[PROFIL] Merawat Hobi, Merawat Hidup
By: Date: January 25, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Deta Ratna Kristanti

Apa aktivitas yang Anda bayangkan akan Anda lakukan waktu Anda mencapai usia 60 tahun? Atau waktu Anda sudah pensiun berdasarkan pekerjaan Anda ketika ini?

Foto Ibu Susen – dengan talas raksasa di Tahura

Sambil membayangkan, penulis mengajak Anda menemui sosok seorang ibu berusia 61 tahun yang masih aktif berkegiatan di berbagai tempat. Ibu Susann Suryanto, biasa dipanggil Ibu Susen, dulu berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran hingga pensiun 8 tahun yang lalu. Ibu Susen juga merupakan pendiri Perhimpunan Insan Kreatif dan Pecinta Lingkungan (PIKPL) Semanggi, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan. Saat ini, ibu Susen aktif sebagai penasehat di Perkumpulan Pecinta Tanaman di Kotamadya Bandung, Ketua 1 di Ikatan Perangkai Bunga cabang Jawa Barat serta beberapa kegiatan lainnya. Aktivitas lain yang sedang dikerjakan Ibu Susen saat ini adalah menyusun Buku 101 Pesona Pohon di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda Bandung, berdasarkan penelusuran/ identifikasi terhadap 112 tanaman di Tahura yang dilakukannya pada tahun 2013. Ibu yang selalu antusias bercerita ini juga memproduksi beberapa makanan tanpa monosodium glutamat (MSG), pengawet, pemanis dan perasa buatan. Ibu Susen memproduksi makanan sehat setelah di’curhat’i beberapa kawannya yang kesulitan menemukan makanan sehat saat makan di luar rumah. Ibu Susen lalu berkesimpulan bahwa kalau ingin aman makan makanan sehat berarti makanannya perlu diproduksi sendiri. Maka kemudian Ibu Susen memutuskan untuk membuat makanan sehat.

Punya Hobi Seawal Mungkin

Foto Ibu Susen – menggunakan Kriuk

(produk kuliner sehat)Dalam ceritanya kepada KAIL, Ibu Susen menuturkan bahwa dia mempunyai poly hal yang ia senangi buat dikerjakan. Tetapi dua hal yang paling ia senangi merupakan aktivitas yg herbi tanaman & memasak. Menurut Ibu Susen, hobi memasak sudah beliau geluti semenjak usang. Hampir setiap dia mendapatkan kesempatan berkunjung dan merasakan masakan dari banyak sekali daerah atau menemukan makanan baru, dia akan bertanya atau mereka-reka bumbunya, lalu mencobanya sendiri pada tempat tinggal . Lantaran hobinya itu, Bu Susen terbiasa buat membuat makanan sendiri sesuai menggunakan keinginannya. Tentunya, termasuk makanan sehat dan bergizi. Ibu Susen pun bahagia bila dapat mengembangkan makanan sehat bagi famili, kerabat juga teman-sahabatnya. Baginya, berbagi makanan sehat merupakan bagian dari tujuannya menularkan kebiasaan hidup sehat.

Hobi Ibu Susen yang ke 2 berhubungan dengan flora. Ini adalah hobi yang sangat beliau senangi, karena rasa cintanya yg akbar terhadap tumbuhan. Ibu Susen nir hanya mengagumi & merawat tumbuhan, namun juga mencari memahami nama Latin (nama ilmiah yg berlaku di seluruh dunia) serta kegunaan tanaman -tanaman yg ia jumpai. Ibu Susen menuturkan, setiap beliau melewati hutan atau jalan dengan poly flora, ia selalu merasa ditemani oleh tumbuhan-tanaman yang dijumpainya.

Sejak kapan Ibu Susen mempunyai hobi mengulik & merawat tanaman ? Ternyata, semenjak kecil Ibu Susen telah mulai menyenangi kegiatan menanam & berkebun. Ini lantaran ayahnya suka menanam aneka macam flora & Ibu Susen senang ikut ayahnya berkebun. Di rumahnya, ayah berdasarkan Ibu Susen menanam dan merawat berbagai jenis tanaman , antara lain pohon loquat, jambu mawar, belimbing, pandan, bunga soka, delima, suji, cokelat, bunga cempaka gondok, bunga cempaka pisang, apel, kucai, mawar, laos, sirsak, delima, cengkeh, dan bumbu-bumbu dapur. Dengan begitu poly flora pada kebunnya, Ibu Susen jadi memahami dan bisa belajar rupa berdasarkan macam-macam tumbuhan itu, meskipun saat itu ia belum tahu namanya. Ketika belajar pada perguruan tinggi, barulah Ibu Susen belajar nama-nama Latin dari tanaman -tanaman yang beliau kenali sejak kecil. Ibu Susen bersemangat sekali belajar nama-nama Latin tumbuhan lantaran akhirnya beliau bisa mengetahui nama dan kegunaan tanaman -tumbuhan yg ia kenali sejak mini tersebut. Sangking bersemangatnya, waktu berangkat kuliah dulu, Ibu Susen berjalan berdasarkan rumahnya di Jalan Mundinglaya, Bandung ke kampus di Jalan Dipati Ukur sambil menghafalkan nama-nama Latin menurut pohon-pohon yg beliau temui di sepanjang jalan. Benar-sahih hobi ya!

Seperti yang dituturkan kepada KAIL, Ibu Susen berpendapat bahwa aktivitas-aktivitas yang berpotensi menjadi hobi harus dikenalkan sejak dini dan secara total. “Contohnya, ketika anak belajar berkebun, ya biarkan anak itu kotor-kotoran. Ya, itulah alam. Terlibatlah, karena itu sesuatu yang nyata” kata Bu Susen. Tidak selalu pula, hobi mesti dikembangkan lewat kursus atau les. “Saya tidak pernah kursus. Dapat membuat sesuatu yang indah, misalnya , membuat landscape, itu keluar dari diri saya sendiri, setelah lama saya menekuni (hobi). Karena saya tahu, oh karakter tanaman jenis ini cocoknya ditaruh di ruangan, karakter tanaman ini harus kena sinar matahari, karakter tanaman ini harus dekat jendela. Karena saya betul-betul jadi kenal (tanaman) seperti sahabat. Ya, saya menganggap tanaman-tanaman itu sahabat saya,” cerita Ibu Susen.

Alangkah Menyenangkan Punya Pekerjaan Sesuai Hobi

Hobi digambarkan Ibu Susen sebagai aktivitas yang disukai, dan ketika mengerjakannya, orang yang memiliki hobi tersebut tidak memiliki beban. Malahan dari hobi yang kita kerjakan, kita memperoleh input yang positif untuk diri kita, misalnya perasaan senang, semangat, dan antusias. Dalam perjalanan hidupnya, Ibu Susen juga bertemu dengan banyak orang, bahkan aktivis, yang tidak memiliki hobi, dan ini menjadi keprihatinan Bu Susen. Menurut Ibu Susen, orang-orang ini biasanya masih menjadi pengikut (followers) saat mengerjakan aktivitas tertentu, dan bukan menekuni sesuatu karena kecintaan yang tumbuh dari hatinya. Misalnya saja, aktivitas yang dilakukan adalah karena tuntutan pekerjaan atau kebutuhan dari tempat kerjanya saat itu. Tapi sebetulnya kalau orang itu mau membuka diri, mungkin bisa jadi hobinya tersebut menjadi aktivitas yang ia lakukan selama hidupnya, yang menyenangkan dan bisa dikembangkan seumur hidupnya. Jadi ketika memasuki masa pensiun, aktivitas hobi tersebut bisa ia kembangkan, memberikan inspirasi dan semangat untuk dirinya. Ibu Susen sendiri merasa prihatin dengan sebagian kawan lamanya yang dulu terlihat begitu aktif dan eksis di pekerjaannya, namun ketika pensiun mereka merasa kehilangan segalanya dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang karena pekerjaan itu sudah dihilangkan. “Saya meragukan kecintaan mereka pada apa yang mereka geluti semasa bekerja dulu. Mungkin hanya karena tuntutan pekerjaan. Sekarang mereka tidak tahu harus berbuat apa. Sangat menyedihkan, kan.”

Dari pengalaman sahabat-temannya itulah, Bu Susen berpendapat, seorang wajib mempunyai hobi. Lantaran hobi adalah sesuatu yang inheren menggunakan diri orang tadi. Ya memang mungkin ketika masih bekerja, saat untuk melakukan hobi itu terbatas. Namun ketika seorang memasuki usia pensiun, hobi itu bisa sebagai sesuatu yang mengisi dirinya. ?Karena hidup manusia perlu diisi dengan sesuatu yang berarti. Berarti bagi dirinya, bagi orang lain, & makhluk lain. Sehingga orang merasa ?Aku terdapat artinya?. Tanaman-flora yang kuurus, saat kurawat dengan penuh kecintaan dan tumbuh subur, dia balik menaruh semangat kepadaku.?

?Menurut saya, memang yg paling ideal itu, usahakan orang itu bekerja pada hobinya, & hobinya bisa menghasilkan buat kehidupannya. Tapi hati-hati pula, kadang karena ambisinya, poly permintaan yang berhubungan dengan karya menurut hobinya, lalu orang mampu jadi kejenuhan dan kehilangan apa yang tadinya dirasakan latif dari hobinya itu ya,? Tambah Ibu Susen.

Hobi buat Berbagi

Ibu Susen mengajak orang-orang untuk memiliki hobi sepanjang usianya. “Jadilah lansia yang produktif,” pesannya pada rekan-rekan sebayanya. Menurut Ibu Susen, dengan tetap merawat hobi, orang yang sudah pensiun pun bisa berbagi dengan temannya. Bisa membagi hasil dari hobinya, ataupun ilmunya. Berbagi hobi bisa mengisi waktu para pensiunan dengan sesuatu yang bermakna. Bagi Ibu Susen, kita dapat berbagi hobi, ataupun menjadikan hobi sebagai media untuk berbagi. Misalnya ketika kecil, Ibu Susen memiliki hobi mengumpulkan perangko. Tetangganya pun demikian. Di waktu-waktu tertentu, mereka bertemu untuk bertukar perangko. Dengan kegiatan tukar-menukar perangko, ada berbagai hal yang bisa dibagi, misalnya pengetahuan dan rasa pertemanan. Demikian juga dengan tanaman. Di rumahnya yang tak berlahan, Ibu Susen membangun vertical garden dengan menjepitkan pot-pot tanaman pada jalur-jalur besi yang didesainnya sendiri. Model vertical garden semacam ini ternyata menginspirasi teman-teman Bu Susen yang datang ke rumah untuk membuat model yang serupa. Dengan posisi rumah Bu Susen yang juga berada di pinggir jalan, masyarakat umum juga dapat dengan mudah mendapat ide menanam dengan memanfaatkan ruang sempit seperti yang dilakukan Ibu Susen. Di Perkumpulan Pecinta Tanaman, Ibu Susen dapat berbagi tanaman yang ia punya kepada teman-temannya sesama anggota dan juga sebaliknya.

Hobi menjadi Gerakan buat Perubahan

Selain untuk berbagi, hobi juga dapat menjadi gerakan untuk membawa perubahan. Sebagai contoh, Bu Susen membuat vertical garden di rumahnya dengan dua tujuan. Yang pertama, menyaring debu-polusi udara dan polusi suara, terutama dari asap dan suara kendaraan bermotor yang lalu lalang di depan rumah. Kedua, memberi inspirasi pada orang-orang yang melihat vertical garden tersebut, terutama untuk orang-orang yang tidak punya lahan. “Tidak usah masyarakat menanam tanaman hias seperti saya, kalau masyarakat mau menanam sayur-sayuran dalam pot, saya kira yang seperti ini bisa cukup untuk konsumsi satu keluarga, tanpa harus membeli ke pasar,” ujar Ibu Susen. “Saya kira, sekarang mulai banyak juga yang membuat vertical garden di RT dan RW mereka. Ini bisa jadi satu gerakan sosial.”

Foto Ibu Susen – Vertical Garden3

Selain menginspirasi lewat rancangan vertical garden, dari hobinya yang sudah menghasilkan pemetaan dari 112 tanaman hutan di Tahura dan akan segera dibukukan, Ibu Susen berharap dapat mendorong generasi muda untuk mengenal kekayaan pohon-pohon di Tahura dengan bantuan para regulator dan pendidik. Lebih jauh lagi, Ibu Susen ingin tanaman-tanaman yang ada di Tahura tidak hanya dikenal oleh masyarakat Bandung dan Jawa Barat, namun dapat menjadi aset nasional. Karena itu Ibu Susen sedang mengusahakan supaya dilakukan perbanyakan atas tanaman-tanaman tersebut. “Kegunaan dan khasiat pohon-pohon ini luar biasa. Terhadap tanaman ini bisa dilakukan perbanyakan dengan cara konvensional maupun modern dengan tissue culture (kultur jaringan). Harapannya, tanaman-tanaman ini bisa dibagikan ke daerah-daerah di provinsi di seluruh Indonesia, sehingga masyarakat luas dapat memanfaatkannya untuk kehidupan mereka. Sebagai contoh, ada sekitar 80% tanaman yang saya petakan adalah zat pewarna alami. Di daerah NTT yang menghasilkan tenunan, zat pewarna alami ini bisa sangat dibutuhkan, sebab saat ini tenunan di sana sudah mulai diracuni dengan zat pewarna sintetik. Itu karena mereka tidak memiliki bahan. Ketika saya berkunjung ke salah satu daerah di NTT, untuk pewarna alami mereka hanya bisa bergantung dengan bahan yang ada di halaman rumahnya. Kalau kita dapat mendorong bupati atau pemerintah daerah agar membuat lahan-lahan pinggir jalan menjadi arboretum, maka kita bisa menanam mengkudu, misalnya, yang merupakan pewarna coklat alami. Saya kira akan memudahkan rakyat untuk mencari bibitnya. Membuat arboretum pewarna alami yang dibutuhkan masyarakat NTT. Saya kira begitu,” tutur Ibu Susen. Ibu Susen juga melihat bahwa hasil hutan seperti biji dan serat tanaman dapat memberi inspirasi kepada para generasi muda untuk menghasilkan karya-karya kreatif yang mendunia.

Bagi sosok Ibu Susen, menjalankan hobi memang bukan sekadar pengisi ketika senggang yang menyenangkan. Lebih jauh, hobi kita bisa berkembang sebagai ilham, menjadi gerakan buat perubahan besar , bahkan pada skala global. Ibu Susen menekankan pada hobi menjadi kegiatan yang dikerjakan menggunakan hati. Sebab jika dikerjakan dengan hati, segala aktivitasnya akan total dan pada. ?Sebab hati punya akalnya sendiri, yg akan sanggup berkembang ke mana-mana,? Ujarnya. Di mata Ibu Susen, seseorang pelaku hobi memang sepantasnya adalah aktivis, yang akan merawat & berbagi kegiatan hobinya dengan tak putus-putus, buat berbagi dan memberi manfaat yg semakin besar bagi global.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *