[TIPS] PANGAN SEHAT DAN RAMAH LINGKUNGAN
By: Date: December 31, 2017 Categories: Uncategorized

Oleh : Any Sulistyowati

Di zaman sekarang ini, kita memperoleh banyak kemudahan dalam mengakses pangan. Asalkan punya uang, kita sanggup memperoleh kuliner apapun yg kita mau. Di tengah segala kesibukan, acapkali kita berpikir bahwa akan jauh lebih gampang membeli makanan siap saji daripada bersusah payah memproses makanan kita sendiri. Masalah mulai muncul ketika kita mulai berpikir mengenai aspek keamanan dan keberlanjutan dari sistem pangan kita. Bagaimana kualitas makanan yang kita beli? Bagaimana kita tahu bahwa kuliner yang kita konsumsi benar -betul kondusif? Adakah campuran zat berbahaya yang dipakai untuk mengawetkan makanan, memberikan rasa & rona eksklusif supaya lebih menarik? Adakah di antara zat-zat yg dikonsumsi tersebut yg akan mengganggu kesehatan kita pada jangka panjang? Bagaimana kita tahu? Bagaimana proses pembuatannya? Apakah bahan yang digunakan serta proses pembuatannya selaras dengan alam? Apa imbas proses tadi terhadap kelestarian alam?

Mau sehat dan ramah lingkungan? Pilih yang mana?

Sumber gambar: http://klubpompi.pom.go.id/id/berita/item/375-apa-itu-junk-food

Pertanyaan-pertanyaan di atas membawa kita pada pencerahan mengenai bagaimana kita seharusnya memproduksi dan mengonsumsi pangan kita agar betul-benar dapat secara aman meningkatkan kualitas hidup kita, tanpa merusak alam sebagai asal pangan dalam jangka panjang. Jika kita ingin berkontribusi pada pengurangan persoalan pangan atau bahkan penyelesaian duduk perkara pangan yg ada, berikut ini merupakan beberapa tips yg bisa membantu.

Kriteria & Jenis Pangan yg Sehat

Pangan yg sehat mengandung nutrisi yang mendukung tubuh kita menjalankan fungsi-fungsi spesifiknya. Untuk memberikan manfaat maksimal , nutrisi tadi perlu dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Menurut dokter Tan Shot Yen pada bukunya ?Saya Pilih Sehat & Sembuh?, kandungan dalam kuliner yang diperlukan tubuh insan dapat mengkategorikan menjadi dua kategori, yaitu makronutrien, yaitu yg perlu dikonsumsi pada jumlah besar misalnya karbohidrat, protein & lemak; serta mikronutrien, yaitu yg perlu dikonsumsi dalam jumlah yg sangat kecil, contohnya aneka macam jenis mineral. Untuk mendukung kesehatan, keduanya dibutuhkan dan saling melengkapi.

Memenuhi kebutuhan makronutrien saja tanpa memperhatikan mikronutrien akan mengakibatkan asupan pangan kita tidak bisa dimanfaatkan sang tubuh secara aporisma. Sebagai contoh adalah konsumsi karbohidrat. Kebanyakan orang memperhitungkan pemenuhan kebutuhan pangan terutama menurut jumlah konsumsi karbohidrat. Hal ini lantaran karbohidrat sangat krusial buat membuat tenaga. Padahal untuk mendapatkan energi, tubuh kita nir hanya membutuhkan karbohidrat. Selain karbohidrat, terdapat sekitar 20 jenis mineral, 13 vitamin dan serat yg ikut mensugesti kecepatan pembakaran & pembentukan tenaga.

Dalam mengonsumsi pangan, sangat krusial buat memperhatikan aspek kecukupan. Kekurangan nutrisi eksklusif bisa menyebabkan penyakit atau berkurangnya fungsi metabolisme tubuh. Sementara kelebihan pangan akan dikeluarkan menurut dalam tubuh atau disimpan & menumpuk sebagai cadangan. Kelebihan berarti pemborosan sumberdaya, sementara simpanan berlebih potensial mengakibatkan banyak penyakit. Sebagai model, kelebihan protein lemak dapat mengakibatkan banyak sekali penyakit degeneratif.

Pangan yang sehat antara lain dipengaruhi oleh kandungan nutrisinya. Semakin kaya nutrisi pangan yang kita konsumsi, semakin baik pangan itu buat kesehatan kita. Proses pengolahan pangan tak jarang mengurangi kualitas nutrisi yang terkandung pada pada pangan tersebut. Misalnya, proses pemasakan dapat menghilangkan beberapa unsur penting yg semula terdapat pada bentuk segarnya.

Sementara itu, proses pengolah pangan yg lain, misalnya menggoreng dan menambahkan berbagai zat untuk menambah cita rasa bisa jadi akan menambahkan kandungan pada kuliner yg sebetulnya nir kita perlukan di pada tubuh dan bahkan membahayakan. Sebagai model, kandungan pestisida, bahan pengawet, pewarna dan perasa kimia yg ada pada dalam pangan mungkin membuat tampilan pangan sebagai menarik, namun di sisi lain justru akan menimbulkan penumpukan racun di pada tubuh. Lantaran itulah, poly pakar gizi menyarankan agar sebanyak mungkin pangan dikonsumsi pada bentuk alami dan diproduksi secara alami tanpa menggunakan pestisida & pupuk kimia.

Tidak seluruh proses pengolahan pangan menaruh pengaruh tidak baik terhadap kesehatan. Ada poly alternatif proses pengolahan pangan yang justru membantu kita memperoleh pangan dalam bentuk yg lebih gampang dicerna oleh tubuh manusia. Sebagai model, mengonsumsi susu sapi pada bentuk yoghurt akan lebih mudah dicerna daripada mengonsumsinya pada bentuk susu.

Prinsip-prinsip pangan ramah lingkungan

Pangan ramah lingkungan yg dimaksud di sini merupakan pangan yg diproduksi & dikonsumsi dengan mengikuti aturan-hukum keberlanjutan. Herman Daly, seseorang ekonom yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan mengemukakan tiga prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi berikut. Pertama, penggunaan sumberdaya yg bisa diperbarui harus dilakukan pada bawah kemampuannya meregenerasi diri. Kedua, penggunaan sumberdaya yg nir dapat diperbarui wajib dilakukan sehemat mungkin. Ketiga, jumlah limbah yg didapatkan harus lebih kecil berdasarkan kemampuan alam buat memurnikan diri. Untuk menilai keberlanjutan sistem pangan saat ini, mari kita menganalisisnya dengan menggunakan ketiga prinsip pembangunan berkelanjutan Herman Daly tersebut.

Pangan yang kita konsumsi ketika ini hampir semuanya merupakan sumberdaya yg dapat diperbarui. Sayangnya pengambilan asal-asal pangan tersebut banyak yg melampaui batas daya dukung alam. Hal ini menyebabkan kerusakan alam di banyak sekali belahan bumi. Beragam stok pangan pada alam berada dalam kondisi kritis. Sebagai contoh adalah menurunnya populasi aneka macam jenis ikan pada bahari & hampir punahnya berbagai jenis satwa di hutan. Selain pengambilan buat konsumsi, kepunahan aneka macam tanaman dan hewan di hutan jua terjadi akibat terganggunya tempat asli mereka dampak alih fungsi hutan menjadi huma-lahan perkebunan monokultur buat memenuhi kebutuhan pangan dunia.

Penggunaan sumberdaya yang nir dapat diperbarui pada sistem pangan terjadi pada proses pengolahan, penyimpanan & pengangkutan. Proses-proses tadi terutama menggunakan bahan bakar fosil. Dengan terbukanya pasar dunia, proses produksi pangan di seluruh dunia dan pemindahan pangan lintas batas benua terjadi menggunakan lebih masif. Proses tadi berdampak dalam pengurangan stok bahan bakar fosil dunia. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil jua mempertinggi emisi karbon yang menyumbang dalam terjadinya perubahan iklim sudah menyebabkan banyak sekali bencana alam yang berdampak pada pengurangan produksi panen petani di aneka macam belahan global.

Sistem pangan waktu ini membuat limbah diantaranya pada bentuk penggunaan kemasan. Kemasan-bungkus ini biasanya eksklusif dibuang sehabis pangan dikonsumsi. Masalahnya, poly kemasan yang terbuat berdasarkan bahan-bahan plastik yg sulit sekali terurai & proses penguraiannya membutuhkan saat yang sangat lama . Apalagi di dalam bungkus tersebut pula masih ada banyak sekali zat yg apabila terurai adalah racun berbahaya bagi kesehatan. Jika tidak dikelola dengan baik, maka akumulasi racun di alam bisa mencemari tanah, air dan sumber-sumber pangan kita.

Selain bungkus, limbah pangan jua dapat berupa residu makanan atau bahan pangan yg nir dikonsumsi. Di poly tempat pada Indonesia limbah ini masih bercampur aduk rata & akhirnya dibuang ke loka pembuangan akhir (TPA). Saat ini, kebanyakan TPA merupakan gunungan sampah campuran banyak sekali macam limbah yang mengakibatkan pemandangan & bau tak sedap.

Beberapa kiat buat mendapatkan pangan yg sehat dan ramah lingkungan

Di tengah berbagai duduk perkara pangan di atas, bagaimana kiat buat memperoleh kuliner yang sehat & ramah lingkungan? Di taraf mudah, hal ini dapat dilakukan diantaranya dengan cara-cara sebagai berikut.

1.Mengon sumsi produk pangan selokal mungkin .

Semakin lokal produk pangan tersebut, semakin sedikit tenaga yang diperlukan buat proses pengangkutan. Tanpa proses pengangkutan, kita bisa berhemat penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu, bila dikonsumsi secara lokal, maka kebutuhan buat pengawetan dan pengemasan akan berkurang. Lebih mungkin mendapatkan pangan segar dari asal-asal yg lokal, ketimbang mendatangkannya menurut tempat yang jauh. Pangan yang segar tentu lebih sehat daripada pangan yg telah diproses.

Mengonsumsi makanan dalam bentuk segar, apalagi ditanam dan dipanen sendiri, sangat sehat dan membahagiakan.

Sumber foto: Dokumentasi Ecovillage – KAIL & YPBB.

2.Mengonsumsi makanan dalam bentuk sesegar dan sealami mungkin.

Ketika mengalami proses pengolahan, kandungan gizi pangan akan menurun. Mengonsumsi pangan dalam kondisi segar akan memastikan perolehan nutrisi yang maksimal dari pangan tersebut. Selain itu proses pengolahan juga membutuhkan energi yang meningkatkan penggunaan bahan bakar.

Sebagai contoh, jika ingin mengonsumsi ikan atau daging, pilihlah ikan lokal yang segar daripada ikan impor. Lebih baik lagi jika mengonsumsi ikan dari kolam sendiri. Demikian juga dengan buah dan sayur.

3.Mengonsumsi makanan yang beragam

Bumi ini kaya sekali dengan keanekaragaman hayati. Melalui proses evolusi ribuan tahun, di berbagai belahan dunia telah berkembang beragam tradisi pangan berdasarkan keanekaragaman hayati lokal. Persoalannya adalah keragaman pangan lokal tersebut semakin lama semakin banyak yang menghilang. Salah satu penyebabnya adalah proses penyeragaman pangan yang antara lain terjadi karena kebijakan pemerintah dan pasar. Sebagai contoh, saat ini masyarakat Indonesia secara umum mengonsumsi nasi putih sebagai sumber karbohidrat utama. Padahal di masa lalu, banyak sumber karbohidrat lain yang juga dikonsumsi di Indonesia, seperti jagung, sagu, ubi manis, ubi kayu dan talas. Karena tidak dikonsumsi, sumber-sumber pangan banyak yang menghilang dan akhirnya  tidak dikenal lagi oleh generasi selanjutnya. Mengonsumsi pangan yang beragam akan membantu kita memperoleh keseimbangan dan keragaman nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh sekaligus mendukung konservasi keanekaragaman hayati tanaman yang dibudidaya, sekaligus memastikan kearifan lokal untuk pengolahan pangan tetap terjaga.

4.Perhatikan jumlah jejak ekologis untuk memproduksi pangan

Untuk setiap pangan yang dihasilkan dibutuhkan sejumlah materi dan energi untuk menghasilkannya. Semakin besar materi dan energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan pangan, maka semakin besar jejak ekologis dari proses produksi pangan tersebut. Semakin kecil jejak ekologisnya, maka pangan tersebut semakin ramah lingkungan. Kita bisa jadi mengonsumsi jenis makanan yang sama, katakanlah buah nanas. Tetapi dampak lingkungan yang dihasilkan oleh buah nanas bisa jadi berbeda-beda tergantung berapa banyak materi yang energi yang digunakan untuk memproduksinya. Buah nanas yang diimpor dari negara lain tentu jejak ekologisnya lebih tinggi daripada nanas lokal. Demikian juga nanas kalengan atau selai nanas tentu jejak ekologisnya lebih tinggi daripada nanas segar dari kebun sendiri. Untuk menjadi ramah lingkungan, pastikan selalu memilih produk pangan berkualitas tetapi dengan jejak ekologis terendah.

Dari kiri ke kanan:

1) Mengonsumsi kacang roay, hasil panen dari kebun sendiri, lebih kecil jejak ekologisnya daripada mengonsumsi edam mame impor dari Thailand yang ada di supermarket.

2) Mengonsumsi sayuran dari kebun sendiri yang dikelola secara alami lebih sehat dan ramah lingkungan daripada mengonsumsi sayuran dari pasar yang diproduksi dengan pupuk kimia dan pestisida.

3) Mengonsumsi ikan dari kolam sendiri, kesehatan dan kesegarannya lebih terjamin.

Sumber Foto: No. 1 dan 2 Dokumentasi KAIL, No. 3 Dokumentasi Pribadi

5.Hindari mengonsumsi makanan yang berkemasan.

Semakin banyak kemasan, semakin banyak limbah yang dihasilkan. Semakin banyak limbah, semakin besar beban yang ditanggung bumi untuk mengolahnya. Menghindari kemasan dapat dilakukan dengan membawa wadah sendiri ketika membeli produk pangan atau memproduksi pangan sendiri. Kalaupun terpaksa membeli produk pangan dengan kemasan, belilah dengan kemasan yang terbesar yang dapat diakses. Apabila jumlahnya terlalu banyak hingga kita tidak akan habis mengonsumsinya sampai batas waktu kadaluarsa, berbagilah dengan kawan-kawan dengan kepedulian dan kebutuhan serupa. Hal ini mula-mula memang sulit untuk dilakukan, tetapi lama-kelamaan kita akan terbiasa.

6.Hindari mengonsumsi pangan yang dihasilkan dari proses yang merusak alam.

Misalnya, hindari penggunaan minyak kelapa sawit yang dihasilkan dari kebun-kebun kelapa sawit yang menggusur hutan-hutan alam. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan minyak kelapa buatan lokal atau yang dibuat sendiri. Bahkan akan lebih sehat apabila kita mengurangi konsumsi pangan yang membutuhkan proses penggorengan. Selain memelihara bumi, hal tersebut juga akan membuat kita lebih sehat.

7.Bersikap kritis terhadap iklan.

Pahami setiap produk yang dikonsumsi. Pelajari kandungan gizinya. Cari apakah ada alternatif produk lain dengan kandungan gizi sama tetapi tanpa menggunakan kemasan, tanpa menggunakan pengawet dan perasa tambahan yang berbahaya bagi kesehatan, dan tentu saja dengan harga yang terjangkau.

8.Utamakan kandungan gizi dan kesehatan daripada tampilan kemasan atau image .

Kadang-kadang kita tergiur untuk membeli produk pangan karena apa yang tampak di dalam kemasannya. Gambar yang tampak pada kemasan memang selalu dibuat semenarik mungkin untuk mengundang pembeli. Masalahnya, dasar pengambilan keputusan kita seringkali didasarkan pada ketertarikan pada gambar pangan yang tampak dan bukan pada daftar nutrisi yang ada pada pangan tersebut. Padahal, meskipun pangan tersebut terlihat dan terasa enak, belum tentu merupakan pangan yang sehat dan ramah lingkungan. Untuk itu, kita perlu mendidik diri sendiri untuk dapat mengenali bahan mana yang baik untuk dikonsumsi dan yang berbahaya untuk kesehatan.

Membeli makanan jadi: sepertinya enak, tapi sungguh sehatkah?

Bagaimana dampaknya untuk alam?

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi.

9.Berkebun untuk menghasilkan pangan sendiri.

Berkebun untuk menghasilkan pangan membawa beberapa manfaat. Selain mendapatkan makanan sehat dan segar, kita juga secara langsung merawat alam, menambah keterampilan dan mendapatkan kesempatan rekreasi dan penyaluran hobi.

Buah beri di kebun sendiri: menjamin ketersediaan buah segar sumber vitamin C setiap hari.

Jika sudah bosan akibat panen berlebih, bisa dibuat sirup atau selai untuk pengisi roti dan kue.

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

10.Memasak makanan sendiri.

Memasak makanan sendiri dirasa tidak praktis bagi banyak orang. Apalagi bagi para bujangan, anak kos dan mereka yang sibuk bekerja. Lebih praktis, mudah dan hemat waktu jika membeli makanan jadi.  Di luar segala kesulitan dan ketidakpraktisannya, sebetulnya banyak keuntungan yang kita dapatkan dari memasak makanan sendiri. Pertama, kita dapat memastikan bahwa bahan pangan yang digunakan adalah bahan-bahan yang sehat dan ramah lingkungan. Kedua, kita dapat melakukan berbagai eksperimen untuk membuat variasi menu. Ketiga, keterampilan memasak kita bertambah. Jika masakan kita berhasil, tentu kita akan merasa puas dan bangga. Hidup kita menjadi lebih sehat dan bahagia. Apalagi jika kita berbagi masakan kita dengan para sahabat. Kebahagiaan kita pun akan menular pada mereka.

11.Membangun komunitas untuk berbagi pangan sehat dan ramah lingkungan.

Keterbatasan waktu dan sumberdaya lainnya menyebabkan kita sulit memproduksi beragam jenis makanan sendiri. Sementara itu produk pangan yang sehat dan ramah lingkungan sulit didapat.

Kalaupun ada, kita sulit memastikan apakah produk-produk pangan yang dijual memang sehat dan ramah lingkungan. Untuk meningkatkan akses terhadap pangan yang sehat dan ramah lingkungan, kita dapat membangun komunitas untuk saling berbagi pangan sehat dan ramah lingkungannya. Para anggotanya adalah mereka-mereka yang ingin hidup sehat dan bersedia berkontribusi untuk mendukung pengembangan produksi pangan sehat dan ramah lingkungan secara kolektif. Ada kemungkinan, mereka adalah yang gemar berkebun dan menghasilkan pangan sehat, mereka yang gemar mengolah pangan dari hasil panen kebun sehat menjadi aneka produk sehat, mereka yang hobi bersosialisasi dan mempromosikan produk pangan sehat dan ramah lingkungan, atau mereka yang sangat sibuk, tetapi bersedia mengeluarkan uang untuk mendapatkan produk pangan sehat dan ramah lingkungan. Apabila orang-orang ini bekerjasama maka mereka dapat memperoleh pangan sehat dan ramah lingkungan sekaligus saling mendukung dari sisi sosial dan ekonomi.

Jika hal ini terjadi, maka akan terbangun kemandirian pangan dalam skala komunitas. Dengan saling mendukung dan ditambah dengan pola makan yang sehat, para anggota komunitas akan lebih sehat dan bahagia. Kualitas hidup akan meningkat dalam skala komunitas.

Apabila praktek ini berlanjut, tidak menutup kemungkinan anggota komunitas akan bertambah atau terjadi pembentukan kelompok yang sama di tempat lain. Terjadilah gerakan masyarakat sipil untuk menghasilkan pangan sehat dan ramah lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *