[Profil] Nirmala Nair : Walk The Talk and Live Your Truth
By: Date: December 27, 2017 Categories: Uncategorized

Namanya Nirmala Nair. Dia biasa dipanggil Nirmala. Perjalanan Nirmala sebagai seorang aktivis cukup panjang. Kegiatan Nirmala bervariasi,  mulai dari menjadi fasilitator, peneliti, trainer, dan konsultan.  Pada tahun 70-an Nirmala bekerja di Barefoot College, Rajastan, India. Dia juga sempat menjadi konsultan di berbagai LSM. Kini, Nirmala merupakan aktivis di Zero Emmisions Research and Initiatives (ZERI), sebuah jaringan global yang memanfaatkan sains untuk menemukan solusi-solusi untuk berbagai masalah lingkungan. Selama 18 tahun terakhir,

Nirmala tinggal pada Cape Town, Afrika Selatan.

Desember 2011 yang lalu, Nirmala datang ke Bandung untuk berbagi pengetahuannya mengenai yoga, gaya hidup yang sehat, dan keterkaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. Selama di Bandung, Nirmala memberikan kuliah umum mengenai pembangunan berkelanjutan dan juga menjadi fasilitator pelatihan yoga yang  diselenggarakan oleh KAIL. Sejumlah aktivis ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Saat memfasilitasi pelatihan yoga, Nirmala bukan hanya mengajarkan gerakan-gerakan yoga dan  gaya hidup sehat. Dia juga menjelaskan mengenai industri makanan, obat-obatan, dan supermarket yang senantiasa berhasil menciptakan konsumen-konsumen yang tidak sadar terhadap apa yang dimakannya. Mereka tidak paham dari mana makanan tersebut berasal. Mereka juga tidak paham apakah makanan tersebut dibutuhkan oleh tubuhnya atau tidak.

Mbak Susan, seorang aktivis KAIL, datang ke tempat pelatihan yoga dengan membawa  berbagai bumbu dapur, daun-daunan, akar-akaran dan buah-buahan khas Indonesia. Ada kunyit, jahe, gula merah, singkong, daun singkong, daun pandan, daun jeruk jambu, markisa, dan jeruk bali. Semuanya digelar di atas tikar untuk ditunjukkan kepada Nirmala. Nirmala menciumi baunya satu per satu dan mencicipinya dengan khidmat. Selama di Bandung, Nirmala juga mencicipi berbagai jamu-jamuan khas Indonesia seperti minuman kunyit asem, beras kencur, kunyit putih.   “Betapa kayanya Indonesia dengan segala bumbu, dedaunan, buah-buahan ini,” ujarnya. Bagi Nirmala, berbagai bumbu dan makanan lokal harus senantiasa dipelihara. Ilmu mengenainya harus diturunkan dari generasi ke generasi mulai dari bagaimana menanam sampai mengolahnya. Melakukan itu merupakan salah satu cara umat manusia menjaga kehidupan (sustain life).

Bagi Nirmala, percuma saja bila ada seseorang yang membicarakan pembangunan berkelanjutan (sustainability development) ketika dia tidak tahu caranya menjaga kehidupan. Nirmala berpegang teguh pada prinsip, walk the talk and live your truth yang artinya kita harus menjalankan apa yang kita bicarakan, dan hidup sesuai apa yang kita anggap benar.

?Saya merasa sangat marah waktu seseorang berbicara tentang pembangunan berkelanjutan namun nir hidup berkelanjutan. Orang-orang ini tiba ke konferensi tentang pembangunan berkelanjutan. Mereka datang menggunakan mobil, kemudian menaruh pidato tentang hayati yang berkelanjutan. Ketika mereka balik ke kehidupan langsung mereka, mereka tidak memahami caranya mempraktekkan apa yg mereka ucapkan.?

Buat Nirmala, pembangunan berkelanjutan kini menjadi semacam sebuah industri besar. Baik industri dan koorporasi seakan-akan punya sebuah check list mengenai apa-apa yang harus dilakukan terkait pembangunan berkelanjutan. Mereka menjalankan CSR mengenai pembangunan berkelanjutan, membuat sebuah gerakan berlabel ‘industri hijau’ tetapi di sisi lain mereka tetap mengeksploitasi lingkungan.

?Sulit bagi aku menerima kontradiksi ini. Setidaknya jika anda tidak percaya bahwa anda mampu hidup berkelanjutan, jangan berbicara tentang hidup berkelanjutan layaknya seseorang pakar. Setidaknya bersikaplah jujur!?

Nirmala jauh lebih menghargai orang yang mengatakan bahwa mereka tidak percaya dengan  pembangunan berkelanjutan dibandingkan dengan orang yang bercuap-cuap mengenai pembangunan berkelanjutan tetapi tidak menjalankan apa yang dikatakannya. Kegelisahan Nirmala terkait hal ini disampaikannya dalam sebuah puisi The Myth of Sustainable Development.

(Dhitta Puti Sarasvati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *