[PIKIR] WASTU CITRA: INSPIRASI SENI MEMBANGUN DARI ROMO MANGUNWIJAYA
By: Date: January 27, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Umbu Justin

Pulcrhum Splendor est Veritatis

Keindahan adalah pancaran kebenaran

Thomas Aquinas

Buku Romo Mangun

Wastu Citra, tulisan Romo Mangun, sepertinya merupakan buku arsitektur terbaik yang pernah ada. Berbeda dari pandangan hampir semua pemikir teori dan pengulas karya arsitektur,  Wastu Citra justru menghindarkan seni membangun dari konsep kata arsitektur.

Kata ‘arsitektur’, ‘arsitek’, ‘karya arsitektur’,  mengandung pengertian yang mendahulukan  kreativitas desain, kemampuan teknik, kemampuan mengatasi tantangan elemen-elemen alam seperti iklim dan topografi serta inovasi di bidang  desain penemuan material baru yang efektif atau memukau. Para arsitek berkompetisi menjadi selebriti, genit dan mencari sensasi dengan merancang karya yang serba memukau demi pujian dari para pengulas. Dunia industri pun berlomba menghasilkan material yang paling inovatif dalam mengatasi tantangan desain sekaligus paling indah ditangkap indera.

Dunia arsitektur adalah paras semesta manusia yg sangat sensasional & penuh otoritas. Sebuah wujud karya arsitektur secara pribadi menggerakkan rasa sekaligus dapat memerintah manusia buat datang atau menjauh. Sebuah bangunan bisa sengaja memancing manusia buat tiba atau memberitahunya buat bertindak sinkron harkatnya. Setiap karya arsitektur adalah cermin di hadapan masing-masing insan. Seseorang dapat melihat kelayakannya pada ruang melalui tampilan desain arsitektur yg dirasakannya.

Karya arsitektur dengan demikian adalah bagian berdasarkan cara manusia menempatkan seluruh manusia dalam banyak sekali kategori, banyak sekali nilai atau kelas. Buku Wastu Citra memperlihatkan hal yang sebaliknya. Alih-alih memanfaatkan istilah arsitektur yang begitu wajar dan berwibawa, Romo Mangun memberitahuakn sebuah pendekatan total pada seni membangun dengan memasukkan budi bahasa ke antara banyak sekali perkakas desain. Budi bahasa adalah unsur terpenting definisi manusia dari Aristoteles: insan adalah makhluk yg berbudi bahasa.

Wastu Citra mengetengahkan kerumitan nasib manusia pada global sekaligus keagungan perenungan budi bahasa yg dicapai selama beribu tahun pada mencerap pengalaman seluruh sejarah. Manusia itu rumit, beliau senantiasa mencari loka yang sinkron baginya pada semesta & dengannya ia meratap dan bertarung melawan beratnya situasi hidup, namun sekaligus ia merayakan keindahan hayati pada budi bahasa yang bisa dia wariskan.

Seni membangun adalah perayaan dan warisan tersebut. Manusia membangun untuk menciptakan ulang semesta. Ia belajar dari warisan pengetahuan dan kebijaksanaan tradisi budi bahasa. Kata ‘Wastu’ atau ‘Vastu’ datang dari  bahasa India kuno yang berarti sebuah sastra seni membangun yang dirumuskan dari rangkaian kedalaman pemahaman tentang semesta, tentang hierarki alam, pergerakan roda waktu, tempat dan tugas manusia dalam semesta. Citra berarti pancaran, wajah, perwujudan dari kedalaman pemahaman tersebut.

Buku Wastu Citra nir mengarahkan kita buat mematuhi paham klasik India tadi. Romo Mangun menggagas budi bahasa menjadi citra insan. Kata Wastu dimaksudkan buat membuat para pembelajar arsitektur buat berhenti sejenak dalam proses desain buat menjelajah sejarah budi bahasa lokal di loka dimana beliau melaksanakan tugasnya. Wastu Citra merupakan undangan buat memperlakukan seni menciptakan sebagai daya ungkap humanisme yg luhur. Untuk itulah Romo Mangun membahasakan seni menciptakan menggunakan kata Wastu Citra, & menghindari istilah ‘arsitektur’.

Romo Mangun Membangun

Lebih dari 70 karya beliau menunjukkan drama manusia yg mencari loka pada global. Berbeda menurut karya arsitektur umumnya yg mengklasifikasikan insan, pada ruang-ruang ?Wastu?, Romo Mangun membahasakan kegelisahan & sekaligus keyakinan insan dalam melakukan bepergian. Rumah tinggal, gereja, masjid, sekolah, kantor atau ruang-ruang publik yang dibangun Romo Mangun mewujud pada skala yg sederhana, ruang-ruang yg terbuka, menerus, saling terhubung, nir berhenti mendadak, penuh menggunakan permainan cahaya yg menerobos antar ruang.

‘Citra’ yang bisa kita tangkap bila memandang ke dalam karya Romo Mangun adalah wajah manusia yang kuat, yang mampu mengatasi nasibnya dengan leluasa dan berani, wajah yang ditempa nasib sejarah namun sekaligus bertahan dengan keyakinan akan harkat dan tujuannya. Lihatlah Kali Code Yogyakarta, peziarahan Sendangsono, Sekolah Dasar Mangunan,  Gereja Maria Asumpta Klaten serta Bentara Budaya Jakarta!  Semuanya mencitrakan budi bahasa dari seorang perancang yang memihak nasib manusia.

Bangunan Gereja Maria Assumpta karya Romo Mangun

Romo Mangun bukan arsitek, dia menolak bergerak pada arus global arsitektur yang keletah & penuh gelagat narsistik yg akut. Ia melakukan budi bahasa dengan penuh semangat dan karena beliau percaya bahwa seni membangun adalah cara manusia menciptakan ulang semesta, ia pun menciptakan citra semesta manusia.

Pesan Romo Mangun kepada para pembelajar

Wastu Citra melekatkan bangunan, ruang, lingkungan terbangun kepada perilaku kita sehari-hari. Ketika dia dikritik lantaran desainnya perlu perawatan sangat rutin, beliau menjawab bahwa bangunan merupakan perwujudan tubuh insan yang meluas, karenanya perlu diperhatikan setiap hari, dirawat dan dibersihkan rutin.

Ia jua dikritik lantaran penggunaan material bambu dan kayu yg tidak akan bertahan usang & karenanya turut berperan memusnahkan hutan. Ia mempersoalkan mengapa kayu sebagai langka: lantaran huma hutan beralih fungsi. Desainnya dipercaya nir standar, melawan ketersediaan bahan bangunan sebagai akibatnya membuat para tukang harus menciptakan sendiri material atap, dinding & ubin lantai. Bangunan Romo Mangun mahal justru pada ongkos kerja. Ia memang senang bermain menggunakan bahan dasar beton, tanah lempung serta kelenturan batang besi. Beliau menjawab bahwa para tukang memang harus dibayar tinggi untuk kerja menciptakan. Kreativitas yg nir didikte oleh industri adalah penghargaan dalam budi bahasa yang unik dalam masing-masing insan pada membentuk ulang semesta.

Semua jawaban sederhana ini memberitahuakn kedalaman kontemplasi yg tidak dimiliki para arsitek umumnya. Arsitek selalu mencari peluang buat menegaskan kariernya & berusaha tampil secara meteoristik pada antara etalase kreativitas dunia desain. Namun bahkan menggunakan ego sedemikian tinggi, arsitek sebetulnya diperintah sang industri dan selera rendah konsumen yang nir mengenal budi bahasa otentik insan.

Gatra-gatra dalam peziarahan Sendangsono, karya Romo Mangun

Warisan Romo Mangun

Pulcrhum Splendor est Veritatis, Keindahan adalah Pancaran Kebenaran. Kutipan dari budi bahasa Thomas Aquinas yang berakar pada Socrates, Plato dan Aristoteles, bisa kita terima sebagai tantangan yang Romo wariskan pada para pembelajar arsitektur atau pencari Wastu Citra. Keindahan bukan sebuah kategori yang bisa didikte oleh industri atau tataran selera. Keindahan itu memancar dari keberanian untuk mengangkat perjuangan manusia mencipta ulang realitas semesta. Sebuah kemerdekaan hakiki yang bisa di narasikan dalam desain ruang-ruang yang menampung dan mewadahi kegiatan manusia. Kerja desain, kerja membangun adalah Citra dasar kemanusiaan kita. Kita merancang ulang nasib kita, membangun realitas semesta yang sejajar dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kita menuturkan budi bahasa membangun sebagai cara kita berada, cara kita mewarisi kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *