[OPINI] Visi Keluarga Transformatif – Visi yang Berpihak Pada Masyarakat
By: Date: December 26, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh: Navita K. Astuti

Diskusi Keluarga

Sebuah keluarga terbentuk atas dasar ikatan dan komitmen bersama antara suami dan istri. Ikatan tersebut dilandasi oleh perasaan saling mengasihi, komitmen bersama untuk membentuk sebuah keluarga, serta memiliki tujuan bersama yang hendak dicapai oleh pasangan tersebut. Seringkali, komponen yang terakhir disebutkan jarang dibahas oleh pasangan suami istri yang saling mengikat diri dalam ikatan pernikahan. Kebanyakan, pernikahan  diartikan semata-mata sebagai takdir hidup semata, hanya agar masyarakat menilai bahwa dirinya berada pada status aman dan dapat diterima oleh masyarakat.

Sebagaimana layaknya sebuah pesawat yang hendak tanggal landas, dalam sebuah pernikahan diperlukan arah yg hendak dituju beserta sang pasangan suami istri. Mau ke mana arah famili kami? Akan sebagai misalnya apa keluarga yg akan kami bentuk? Begitulah kira-kira pertanyaan yg perlu dijawab sebelum pasangan suami istri menciptakan famili.

Keluarga dan Tantangan Jaman

Akhir-akhir ini, begitu acapkali kita menemui keluarga yang retak sang beberapa karena. Pertengkaran yang berlarut-larut, sulitnya menemukan istilah rujuk, ketidakcocokan di antara suami dan istri. Saling nir memahami impian satu sama lain. Merasa paling sahih sendiri. Semua itu berujung pada perpisahan dan perceraian.

Tuntutan hidup tinggi membuat setiap anggota keluarga mengejar materi. Anak-anak lebih acapkali diasuh oleh asisten rumah tangga, karena orang tua sibuk memenuhi kebutuhan materiil. Kedua orang tua sporadis berkumpul beserta menggunakan anak-anak mereka . Tujuan awal pembentukan famili sebagai terlupakan karena kesibukan masing-masing anggotanya.

Perkembangan teknologi menyebabkan kurangnya sentuhan fisik yg sesungguhnya diharapkan oleh seseorang anak atau anggota famili. Teknologi internet, komputer kecil dan ringan yg gampang dibawa ke mana-mana, sampai tablet yg hanya segenggaman tangan, membuat orang-orang terlena menggunakan hiburan maupun aplikasi online yang tersaji. Dengan fasilitas tersebut, orang-orang mengabaikan pentingnya kebersamaan secara fisik. Dengan kecanggihan teknologi seperti itu, orang juga dapat semakin larut dalam pekerjaan. Mereka lupa dalam orang-orang di sekitarnya. Esensi krusial dalam keluarga buat saling mengisi, mendukung & menyampaikan visi bersama menjadi terkesampingkan.

Membaca Bersama Keluarga

Ketika visi dan tujuan bersama yang menjadi pengikat kebersamaan dalam keluarga pudar, maka lahirlah ketidakcocokan, pertentangan, perselisihan antar anggota keluarga. Ada beberapa keluarga berujung pada perpisahan. Namun, keluarga lainnya ada pula yang mampu bertahan, memperbaiki diri, membina visi mereka kembali.

Sebuah Visi yang Transformatif bagi Keluarga dan Masyarakat

Visi beserta adalah syarat krusial keutuhan tempat tinggal tangga. Tak hanya itu, waktu sebuah visi bersama pada sebuah famili dapat dipelihara & dikomunikasikan pada antara setiap anggotanya, maka keluarga tersebut dapat memaknai maksud dan tujuan kebersamaan mereka & menggunakan demikian, menciptakan hayati setiapanggota keluarga menjadi lebih berarti.

Sebagai bagian berdasarkan rakyat, sebuah keluarga yang bisa menempatkan visi bersama mereka bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat pada lebih kurang mereka adalah famili yg mempunyai visi transformatif.

Visi beserta yg transformatif memampukan sebuah famili melihat posisi mereka pada tengah masyarakat. Visi tersebut membuat keluarga mampu mendorong setiap anggotanya buat turut mengambil peran pada dalam rakyat secara konkret sesuai talenta & panggilan hayati mereka masing-masing.

Sepasang suami istri, Febry dan Nat, keduanya mantan aktivis GMKI, menghidupi visi famili mereka : membuatkan karunia & talenta pemberian Sang Pencipta untuk memuliakan Sang Pencipta dengan melayani sesama manusia, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, juga ras.

Dalam keseharian, & dalam perbedaan karakter antara Febry yang cenderung cepat pada merogoh keputusan dan Nat yg penuh pertimbangan dan sangat hati-hati dalam menetapkan, mereka menjalani visi beserta tersebut.

Visi tersebut mereka tanamkan pula pada buah hati mereka, Putra. Kepedulian Febry dan Nat terhadap masyarakat tercermin pada cara mereka mendidik Putra. Febry sebagai ayah berperan menumbuhkan karakter kepemimpinan pada diri Putra, sedangkan Nat sebagai ibu mendidik Putra dengan kelemahlembutan dan kepedulian kepada sesama dan lingkungan hidup. Visi yang mereka hidupi sederhana, namun transformatif sifatnya. Visi tersebut mampu keluar dari ruang kenyamanan pribadi dan mau peduli pada masyarakat maupun lingkungan hidup di sekitarnya.

Sepasang suami istri lainnya, Dien Fakhri Iqbal dan Permata Andhika adalah contoh keluarga yang memiliki visi transformatif. Mereka dipertemukan dalam visi keberpihakan bagi masyarakat korban bencana serta memiliki minat yang sama tentang terapi trauma dengan body movement. Atas dasar kesamaan visi tersebut, mereka bersepakat untuk menjalani hidup sebagai sebuah keluarga. Setelah keluarga mereka terbentuk, keberpihakan mereka bagi masyarakat korban bencana tetap terpelihara. Iqbal dan Mata (panggilan akrab mereka) saling dukung dalam aktualisasi diri masing-masing.

Tidak poly keluarga mempunyai visi transformatif seperti yang dipegang oleh keluarga Febry-Nat maupun Iqbal-Mata. Beberapa keluarga lain, mungkin terdiri dari pasangan yg visinya bertolak belakang sebelum akhirnya mereka dipersatukan di pada mahligai perkawinan. Apakah yg terjadi dalam visi mereka sebelumnya? Bisa jadi visi pribadi berubah seiring perkembangan yg dialami dalam famili mereka. Namun, sejauh itu disepakati, dinikmati & mendukung aktualisasi diri setiap anggota famili, tetaplah adalah visi bersama yg menguatkan sebuah famili.

Tantangan dan Solusi

Visi transformatif lahir menurut proses keberpihakan & keprihatinan keluarga akan masyarakat di kurang lebih mereka. Visi misalnya ini tidak sporadis mendapat tantangan dari banyak sekali pihak, terutama pada jaman yg semakin menjunjung individualisme misalnya saat ini. Visi transformatif cenderung mendapat cemoohan, ejekan dan kontradiksi. Tak jarang juga timbul perilaku skeptis akan upaya yang diperjuangkan dalam visi transformatif tadi.

Hal ini dialami oleh pasangan Iqbal & Mata, yg mendapat ujian justru berdasarkan famili besar mereka berdua. Tetapi, karena visi tadi lahir menurut bunyi hati mereka yg terdalam, semua tantangan itu mereka hadapi dengan ketua dingin. Iqbal dan Mata berupaya menampakan pada famili besar bahwa mereka konsisten dalam perjuangan yg mereka lakukan.Perlahan tetapi niscaya, keluarga besar menerima apa yg mereka perjuangkan.

Tantangan lainnya dapat muncul dari anggota keluarga inti itu sendiri, seperti yang dialami oleh Febry dan Nat.  Banyak faktor yang menjadi penyebab, antara lain latar belakang keluarga, perbedaan sifat hingga ego pribadi yang cukup kuat terbentuk sejak kecil. Juga, karena sudah membuka diri terhadap masyarakat sekitar, keluarga Nat dan Febry dituntut pula untuk banyak mendengar dan memahami permasalahan orang lain maupun masyarakat di sekitar. Dalam hal ini, dibutuhkan kesabaran dan pemahaman yang lebih terhadap orang lain, agar tidak tergesa-gesa menilai situasi maupun mengambil tindakan.

Oleh karenanya, visi transformatif perlu buat direfleksikan secara bersama-sama. Kualitas komunikasi perlu ditingkatkan untuk merefleksikan capaian apa saja yang telah didapatkan oleh keluarga tadi. Penting juga buat melakukan apreasiasi satu sama lain atas apa yg sudah dilakukan. Segenap anggota famili perlu mempunyai rasa syukur atas setiap langkah kecil yg sudah dicapai.

Merupakan tantangan bagi setiap pasangan buat mewujudkan sebuah keluarga yg bisa saling mengisi satu sama lain. Karena dalam dasarnya suami & istri adalah sepasang pribadi menggunakan perbedaan sifat dan karakter serta memiliki ego langsung. Namun, diperlukan keyakinan bertenaga bahwa tenaga positif akan terbentuk menurut peleburan kedua sifat dan visi yg tidak selaras. Ini adalah kapital utama menurut sebuah famili untuk maju mewujudkan visi transformatif. Pada titik ini, setiap anggota famili akan saling mendukung ekspresi setiap anggotanya. Tentunya, aktualisasi diri yg dimaksud merupakan aktualisasi yg tak hanya mementingkan diri sendiri. Aktualisasi diri yang dimaksud merupakan aktualisasi diri yang bermanfaat bagi rakyat. Itulah visi transformatif di dalam keluarga.

 ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *