[Pikir] Pengaruh Cara Berpikir: Salah Pilih, Salah Aksi
By: Date: February 13, 2018 Categories: Uncategorized

Banyak upaya sudah dilakukan untuk menyelesaikan duduk perkara lingkungan. Seringkali upaya tersebut nir berhasil dan bahkan mengakibatkan permsalahan baru yg lebih kompleks. Di luar efektivitas pelaksanaan aksi/acara, fenomena ini jua tak jarang terjadi dampak kesalahan cara pandang kita terhadap problem tadi. Akibatnya pemahaman akan perseteruan menjadi nir sempurna & berujung dalam pilihan aksi yang kurang tepat jua. Tulisan ini menceritakan bagaimana kesalahan menentukan cara berpikir berpengaruh terhadap kesalahan pilihan aksi strategis. Tulisan ini akan dilanjutkan dengan goresan pena tentang Cara Berpikir Sistem menjadi keliru satu pilihan cara buat menganalisis konflik sosial & lingkungan pada Pro: Aktif edisi dua yang akan datang.

Karakteristik Permasalahan Sosial & Lingkungan

Permasalahan sosial dan lingkungan biasanya saling terkait satu sama lain membentuk satu jalinan permasalahan yang komples. Persoalan semacam ini disebut persoalan sistemik.

Permasalahan seperti ini biasanya tidak dapat diselesaikan dengan satu pendekatan saja. Tidak ada penyelesaian tunggal yang berlaku umum di semua tempat dan waktu. Penyelesaian masalah yang sama, bisa jadi membutuhkan pendekatan yang berbeda, tergantung penyebab masalah tersebut dan keterkaitannya dengan permasalahan yang lain di daerah dan waktu tertentu. Di daerah yang sama, suatu hal bisa menjadi masalah di satu saat, tetapi tidak pada saat yang lain. Pada saat yang sama, sebuah hal bisa menjadi masalah di satu daerah tetapi tidak untuk daerah lain.

Permasalahan dalam menganalisis perseteruan sosial & lingkungan

Masalah yang seringkali terjadi dalam proses menganalisis permasalahan sosial dan lingkungan adalah penyederhanaan permasalahan sistem kompleks menjadi masalah yang sangat sederhana dengan mengabaikan beberapa variabel atau yang disebut sebagai pendekatan reduksionis. Masalahnya variabel-variabel yang diabaikan pada pendekatan ini, seringkali justru paling berpengaruh terhadap perilaku sistem. Selain itu, variabel yang sangat berpengaruh di satu daerah dan kurun waktu tertentu bisa jadi tidak berarti pada tempat dan kurun waktu yang lain.

Masalah kedua adalah anggapan bahwa penyelesaian masalah yang sukses di satu tempat dapat direplikasi di mana saja tanpa melihat keterkaitan masalah tersebut dengan permasalahan lainnya di daerah tersebut. Contoh masalah jenis ini adalah proyek-proyek pembangunan dengan pendekatan top-down yang seragam untuk semua daerah. Proyek-proyek ini seringkali gagal menjawab persoalan-persoalan di tingkat lokal dan bahkan, di banyak kasus, proyek-proyek tersebut justru menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks daripada persoalan semula.

Cara Memandang Persoalan: galat pilih, salah aksi!

Kedua perkara di atas terkait menggunakan cara pandang kita terhadap persoalan. Kita terbiasa menganalisis masalah menggunakan memecah-mecah bagiannya & menilik bagian yang secara pribadi terkait dengan duduk perkara yg kita rasakan. Ini tampak kentara pada dunia kedokteran. Misalnya apabila kita demam, seringkali kita hanya minum obat penurun panas; tanpa melihat apakah terdapat penyebab lainnya, misalnya demam lantaran penyakit tipus atau penyakit lainnya. Penyelesaian kasus semacam ini hanya akan menyembuhkan gejalanya, tetapi nir menyembuhkan penyakit yang sebenarnya.

Cara pandang di atas dikenal sebagai cara pandang mekanistik. Cara pandang ini melihat permasalahan seperti sebuah bangunan. Pondasi bangunan tersebut (fundamental building blocks) dianggap sebagai penyebab segala masalah yang bila diselesaikan akan menyelesaikan keseluruhan permasalahan. Analogi lainnya adalah menggambarkan permasalahan sebagai pohon dan penyebab utamanya disebut sebagai akarnya.

Persoalan sistemik sering nir bisa diselesaikan menggunakan pendekatan semacam itu. Semua komponen permasalahan saling terkait menciptakan suatu hubungan karena dampak yg kompleks (jaring-jaring pertarungan). Persoalan sistemik membutuhkan pendekatan lintas sektor/bidang untuk melengkapi pemahaman akan konflik dan penyelesaian persoalannya.

Kesalahan memilih cara pandang dalam akhirnya akan mengakibatkan kesalahan pemahaman dilema. Begitu pentingnya pemahaman duduk perkara ini sampai-sampai terdapat pepatah mengatakan bahwa jika kita tahu masalah dengan sahih maka kita sudah 1/2 jalan pada proses penyelesaiannya. Kesalahan pemahaman problem akan berujung pada kesalahan analisis dan pemilihan rekomendasi aksi; yang tentu saja akhirnya nir akan menuntaskan perseteruan secara efektif atau bahkan mengakibatkan dilema baru.

Jadi hati-hati dengan cara berpikir anda, jangan sampai salah pilih, salah aksi!

(David Sutasurya – YPBB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *