[TIPS] FASILITATOR dan BIDAN: Beda peran satu metodologi
By: Date: December 23, 2017 Categories: Uncategorized

Peran fasilitator mempunyai perbedaan yang sangat kentara dengan peran narasumber & kiprah penceramah. Banyak orang menyebut dirinya menjadi fasilitator, tetapi semua metode pendidikannya nir lebih dari seseorang pembicara dalam sebuah seminar atau khotbah seorang Kiyai pada sholat Jum?At.

Berikut ini beberapa tips buat menjadi seseorang fasilitator dalam arti yg sebenarnya.

Belajar menurut Bidan

Peran fasilitator nir ubahnya dengan peran seseorang Bidan. Pengalaman bidan pada membantu kelahiran seseorang anak, merupakan filosofi dasar yg kiranya perlu direnungkan oleh seorang fasilitator. Kita tentunya pernah melihat bagaimana seseorang bidan membantu proses kelahiran seorang anak, yang telah kentara bukan anaknya sendiri. Tetapi menggunakan segala totalitas & kompetensinya, seluruh itu dikerahkan semata-mata untuk kelahiran si bayi. Namun begitu si bayi lahir, ibunyapun eksklusif menggendongnya & mendekapnya. Bidan pun relatif senang waktu dia bisa membantu proses kelahiran itu & saat melihat seluruh orang senang dengan keberhasilan proses kelahiran tadi.

Seorang fasilitator dalam menjalankan peranannya pula tidak tidak sama menggunakan seseorang bidan. Peran fasilitator adalah berfungsi buat memfasilitasi sebuah proses penemuan makna-makna baru pada hidup partisipan, sama menggunakan bidan yang bekerja buat memfasilitasi sebuah proses kelahiran. Ketika sebuah proses tadi berhasil, hendaknya fasilitator pun seperti seorang bidan, yg relatif merasa senang ketika sudah berhasil.

Penting jua buat diperhatikan bahwa seseorang fasilitator hendaknya menjauhkan diri berdasarkan pemikiran buat sebagai yg paling didengarkan, yang paling diperhatikan, dan yang paling paling lainnya, lantaran memang keberhasilan proses terletak dalam kedua belah pihak. Seperti pada proses melahirkan anak, Ibu adalah adalah partisipan & bidan merupakan seorang fasilitator. Dapatkah proses kelahiran itu berhasil bila si bidan hanya berteriak-teriak namun si mak nir mengikutinya? Begitu pula kebalikannya, dapatkah si mak melahirkan seseorang diri tanpa donasi bidan?

Menjadi Pelajar berdasarkan Pengalamannya Sendiri

Perhatian primer dalam proses memfasilitasi yang perlu diberikan sang seorang fasilitator adalah pada kemampuan belajar masing-masing partisipan. Karena partisipan terdiri berdasarkan latar belakang dan kemampuan yang relatif majemuk. Beberapa hal yg perlu diperhatikan seseorang fasilitator pada menjalankan kiprahnya:

1. Melibatkan diri dengan partisipan secara penuh & terbuka. Hal ini buat mengantisipasi adanya berpretensi yang hiperbola menurut partisipan terhadap pengalaman barunya.

2. Melibatkan partisipan pada proses berefleksi dan menyimak pengalamannya

3. Menyatukan konsep menggunakan percermatan ke dalam teori yang logis

4. Menggunakan teori buat memicu partisipan pada membuat keputusan dan merampungkan kasus.

SiMaK (Sigap, cerMat, peKa)

Dalam proses memfasilitasi sebuah proses, tentu akan terdapat banyak masalah yang muncul. Hal ini umumnya kemudian dihubungkan dengan perkara personal dan kemampuan menurut fasilitator. Beberapa ciri pada bawah ini dapat digunakan buat membuatkan hal tersebut, yakni:

1. Kepribadian yang menyenangkan, dengan kemampuannya untuk menerangkan persetujuan & apa yg dipahami partisipan

dua. Kemampuan sosial, dengan kecakapan buat membangun dinamika grup secara beserta-sama & mengotrolnya tanpa merugikan partisipan

tiga. Mampu mendesain cara memfasilitasi yg dapat membangkitkan, menggunakan pengetahuan dan ketrampilan partisipan sendiri selama proses berlangsung

4. Cermat pada melihat persoalan pribadi partisipan.

Lima. Fleksibel pada merespon perubahan kebutuhan belajar partisipan

6. Pemahaman yang cukup atas materi pokok pendidikan

Uraian singkat pada atas, dapatlah dikerucutkan menggunakan satu kalimat, yakni: Seorang pelayan bagi sesamanya insan. Inilah kiranya nilai dasar yang perlu direnungkan bagi seorang yg ingin mengambil kiprah sebagai fasilitator. Fasilittaor bukan sebagai tokoh, menjadi ahli, apalagi sebagai seniman, namun sebagai pelayan. Semoga dengan belajar dari seseorang pelayan, kita bisa sebagai seorang fasilitator sejati. Selamat memfasilitasi.

Daftar Pustaka:

Fakih, Mansour, Roem Topatimasang dan Toto Rahardjo (2001). Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Patricia Siswandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *