[PIKIR] BELAJAR TENTANG PELUCUTAN MAKNA DARI KISAH WADUK SEPAT SURABAYA
By: Date: February 21, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Fictor Ferdinand

Memasuki Kampung Sepat sebenarnya tak jauh beda dengan memasuki kampung lain di sekitaran Surabaya. Di akhir pekan saat saya berkunjung, orkes dangdut lokal sedang menggelar latihan ditonton puluhan tetangga. Request lagu dangdut, nyanyi dan tertawa bersama. Namun di balik kegembiraan itu, ada kesiapsiagaan warga. Siap siaga bila suatu saat perusahaan pengembang perumahan datang mengurug Waduk Sepat, icon yang menjadi asal nama Kampung Sepat.

Beberapa bulan sebelum kedatangan aku , tahun 2015 lalu, krisis pada Waduk Sepat mencapai puncaknya. Petugas keamanan mendampingi pekerja dari perusahaan pengembang mendirikan pagar beton yg membatasi Kampung Sepat dengan waduknya. Warga yg bertahan dan menolak pendirian tembok, ditangkap. Tak terkecuali ibu-ibu.

Tak terbilang berapa banyak demonstrasi digelar warga sebelum insiden pendirian tembok itu. Bahkan masyarakat mengajukan tuntutan dalam pemkot Surabaya. Intinya, mereka menolak pengalihfungsian Waduk Sepat menjadi apartemen. Mereka merasa pengalihfungsian itu tindakan sewenang-wenang pemerintah, & pemerintah telah melakukan kebohongan dengan menuliskan pada atas kertas status huma sebagai tanah tegalan (tanah yang kering)

Gambar: Pendirian tembok pembatas, & masyarakat yg menolak (asal: surabaya.Tribunnews.Com)

Status huma pada Waduk Sepat itu di atas kertas memang milik Pemerintah Kota Surabaya, yg ditukar-guling menggunakan tanah milik sebuah perusahaan pengembang pada Kota Surabaya. Bagi warga , proses tukar guling & pemindahan kepemilikan itu tak punya makna konkret. Sejak turun temurun, Waduk Sepat telah menopang kehidupan masyarakat pada Kampung Sepat. Tetapi, satu demi satu fungsi penopang itu hilang. Disengaja atau nir, proses penghilangan itu tidak disadari rakyat hingga ketika mereka tahu bahwa Waduk itu akan diurug & dijadikan apartemen.

Bagaimana proses penghilangan makna itu yang bagi saya menarik buat dikupas. Karena prosesnya tidak disadari dan lumrah, sewajarnya proses pembangunan & pengembangan daerah pada tempat lain, apabila dicermati berdasarkan kacamata pembangunan-seperti-umumnya (konvensional).

——***—–

Wilayah Surabaya Utara, dahulu kala, adalah kawasan rawa tempat air parkir sebelum masuk ke sungai. Beberapa kemudian beralih fungsi menjadi lahan persawahan dengan waduk alami dan buatan untuk menampung air dan mengairi persawahan itu. Salah satu kawasan itu adalah  Waduk Sepat di daerah Wiyung, Surabaya Utara.

Gambar: Lokasi Waduk Sakti Sepat (sumber: maps.Google.Com)

Tak terdapat yg tahu, kapan Waduk Sepat ada. Yang kentara, sejak Pak Bani (ketika ini 66 tahun) masih kecil, kakeknya bilang, saat sang kakek lahir waduk itu telah terdapat. Mungkin buatan, mungkin juga bukan. Yang kentara Waduk Sepat sudah memberi poly dalam masyarakat Kampung Sepat.

Waduk itu pernah menjadi sumber air buat sawah-sawah warga Kampung Sepat. Juga menjadi asal air minum, mandi & mencuci warga . Kerbau-kerbau jua dimandikan di waduk tersebut selesainya lelah membajak sawah.

Pada tahun 80-an, saat status Kampung Sepat berubah berdasarkan Desa Sepat sebagai Kelurahan Sepat Lidah Kulon, banyak hal yang kemudian terjadi. Tak usang sesudah peralihan status tadi, tanah-tanah desa yg sejatinya merupakan milik bersama rakyat Sepat (tanah bengkok) dialihkan kepemilikannya berdasarkan tanah desa sebagai Tanah Negara pada bawah pemerintahan Kota Surabaya. Sang Mantri Air (petugas yang ditugasi mengawasi pengairan sawah pada kampung sang komunitas), diambil alih sang Kelurahan, diangkat sebagai pegawai kelurahan.

Wilayah persawahan di sebelah selatan Kelurahan Sepat juga satu demi satu beralih kepemilikan. Perlahan, waduk dan semua perangkatnya (pintu dan saluran irigasi) tak lagi berfungsi sebagai pengairan. Beberapa pintu air, masih ada sampai sekarang di antara perumahan warga, menandakan fungsinya dahulu. Sampai saat ini, meskipun tak lagi banyak sawah yang diairinya, Waduk Sepat masih berfungsi sebagai penahan air hujan agar tak membanjiri Kampung Sepat, karena posisinya yang memang lebih tinggi dari kampung.

Saat orang menjual sawah-sawahnya, kerbau-kerbau yang jua biasa mandi pada Waduk Sepat satu persatu kehilangan pekerjaannya. Si empunya kerbau, pun berganti pekerjaan: menurut petani ke tukang bangunan.

Tak usang terdengar informasi tentang lahan-lahan sebelah selatan kampung yang akan dibangun sebagai perumahan-perumahan. Tukang bangunan di Kampung Sepat memandang masa depan cerah. Meskipun mereka mesti bergantung berdasarkan proyek ke proyek.

Dekade 90-an, air higienis dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya mengaliri Kampung Sepat. Warga bahagia, karena tak perlu lagi mengantri di sumur dekat Waduk Sepat untuk mengambil air. Dulu, antrian ember pada dekat sumur sanggup panjang sekali. Apalagi di animo kemarau. PDAM membuat Waduk Sepat perlahan mulai kehilangan makna lain kehadirannya.

Dahulu, warga bergiliran memelihara waduk, membersihkankan dan menjaga kedalaman waduk. Setiap orang yang punya sawah, mendapatkan bagian dua meter persegi dari waduk. Anak-anak muda yang tak punya garapan, membersihkan satu meter persegi. Tradisi ini disebut gugur gunung. Waduk itu juga dipakai untuk memelihara ikan bersama. Sebelum panen, warga melarungkan sesaji tanda terimakasih untuk berkah Yang Maha Kuasa, dalam bentuk ikan yang mereka panen. Hasil panen dibagi untuk penduduk yang tak berpunya dan anak-anak yatim. Tahun 2000-an, warga membuka usaha wisata kolam pancing yang hasilnya masuk untuk kas desa, yang lagi-lagi sebagian diberikan untuk warga yang kurang mampu dan anak-anak yatim.

Tradisi ini masih bertahan hingga sebelum fakta tiba: Waduk Sepat diambil alih sang perusahaan pengembang untuk dijadikan perumahan mewah. Statusnya menjadi tanah negara, menciptakan Pemerintah Kota Surabaya merasa punya kewenangan buat menukar-guling huma menggunakan perusahaan. Bahkan deskripsi huma, yang kentara-kentara waduk hingga ketika ini, berubah sebagai tanah tegalan di atas Rencana Tata Ruang & Wilayah kota Surabaya.

—–

Kisah Waduk Sepat menggambarkan kegagalan proses perencanaan pemerintah. Perencanaan wilayah mestinya mengangkat status huma dari fungsi & penggunaan huma, atau minimal mendeskripsikan pemanfaatan riil berdasarkan setiap petak lahan. Sesederhana karena kita nir sedang merencana pada ruang hampa. Ada insan & semua kisah hidupnya, jejalinan interaksi sosial & hubungan menggunakan alam yg rumit. Bahkan berusia lebih dari satu generasi. Dimanakah, di kepuluauan ini, huma kosong yang tanpa jalinan interaksi dengan insan pada sekitarnya?

Namun jalinan hubungan yang membangun makna tersebut, secara tidak sadar dibongkar satu per satu, dilucuti dari manusia-manusianya. Tak ada yang sadar soal ini, ketika status Desa berpindah menjadi Kelurahan dan sang Mantri Air diangkat jadi pegawai negeri. Tak ada yang tahu apa dampaknya ketika mereka menjual lahan-lahan sawah yang diairi Waduk Sepat dan telah memberi makan mereka. Tak ada yang mengerti apa dampak jangka panjangnya ketika air PDAM  mengaliri rumah-rumah warga. Semuanya tampak tak saling berhubungan.

Jauh pada bawah alam pikiran sadar, begitulah mimpi pembangunan: insan yang berdiri sendiri, terbebas berdasarkan manusia lainnya, terbebas dari alam sekitarnya. Hubungan-hubungan diganti menjadi transaksi rupiah. Tak butuh maksud yg terperinci-terangan, atau teori konspirasi. Semuanya akan terhubung menggunakan sendirinya mengikuti skenario bawah sadar itu. Dan cara pandang ini yang menjelma dalam proses perencanaan pada waduk sepat: warga Kampung Sepat tak terdapat urusan lagi menggunakan Waduk Sepat.

Ini yang terjadi di Kampung Sepat selama empat dekade ke belakang. Namun, hubungan-hubungan itu tak sepenuhnya terputus. Waduk Sepat masih punya makna bagi warga Kampung Sepat. Warga kampung masih punya ikatan antar sesamanya yang membuat mereka melawan dengan gigih.  Bahkan salah seorang tokoh di kampung itu punya slogan: “Waduk Sepat, harga diri warga”

Kisah pelucutan makna ini adalah modus primer pembangunan konvensional kini . Ada yg kasar, misalnya kisah Warga Samin pada Rembang & berbagai kisah penggusuran masyarakat kampung di ibukota. Ada yg lemah lembut tidak terasa misalnya Waduk Sepat dan peminggiran Suku Betawi keluar dari ibukota. Di loka lain, bentuknya mampu dengan dalih pariwisata, transmigrasi, pacuan kuda, & perlindungan, yang menggunakan kasar mencekik ruang hayati penduduk aslinya, misalnya kisah suku orisinil di pedalaman Arso, Papua, yang loka berburu-meramunya diambil alih untuk huma transmigrasi.

?Waduk Sepat harga diri masyarakat? Tak dikenal dalam kosakata pembangunan konvensional. Semuanya mampu pada-mekanisasi. Takut banjir? Normalisasi aliran sungai jawabannya. Siapa yang menolak? Iming-imingi kerja di proyek perumahan mewah, jadi tenaga sekuriti, jadi tenaga kebersihan. Pekerjaan yang tidak terdapat hubungannya lagi menggunakan Waduk Sepat, seperti mengubah pembagian ikan menurut waduk yang pernah mereka dapatkan sebelumnya. Dengan harapan mendapat rupiah yg (mungkin) jauh lebih akbar, warga terpecah. Sebagian masyarakat yg memandang masa depan ada di proyek-proyek pembuatan perumahan, berbalik memusuhi sesamanya. Mengorbankan relasi-relasi sosial pada antara masyarakat.

—–

Memutus seluruh hubungan sosial yg kaya antara sesama insan, & memutus interaksi insan dengan alam yg menopang hidupnya, dan mengubah semua hubungan itu menggunakan interaksi transaksional, adalah akal dasar pembangunan konvensional. Dalam bahasa seorang kawan, dia menyebutnya dengan logika krisis. Untuk melawan akal krisis ini, kita perlu berangkat berdasarkan mengenali tujuan & cara mencapainya. Logika-nalar ini perlu dibalik sehingga cara-caranya jadi sama sekali tak lumrah. Ini akan mempermudah kerja-kerja advokasi pada lapangan, dan mencegah permasalahan sebelum dia mengemuka.

Bagi saya, membalik nalar krisis dicapai menggunakan memperkuat interaksi-interaksi sosial alih-alih menggerusnya dengan transaksi (uang) yg mensyaratkan keterpisahan antara satu sama lain. Memperkuat kebergantungan menggunakan alam alih-alih melepaskan diri darinya. Petani-petani yang berhadapan menggunakan perusahaan penguasa huma, mereka melawan dengan menanam. Saya sendiri melihat, ini bukan sekedar menanam, namun mempererat jalinan hubungan menggunakan alam. Di Kali Surabaya, misalnya, rakyat stren kali mengadakan ritual sedekah sungai & membalik rumahnya. Mereka membangun pulang hubungan mereka menggunakan sungai.

Tembok-tembok pembatas & plang nama hanya bangunan imajiner yg bertutur mengenai pemutusan interaksi. Penuturan tembok-tembok dan plang itu hanya jadi punya makna apabila dia kita gugu dan turuti. Selama alamnya masih utuh, selama itu jua kita mampu melawan krisis dan menciptakan relasi pulang dengan alam. Sambil berjuang mencegah kehancuran ruang-ruang hidup warga dengan satu-satunya bahasa yang sama-sama dipahami: Kami Menolak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *