[PROFIL] Lusia Ping: Sang Penyambung Generasi Dayung
By: Date: December 24, 2017 Categories: Uncategorized

Menyusuri Sungai Mendalam di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kita akan menemui warga Daya? Subsuku Kayaan yg mendiami kampung-kampung di sepanjang sungai. Secara garis besar , mereka memiliki 2 budaya akbar, yaitu budaya ngayau dan budaya dayung [1] . Rupanya budaya yang lebih berkembang lalu pada rakyat Kayaan Mendalam adalah budaya dayung.

Istilah dayung, pada mulanya mempunyai 3 arti. Pertama, sebagai sebuah bentuk doa yg dilantunkan dengan irama tertentu & berbentuk syair dengan sajak yang berpola. Kedua adalah orang yg melakukan dan memimpin segala ritus keagamaan dalam upacara tata cara mereka dengan melantunkan dayung, yaitu mereka yang berperan menjadi imam; diklaim dayung juga. Hampir semua dayung pada sepanjang sejarah Kayaan, adalah wanita. Ketiga, kata dayung ini dalam jaman dahulu dikenakan juga dalam mereka yg mempunyai kemampuan buat mengobati dan menyembuhkan penyakit. Dayung mengobati ini kebanyakan jua wanita.

Sejarah dayung, baik dalam arti sebuah doa juga imamnya, berkaitan erat dengan sejarah (upacara) Dange [2].

Begitu sentralnya kiprah dan posisi seseorang dayung, maka fungsi ini tidak sanggup dijalankan sang sembarang orang. Lantaran itulah, posisi seseorang dayung pada masyarakat sangat terhormat & penting. Sekarang, sehabis agama resmi masuk pada bumi Mendalam, kiprah & kedudukan dayung-pun bergeser. Walaupun kepercayaan sekarang berusaha mengakomodir norma dan tradisi dulu, tapi kedudukannya sebagai lebih diskriminasi.

Justru akhirnya yang terjadi pada para dayung sekarang adalah multi beban, lantaran mereka permanen harus menjalankan fungsi domestik, fungsi produksi (berladang, berkebun dan kadang menganyam), fungsi sosial kemasyarakatan, & sekaligus fungsi religiositas (menjadi dayung). Apalagi kalau mereka kebetulan jua adalah pengajar. Tidak sporadis terjadi permasalahan-pertarungan pula, akan tetapi mereka tetap bertahan.

Dalam konteks inilah, sosok seorang Lusia Ping, atau yang biasa dikenal menggunakan Bu Ping hadir & bermakna. Bu Ping, seseorang perempuan yg berusia kurang lebih 40 tahun, sehari-hari berprofesi sebagai guru sekolah dasar sekaligus petani. Bersuamikan seorang pensiunan pengajar yg beretnis Jawa, mereka kebetulan tidak memiliki anak. Yang menarik dan menonjol berdasarkan sosok perempuan Kayaan satu ini merupakan kiprahnya menjadi dayung.

Ketika Dange dan segala ritualnya mulai diakomodir sang agama resmi, Bu Ping, menjadi wanita muda waktu itu, yg bukan seorang dayung norma, menjadi tokoh pada garis depan beserta menggunakan nenek Tipung-oleh dayung aya? (dayung akbar/senior) buat kembali menghidupkan & melestarikan adat mereka. Walaupun belum berstatus dayung, Bu Ping merogoh posisi menjadi motivator dan penggerak serta ?Penyambung generasi para dayung?. Ia belajar & menggali pulang dan mengumpulkan kebijakan lokal yang sempat hilang, belajar dari subjek sejarah yang masih hayati waktu itu, yakni nenek Tipung & beberapa tokoh istiadat yang sudah tua. Kearifan tradisional yang dituangkan pada dayung & hidup dalam dayung itu mulai dicatat dan dibukukan.

Para dayung ini melakukan proses kaderisasi dan pembelajaran menggunakan cara-cara yg informal, dengan tradisi ekspresi dan dilakukan sembari melakukan pekerjaan-pekerjaan sehari-hari wanita. Bahkan dalam sakitnya yg cukup parah, nenek Tipung masih jua menyediakan dirinya buat belajar bersama Bu Ping, yg akan meneruskan kembali pada dayung-dayung belia (dayung uk) lainnya. Sambil berbaring, duduk di atas tikar, mereka belajar. Nenek Tipung melantunkan dan mempraktekkan dayung, diikuti Bu Ping, sambil dihafalkan dan dicatat. Demikian berulang-ulang sampai betul-betul menguasai. Semua ini dilakukan di sela-sela saat mereka yg sangat padat dan sibuk, terutama menggunakan banyaknya kiprah yg dipikul wanita.

Proses kaderisasi ini kemudian diteruskan menggunakan merekrut para perempuan muda untuk melanjutkan tongkat estafet sejarah dayung. Bu Ping jugalah yg mempunyai peran besar dalam merekrut, memotivasi, bernegosiasi dan mendorong para perempuan ini untuk mau belajar istiadat dan sejarah mereka lagi. Pekerjaan ini diakui nir mudah oleh Bu Ping, lantaran pada mulanya orang takut buat mulai lagi menggali tata cara, dan lantaran nir sembarang orang sanggup menjadi dayung. Mereka takut nenek moyang mereka marah kalau nir dilakukan sama persis dengan adat dulu. Mulai menggunakan 6 orang sahabat, Bu Ping tidak putus asa. Belum lagi mereka menemui kesulitan buat belajar apa yg dulu telah ditinggalkan. Ketakutan dan rasa malu serta tidak percaya diri dari rekan-rekan mudanya ini disikapi menggunakan tabah oleh Bu Ping. Ia nir pernah memaksa seorang buat melakukan apa yang beliau inginkan. Tapi menggunakan membiarkan mereka menemukan sendiri, diikuti dengan proses negosiasi dan diskusi, serta teladan yg tiada henti. Untuk itu dia perlu tahu karakter rekan-rekannya, sehingga proses kaderisasi ini sanggup berjalan mulus. Seperti yg dikatakan,? Kita nir usah menerangkan murka atau ngomel. Kita mau mendidik orang, nanti orang malah lari.?

Kesabaran & tekatnya terbukti berakibat output. Tahun ke-2 uji coba proses inkulturasi norma dange dalam liturgi resmi kepercayaan telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Makin banyak orang yang berminat buat belajar dan bergabung. Perasaan takut dan memalukan jua mulai bisa diatasi.

Para dayung kini sudah mampu belajar menggunakan catatan, nir harus menghafal, dan tidak harus dijadikan dayung lewat mimpi atau penyakit. Motivasi sebagai dayung kini lebih dari karena minat, hobbi ataupun keharusan buat menjaga tradisi. Tapi banyak juga yang mau menjadi dayung, lantaran dayung merupakan doa, & karena kehidupan religius mereka masih sangat pekat maka lewat doalah mereka memperoleh kelegaan, kedamaian & pengharapan. Bu Ping sendiri merasa: ?Enak cita rasanya bila berdoa menggunakan berdayung, sembari bernyanyi & menari. Rasanya meresap…?

Dalam kehidupan religius, yg paling aktif dan berperan adalah para wanita. Merekalah yg paling setia dan yg merogoh tanggungjawab terbesar. Tapi hal ini tidak berarti mereka nir peka dan kritis terhadap kasus-masalah sosial, keagamaan & masalah lingkungan pada sekitar mereka.

Adalah beberapa orang yang masih punya kesadaran dan kekritisan, yang mau melihat dan memperjuangkan balik keberlangsungan hayati pada lingkungan Kayaan Mendalam. Bu Ping, menjadi keliru satunya, ikut dan pada momen itu. Sebagai model, dalam tahun 1999, sekitar 300 orang Kayaan berdemonstrasi ke DPRD buat menuntut dicabutnya HPH & HTI, & melarang mereka beroperasi lagi di wilayah Mendalam. Para wanita ikut dan berdasarkan awal proses sampai akhir. Mereka menari pada depan tempat kerja DRPD menggunakan menggunakan sandang istiadat.

Bu Ping, nenek Tipung (yang tanggal 29 April 2004 kemudian meninggal), dan para wanita Kayaan ini pula menyadari dan mengalami dampak menurut kerusakan lingkungannya, nir hanya hutan, akan tetapi pula air sungai. Kekritisan dan kiprah dan mereka yg teramat besar dalam sejarah hidup warga Kayaan patut diberi acungan jempol. Kesetiaan & usaha mereka yang tidak kenal lelah untuk terus menyebarkan budaya kehidupan selayaknya kita dukung. Bu Ping, bersama wanita-perempuan Kayaan yang ada nun jauh di Mendalam sana, sudah memberi kita teladan bagaimana menciptakan sebuah proses belajar beserta yang lebih arif, nir otoriter & penuh kekerasan, sekaligus kritis & konsisten.

Catatan:

[1] Budaya ngayau adalah budaya yang berkaitan dengan peperangan (yang lebih bersifat fisik) untuk memerangi dan mengalahkan musuh, biasanya menggunakan senjata seperti parang, yang disebut mandau. Secara spesifik, musuh biasanya dikalahkan dengan memolong leher mereka (cara seperti inilah yang dikenal dengan me-ngayau). Sedangkan budaya dayung adalah budaya yang berkaitan dengan segala bentuk kehidupan religiositas mereka.

[2] Dange adalah upacara terpenting dan terbesar bagi masyarakat Kayaan Mendalam. Dange adalah sebuah upacara pesta panen, yang merupakan ungkapan syukur mereka atas hasil panen, dan segala berkat dan rahmat yang telah mereka terima selama satu tahun. Sekaligus, mereka meminta berkat dan perlindungan untuk masa tanam yang akan datang.

(Intan Darmawati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *