[JALAN-JALAN] GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT : RUMAH BAGI SEMUA
By: Date: January 24, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Reina Ayulia

Berkunjung ke Kota Bandung tidak lengkap rasanya jika tidak beromantisria menggunakan bangunan bersejarah dan banyak sekali insiden penting di dalamnya yg bisa menumbuhkan kecintaan kita terhadap Indonesia. Banyak sekali insiden yang terjadi dalam masa sebelum kemerdekaan yang begitu inspiratif dan dapat diaktualisasi ke kehidupan kita dewasa ini. Kota Bandung selalu mengingatkan kita kepada seorang proklamator kemerdekaan Indonesia yg tumbuh & berkembang di tatar Priangan ini, siapa lagi jika bukan Presiden RI yg pertama, Soekarno.

Pada tahun 1930 terjadi sebuah peristiwa penting yg menjadi nafas baru konvoi kemerdekaan Indonesia. Empat anak muda Indonesia bernama Soekarno, Gatot Mangkoepradja, Maskoen, dan Soepriadinata diadili pada muka pengadilan Landraad pada Bandung atas tuduhan yang serius yakni makar, sebuah upaya merobohkan kolonialisme Hindia Belanda yg berkuasa dalam masa itu. Soekarno menciptakan sebuah naskah pledoi yang menggambarkan situasi politik internasional & akibatnya dalam warga Indonesia pada bawah penjajahan kolonialisme. Naskah tadi diberi judul ?Indonesia Menggugat?, naskah pledoi yang luar biasa hebat pada analisisnya. Umurnya ketika itu nir lebih menurut 29 tahun, ia tulis dalam sempitnya dinding penjara Banceuy, Bandung buat ia bacakan pada depan para pengadil Belanda.

Gedung ini sudah ada dari tahun 1907 yang berfungsi menjadi loka tinggal (Hartono, 2006). Pada tahun 1917 atas instruksi pemerintah kolonial Hindia-Belanda tempat tinggal tinggal ini beralih fungsi menjadi pengadilan (landraad) sampai Jepang merebut Bandung berdasarkan Belanda. Pada masa Kemerdekaan Indonesia gedung ini sempat digunakan dengan banyak sekali fungsi seperti kantor Palang Merah Indonesia (1947-1949), tempat kerja KPP Pusat (1949-1955), Bagian Keuangan Kantor Pelayanan dan Kas Otonom, Sekretariat Provinsi Jawa Barat (1955-1970) & Bidang Metrologi Dinas Perindustrian & Perdagangan Provinsi Jawa Barat (1970-2003). Setelah kosong satu tahun lalu pada tahun 2004 dilakukan pemugaran dan selesai tahun 2005 (Hartono, 2006).

Gedung ini berstatus menjadi aset Pemprov Jabar dan adalah Bangunan Cagar Budaya Kota Bandung yang pengelolaannya pada bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (Disbudpar). Atas inisiatif dari sekelompok masyarakat, gedung ini diajukan buat sanggup diaktivasi sang publik menjadi monumen bersejarah, museum & ruang publik. Di tahun 2005 ini pula menandai pemberian nama Gedung Indonesia Menggugat (GIM), hadiah nama ini nampaknya buat permanen menjaga bara semangat usaha dan perlawanan atas kesewenang-wenangan.

GIM sendiri terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5, letak gedung yang agak menjorok ke dalam terkadang bisa mengecoh siapapun yang hendak datang namun tak awas pada plang yang terdapat di muka gerbang masuk. Di GIM ada sebuah ruangan yang tata ruangnya disesuaikan dengan saat Soekarno membacakan pledoi, kemudian agak masuk ke dalam ada sebuah ruang mirip aula besar yang sering digunakan untuk diskusi dan berbagai kegiatan lainnya. Sebenarnya jika sedang tidak terburu-buru mengejar agenda diskusi, di kiri-kanan menuju aula ada petikan-petikan pledoi Soekarno, lalu apabila sedikit cermat dalam membaca pledoi kita akan menemukan Soekarno muda gemar baca buku kiri. Sedang di sebelah kanan bangunan terdapat kafetaria kecil untuk sekedar mengisi perut jika jumud dengan diskusi formal di aula atau sekedar ngopi murmer ala sachetan yang bisa menjadi penghangat tukar wacana bersama kawan.

Muka bangunan Gedung Indonesia Menggugat Sumber : Koleksi Pribadi, 2017

Sebenarnya jika dibandingkan menggunakan diskusi di aula, kafetaria GIM lebih dapat memperlihatkan keakraban yg intens buat bertukar pikiran & menggagas sebuah aktivitas, bahkan tak jarang sebagai awal mula kisah asmara. Beragam topik pembicaraan yang mengemuka dari hal yang berbau kanan sampai ke kiri-kirian, berdasarkan yg tradisional hingga yang terkini. Tanpa sekat, inklusif, dan hanya jam tutup yang mampu membatasi. Melalui diskusi terbentuk proses pembelajaran & proses lahir gagasan baru, generasi belia yg berpikir luas, kritis & semakin tahu budaya bangsanya.

Tahun 2011 sebagai kali pertama saya ke GIM, belakangan kunjungan itu saya refleksikan sebagai kali pertama aku bersentuhan dengan kawan-mitra yg tidak sinkron lintas ilmu. Sebagai mahasiswa jurusan pendidikan arsitektur, menyimak tentang-wacana yg berkembang pada dialog yang terdapat pada sana ibarat membukakan kotak pandora pada diri saya.

Kegiatan Komunitas Aksakun di Aula Utama GIM Sumber Foto : Koleksi Pribadi, 2011

Selain diskusi-diskusi, beberapa komunitas sempat hidup di sana, satu diantaranya Komunitas Aksara Sunda Kuna yang disingkat menjadi Aksakun, komunitas yang juga sempat saya ikuti. Di komunitas tersebut saya berjumpa dengan mahasiswa lain yang berbeda jurusan seperti sejarah, sastra, geografi atau seniman, penyiar radio, budayawan, aktivis, dll. Intensnya saya bersentuhan dengan teman-teman yang berbeda latar belakang di dalam komunitas membangun kesadaran jika sinergitas itu penting! Hari-hari selanjutnya di luar jadwal Kelas Aksakun, saya sering datang ke GIM karena banyak kegiatan-kegiatan yang menarik untuk menambah wawasan. Tak jarang jika sedang jenuh kuliah, saya sering ‘kabur’ ke GIM. Selalu ada hal yang baru dan orang-orang baru yang bisa untuk diajak berbincang dan selalu saja ada pembicaraan yang sangat inspiratif dan menggugah semangat saya sebagai mahasiswa untuk melakukan suatu perubahan. Keasyikan ini mulai meredup seiring hutang akademik yang harus dilunasi. Tahun 2016 saya datang kembali ke GIM kali ini bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai anggota Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau yang lebih dikenal sebagai Bandung Heritage. Meski sudah sekitar dua tahun berselang, saya tidak merasakan perubahan yang kentara. Kopi sachet masih setia menemani diskusi. Pemilihan meja bundar rasanya pilihan tepat. Dengan bentuk meja seperti itu, tidak ada sudut yag bisa menutup ruang diskusi, di antara kawan yang mengobrol kita bisa saling melirik. Saya bisa duduk sendirian di kursi bulat yang ada di kafetaria itu, tapi tak lama berselang ada saja yang ikut duduk di sana kemudian saling menyapa, berkenalan dan berbincang-bincang. Anehnya tak pernah ada rasa canggung, meskipun saya sendiri baru kenal hari itu.

Suasana diskusi pada kafetaria GIM Sumber Foto : Koleksi Pribadi,2011 dan Facebook Nunun Nurhayati, 2017

Sempat terjadi perubahan pengelolaan pada lingkungan GIM yg semula dikelola sang komunitas kemudian diambil alih balik oleh Disbudpar Jawa Barat. Tetapi semangat penggunaan ruang tidak berubah, Bu Nunun ?Staff Disbudpar, menganalogikan GIM ini sebagai tempat tinggal bagi semua orang, mereka mampu tiba buat berkegiatan, berbicara & berbagi. Dan fungsi beliau menjadi pelayan publik seperti selayaknya ibu di rumah yg wajib bisa mendengarkan, mengarahkan & memahami aneka macam keberagaman yang terdapat. Beliau meyakini bahwa generasi muda jangan dibatasi pemikirannya apalagi dicekal buat mengusut sesuatu hal tetapi wajib selalu didukung & diarahkan supaya berkembang ke jalan yang lebih baik. Semakin banyak tahu, anak belia akan tumbuh sebagai langsung yang lebih bijaksana.

Itulah yg menciptakan saya mengerti, mengapa setiap tiba ke GIM aku nir pernah merasa asing, selalu terdapat senyum-senyum ramah dengan tangan yg terbuka lebar. GIM memang rumah loka berkumpulnya segala pemikiran dan keberagaman. Nilai-nilai kebangsaan selalu menjadi nafas pada berbagai aktivitas yg disajikan sang GIM. Kemudian aku sebagai teringat dengan kata-istilah Soekarno pada naskah Indonesia Menggugat :

?Fadjar itu makin lama makin terang, & walau dihalang-halangi sang kekuatan manusia jang bagaimana djuga, walau ditjegah oleh kekuatan-wadag dari negeri manapun juga, walaupun ditjegah sang kekuatan-duniawi menurut pada segenap negeri pada atas segenap bumi ini, dia tidak boleh nir wajib , tentu, niscaya akan diikuti sang terbitnja matahari jang meng-hidupkan segala sesuatu jang harus hayati & mematikan segala sesuatu yang harus tewas.?

Daftar Pustaka Hartono, D.(2006).Indonesia Menggugat, Pemugaran sebuah Monumen Perjuangan Bangsa.Geger Sunten :Bandung NN. (2005). Indonesia Menggugat, Pidato Pembelaan Bung Karno pada Muka Hakim Kolonial, Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *