[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO 20/AGUSTUS 2018
By: Date: January 21, 2018 Categories: Uncategorized

Salam Transformasi!

Di bulan Agustus ini, Pro:aktif Online pulang hadir pada tengah-tengah Anda. Setelah pada edisi sebelumnya kita merefleksikan salah satu kebutuhan dasar, yaitu pangan, sekarang kami mengajak pembaca sekalian buat merefleksikan ?Papan? Yang jua merupakan kebutuhan fundamental pada hidup insan.

Papan (shelteratau hunian) yang memadai adalah salah satu kebutuhan paling mendasar manusia. Manusia butuh tempat untuk bermukim: beristirahat, berlindung, dan berkegiatan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan baik secara individu maupun kolektif. Papan yang memadai akan mendukung kondisi jiwa dan raga manusia yang tinggal di dalamnya. Sehingga, kondisi hunian serta pemukiman yang memadai hendaknya dapat mendukung pencapaian kualitas hidup kita sebagai manusia. Tercapainya kualitas hidup yang baik, mengoptimalkan kemampuan manusia untuk beraktivitas, mewujudkan visi dan misi hidupnya di dunia.

Oleh karenanya, menggunakan mengusung tema ?Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Papan (Hunian) pada Masa Kini? Kami mengajak Anda buat menelusuri artikel-artikel di pada edisi ini.

Rubrik PIKIR menghadirkan 3 buah tulisan, yg mengajak pembaca buat merefleksikan makna sebuah tempat tinggal atau tempat tinggal. Dua artikel yg dibawakan oleh Eventus Ombri Kaho & Umbu Justin menyampaikan tentang makna sebuah rumah bagi rakyat tradisional pada ke 2 tempat berbeda di Indonesia, yaitu pada Besikama (Kabupaten Malaka) dan Weelewo (Kabupaten Sumba Barat Daya). Bagi rakyat pada ke 2 loka tadi, tempat tinggal tak hanya berfungsi menjadi loka berlindung semata. Rumah adalah pusat kegiatan spiritual, yaitu ruang pertemuan insan menggunakan Sang Pencipta sekaligus perwujudan daya juang manusia pada tengah alam semesta ini. Setiap bagian menurut tempat tinggal yg mereka bangun mempunyai maknanya masing-masing yg terhubung menggunakan pengalaman spiritual tadi. Artikel ketiga dari rubrik ini, masih sang Umbu Justin, mengajak pembaca buat merenungkan sebuah seni membangun ?Papan? Atau bangunan tempat tinggal menurut sudut pandang almarhum Romo Mangunwijaya Pr., seorang rohaniwan sekaligus arsitek. Bagi Romo Mangun, menciptakan sebuah rumah merupakan pemaknaan kembali hidup manusia yg bertarung dalam kompleksitas hidup sekaligus merayakan keindahan dari kehidupan itu sendiri.

Rubrik MASALAH KITA dibawakan oleh Kristoporus Primeloka, membawakan permasalahan yg dihadapi sebagian akbar rakyat Indonesia dalam pemenuhan loka tinggal, yaitu kenyataan terpusatnya lokasi pembangunan perumahan yg pada lokasi mata pencaharian, yg menjadikan dalam terjadinya arus perpindahan warga mendekati huma pencaharian, yang lalu mengakibatkan perkara lainnya, seperti terbentuknya perkampungan kumuh-padat penduduk & terjadinya penggusuran. Penyebab lain berdasarkan kepadatan pemukiman merupakan terdapatnya paradigma bahwa satu keluarga perlu mempunyai satu tempat tinggal . Penulis menggugah pembaca dengan pemikiran mengenai cara lain lain yg bisa dilakukan terkait dengan pengadaan tempat tinggal bagi keluarga.

Rubrik OPINI menghadirkan artikel menurut Ari Ujianto yang menyampaikan perseteruan yang sama misalnya pada rubrik sebelumnya, yaitu kurangnya akses perumahan bagi warga berpenghasilan rendah. Di pada artikel tadi, Ari Ujianto mengajukan 2 terobosan bagi pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak bagi masyarakat, pertama, melalui perbaikan kebijakan pemerintah atas penataan perumahan bagi rakyat, ke 2, melalui peningkatan keswadayaan rakyat pada mencukupi kebutuhan loka tinggalnya.

Rubrik TIPS menghadirkan tiga artikel. Dua artikel ditulis sang Any Sulistyowati. Artikel pertama, berdasar pengalaman pribadinya, Any Sulistyowati menulis tentang langkah-langkah membangun tempat tinggal impian sinkron dengan syarat aktual sumberdaya juga finansial yg dimiliki. Sedangkan dalam artikel kedua, terdapat hubungannya dengan artikel pertama, adalah tentang langkah-langkah menciptakan loka tinggal menggunakan biaya ekonomis dan selaras alam, yaitu menggunakan material bekas. Pembaca dapat menilik latar belakang pemilihan material membangun rumah yang selaras menggunakan alam di pada artikel ini. Artikel ketiga, ditulis oleh Jaladri, yg menuliskan mengenai gaya hidup ekonomis dan selaras alam yang perlu dilakukan sang aktivis pada berdomisili.

Rubrik MEDIA dibawakan sang Kukuh Samudra yg menulis resensi sebuah kitab berjudul Halaman Rumah/YARD, menurut Tanah Indie, sebuah komunitas pemerhati informasi papan di Makassar. Buku tadi memuat esai-esai terkait pekarangan atau laman rumah menjadi bagian menurut tempat tinggal insan, yg dibidik menurut berbagai tema, yaitu diantaranya: tradisi, hubungan sosial & ruang hidup.

Rubrik JALAN-JALAN dibawakan oleh Any Sulistyowati. Artikelnya membawa pembaca untuk melihat sebuah komunitas bernama Cobb Hill Community Co-housing di Amerika Serikat.  Cobb Hill merupakan sebuah komunitas yang bertempat tinggal bersama sekaligus menjalankan pola hidup bersama untuk hidup selaras alam. Komunitas tersebut memenuhi kebutuhan harian mereka secara mandiri. Oleh karena itu, selain membangun rumah-rumah tempat tinggal, komunitas ini melengkapinya dengan lahan pertanian dan peternakan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup.

Rubrik PROFIL dibawakan oleh Fransiska Damarratri yang menulis profil 4 komunitas dan organisasi pemerhati isu papan yang ada di Indonesia.  Dari artikel tersebut, kita dapat mengetahui bahwa terdapat sepak terjang berbagai pihak di Indonesia maupun di dunia, yang mengupayakan tercapainya ruang hidup yang lebih baik, swadaya, dan bersama (komunal) bagi seluruh masyarakat.

Rubrik RUMAH KAIL dibawakan oleh Didit Indriati yang memberikan pengalaman KAIL dalam merawat dan memelihara tempat tinggal & kebun dengan cara yang selaras menggunakan alam.

Keseluruhan artikel dalam edisi ini diharapkan menginspirasi kita semua, dimulai menurut pemetaan perkara-masalah yang muncul seputar pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal. Untuk mengatasi perkara, disajikan berbagai tawaran solusi diantaranya : (1) alternatif cara mengorganisir diri & rakyat agar swadaya dalam pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, (2) penerapan gaya hidup bertempat tinggal, (tiga) cara-cara menciptakan dan merawat rumah yang selaras alam. Kita dapat mengetahui aneka macam pihak baik individu juga komunitas telah mengupayakan langkah-langkah pemenuhan ruang hayati yang lebih baik menurut hari ke hari, demi tercapainya kualitas hidup manusia yg semakin baik serta selaras dengan alam.

Akhir kata, seiring dengan gempita peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada bulan ini, kami berharap bahwa kita semua semakin merdeka terhadap pilihan & tindakan yang kita ambil sehubungan menggunakan pemenuhan ruang hayati yg mendorong tercapainya kualitas hidup insan yang lebih baik dan selaras dengan alam.

MERDEKA!

Navita Kristi Astuti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *