[MASALAH KITA] BERSAMA PARA AKTIVIS DAN RELAWAN: SEBUAH PERCAKAPAN MENGENALI DIRI
By: Date: January 17, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Fransiska M. Damarratri

?Kenalilah dirimu!? Ujar filsuf Socrates pada dialognya, Phaedrus. "Aku tidak punya ketika luang buat menjelaskan hal-hal yg luas dan besar itu. Sebuah hal yg aneh bagiku buat meneliti hal-hal itu waktu aku saja belum bisa mengenali diriku sendiri.?

KONSEP DIRI DALAM SUDUT PANDANG PSIKOLOGI

Mengenali diri adalah penting karena diri kita sendirilah yang mempengaruhi bagaimana kita memahami dunia. Konsep diri, dalam sudut pandang ilmu Psikologi, mempengaruhi kerja-kerja dan pandangan kita. Alvieni Angelica, seorang Psikolog dan pegiat di Capacitar Indonesia, menjelaskan bahwa di dalam konsep diri ada berbagai kumpulan ide antara lain self-image [i] , ideal self [ii] , self-esteem [iii] . Lebih lanjut, konsep diri adalah bagaimana seseorang memandang, mempersepsikan dan mengevaluasi dirinya.

Konsep diri terbentuk dari pengalaman awal kita sebagai janin, lingkungan pertumbuhan seperti rumah dan sekolah, interaksi dengan orang-orang terdekat hingga pengalaman-pengalaman hayati yang kita lalui. Otak insan terdiri dari otak bahasa (otak berpikir) & otak emosi. Pengalaman-pengalaman di atas membentuk konsep diri pada pada otak emosi kita, bahkan sebelum otak berpikir tumbuh sempurna.

Banyak prosedur diri yg membarui pandangan baru-pandangan baru internal kita sebagai sebuah aksi pada global nyata. Salah satunya, dari Alvieni merupakan proses proyeksi/formasi. Dalam proses proyeksi ini, manusia seringkali membarui kelemahan dirinya sebagai tampilan sebaliknya. Kelemahan yg kita gampang amati pada orang lain, acapkali adalah kelemahan diri kita pula. Sebagai contoh: seseorang yg sangat sensitif terhadap kritik orang lain justru sebagai seorang motivator yg mampu membarui cara pandang orang lain buat berpikir positif.

Dalam bekerja maupun berkegiatan pada banyak sekali bidang, siapa saja termasuk aktivis pasti mengalami proses pembentukan maupun sosialisasi konsep diri. Menurut Alvieni, galat satu cara buat mengenal diri sendiri adalah menggunakan berlatih pencerahan. Di sela-sela kesibukan kita, menyisihkan waktu buat refleksi & berlatih kesadaran adalah krusial.

BAGAIMANA PARA AKTIVIS MEREFLEKSIKAN DIRI?

Hal serupa diceritakan oleh Sri Suryani, seorang arsitek yg bekerja di Divisi Tata Ruang Ciliwung Merdeka. Dalam berproses mendampingi penggusuran warga Bukit Duri bersama rekan-rekan satu tim, Sri mengutarakan bahwa keliru satu komponen penting merupakan penyadaran diri. Sebagai langsung, Sri mencoba menyadari seberapa luas pertarungan yang terjadi, apa saja yg beliau alami dan keterbatasan diri baik menjadi anggota tim kerja juga pada keprofesian arsitek. Kesadaran itulah yg membentuk kerja & pikirnya sehingga terwujud pada suatu keberpihakan tertentu.

Tauhid Aminulloh, salah satu pendiri kolektif Wikikopi pada Yogyakarta, menyebutkan bahwa dia sangat menikmati agenda kepedulian pada bidang pendidikan dan pertanian dengan media kopi. Tetapi sesekali, Tauhid memerlukan waktu untuk berkontemplasi & merogoh jeda. Mengambil nafas bagi Tauhid penting sambil memperluas objektivitas. ?Aku melihat banyak kasus di antara para pendaku idealis merupakan mereka tidak pernah memperluas objektivitas,? Ungkapnya. ?Kian usang sebuah idealisme mampu jadi menyempit; hanya terkait hal yg kita pedulikan akan tetapi lantas abai dalam idealisme yang lain.?

“Aku travelling tidak disengajakan untuk mengenal diri saja. Tapi ternyata di dalamnya, aku juga bisa mengenal diri sendiri,” ujar Niniek. Rekannya, Russelin berbagi bahwa interaksi dengan banyak orang pun akan menumbuhkan kepedulian di dalam diri kita. Dengan travelling, kita dapat bertemu banyak orang yang berbeda-beda. “Semakin luas, semakin baik.”

Kepedulian serupa pula yang mendorong Fajar Nurmanto untuk menjadi relawan media. Sebagai lulusan Komunikasi yang sedang mengambil pascasarjana di bidang Sosiatri, Fajar aktif menjadi relawan media untuk Panti Sosial Hafara. Panti Hafara aktif merawat orang terlantar seperti lansia dan anak-anak. Sebagai pekerja media, Fajar melihat bahwa sekarang media gerakan sosial pun harus bisa nge-popselayaknya media-media lain yang tersohor. “Biar nurani masyarakatnya bisa terbangun dari melihat aktivitas-aktivitas sosial. Agar kita tidak individualis,” terangnya.

KEPEDULIAN DARI DIRI AKTIVIS DI DUNIA MODERN

Identitas, bagi Sri, terbatas pada konteks ruang dan waktu. Identitas diri kita bisa jadi berubah di masa depan. Namun, selalu ada benang merah yang ia temui di tahap-tahap kehidupannya. “Aku lebih merasa bahwa selama ini aku adalah seorang storyteller, aku mencoba membuat diriku tidak ada dan terus bercerita,” ujar Sri. “Sekarang aku sedang mencoba menghubungkan kerja praktek lapangan dengan teori dan dunia akademis.”

Seringkali Sri mendapati label-label disematkan kepadanya seperti aktivis (dalam konotasi negatif) atau penentang pemerintah, dsb. “Kalau kita mau menghimpun label, so what?” sahutnya. Tantangan modernitas baginya adalah bagaimana orang semakin haus akan visual, citra, rupa, dan derasnya arus informasi. “Padahal rupa, yang tampak itu adalah hasil pergumulan ide dan batin yang tidak tampak,” pungkasnya.

Sementara itu, Fajar memiliki kepedulian untuk meneliti program pensiun berkelanjutan. Program pensiun masa kini masih jamak berbentuk santunan, namun tidak sustainable di jangka panjang. Kepedulian Fajar muncul dari melihat dan merefleksikan masa depan orang tuanya. Fajar tinggal di kota Yogyakarta, di mana indeks kesenjangan sangatlah tinggi. Agenda pembangunan kota modern pun ia soroti. Sebaiknya orientasi pembangunan terintegrasi secara setara; bukan hanya pembangunan budaya untuk mengejar ekonomi dan sebaliknya. Menurutnya lagi, ada hal yang lebih mendesak dari kesenjangan ekonomi, yaitu akses sumber daya produksi untuk semua.

Lain cerita menggunakan Tauhid. Semenjak duduk pada bangku SMA, Tauhid merasa terdapat yang aneh menggunakan pendidikan yg beliau dapatkan. ?Aku melihat ada arah mobilitas pendidikan yg perlu diubah. Bisa oleh siapapun, & telah ada yang berusaha. Aku pun melibatkan diri; menggunakan caraku,? Jelasnya. Arah gerak pendidikan kini pun bergerak seiring menggunakan arah mobilitas dunia.

Dunia masa terbaru ini bagi Tauhid akrab dengan segala yg kuantitatif atau dapat dihitung. ?Aku mencoba mengakrabkan diri dengan hal-hal yg kualitatif,? Jawabnya. ?Aku percaya tiap orang punya kepedulian. Hanya saja pengalaman & lingkungan yang akan membedakan sasaran kepedulian tiap orang.? Dunia pendidikan, bagi Tauhid, mewadahi kegemarannya untuk bertanya.

Russelin menemukan banyak hal yang mendorongnya melakukan banyak kegiatan kerelawanan sembari bekerja. Salah satunya, Russelin merasa membutuhkan interaksi dengan orang lain yang dapat membagikan pesan dan ilmu untuknya, “Bertemu orang lain artinya kita mendapat ilmu baru.”  Rasa senang untuk berkompetisi secara positif pun mendorongnya melampaui batasan diri setiap hari.

Satu yang penting bagi Russelin adalah bahwa kepedulian nir mampu dibuat di akhir. ?Level pendidikan yang pertama yg mengajarkan kepedulian merupakan famili,? Ungkapnya. Seturut menggunakan penjelasan Alvieni & Russelin, pengalaman Niniek tumbuh pada keluarganya pun menciptakan konsep diri & kepeduliannya, ?Ada perasaan bahwa saya ingin pekerjaanku tidak sinkron menurut pekerjaan orang tuaku. Bukan karena mereka salah , namun lantaran saya melihat bahwa hayati di sisi lain jua mampu menyenangkan,? Niniek bercerita.

?Aku lekat menggunakan hal-hal yang menantang; sebagai akibatnya aku selalu bekerja di mana perseteruan itu terdapat terus. Aku mencicipi rasa tanggung jawab yg kuat, terutama sehabis memulai suatu gerakan atau organisasi,? Ungkap Niniek. Sewaktu masih menjadi siswa SMA, Niniek pun membaca buku Solitaire Mystery karya Jostein Gaarder. ?Dari kitab itu saya memahami bahwa menjadi berbeda itu tidak apa-apa,? Katanya.

APA YANG MEMBUATMU TERUS BERKEGIATAN?

Fajar pun menambahkan, “Ketiganya harus dapat ruang untuk berkembang. Prinsip utamanya adalah migunani tumraping liyan.” Falsafah migunani tumraping liyan (Jw) memiliki arti berguna untuk sesama. Russelin pun punya konsep berbagi dengan sesama melalui ilmu, “Bertemu banyak orang memperkaya diri. Bertemu orang lain artinya mendapat ilmu baru, mendapat tempat berbagi ilmu. Berbagi adalah bagian dari jiwa sosial, ya. Hal-hal ini membuat hidupku lebih seimbang.”

Tauhid memberikan jawaban yang penuh harap akan masa depan. Tauhid kini sedang berproses beserta kawan-kawan Wikikopi menggunakan menggelar berbagai kelas & residensi dengan media belajar kopi dan pangan. ?Aku tetap berlanjut lantaran 2 bocahku. Aku sekadar ingin supaya mereka dapat menikmati global yg lebih baik saja,? Jelasnya.

PENUTUP

Mengenali diri penting bagi aktivitas & kerja kita buat global yang lebih baik. Dalam mengenali diri, kita memberi ruang bagi diri kita buat mempertanyakan konsep diri dan aneka macam prosedur pikiran yang mendasari hal-hal yang kita lakukan. Berkaitan menggunakan itu pula, kepercayaan -kepercayaan dan sudut pandang yang diri kita pilih buat melihat global di sekitar kita.

Konsep-konsep di dalam diri kita menghipnotis kerja-kerja dan aktivitas yang kita pilih di pada hidup. Memperluas objektivitas, memperluas ilmu, memperluas hati & pikir baik dilakukan secara bersiklus buat mendukung kerja-kerja kita. Kita sanggup melakukannya melalui berlatih kesadaran di waktu luang, berinteraksi secara luas dengan sesama maupun merogoh jeda berdasarkan keseharian kita buat refleksi diri.

Satu cara mengenali diri merupakan dengan mengenali orang lain pula, usul Tauhid di sela dialog mengenali diri. Hal tersebut didukung juga oleh Alvieni yg mengusulkan bahwa keliru satu latihan mengenali diri merupakan buat, "Membaca biografi orang-orang, ya." Membaca kisah hidup para tokoh adalah satu cara buat mengenal konsep diri mereka & apa yg mereka perjuangkan di berbagai konteks & budaya yang berbeda menggunakan kita. Dengan latihan kepekaan dan kecerdasan emosional tadi, kita akan menerima bekal buat bepergian diri kita masing-masing.

?Pertama-tama, tentukanlah dirimu ingin sebagai apa; kemudian kerjakan apa yg harus engkau kerjakan,? Epictetus berujar, tiga abad kemudian selesainya Socrates.

[i] Self-image: adalah gambaran mental yang sudah bertahan dalam pikiran seseorang tentang dirinya. Gambaran diri ini tidak hanya sifat dan deskripsi yang dapat dilihat saja(seperti bentuk fisik, warna kulit), tetapi juga hal-hal yang dia pelajari tentang dirinya dari pengalaman pribadi atau proses internalisasi penilaian dari orang lain. (disarikan dari Self-image, https://en.wikipedia.org/wiki/Self-image, diakses 27 Maret 2017)

[ii] Ideal-self adalah representasi sifat-sifat yang diinginkan untuk diri kita, baik oleh kita atau orang lain (aspirasi atau harapan orang untuk diriku). Diri ideal biasanya mendorong seseorang untuk berubah menjadi lebih baik. (disarikan dari Self-discrepancy theory, https://en.wikipedia.org/wiki/Self-discrepancy_theory, diakses 27 Maret 2017)

[iii]Sedangkan self-esteem adalah evaluasi emosional yang menyeluruh dan subjektif terhadap diri kita sendiri, termasuk penilaian diri dan sikap kita akan diri kita sendiri. (disarikan dari Self-esteem, https://en.wikipedia.org/wiki/Self-esteem, diakses 27 Maret 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *