[Masalah Kita] PENGHARGAAN UNTUK PEKERJA LEMBAGA NIRLABA (AKTIVIS)
By: Date: January 15, 2018 Categories: Uncategorized

Ketika pengasuh buletin ini meminta aku buat menulis pendapat tentang honor atau gaji yg layak buat pekerja lembaga nirlaba atau para aktivis, saya kontan teringat beberapa pengalaman. Baik pengalaman saya sendiri juga teman-sahabat, terkait menggunakan tema ini yang kadang-kadang jadi ?Sensitif?. Berikut aku bagikan pengalaman tersebut yang mungkin dapat menjadi gambaran pendapat aku mengenai gaji aktivis atau pekerja forum nirlaba.

Bekerja demi idealisme

Beberapa tahun yang silam, aku bekerja pada sebuah lembaga yg berkiprah pada gosip HAM. Buat saya yang masih nebeng orang tua dan kantor yang nir terlalu jauh dari rumah, honor yang aku terima relatif buat memenuhi kebutuhan saya selama sebulan. Saya jua masih dapat mengangsur premi jiwa dengan premi yang paling rendah.

Namun buat sahabat-teman lain yg sama posisi dan gajinya dengan aku , tetapi telah berkeluarga atau hidup berdikari, gaji itu telah tentu nir dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Meski yg paling sederhana sekalipun. Mereka wajib membayar kontrakan, kost, atau mencicil rumah. Ke-terpepet-an itu akan tambah terasa ketika dirinya atau anggota famili sakit. Mudah ditebak, staf bagian keuangan forum tidak hanya mengelola keuangan berdasarkan donor, namun juga berfungsi menjadi ?Forum kredit? Terhadap pekerja yg meminjam uang. Ketika tahun berikutnya para pekerja mengajukan kebijakan kenaikan gaji ?Mengingat harga-harga pula mulai naik – dan adanya fasilitas misalnya asuransi kesehatan. Para pimpinan menjawab bahwa, lembaga loka kami bekerja adalah forum nirlaba yang bekerja untuk humanisme. Dengan karakter forum misalnya itu, tidak pantas kami mengajukan permintaan-permintaan tersebut. Para pimpinan selanjutnya mengungkapkan, kami terlalu membandingkan situasi kerja kami dengan lembaga profit yg menaruh gaji besar & fasilitas yang poly.

Jawaban mereka membuat kami kecewa. Sudah tentu kami tidak meminta kenaikan honor yang besar , tetapi setidaknya diadaptasi dengan kondisi ekonomi saat itu. Perkara fasilitas misalnya premi kesehatan, kami anggap juga masuk akal. Jangan sampai kami yang bekerja buat isu humanisme, akan namun kami sendiri mengalami dehumanisasi karena nir mampu menjaga kesehatan atau berobat ketika sakit. Tidak semua pekerja asal berdasarkan famili sanggup yg sanggup meminta tolong kepada orang tua atau saudaranya waktu mereka mengalami kesulitan keuangan. Bukan karena kami tidak dapat atau tidak mampu mencari pekerjaan lain maka kami permanen bertahan di forum tadi, namun justru karena kami memiliki idealisme atau setidak-tidaknya bahagia dengan pekerjaan itu. Akan namun, idealisme & komitmen itu nir lantas dijadikan bahan kesewenang-wenangan atau pengabaian aturan energi kerja sang pimpinan untuk mengabaikan hak-hak kami menjadi pekerja yg ingin mensejahterakan dirinya & keluarganya.

Lembaga loka dulu saya bekerja nir sendirian. Di lembaga lain, poly curhat pekerja yg saya dapati mengenai info honor ini. Dari gaji yg dibawah UMR (terutama buat pekerja administratif atau yg pada bagian generik), tidak terdapat kenaikan honor ? Padahal beban kerja terus bertambah dan harga-harga pasar terus melambung, sampai pada curhat minta dicarikan pekerjaan sampingan buat menambah pendapatan.

Kesejahteraan Pekerja

apabila mengungkapkan relatif tidaknya gaji, maka nyaris semua pekerja akan menyampaikan tidak relatif. Standar dan kebutuhan kehidupan setiap orang tentu akan berubah atau meningkat. Tetapi ketika patokannya buat kelayakan dan kesejahteraan pekerja, maka beberapa komponen harus diperhatikan. Setidak-tidaknya menggunakan honor yang diterimanya pekerja bisa memenuhi kebutuhan dasarnya menggunakan layak. Misalnya, pekerja dapat memenuhi kebutuhan pangannya menggunakan memenuhi standar asupan gizi yang sinkron. Sehingga pekerja tadi dapat bekerja dengan optimal atau minimal nir mudah sakit sebagai akibatnya dapat menyelesaikan pekerjaannya. Bukankah itu suatu laba pula bagi lembaga? Kebutuhan akan tempat tinggal, juga harus diperhatikan. Hal ini bukan berarti lembaga harus menyediakan fasilitas kredit cicilan rumah. Namun perlu diperhatikan honor dibutuhkan bukan sekedar orang bisa makan buat hidup. Hidup jua perlu tempat bernaung. Jangan hingga pekerja mondok pada kantor dengan alasan berhemat pengeluaran atau lebih parah lagi karena gajinya nir cukup buat menyewa kamar atau rumah.

Mengulang pengalaman yang sudah saya tuturkan pada atas, hendaknya honor pula cukup buat memenuhi kebutuhan keluarga bagi pekerja & keluarganya, atau minimal ada sisa gaji yang bisa ditabung. Sehingga nir perlu pekerja membolos atau merogoh cuti untuk mencari tambahan uang pada luar kantor lantaran pusing memikirkan porto sekolah anak. Bukan suatu tindakan yg bijaksana buat berasumsi bahwa seluruh pekerja mempunyai pasangan yg juga bekerja menggunakan pendapatan yg memadai buat menyokong famili atau memiliki latar belakang famili dari syarat ekonomi yg mapan.

Fasilitas asuransi kesehatan atau tempat tinggal sakit bagi pekerja mungkin terdengar glamor bagi beberapa forum. Namun ketenangan misalnya itu dapat menaikkan kinerja pekerja yg merasa hening lantaran tahu bila dia sakit, biaya itu bisa ditanggung bersama kantor. Tidak lucu pula kan, setiap kali ada pekerja yg dirawat pada tempat tinggal sakit lantas semua staf pada tempat kerja itu disodori edaran amplop sumbangan? Daripada repot-repot misalnya itu, persiapkan saja fasilitas premi.

Semua yang saya tulis pada atas mungkin sempurna buat pekerja tetap suatu lembaga. Bagaimana dengan volunteer atau pekerja paruh ketika? Sama saja. Honor mereka hendaknya layak dan sepadan menggunakan pekerjaan yg mereka lakukan, diubahsuaikan menggunakan taraf kesulitan pekerjaan & tantangan yg dihadapi. Seorang teman yg sebagai volunteer pada suatu organisasi pernah berseloroh: ?Kita pada sini bekerja sebagai relawan. Artinya, kita bekerja dengan rela. Tapi apabila telah tidak rela, kita melawan!?

Menghargai Pekerja

Di atas itu seluruh, menaruh honor yang layak adalah keliru satu bentuk penghargaan terhadap pekerja. Jangan hingga kerelaan pekerja diartikan sebagai diperlakukan semau gue sang pimpinan. Atau ya itu tersebut, bekerja buat info kemanusiaan tapi malah pada-dehumanisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *