[PIKIR] Kesehatan Mental Dunia
By: Date: January 23, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: David Ardes Setiady

Sepotong Realitas Kesehatan Mental Dunia

Sumber : www.dreamstime.com

Dunia yang kita tinggali saat ini, kian hari kian kompleks, di mana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi belum berhasil meminimalkan mudarat dengan memaksimalkan manfaat penggunaannya bagi kesejahteraan kemanusiaan. Ditambah kondisi geopolitik, serta sistem perekonomian global yang masih tidak adil karena keberpihakan kepada pemilik modal besar. Variabel-variabel tersebut berinteraksi dalam kehidupan masyarakat dunia dan berdampak kepada kondisi kesehatan mental anggotanya. Bagaimana cara pandang kita terhadap dunia saat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap peristiwa yang terjadi saat ini. Perilaku para pemimpin dunia dan keputusan politik yang diambil dalam menyikapi isu global, pada satu sisi berakibat pada benturan identitas pada masyarakat di bawahnya, seperti konflik sosial antara warga pendatang dengan warga asli (native) yang telah lebih dahulu. Isu terorisme yang juga telah berkontribusi terhadap meningkatnya prasangka sosial terhadap identitas Islam dan Arab, terutama karena pemberitaan media mainstream yang tidak berimbang.

Umumnya, waktu krisis ekonomi terjadi, tingkat depresi & bunuh diri cenderung naik, seperti yang juga terjadi pada Indonesia sebagai keliru satu negara yang terkena imbas krisis ekonomi. Di sisi lain, persepsi rakyat mengenai kebutuhan mengalami peningkatan, pada mana kebutuhan primer nir lagi sebatas pangan-pakaian-papan saja, tetapi merambah dalam gadget (produk teknologi) yang sebetulnya berada dalam lapis ke 2 (sekunder) ataupun ketiga (tersier). Kemudian, insiden politik & hukum yang disiarkan melalui media publik (televisi, koran, radio, internet, dll) turut membentuk semacam pesimisme komunal tentang harapan akan peningkatan kesejahteraan. Belum ditambah aspek pendidikan yang masih pada tahap reformasi (pembenahan) di tingkat rakyat, bahwa pendidikan yg harusnya lebih diutamakan berbasis dalam nilai-nilai kehidupan & moral, bukan dalam teknis kompetensi yg sejauh ini belum terbukti berkontribusi positif bagi perkembangan mental anak-anak masa sekarang.

Kondisi-syarat di atas telah mempertinggi potensi terjadinya penyakit mental seperti depresi, kecemasan, skizofrenia, penggunaan narkoba, anti-sosial, bunuh diri. Secara umum, pertarungan kesehatan mental dunia adalah jumlah energi medis buat menangani penyakit mental tersebut belum mencapai proporsi yg berimbang, di mana hanya terdapat satu % energi kesehatan global yang menangani penyakit mental. Untuk negara-negara berkembang, hanya ada 1 psikiater per 100.000 orang, sementara pada negara-negara maju, terdapat 1 psikiater buat dua.000 orang (bds jurnal Mental Health Atlas WHO 2014).

 WHO menjadi badan global yg menangani masalah kesehatan menciptakan sebuah Action Plan 2013 ? 2020 buat kesehatan mental global, di mana organisasi tersebut mencanangkan beberapa goal berskala dunia buat memberikan ruang bagi seluruh manusia buat mempunyai kesehatan mental yg baik. Sehat mental mengartikan seorang sanggup menyadari potensinya, bisa menangani stres pada hidup, bekerja menggunakan produktif, dan berkontribusi terhadap komunitas mereka (Margareth Chan, Dirjen WHO). Ada 4 target yg ditetapkan sang WHO, yakni :

  1. Kepemimpinan dan pemerintahan yang efektif untuk kesehatan mental,
  2. Undang-undang untuk kesehatan mental yang terintegrasi, komprehensif dan jaminan pelayanan sosial yang berbasis komunitas,
  3. Strategi implementasi untuk promosi dan pencegahan,
  4. Penguatan sistem informasi, penelitian, dan bukti.

Dari rumusan rencana aksi yang dibuat oleh WHO, dapat kita tarik ke belakang, bahwa identifikasi persoalan kesehatan mental di dunia berkaitan erat dengan kebijakan pemerintahan dalam menangani kesehatan mental. Ada semacam ketimpangan dalam pengambilan keputusan terhadap kesehatan mental, atau dapat dikatakan bahwa belum ada penanganan yang cukup serius dari pemerintahan di seluruh dunia terhadap penyakit mental. Hal ini dapat dilihat dari perundang-undangan yang dibentuk oleh masing-masing negara masih secara parsial menyasar kepada isu kesehatan mental. Jaminan kesehatan bagi gangguan mental sejauh ini belum sepenuhnya diberikan oleh negara, bahkan pada kebanyakan negara berkembang, gangguan mental tidak dianggap sebagai salah satu yang dilindungi oleh jaminan kesehatan.

Sumber : deliveringhappiness.Com

Melihat minimnya energi kesehatan jiwa yang terdapat di global, apalagi pada Indonesia, dengan penduduk lebih kurang 250 juta jiwa baru memiliki kurang lebih 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 penduduk), 773 psikiater (0,32 per 100.000 penduduk), dan perawat jiwa 6.500 orang (dua per 100.000 penduduk) berdasarkan data bulan Februari yang dipaparkan sang Dr Eka Viora SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, Selasa (10/2) dalam lokakarya Penguatan Peran dan Kurikulum Psikolog di University Center UGM.

Untuk menanggulangi dan mengantisipasi kesehatan mental rakyat, usulan kebijakan yang dibentuk oleh WHO mungkin telah mencakup arah yg perlu buat dilakukan sang pemerintah, sejalan menggunakan target yang dicanangkan pada planning aksi tersebut. Di antaranya:

a. Penguatan kepemimpinan dan pemerintahan yang efektif buat kesehatan mental

Penguatan kepemimpinan menunjuk pada upaya melibatkan aneka macam pemangku kepentingan (?) (stakeholder) pada menyusun kebijakan sistem pelayanan kesehatan, termasuk pada dalamnya merangkul organisasi non pemerintah (non-governmental organization) & grup-kelompok warga , terutama gerombolan masyarakat yang mempunyai gangguan mental.

B. Menyediakan kesehatan mental yang terintegrasi, komprehensif dan agunan pelayanan sosial yang berbasis komunitas

Akses terhadap pelayanan kesehatan sebagai langkah kebijakan berikutnya, pada mana keliru satu sarana yang telah diidentifikasi merupakan berbagi pelayanan kesehatan dan sosial yg berbasis komunitas, serta diintegrasikan dengan rumah sakit umum. Perawatan kesehatan mental jua diperlukan meliputi perawatan kesehatan fisik karena keterkaitan faktor risiko kesehatan yg tidak selalu eksklusif diketahui.

C. Mengimplementasikan strategi implementasi untuk kenaikan pangkat & pencegahan

Promosi dilakukan pada bentuk penyuluhan kesehatan mental pada seluruh masyarakat rakyat bertujuan buat menaruh akses sebesar-besarnya & seluas-luasnya. Selain itu, penyuluhan memiliki tujuan yg lebih besar , yakni pencegahan. Pencegahan terhadap gangguan mental mungkin perlu serius dalam kebijakan yg antidiskriminasi dan penyuluhan buat memperbaiki stigma dan pelanggaran hak asasi yang berkaitan menggunakan gangguan mental. Selain itu, pencegahan bunuh diri pula harus termasuk ke dalam prioritas, melihat terjadinya peningkatan tren bunuh diri di kebanyakan negara. Kecenderungan bunuh diri dikaitkan menggunakan lemahnya sistem supervisi, salah kaprah antara bunuh diri menggunakan kecelakaan yg mematikan, dan kecenderungan kriminalisasi pada beberapa negara.

D. Penguatan sistem warta, penelitian, dan bukti buat kesehatan

Kecenderungan penelitian lebih poly dilakukan sang negara-negara yg mempunyai pendapatan tinggi & hal ini dilihat perlu dikoreksi supaya negara-negara berkembang bisa menyusun taktik dalam menanggapi kebutuhan & prioritas kesehatan mental. Dalam kerangka global, negara-negara pada global wajib berbagi sistem fakta yg gampang diakses sang siapa pun, terutama buat mendistribusikan data ataupun hasil penelitian ke poly orang. Dengan sistem kabar yg baik, penelitian dapat dilakukan dengan lebih baik lantaran melibatkan lebih poly responden. Untuk itu, data-data output penelitian perlu dipilah-pilah dari jenis kelamin & usia dan juga ke dalam kategori-kategori yang mencerminkan beragam kebutuhan pada subpopulasi, termasuk kebutuhan individual.

Dengan 4 usulan kebijakan yg tertuang pada planning aksi WHO, bisa ditarik kontekstualitasnya terhadap situasi masing-masing negara pada menyikapi duduk perkara kesehatan mental yang ada.

Referensi literatur :

– The Mental Health Action Plan?S 2013 ? 2020, World Health Organization (2013)

– https://ugm.Ac.Id/id/informasi/9715-minim.Psikolog.Ribuan.Penderita.Gangguan.Jiwa.Belum.Tertangani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *