[PROFIL] PEJUANG DEMOKRASI EKONOMI ERA 4.0
By: Date: December 22, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Jeremia Bonifasius Manurung

Selepas runtuhnya Uni Soviet, simpel hampir semua negara di global menggunakan sistem kapitalisme sebagai metode pengelolaan ekonomi. Prinsip-prinsip misalnya akumulasi kapital, pengambilan keputusan sepihak oleh jajaran direksi dan pemilik saham, dan maksimalisasi keuntungan sambil meminimalisasi porto meski wajib mengorbankan lingkungan & pekerja menjadi jamak.

Di tengah hiruk pikuk kapitalisme, tetap ada orang yang percaya bahwa ekonomi dan segala tetek bengeknya bisa dikelola dengan cara alternatif. Metode alternatif dari kapitalisme tersebut masyhur disebut co-operative atau dalam Bahasa Indonesia kita menyebutnya koperasi.

Sebagai model merupakan Mondragon Cooperatives pada Basque, Spanyol. Mereka adalah perusahaan menggunakan nilai lebih kurang tiga ratus triliun rupiah yang dikelola dengan metode koperasi. Di sana, nir terdapat eksploitasi pekerja, pendapatan yang setara antara direksi dan karyawan paling rendah, & tidak terdapat pengumpulan kekayaan yang hanya dinikmati segelintir direksi dan pemegang saham. Di Mondragon, semua pekerjanya adalah pemilik perusahaan. Perbandingan gaji pekerja paling rendah & paling tinggi diatur nir boleh lebih dari 1:8. Puncaknya, sistem koperasi yang tak jarang dilihat sebelah mata itu bisa membuat Mondragon sebagai perusahaan konglomerasi ke 4 paling bernilai pada Spanyol.

Lain di Spanyol lain juga di Indonesia. Di sini koperasi sudah tereduksi menjadi sekedar koperasi perkumpulan karyawan atau koperasi simpan pinjam. Tetapi ternyata ada orang atau sekelompok orang yang meyakini bahwa koperasi bisa jadi metode pengelolaan ekonomi yang berhasil dan jua berjuang mewujudkan visi tersebut. Salah satu orang tersebut merupakan Muhamad Sena Luphdika.

M. Sena Luphdika

Muhamad Sena Luphdika atau akrab dipanggil Sena adalah CEO dari Meridian.id. Meridian.id adalah sebuah software house yang berlokasi di Bandung. Sena memang akrab dengan dunia teknologi informasi dan startup. Sena menjadi mentor di Bekup, salah satu program dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) untuk dunia startup. Di Meridian.id Sena juga pernah mengadakan acara Built What You Love untuk membantu startup-startup di sekitar Bandung membangun perusahaan mereka.

Sena juga aktivis platform co-operative. Platform co-operative atau biasa disebut platform co-ops adalah metode pengelolaan startup dengan prinsip co-operativisme atau koperasi.  Dia pernah mengikuti konferensi startup platform co-ops di Hongkong pada 2018 silam.

Ketertarikan Kepada Koperasi

Sena bercerita bahwa ada beberapa hal yang membuat ia tertarik kemudian tergerak menggeluti dunia koperasi. Sebagai orang yang pernah belajar formal tentang teknologi informasi dan berkecimpung di dunia tersebut setelah lulus, Sena pernah mengalami kegalauan. Dia pernah bertanya-tanya,”Apa sih IT?”.  Sena juga mepertanyakan tentang hype valuasi atau nilai perusahaan startup yang menurutnya bersifat gorengan. Muncul ketidakpuasan terhadap dunia IT dan per-startup-an. “Merasa ga puas aja”, begitu katanya.  Puncak ketidakpuasannya adalah fakta-fakta mengenai ketidakadilan perusahaan-perusahaan startup terhadap orang-orang yang dipangggil partner seperti pada Gojek atau Uber. Menurutnya, mitra adalah istilah yang tidak tepat karena yang terjadi adalah hubungan tidak seimbang yang menjurus eksploitasi terhadap “mitra”.

Hal kedua yang membuatnya tersadar adalah mengenai kesenjangan & lapangan pekerjaan. Dulu Sena ingin mendirikan perusahaan buat mengatasi kesenjangan ekonomi. Baginya, kesenjangan merupakan kasus paling pelik yg menjadi pemicu buat poly masalah sosial lain.

“Kepikiran untuk bikin holding”, tuturnya mengingat masa lalu. Menurutnya dulu, perusahaan holdingakan memberikan pekerjaan kepada orang-orang dan itu cukup untuk mengentaskan kesenjangan ekonomi. Tapi  Sena tersadar, ketika  fakta di lapangan menunjukkan meskipun perusahaan holding sudah banyak, namun kesenjangan tetap ada bahkan semakin menjadi-jadi. Di situ dia berkesimpulan, bukan banyaknya perusahaan yang menjadi poin penting namun bagaimana perusahaan tersebut dikelola.

Perusahaan holding atau startupsekalipun jika dikelola dengan gaya lama tidak akan mengentaskan kesenjangan.  Sena percaya bahwa yang harus dilakukan adalah mengubah pola pengelolaan perusahaan.  “Sistem dan strukturnya yang harus diganti”, begitulah kesimpulan dia.

Menurutnya, buat mengentaskan kesenjangan perusahaan haruslah dikelola secara demokratis. Artinya, tiap orang yang terlibat dalam proses produksi perusahaan harus terlibat dalam pengambilan keputusan, konklusi, dan penentuan arah perusahaan. Jika keputusan perusahaan berdampak bagi pekerja maka pekerja berhak buat turut menyuarakan pendapat dan berperan dalam proses pengambilan keputusan.

Saat ini, dalam perusahaan biasanya, pengambilan keputusan ditempatkan dalam segelintir pemegang saham & direksi. Apa barang yang wajib diproduksi, kapan/pada mana barang tersebut diproduksi, bagaimana cara memproduksinya dan apa yang akan dilakukan pada laba yg didapatkan dipengaruhi oleh segelintir orang tersebut. Semuanya tergantung dalam benevolentleader. Jika pemimpinnya baik, semua proses di atas akan baik.

Tetapi bagaimana apabila pemimpinya buruk? Tentu yg dihasilkan merupakan hal yang jelek. Apalagi jika pemimpin hanya punya satu tujuan. Pemimpin perusahaan hanya peduli pada bagaimana menghasilkan laba sebanyak-banyaknya dengan porto ekonomi yg sekecil-kecilnya. Biaya yg sekecil-kecilnya acapkali mengorbankan lingkungan dan mengeksploitasi pekerja

Pekerja berada pada posisi yg amat lemah. Mereka tidak sanggup melawan atau sekadar menerangkan ketidaksetujuan. Dalam sistem yg umum saat ini, secara struktural melawan merupakan siap buat dipecat. Hal inilah yang dilihat Sena membuat pekerja tidak punya kekuatan & terus dieksploitasi

Ketidakberdayaan pekerja juga termasuk dalam urusan mendistribusi laba perusahaan. Pekerja praktis ?Tulus? Saja honor yang disodorkan pada mereka. Pilihan mereka merupakan ambil honor mini itu atau tidak makan. Ujung menurut perbedaan pendapatan yg mencolok adalah kesenjangan ekonomi. Kesenjangan ekomi akan memicu terciptanya kesenjangan-kesenjangan lain seperti sosial, pendidikan, kualitas hidup, kesempatan kerja dan masih banyak lagi.

Melihat empiris misalnya pada atas, Sena berkesimpulan bahwa jika kita ingin mengubah keadaan secara lebih mendasar kita perlu mengubah sistem dan struktur pengelolaan perusahaan. Dari yang awalnya otoritarian menjadi demokrasi. Dari yang awalnya keputusan diambil sang segelintir orang menjadi semua orang berhak menentukan arah/keputusan. Keputusan tertinggi ada pada anggota bukan pada segelintir direksi dan pemegang saham .

Ekonomi Baru: Mulai Dari Lingkungan Sendiri

Bagi Sena, tema ekonomi baru adalah tema yg menarik. Dia beropini bahwa menyadari bahwa kita membutuhkan sistem ekonomi baru,merupakan awal yg mengagumkan. ?Jika kita memutuskan buat menggunakan sistem yg baru, kita wajib sadar bahwa yg lama itu buruk, usang, punya kekurangan?, jelasnya. ?Kalo ngga kenapa harus untuk yang baru??, dia menambahkan.

Sadar bahwa sistemnya wajib diganti merupakan suatu kemajuan. Tetapi tentu akan lebih baik apabila dilanjutkan dengan mengetahui pandangan baru penggantinya. Menurut Sena inilah yg menciptakan memperjuangkan koperasi telah sulit menurut awalnya.

Sena menyadari bahwa bagi orang kebanyakan koperasi itu merupakan 3 hal yang berkonotasi negatif. Pertama, koperasi adalah ide jadul atau usang. Kedua, koperasi pula ditinjau sempit hanya koperasi simpan pinjam atau koperasi karyawan saja. Ketiga, koperasi dipercaya tidak baik setelah maraknya kejadian koperasi bodong yg akhirnya malah menggelapkan uang anggota misalnya Koperasi Cipaganti dan Koperasi Pandawa.

Bagi Sena, menciptakan koperasi menjadi hal yg generik dan dimengerti poly orang adalah tantangan & poin awal yang krusial. Mengubah pola pikir orang tentang koperasi akan membuat usaha mengkoperasikan sekitar kita menjadi lebih mudah.

Karena koperasi telah mendapat predikat jelek, Sena membicarakan bahwa dia seringkali memakai kata lain buat menyebutkan koperasi. Menurutnya koperasi harus di-rebranding. Kita masih bisa menjelaskan nilai-nilai koperasi tanpa menggunakan istilah-kata koperasi.? Pake aja kolektif, kerjasama, gotong royong, demokrasi ekonomi, atau yg lain?, begitu dia mencontohkan. Baginya yg lebih krusial merupakan nilai dibanding istilah-ucapnya saja. Di masa depan, harapannya orang-orang melihat dan tersadar bahwa ternyata selama ini nilai-nilai yg mereka lihat sebenarnya nilai-nilai koperasi.

Selain itu, bagi Sena kita sanggup mulai berdasarkan diri sendiri dahulu saja sebagaimana Sena memulainya di tempat kerja. Hal yg paling bisa kita ubah adalah diri kita sendiri. Namun tentu prinsip koperasi bukanlah mengenai individu tetapi tentang kolektivitas. Kumpulan orang yg paling mampu & mampu kita yakinkan merupakan sahabat-sahabat kita sendiri dan famili.

Rapat Koperasi Ardhini

Sena mendirikan Koperasi Ardhini di lokasi kantor Meridian.Id. Kebetulan, di lokasi tadi ada startup & usaha lainya berkantor sebagai akibatnya koperasi yang dinamakan Koperasi Ardhini tadi nir mini -kecil amat. Dia memulainya menggunakan mendirikan koperasi konsumsi dimana setiap orang di kantor sebagai pemilik suatu usaha catering dan rumah kopi pada tempat kerja tadi.

Prinsip bahwa pengambil keputusan tertinggi adalah musyawarah dengan setiap anggota adalah pemilik koperasi inilah yg coba Sena jalankan. Koperasi Ardhini rutin bermusyawarah buat menetukan arah koperasi. Penulis pernah mengikuti sendiri rapat koperasi dan menyaksikan anggota-anggota koperasi berdiskusi buat memilih menu harian serta taktik ekspansi ke kantor atau co-working space kurang lebih tempat kerja Meridian.Id.

Petikan penting

Memiliki visi akbar & mulia pada hayati tentu penting. Mewujudkan visi tadi tentu lebih penting lagi. Disinilah kita seringkali gagal. Mengubah sesuatu yg ada pada ketua kita dan mengguratkannya pada warga merupakan tantangan yg maha berat. Namun menurut Sena, aku belajar bahwa memulai berdasarkan yg sederhana & berdasarkan lebih kurang kita adalah langkah awal yang paling mungkin. Kita tak jarang ?Grasa grusu? Ingin mewujudkan visi namun kurang peka terhadap tantangan lapangan & kemampuan diri sendiri. Hal ini harus dihindari bila kita ingin mewujudkan visi kita & berusaha secara berkelanjutan.

Hal ke 2 yg juga krusial merupakan adaptasi. Kita harus bisa mengukur bagaimana persepsi lebih kurang kita terhadap visi yang ingin kita tuju. Berkelit mencari jalan lain adalah salah satu cara jitu. Kompromi terhadap ketidakidealan jua krusial dari tujuanya adalah adaptasi dan permanen mendekatkan kita pada visi.

Tentu masih banyak rahasia sukses dalam memperjuangkan visi ekonomi baru. Apa yang Sena pancarkan adalah teladan bagaimana  di awal kita harus bertindak. Dengan demikian kita dapat menjalankan perjuangan dengan lebih berkelanjutan dan bisa mewujudkan visi sistem ekonomi baru di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *