[MASALAH KITA] MENILIK BERBAGAI PERSOALAN PANGAN
By: Date: January 11, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Any Sulistyowati

Pangan merupakan kebutuhan  dasar yang harus dipenuhi agar manusia dapat bertahan hidup. Pemenuhan kebutuhan ini turut mewarnai sejarah perjuangan umat manusia dari masa ke masa. Berbagai upaya telah dilakukan, baik cara damai maupun perang, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang super kompleks seperti yang kita alami saat ini. Untuk mendapatkan pangan, manusia mengambil sumber-sumber pangan dari alam. Pada awalnya manusia hanya mengambil pangan dari sumber-sumber yang dekat dengan tempat tinggalnya dan dalam jumlah kecil sesuai dengan kebutuhan manusia di wilayah tersebut pada saat itu. Peningkatan jumlah penduduk dan perubahan pola konsumsi telah meningkatkan kebutuhan pangan dalam skala global. Untuk mengatasinya, manusia telah mengembangkan berbagai teknologi pangan yang mampu meningkatkan produksi pangan dunia secara signifikan.

Kemajuan teknologi telah memungkinkan manusia saat ini memproduksi pangan dalam jumlah besar dalam waktu yang lebih singkat. Sistem pangan tersebut juga memungkinkan manusia untuk mengonsumsi apa saja, di mana saja dan kapan saja. Dengan bantuan teknologi, manusia mampu mengambil sumber sumber pangan di alam secara masif, bahkan dari tempat-tempat yang jauh dari lokasi produksi dan konsumsi pangan tersebut.

Masalahnya, pengambilan sumberdaya tersebut seringkali sampai melampaui batas-batas daya dukungnya. Di berbagai tempat di dunia, terjadilah kerusakan alam yang parah. Jika kecenderungan ini berlanjut, maka ketersediaan sumber-sumber pangan di alam akan menurun. Pemenuhan kebutuhan pangan manusia pun akan terganggu dalam jangka panjang.

Selain kerusakan alam, kemajuan pada atas pula membawa konsekuensi dalam meningkatnya kebutuhan transportasi buat memindahkan pangan dari belahan global yang satu ke belahan global yang lain. Hal ini berimplikasi dalam penggunaan bahan bakar dan emisi karbon yg didapatkan menurut proses pengangkutan tadi. Kenaikan emisi karbon menyebabkan dampak rumah kaca yg menaikkan suhu bumi. Inilah yang dikenal sebagai pemanasan dunia. Pemanasan global akan mengakibatkan perubahan iklim yg menghipnotis daur ekspresi dominan secara global. Bencana alam misalnya banjir dan kekeringan semakin kerap terjadi. Peningkatan frekuensi bencana akan meningkatkan kemungkinan gagal panen di lokasi-lokasi bencana tadi.

Perkembangan teknologi pula memungkinkan insan melakukan penanaman pangan di luar musimnya atau pada tempat yang bukan habitatnya. Masalahnya, tenaga yang diperlukan buat membuat pangan di luar isu terkini atau pada tempat yang bukan habitatnya sangat besar . Meskipun dari sisi ekonomi mungkin masih lebih murah daripada mendatangkan pangan tersebut menurut habitatnya atau menyimpan dari panen trend lalu, pola produksi ini lebih boros berdasarkan sisi sumberdaya. Semakin poly sumberdaya & energi yang dipakai, maka laju pemanasan global akan semakin cepat. Iklim menjadi kian tidak menentu. Banyak petani yang gagal panen dampak perubahan demam isu dan cuaca ekstrem. Produksi pangan pun terancam menurun.

Pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang makin kerap terjadi.

Kejadian serupa juga menyebabkan tanah longsor, banjir dan gagal panen.

Di saat yang lain terjadi kekeringan panjang yang juga menyebabkan gagal panen.

Sumber foto: dokumentasi KAIL

Sisi lain berdasarkan pemindahan pangan berdasarkan satu tempat ke tempat lain merupakan kebutuhan akan kemasan. Kemasan dipakai buat memastikan kualitas pangan tetap terjaga dalam waktu dikonsumsi. Kemasan pula dirancang buat menarik konsumen. Masalahnya seringkali kemasan-kemasan tadi mengandung bahan-bahan yg berbahaya bagi kesehatan. Pada kebanyakan perkara, bungkus tersebut akan dibuang & menjadi limbah setelah kuliner dikonsumsi. Jika nir dikelola menggunakan baik, limbah-limbah ini pada akhirnya akan menimbulkan pencemaran lingkungan.

Tumpukan sampah di TPA menyebabkan pencemaran tanah, air dan udara.

Sumber gambar: http://www.sanitasi.net/pemrosesan-akhir-sampah.html

Di samping kemasan, limbah pangan juga bersumber dari dua hal berikut. Pertama adalah bagian pangan yang memang tidak atau belum dapat dikonsumsi. Limbah jenis ini terjadi antara lain karena bagian tersebut mengandung zat beracun dan belum ditemukan cara pengolahannya menjadi bahan yang siap dikonsumsi. Jenis limbah kedua adalah bagian pangan yang semula sebetulnya dapat dikonsumsi, tetapi karena terlambat dikonsumsi maka kemudian menjadi limbah. Jenis limbah ini terjadi antara lain karena (1) hasil panen berlebih dan tidak diolah sehingga rusak sebelum sempat dikonsumsi, (2) hasil panen rusak dalam proses pengangkutan, atau (3) pengambilan pangan berlebihan sehingga tidak dapat dikonsumsi seluruhnya pada waktunya.

Limbah pangan dampak pengambilan berlebih kemudian tidak dihabiskan.

Sumber gambar: http://www.eoi.es/blogs/imsd/global-inequality-of-the-food-system/

Meskipun secara global produksi pangan telah meningkat, peningkatan ini belum dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia secara merata. Sementara sebagian orang mengalami kelebihan konsumsi pangan, sebagian lainnya justru kekurangan pangan. Apabila ditinjau dari sisi kesehatan, kedua kondisi ini sama-sama tidak baiknya. Mereka yang kelebihan konsumsi pangan potensial menghadapi berbagai persoalan penyakit degeneratif yang membahayakan jiwa. Sementara mereka yang kekurangan makanan dapat menderita kekurangan gizi. Kekurangan gizi akan mengurangi ketahanan manusia dalam menghadapi penyakit. Baik penyakit degeneratif maupun penyakit akibat kurang gizi, keduanya akan mengurangi kualitas hidup manusia.

Di tengah surplus produksi pangan dunia, 805 juta orang berada dalam kondisi kelaparan.

Sumber gambar: http://www.Eoi.Es/blogs/imsd/global-inequality-of-the-food-system/

Apabila digali lebih jauh, persoalan pangan di atas tidak lepas dari sistem-sistem yang berjalan saat ini, misalnya sistem politik pangan nasional dan global. Sistem tersebut telah menyebabkan pola konsumsi pangan menjadi hampir seragam di seluruh dunia. Konsumsi pangan terutama hanya berfokus pada komoditas-komoditas tertentu yang dianggap dapat menjadi andalan, seperti beras, gandum, kedelai dan minyak kelapa sawit. Pemilihan komoditas-komoditas unggulan ini menyebabkan sistem produksi pangan dikelola sebagai perkebunan-perkebunan intensif monokultur yang didukung dengan mekanisasi dan penggunaan bahan kimia dan pestisida untuk menjamin keberhasilan produksinya. Pola produksi tersebut membawa beberapa konsekuensi sebagai berikut.

Konsekuensi pertama adalah berkurangnya keanekaragaman pangan pada bumi & mengerucut dalam komoditas-komoditas bahan pangan unggulan tadi. Penanaman dengan cara monokultur akan mengganggu ekuilibrium unsur makro & mikro pada pada tanah. Jika komposisi unsur makro dan mikro di tanah tidak seimbang, maka kesuburan tanah akan berkurang, sebagai akibatnya pertumbuhan flora akan terganggu. Untuk saat ini, hal ini diatasi dengan penggunaan pupuk kimia. Masalahnya, penggunaan pupuk kimia hanya memberikan tambahan unsur makro atau mikro di dalam tanah tetapi nir menciptakan sistem kehidupan pada dalam tanah. Tanpa asupan materi organis, rantai kehidupan pada pada tanah akan tewas, meskipun tanah berisi banyak unsur makro & mikro kimiawi. Dalam jangka pendek, sistem produksi ini memang memberikan peningkatan produksi yg signifikan, tetapi pada jangka panjang, kesuburan tanah akan makin berkurang & mengurangi produksi pangan dalam jangka panjang.

Konsekuensi kedua dari praktek produksi pangan di atas adalah terganggunya keseimbangan pada rantai makanan di alam. Salah satu contoh yang sering dihadapi adalah ledakan hama yang menyerang komoditas-komoditas unggulan.  Penggunaan pestisida akan mematikan hama penyerang tanaman secara masif, termasuk para predator hama tersebut. Selain itu predator hama tersebut juga akan mati karena mengalami kekurangan pangan atau terganggu habitatnya. Populasi predator hama akan berkurang. Sebagian kecil hama yang selamat dari pestisida akan berkembang biak dan membangun kekebalan terhadap pestisida. Dengan berkurangnya jumlah predator, populasi hama tersebut akan meningkat dan akhirnya menyerang tanaman-tanaman pangan yang ada. Manusia kemudian menanggapinya dengan mengembangkan pestisida-pestisida dengan kadar racun yang lebih tinggi untuk menghadapi hama-hama yang kebal tadi. Bila hal ini terus berlanjut, maka lahan-lahan produksi pangan semakin lama akan semakin tergantung pada racun pestisida.

Penggunaan pestisida juga akan menyebabkan akumulasi racun pada alam. Racun-racun yg semula ditujukan buat hama penyerang tumbuhan, akhirnya ikut menempel dalam bahan makanan yang dipanen & dikonsumsi. Manusia ikut mengonsumsi racun yang disebarkannya pada alam. Jika insan mengonsumsi kuliner beracun, maka racun tersebut akan terakumulasi pada pada tubuh & mengakibatkan aneka macam penyakit.

Implikasi lain dari berfokus pada komoditas-komoditas unggulan adalah konsentrasi produksi pangan di tempat tempat yang strategis secara ekonomi. Sebagai contoh. Karena buruh sangat murah di negara-negara miskin, maka demi mendapatkan devisa, negara-negara tersebut telah mengalihfungsikan lahan, yang semula digunakan untuk memproduksi bahan pangan lokal untuk konsumsi rakyatnya, menjadi tempat produksi komoditas bernilai ekonomi tinggi untuk melayani pasar global. Kedaulatan pangan negara-negara tersebut menjadi terusik karena kemudian mereka menjadi bergantung pada pangan impor yang dianggap lebih murah pada saat itu.

Beralih komoditas pula membawa implikasi secara ekologis & sosial. Secara ekologis, akan terjadi perubahan syarat alam pada bentuk kepunahan komoditas-komoditas pangan lokal yang tidak ditanam lagi, berikut semua ekosistem pendukungnya. Berfokus dalam komoditas unggulan secara tidak pribadi akan mengurangi produksi dan konsumsi komoditas lain yg dipercaya nir unggul. Padahal apabila tidak dipakai, ada kemungkinan komoditas tersebut malah akan menghilang & bahkan punah. Masalahnya, kepunahan satu bahan pangan tersebut mampu jadi akan menghilangkan semua budaya yg terkait dengannya, mulai dari cara menanam, merawat, memanen dan mengolahnya sebagai berbagai produk pangan. Padahal, untuk membentuk keterampilan dan pengetahuan tersebut dibutuhkan waktu menurut generasi ke generasi, ad interim buat menghilangkannya relatif menggunakan menghapus prakteknya dalam satu atau dua generasi. Sebagai model, jika hutan sagu hilang dan sagu tidak diproduksi lagi, maka semua pengetahuan terkait pengolahan sagu akan hilang. Hal ini tentu akan mengurangi ketahanan pangan daerah tadi. Secara sosial, kemandirian pangan mereka akan berkurang dan menjadi tergantung pada pangan impor.

Konsentrasi pengembangan pangan pada komoditas-komoditas unggulan jua sudah memungkinkan sentralisasi produksi pangan pada segelintir aktor, umumnya pada bentuk perusahaan-perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini mendominasi produksi komoditas unggulan nasional dan bahkan global. Dominasi ini memungkinkan mereka mengontrol dunia demi laba ekonomi. Hal ini biasanya dilakukan lewat prosedur harga atau pengendalian stok pangan global. Dengan kontrol tadi mereka mendistribusikan pangan terutama pada mereka yg bisa membeli & memberikan laba financial terbesar bagi mereka. Semakin banyak uang yang kita mempunyai, semakin akbar akses kita terhadap pangan. Uang yang semakin banyak berarti semakin banyak jumlah dan ragam makanan yang dapat dipilih. Uang yg banyak berarti lebih bebas memilih apa kuliner yang hendak dikonsumsi, berapa poly, kapan dikonsumsinya & di mana. Di dalam sistem semacam ini maka pangan akan mengalir pada mereka yang sanggup membeli. Jika sistem pangan lebih menguntungkan mereka yang memiliki uang, maka sumberdaya buat menghasilkan pangan secara dunia nir dapat terdistribusi merata buat seluruh umat insan. Sumberdaya yg terbatas akan lebih sulit direorganisasi secara optimal buat pemenuhan pangan seluruh umat insan secara merata. Hal ini bisa berarti pemborosan sumberdaya hanya buat pemenuhan cita-cita eksklusif segelintir orang & mengorbankan pemenuhan kebutuhan dasar mayoritas umat manusia. Di pada syarat kelimpahan sumberdaya, hal pada atas mungkin nir terlalu perkara, tetapi di tengah krisis ekologis yg makin parah dalam skala dunia, hal ini potensial menjadi masalah besar dalam jangka panjang.

Jika kecenderungan-kecenderungan di atas berlanjut, maka keberlanjutan penyediaan pangan dunia akan terancam. Mencari pola produksi dan konsumsi pangan yang lebih berkelanjutan adalah pekerjaan rumah kita bersama sebagai warga dunia. Melihat situasi di atas, apakah kita akan terus mengamini sistem pangan yang penuh persoalan di atas? Apakah kita justru ikut arus dengan terlena ikut pola konsumsi pangan yang merusak alam? Apakah kita tetap memilih mengonsumsi pangan yang dari sisi produksi menimbulkan masalah?  Akankah kita terus mempercayakan seluruh pangan kita pada segelintir aktor yang tujuan utamanya adalah mencari keuntungan semata?

Semoga dengan semakin poly orang peduli pada dilema pangan, akan timbul solusi-solusi kreatif buat solusinya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *