sebagai peneriak persoalan, melainkan dengan membangunkan seluruh orang, yang ditindas, yg menindas, & terutama kaum kelas menengah, yg menikmati privilese priyayi dengan menekan dan menjilat. Ia menuliskan opininya yg tajam, membentuk pencerahan & menyerahkan seluruh hidupnya dalam usaha di antara bangsa yang belum terjaga.

*****

Ketika sesosok jiwa terbangun, menyadari pentingnya menuliskan hidupnya pada narasi yg bermakna, dia niscaya akan melekatkan narasi hidupnya dalam konteks narasi terpenting yang ia yakini dengan segenap jiwanya. Jiwa yang demikian akan merelakan kehadirannya dalam impian perubahan, semangat buat mengubah global, memperbaiki dan menggembalakan kehidupan. Satu-satunya bahaya pada penuturan narasi kehidupan adalah kesamaan narsisistik yg terjadi akibat keengganan merelakan hidup. Kaum perambah kehidupan yang ingin menuliskan namanya dengan ujaran kemegahan, kaum cinta-diri yang mengakibatkan persoalan rakyat sebagai tangga mencapai cita-cita pribadi, tentu tidak mempunyai kerelaan dalam hayati.

Tentang hal ini pun dituliskan Pramoedya dalam lelakon Minke yg mengeluh: Di Eropa, terutama pada Perancis, setiap orang yg melakukan sesuatu yang krusial dan bermanfaat bagi masyarakatnya, menggunakan sendirinya mendapatkan tempat dalam masyarakatnya. Lain halnya di Hindia, pada sini orang berebut loka dengan cemas, misalnya takut tak kebagian, tanpa mau melakukan hal yang berguna? Karakter kaum priyayi yg tidak sanggup merelakan diri pada narasi kehidupan, yang hanya cemas pada tempatnya dalam narasi tua penindasan merupakan bahaya yang membisukan bangsa. Kaum intelektual yang berdiam diri, yang hanya asyik mencari posisi, dan membiarkan hayati terperosok dalam kesalahan merupakan bala bagi rakyat. Kaum intelektual semestinya adalah tenaga pencerahan warga , daya penggerak pada komunitas yang beradab. Kaum inilah yg seharusnya memperdengarkan narasi-narasi tersembunyi dalam sistem kemasyarakatan yang tidak adil, dan sekaligus membentuk narasi baru menuju kehidupan yang bermartabat.

Merelakan kehidupan merupakan menjalankan peri-kemanusiaan, yakni daya empati pada nasib insan, nasib bangsa, yg tidak sanggup membaca sendiri narasi tersembunyi yang melumpuhkan martabatnya. Daya ikut merasakan yang menggerakkan jiwa para aktivis pada mana pun pada seluruh global, merelakan hidupnya buat pengharapan pada keharusan kehidupan yang mudun. Inilah tenaga yg membebaskan kita berdasarkan narasi bawaan kita: warna kulit, nasib kolektif, keturunan, asal-usul, DNA & catatan biologis pada badan kita, virtual-impian & syok-trauma bawah sadar, perangkap golongan & grup, riwayat politik, stigma-stigma kronis yg sengaja direkatkan? Agar kita bangkit menuliskan narasi humanisme baru yg beradab bagi seluruh orang.

Seorang aktivis adalah beliau yang dilahirkan kembali oleh mak kehidupan. Warisannya merupakan kesadaran akan berbagai narasi baru yg ia temukan sendiri dalam realitas kepahitan pada global, & ia akan meninggalkan tanah usang tempat seharusnya beliau sanggup nyaman berakar, masuk merasuk pada tantangan hidup yg mesti berarti. Ia akan merelakan jiwanya, menjalankan peri-kemanusiaannya, melawan arus yang menidurkan orang, mengekalkan kekuasaan & mematri penderitaan.

*****

Lantas adakah ganjaran yang pantas bagi seorang relawan kehidupan, bagi beliau yang terbangun & menjadi aktif buat membangunkan komunitasnya? Ganjaran bukanlah berukuran keberhasilan, apalagi berukuran nilai hidup, misalnya sebuah cerita yg baik umumnya masih meninggalkan tanya & keraguan namun menyiratkan keteguhan hati pada sang pelakon primer buat menghadapi hidup dengan berani. Narasi nir harus berakhir indah bahagia. Lagi jua, apa itu akhir cerita? Seperti cerita Raden Mas Minke pada malam hari pada dangau mini sesudah melepas harap pada jalan Braga, ia tidak mendapatkan apa-apa. Kesenduan pada ujung buku Rumah Kaca tadi adalah tembang sedih Pramoedya tentang hidup yang terlupakan. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, sang pemula kebangkitan kesadaran humanisme kita yg dilupakan sang penulisan sejarah Indonesia, beliau yg mendahului Boedhi Oetomo?.

*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *