[PROFIL] Munawiyah: Sosok Petani Perempuan
By: Date: January 26, 2018 Categories: Uncategorized

Pada pertemuan La Via Campesina (perkumpulan petani) Asia pada Padang, 7 Mei 2004, Kail berkesempatan menghadirinya. Dari para tokoh petani se-Asia yang hadir di sana, merupakan para mitra dari Indonesia. Satu diantaranya, & satu-satunya wanita adalah Munawiyah, seseorang wanita petani dari Pidie, Aceh. Ia adalah seorang petani perempuan yang sekaligus adalah aktivis. Saat ini beliau dianggap menjadi ketua PERMATA (Perhimpunan Masyarakat Tani Aceh).

Sosok menurut profil kita kali ini menarik buat disimak bagaimana perjalanan hidupnya dari seorang petani yg menjadi korban, lalu malah menjadi aktivis petani & perempuan . Perjuangan ini nir mudah karena harus berhadapan budaya, kekuasaan negara dan kapital.

Bahkan nyawa seringkali kali jadi taruhannya. Bagaimana beliau sanggup bertahan pada visi misinya ini? Bagaimana sebagai aktivis ia bertahan hidup dalam kesehariannya? Dalam diri Munawiyah, kita sanggup menemukan sebuah semangat radikalisme yg bergabung dengan kesederhanaan.

Berikut merupakan cuplikan wawancara kami (H) menggunakan Munawiyah (M).

H : Sekarang profesi Muna apa?

M : Karena saya telah acapkali di lapangan mengorganisir warga , turun ke petani-petani yg korban, tidak mesti petani ya, warga yang menjadi korban, yang menjauh pada kita, ya?Kita mendampingi mereka sejauh kemampuan saya.

H : Korban yg umumnya ditangani korban apa?

M :Ya, korban kekerasan, baik yang dilakukan oleh keluarga, atau negara atau lingkungan. Itu yang acapkali kita dampingi.

H : Ini lewat lembaga Permata ini ya?

M : Yang saya dampingi lewat forum itu khususnya petani. Tapi ada yang secara pribadi saya tangani, yaitu ada yang korban kekerasan famili, ada yg negara. Itu yg secara pribadi, atau berhubungan dengan lembaga-lembaga lain. Tapi sering secara langsung.

H : Kalau sehari-harinya ngapain aja?

M : Ya jika yang hari-hari rutinnya buat sementara karena selesainya konggres dua Permata kita dipercaya menjadi ketua generik di Permata, ya kita tinggal separuh bulannya di tempat kerja, separuh bulannya pada lapangan. Bagi saat. Kalau misalnya minggu pertama itu kita pada kantor, minggu ke 2 pada lapangan, minggu ke tiga di tempat kerja, minggu ke empat lapangan.

H : Boleh crita ngak mengenai Permata, kegiatannya apa aja? Kalau di lapangan ngapain?

M : Permata itu kan Perhimpunan Masyarakat Tani Aceh, ya jelas gimana?Sekarang yang kita lihat, bukan hanya di Aceh saja, seluruh kalau kita lihat, kan poly sekali hak-hak petani yang tidak terpenuhi, terutama kan akses pasar, kemudian liputan-berita tidak hingga kepada petani. Kalaupun hingga informasinya adalah fakta yang galat. Sekarang kita lihat pada Indonesia yang sedang moneter (krisis moneter, red) ini, ketika petani-petani ini menggarap lahannya butuh modal yg poly. Butuh kapital yang besar . Sementara hasil produksinya waktu dijual itu sangat murah. Sementara menggarap huma, mengerjakan ladangnya atau sawahnya itu, pupuknya mahal. Serba mahal lah! Harganya (harga jual produk, red) cukup murah. Dan di situ masuknya renternir-rentinir, yg membuat petani-petani itu terlilit sang hutang. Mau tidak mau beliau harus ambil modalnya, karena nir terdapat yg bantu. Kemudian barangnya pun atau hasil produksinya wajib dijual kepada renternir itu untuk mampu membiayai hutangnya. Ternyata saat dijual ke renternir itupun masih juga nir sanggup, nir bisa membayar hutangnya itu. Jadi pada situ kita mengorganisir mereka bagaimana caranya supaya mereka keluar, paling nir sedikit berkurang bebannya gitu.

H : Jadi konkretnya apa yg dilakukan pada lapang terhadap masalah-kasus petani? Apakah contohnya bentuk-bentuk pendampingan atau apa?

M : Ya konkretnya?Kalau contohnya kini petani, apakah dia tanam cabe, kacang, pokoknya jenis palawijaya, dulu ya yang sering palawijaya. Sekarang kan pupuknya, obat-obatannya sangat mahal. Petani kita kesulitan, apalagi Aceh kini wilayah konflik, jadi pada sini paling nir kami sanggup buat membantu, akan tetapi nir sanggup sepenuhnya. Paling nir kami memberikan pengetahuan atau praktek-praktek buat mampu mengurangi beban mereka. Misalnya pada pertanian tersebut, misalnya menggunakan balik pada budaya nenek moyang kita dulu, itu kita pakai pupuk organik itu, atau obat-obatan yg tradisional yang buat pertanian. Kemudian ada jua yg buat obat-obatan tradisional buat kesehatan. Paling tidak misalnya, lantaran banyak desa yg jauh berdasarkan kota, atau jauh menggunakan tempat tinggal sakit, misalnya misalnya ibu-ibu hamil atau yang lain, paling nir pada lebih kurang rumahnya menanamkan sejenis tumbuhan yg buat mampu jadi obat-obatan. Buat ad interim, sambil menunggu ke dokter. Lantaran tempatnya jauh dan transportasinya pun terbatas.

H : Mbak Muna sendiri boleh dibilang petani ya? Punya lahan, menanam gitu?

M : Iya.

H : Boleh cerita mengenai kehidupannya sebagai petani selain sebagai aktivis?

M : Kalau saya gini, memang berdasarkan dulu, memang keluarga kami berdasarkan petani seluruh, yaitu memang kami mengerjakan huma sendiri. Lahannya nir luas, cuma sedikit. Kalau ad interim ya kami tidak punya huma lagi, lahannya cuma tinggal separuh lagi. Separuhnya telah buat irigasi dan pembangunanlah, tanpa ganti rugi. Dan ketika itu kita tidak memahami hak-hak kita apa, jadi kita tidak perdebatkan. Ngak memahami. Orang mampu ambil menggunakan gampang.

H : Sekitar tahun berapa itu?

M : Kejadiannya sebenarnya sudah tahun 80-an ke atas, tapi yang terakhir lahan, sawah kami diambil itu tahun 94. Th 94 itu buat bangunan sekolah, pada gerung-gerung. Kalau contohnya profesi aku di petani itu, pengalamannya di famili itu, eh..Kami paling tidak di pekarangan tempat tinggal mampu untuk nanam pertaniannya itu buat kebutuhan famili. Selain buat kebutuhan famili, ya kami pasarkan. Yang lebih berdasarkan buat kebutuhan famili kami pasarkan gitu.

H : Tanam apa aja pada tempat tinggal ?

M : Tanam apa, ya misalnya ada pisang, terdapat ubi, ada palawija seperti kacang panjang, tomat, cabai. Untuk kebutuhan keluargalah. Kebutuhan dapur gitu.

H : Cukup ya?

M : Cukup. Praktis-mudahan?

H : Tidak perlu lagi beli keluar?

M : Ya, Untuk ad interim begitu.

H : Kalau berasnya?

M : Kalau berasnya sekarang kami beli, lantaran sawah kami udah ngak ada lagi, karena diambil buat irigasi, bangunan jalan raya itu, transportasi dan sekolah, ya kini berasnya kami beli.

H : Itu trus gimana ceritanya kok sampai berdasarkan yang tadinya belum memahami ya waktu hak-haknya diambil belum ngerti, hingga sekarang sanggup jadi aktivis yang memperjuangkan hak-hak petani, ceritanya gimana?

M : Ya pertama lantaran masuk sebuah forum mendampingi desa kami, kebetulan ketika itu kita menjadi pengurus desa, jadi tamu yg masuk itu apa?Kita kan perlu cari memahami informasinya apa sebenarnya yg mereka lakukan, apakah itu membawa hal-hal yg positif bagi warga atau negatif. Karena ketika itu siapapun yg masuk waktu diberlakukan DOM pada Aceh, yg kena pertama kali kan yg perseteruan Aceh Timur, Aceh Utara dan Pidie kan. Jadi wajar jikalau kami curigai, siapapun. Jangankan yang berdasarkan luar, yg sesama keluarga pun saling mencurigai. Jadi saat itu masuklah sebuah forum swadaya warga yang mendampingi kami (Flower Aceh). Trus seringkali dibawa buat ikut-ikut pembinaan. Dari situ ikut pembinaan yang pertama, CO. CO yg diadakan oleh Forum LSM Aceh. Ketika situ saya bingung, lantaran kita bukan anak sekolahan gitu, memang betul-benar petani gitu kan. Apa yg dibicarakan galau, ngak nyambung. Akhirnya apapun ceritanya aku terpaksa wajib belajar buat bisa. Lama-kelamaan ya?Karena Flower-pun poly kali aktivitas, diundang ke Medan buat ikut HAM, yang ngadakan PBHI Medan. Di situ belajarlah, belajar, belajar? Kemudian 2 minggu kemudian diundang oleh LP3ES ke Jakarta, Flower yg kirim kan. Flower Aceh yang kirim. Dari situ, ini?Kan HAM juga 2 minggu, berdasarkan situ aku memahami bahwa ini merupakan Hak hidup, ini adalah hak petani. Dari situ saya tertarik, tertarik buat belajar. Kalau kita ngak merubah nasib kita sendiri, itu kentara orang lain ngak akan merubah kan. Kan ada niatnya dari aku , kehidupan saya ini ingin merubah. Kalau kita terus-menerus seperti ini, ya tak akan berubahlah kehidupan kita. Gimana menggunakan masa depan kita?

H : Dari situ ya terus ada semangat buat??

M : He-eh. Dan poly diskusi dengan kawan-mitra. Ketika di pelatihan itu saya diskusi dengan kawan-kawan yang banyak sekali wilayah kan. Tertarik dengan masalah-kasus yg diceritakan oleh-sang kawan. Dari situ saya tertarik. Sebenarnya saya alami, aku sendiri mengalami hal seperti itu, kenapa saya harus tinggal diam. Kenapa aku harus berjuang. Ternyata aku pikir-pikir lagi, jikalau saya berjuang sendiri, itu tidak berhasil. Saya akan membentuk grup & membangun aliansi atau jaringan, paling tidak kita ya?Biarpun tidak semua masalah selesai, paling nir sedikitnya akan ringan bagi saya.

H : Trus, sebelumnya tuch, pengurus desanya itu apa maksudnya? Jadi kepala desa atau ..?

M : Sekretaris desa.

H : O, sekdesnya ya. Tapi memang semua wajib lewat sekdes bila masuk?

M : Tidak mesti lewat sekdes. Lantaran waktu itu kan kita?Gimana ya, bukan?Kita kembali pada sejarah. Kalau perempuan saja yg kerja nir berhasil, kalau laki-laki saja tidak berhasil. Maksudnya wajib kerjasama. Jadi semua berita itu?Memang waktu itu biar kepala desa laki-laki , akan tetapi yg menguasai desa kami. Yang menguasai desa, seluruh peraturan desa, kami yang aturkan, kami yg perempuan , bergabung menggunakan organisasi PKK.

H : Itu memang kulturnya pada sana misalnya itu memang? Perempuan yg punya poly kekuasaan, kekuatan buat mengatur?

M : O nir, sebenarnya wanita tidak diberikan peluang sedikitpun buat menguasai jabatan. Jangankan buat menguasai jabatan, buat musyawarah saja ngak sanggup. Saya berjuang. Waktu itu, di situ memang pada desa, khusus desa aku dan banyak desa-desa yg lain, perempuan kelas 6 SD sudah dikawinkan. A, aku berjuang pada situ. Memang saya tamat PGA kan. Tamat PGA berjuang. Saya berjuang harus bisa kuliah gitu, harus sekolah. Waktu aku berjuang, macam-macam simbol (cacat, red) yang diberikan sang warga , akan tetapi aku ngak open, yg krusial aku harus sekolah, wajib memperbaharui desa aku . Akhirnya setelah saya mensugesti orang-orang tua pada situ, di desa itu, sekarang udah banyak perempuan yang sekolah. Malah ada yang udah kuliah, kerja. Biarpun saya ngak sempat kuliah, tapi saya mensugesti kawan-kawan buat kuliah.

H : Sampai berapa usang perjuangan itu akhirnya baru sanggup berhasil?

M : Saya SMP, itu tergantung gimana ya, taktik apa yang kita gunakan. Saya masuk Sekolah Menengah pertama, kelas 1 Sekolah Menengah pertama, itu yg lain udah..Kelas 2 SMP udah ada yg ikutan saya buat masuk Sekolah Menengah pertama, yg sekolah. Sampai sekarang.

H : Jadi kini boleh dibilang posisi perempuan pada desa situ sudah relatif lumayan setara ya?

M : he-eh.

H : Kenapa sich motivasinya mbak Muna, kok mampu hingga jadi aktivis, berjuang seperti itu?

M : Lantaran kita merasa diri kita, hak-hak kita tidak diinikan..Jadi kita berjuanglah untuk mendapat hak-hak kita, gitu.

H : Ada hambatan atau apa sich, menjadi aktivis selama ini hambatan terbesarnya apa?

M : Ya hambatan terbesarnya, lantaran kita bekerja di daerah permasalahan, malah nyawa saya terancam. Ada desa, terdapat berapa kecamatan yg saya tinggalkan, saya nir mampu masuk lagi, lantaran saya memang orangnya keras gitu. Saya ngak mau? Keras kan kita lihat situasinya. Karena kita kan minta ini itulah sang pihak-pihak tertentu. Kita ngak mau memenuhinya. Kalau kita udah penuhi sekali, pasti orang itu akan minta lagi. Jadi aku berdasarkan pertama ngak akan memberikannya. Sampai sekarang ya?

H : Ngak menyerah gitu ya?

M : Ya.

H : Takut ngak sich saat nyawa jadi taruhan, di wilayah permasalahan misalnya itu?

M : O, kalau bagi saya itu ngak. Hidup sekali, mati sekali. Itu, ngak terdapat istilah istilah takut ini itu ngak terdapat bagi aku ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *