[TIPS] Membangun Kepedulian Sosial pada Anak
By: Date: January 13, 2018 Categories: Uncategorized

Perkembangan teknologi yang begitu cepat, seakan membarui pola kehidupan kita. Alih-alih memperhatikan sekitarnya, perhatian orang-orang waktu ini sepertinya lebih banyak tersedot oleh telpon genggam yg semakin sophisticated, atau tablet dan tab yang semakin kecil ukurannya sehingga mudah dibawa ke mana-mana dan dipakai setiap ketika. Tampaknya kemajuan teknologi belum diimbangi dengan peningkatan kecerdasan sosial, sebagai akibatnya ada fenomena tersebut.

Masalah kepedulian sosial sebenarnya bukan masalah  baru yang  muncul bersamaan dengan masalah penggunaan “gadget” yang tidak pada tempatnya. Masalah ini muncul tidak kenal waktu, ketika seseorang belum memiliki kecerdasan sosial yang cukup.

Sebenarnya masih banyak hal lain di luar pengaruh gadget yang mencerminkan bagaimana kepedulian seseorang terhadap lingkungannya. Namun, daripada meributkan kondisi yang ada saat ini, mungkin lebih baik kita fokus kepada anak-anak yang ada saat ini, bagaimana membangun sikap peduli sosial, dan bagaimana menanamkannya  sehingga kelak mereka memiliki kesadaran untuk berkontribusi pada sesama.

Howard Kirschenbaum menyampaikan, hampir seluruh masalah pada kehidupan terkait

dengan pendidikan nilai dan pendidikan moral. Pendidikan misalnya inilah yg cita rasanya luput menurut sistem pendidikan formal kita lantaran semua yg diukur hanyalah kecerdasan akademis.

Rasa peduli terhadap orang lain tidak dapat dibangun hanya dengan menaruh simpati saja. Kita perlu rasa yang lebih kuat untuk menggerakkan tindakan berbagi dari sekadar jatuh kasihan.  Kita harus peka, kemudian berempati yang menggerakkan kita memberikan kontribusi.

Kalau kita cermati, ada dua hal yang memiliki peran paling besar dalam menanamkan kepedulian seorang anak terhadap lingkungan sekitarnya, yaitu keluarga dan lingkungan. Fondasi utamanya tentu lingkaran keluarga. Namun, sebagai tempat dimana  anak banyak belajar dan menghabiskan waktunya, sekolah memiliki peranan yang penting dalam membangun kepedulian sosial.

Sumber :http://earlychildhoodeducation.vanguard.edu

Membangun Empati pada Anak

Empati. “Put ourselves in others shoes“. Kita berusaha memahami perasaan dan sikap orang lain, dan peduli kepadanya. Definisinya sangat mudah kita pahami. Tapi apakah mencerna dan melakukannya sesederhana itu?

Sangat mudah membaca kemampuan anak untuk berempati. Di rumah, sikap anak dalam merespon anggota keluarga yang ada di rumahnya, hingga bagaimana ia bersikap kepada ART (Asisten Rumah Tangga), supir, tukang kebun, bahkan tetangga dan penjaga warung, dapat menggambarkan kecerdasan sosialnya. Di sekolah, dinamika kelas sangat mencerminkan kecerdasan sosial para siswanya. Kegiatan yang menumbuhkan rasa empati dan menghargai untuk menghindari kasus bullying di kelas, belajar bersama anak berkebutuhan khusus, bisa menjadi sumber belajar istimewa yang membangun kehidupan sosial anak di sekolah. Perhatikan saja perilaku dan caranya menyelesaikan permasalahan sehari-hari.

Memang beberapa orang lebih mudah berempati berdasarkan yg lain. Namun saya yakin yg penting merupakan bukan gampang atau sulit, tetapi bagaimana caranya buat lebih empatik. Banyak hal yg dapat dilakukan buat menciptakan rasa ikut merasakan pada anak-anak, sebagai akibatnya mereka dapat menjadi orang yang memiliki afeksi terhadap orang lain.

Dalam wawancara dengan tvo, sebuah stasiun televisi di Canada, Mary Gordon, penulis buku "Roots of Empathydanquot; membicarakan bahwa secara alamiah anak-anak lahir dengan kapasitas empati. Karena didikan atau lingkungan, kapasitas berempati ini bisa aporisma berkembang, atau malah menipis. Kalau anak tidak punya model, jua menipis.

Sebenarnya nir sulit mengasah kepekaan sosial dalam anak, karena pada dasarnya anak merupakan makhluk yg penuh rasa ingin memahami. Rasa ingin memahami akan sekitarnya itulah yg kemudian dicernanya sebagai sebuah kepedulian.

Mengasah kepedulian sosial nir mengenal umur. Saat mendampingi anak-anak belajar empati, orang tua pun poly belajar dan diingatkan pula. Tidak terdapat istilah terlambat dan berhenti buat mengembangkan kepedulian sosial, karena sampai kapanpun pun kita akan selalu berhadapan menggunakan permasalahan sosial yg semakin berkembang.

Banyak sekali cara untuk mengembangkan kepedulian sosial. Hal yang sederhana adalah mendongeng dan menggali nilai-nilai dari dongeng. Bermain peran, salah satu kegiatan yang menyenangkan untuk anak dan mudah untuk melihat bagaimana seorang anak memasukkan dirinya dalam satu kondisi tertentu. Bermain peran tidak harus dilakukan di sekolah, bisa juga dilakukan di rumah. Bermain peran tentang kehadiran anak baru yang datang ke kelas mereka bisa menjadi salah satu pencegah bullying. Setelah bermain peran, diskusikan sikap-sikap yang mereka perlihatkan dan alasannya.

Pada anak-anak yg sudah mulai beranjak dewasa, aktif pada organisasi bisa membuatkan kepedulian anak terhadap teman-temannya & menaikkan kemampuan berinteraksi menggunakan banyak orang. Anak pula semakin mandiri memecahkan permasalahan.

Sumber :http://sem-ya.com.ua

Membaca dan Mendengar menggunakan hati

Menurut aku , keliru satu laboratorium terasyik buat mengasah kepekaan sosial dari mini merupakan transportasi umum, seperti angkutan kota (Angkutan Umum) yg sebagai moda mobilisasi yang paling saya sukai. Kita nir akan pernah menjumpai satu keadaan yang sama di angkot. Setiap saat selalu berubah, menggunakan majemuk orang yang keluar masuk tanpa bisa kita pilih. Sering mengajak anak menggunakan angkot buat bepergian tidak hanya mengajarkan anak menjaga diri, tetapi pula memberikan pelajaran pada anak tentang menempatkan diri & bersikap. Contohnya waktu menggunakan tas punggung, tasnya dipangku supaya kita dapat duduk menyandar dan kaki kita nir menghalangi jalan. Seperti pula kita wajib menunggu orang keluar terlebih dahulu sebelum kita masuk atau bergeser agar orang yang baru masuk gampang duduk.

Mendampingi anak memahami, mengolah, dan memecahkan permasalahan yang terjadi dalam kesehariannya sangat membantu mereka mengembangkan empati dan kepedulian terhadap orang lain.  Orang tua dan guru hanya perlu memberikan anak kesempatan untuk itu,  karena secara alami, anak-anak memiliki kemampuan dan naluri untuk merefleksikannya.

Menurut Stan Baker, seorang praktisi pendidikan dari Safe Caring and Restorative Schools di Kawartha Pine Ridge District School Board, Kanada, tahap pertama dalam membangun empati adalah meningkatkan kemampuan mendengar. Hal ini terlihat mudah, namun dalam kenyataannya terkadang tidak semudah itu menjadi pendengar yang baik. Kemampuan mendengar ini adalah hal yang paling nyata dan efektif untuk mengajarkan anak-anak (juga orang dewasa) untuk lebih empatik.  Setelah itu, pendampingan sebagian besar dilakukan hanya dengan memancing mereka dengan beberapa pertanyaan ketika anak mengalami suatu kejadian.

Menurut aku , nir hanya mendengar tetapi jua membaca. Tidak sekadar mendengar & membaca dengan pendengaran dan mata kita saja, namun pula dengan hati. Ketidakpedulian kita terjadi sesederhana ketika kita tidak mendengar & tidak melihat.

Ada enam pertanyaan mendasar yg membantu anak mengambil pelajaran dari pengalamannya.

  • Apa yang terjadi?
  • Mengapa anak melakukannya?
  • Apa yang ia pikirkan saat melakukannya (atau setelah melakukannya)?
  • Siapa yang terkena akibatnya?
  • Mengapa orang-orang tersebut terkena akibatnya?
  • Dan pertanyaan paling penting adalah apa yang perlu ia lakukan untuk membuat semuanya lebih baik?

Hal yang krusial, kita menanyakannya dengan perilaku netral, tanpa menghakimi atau menyalahkan. Karena emosi, pengajar atau orang tua kadang menyampaikannya menggunakan nada tinggi, sehingga anak merasa disalahkan atau dihakimi kemudian menutup diri dan defensif. Kita pula perlu menunda diri waktu anak masih emosional lantaran saat itu anak sebagai defensif dan sulit buat diajak bicara. Saat peristiwa, tangani yg perlu, nanti dibicarakan lagi kalau sudah berkurang emosinya & berkurang defensifnya. Apabila anak telah bisa & terbiasa mengolah pengalamannya, dia pun memiliki kesadaran untuk terus mengambangkan kepedulian sosialnya, & tidak sebagai hal yang dogmatis.

Sumber :http://www.telegraph.co.uk

Penutup

"The attitude that you have as a parent is what your kids will learn from, more than what you tell them. They don’t remember what you try to teach them. They remember what you are."

Petikan berdasarkan Jim Henson di atas seperti cermin buat kita. Apakah kita ?Menjadi orang tua, menjadi bagian dari masyarakat- telah cukup peduli dengan lingkungan kurang lebih kita? Apakah kita terus mengasah kemampuan kita buat berempati dalam lingkungan kita? Lantaran sebenarnya anak-anak perlu contoh untuk mencerna apa itu kepedulian sosial. Anak-anak punya sistem sendiri tentang mencerna pengalamannya. Kita hanya perlu membantu mereka supaya dapat memahaminya dan berbuat untuk sebuah keadaan yg lebih baik dengan menjadi contoh.

Semoga ketika kita ingat bahwa satu aksi kecil yang dilakukan bersama dapat menggerakkan masyarakat, kita nir merasa kelelahan sendiri buat terus melakukannya. Dan semoga, kita tidak sulit bertemu menggunakan anak yang dengan tulusnya menunjukkan bantuan, ?Kamu kenapa? Sini saya bantu!?

Referensi :

Gordon, Mary, Baker, Stan. The Importance of Teaching Kids Empathy. Tvoparents.Tvo.Org.

Kirschenbaum , Howard. 1995. “100 Ways to Enhance Values and Morality in Schools and Youth Settings”. Massachusetts : Allyn & Bacon

(Ardanti Andiarti)

Penulis adalah seorang yang menikmati hidup di dunia pendidikan. Setelah bertualang melalui beberapa pekerjaan, akhirnya menetapkan diri untuk berlabuh di dunia pendidikan. Pernah menjadi pengajar di Rumah Belajar Semi Palar, Bandung dan aktif dalam beberapa program pendidikan, di antaranya menjadi kurator Bincang Edukasi Bandung, fasilitator program anak di Sahabat Kota, menjadi co-trainer di Program Sekolah Sobat Bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *