[OPINI] DEWASA DALAM MENYIKAPI INFORMASI
By: Date: February 22, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Canggih Hawari

Keresahan menjalari indera

Ketika sengketa di mana-mana

Lupa akan kebersamaan

Seakan mengubur rekam historis

Mungkin, persatuan kita

Ada di penghujung tanduk.

Tidak mampu dipungkiri bila akhir-akhir ini memang kerap terjadi goresan-gesekan pada sekeliling kita, ketika hayati berjejaring dalam satu kesatuan. Indonesia. Padahal usia Negara ini telah nir bisa dikatakan belia lagi, tahun ini Negara kita berusia 72 tahun. Tapi bukannya persatuan yg dirasa, melainkan permasalahan ini & itu yg dialami.

Nyatanya memang hal-hal tersebut pasti terjadi, mengingat perbedaan akan selalu ada diantara kita. Kemudian, kemudahan penyebaran informasi dengan adanya media sosial dan keyakinan bahwa haknya untuk berbicara dilindungi oleh undang-undang, yang tidak diikuti dengan kedewasaan kita dalam menggunakannya menyulut berbagai konflik di antara kita.

Pertanyaannya adalah apakah memang perseteruan ini tidak dapat dihindari ? dengan memandang persatuan dan rekam historis bangsa ini, maka hal-hal seperti ini seharusnya dapat dihindari. Kebebasan untuk menyatakan pendapat di sini harus diikuti dengan secara bertanggung jawab. Dan bertanggung jawab di sini berkaitan erat dengan kedewasaan. Sehingga gesekan-gesekan yang terjadi di sekitar kita seharusnya dapat dihindari, karena memang perbedaan akan selalu ada.

Masyarakat & warta. Sumber foto : www.Pastiguna.Com

Ketidakdewasaan kita dalam berinteraksi dan bermasyarakat yang menurutku menyebabkan gesekan-gesekan seperti ini sangat mungkin terjadi. Kemudahan untuk menekan tombol share di media sosial tanpa menelisik lebih dalam, apakah informasi tersebut benar adanya atau tidak, serta ketidakmampuan kita dalam menempatkan diri ketika melihat informasi tertentu, dan keengganan kita untuk belajar memahami menjadi beberapa penyebab dari keadaan yang ada saat ini. Sekali lagi aku tekankan, ketidakdewasaan kita.

Cepatnya arus informasi dan kemudahan untuk menjadi bagian dalam penyebarannya memberi sumbangsih yang besar. Begitu melihat informasi-informasi yang menarik menurut kita, dengan mudahnya kita menekan tombol share dan membagikannya kepada banyak orang. Tidak hanya informasi informasi yang jelas sumbernya, tetapi juga informasi yang hanya berupa pesan berantai pun tidak jarang kita sebarkan dengan mudahnya, membuatnya diketahui oleh banyak orang dan hingga di titik dimana pembuatnya sudah tidak dapat ditemukan lagi. Lalu di mana kedewasaannya jika apa yang kita tulis tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi ? Permasalahan akan menjadi-jadi ketika berita tersebut ternyata hanyalah sebuah kebohongan, atau informasi yang telah dibumbui sana sini, sehingga memancing emosi pembacanya. Kemudian pilihan kita yang menjadi bagian dari proses penyebaran berita itu ikut menentukan permasalahan ini. Terlepas dari benar atau tidaknya berita, kebanyakan dari kita memang dengan mudah tergoda untuk menyebarkannya begitu saja tanpa pernah memikirkan apa dampak secara langsung maupun tidak langsung yang dihasilkan ketika kita menyebarkan informasi ini.

Berikutnya merupakan keengganan kita buat tahu pendapat dan kabar kabar yang berseberangan menggunakan kita. Secara alamiah memang insan akan lebih menyukai orang orang yg mempunyai kemiripan dengan dirinya. Begitu pula menggunakan pemikiran. Setiap orang akan memilih buat berkumpul beserta dengan orang orang yang memiliki pemikiran yang sama dengannya. Dan hal ini otomatis akan membuat kita nir tahu secara menyeluruh berdasarkan pemikiran & pendapat lain yang berseberangan menggunakan kita. Kita tidak memahami karena kita nir mengenal menggunakan baik.

Teknologi semakin canggih, memudahkan manusia membagi informasi.  Sumber foto : maxpixel.com

Dari keseluruhan hal tersebut, sudah barang tentu sebagian dari kita pernah melakukannya. Dan jangan khawatir, karena memang ini bukanlah perilaku yang muncul begitu saja. Perkembangan teknologi, tren generasi milenial dan berbagai efek seperti filter bubble di Facebook dan lain sebagainya turut membentuk perilaku kita saat ini.

Tapi pulang lagi, waktu memang kita telah menyadari ada yang galat dengan hal ini, apa kita hanya akan duduk diam & terus menerus mencari pembenaran berdasarkan prilaku prilaku kita ?

Tentu saja tidak. Lantaran mengetahui perkara & permanen membisu akan membuahkan kita bagian dari perseteruan itu.

Hal-hal sederhana, seperti menelisik kebenaran sebelum menyebarkan informasi, lalu bijak memposisikan diri ketika hendak menyebarkannya serta usaha untuk keluar dari zona nyaman dan berdiskusi, berinteraksi dan mencoba untuk mengenal lebih dekat orang-orang yang berbeda paham dan memastikan kebenaran informasi adalah langkah awal dari usaha menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sehat.

Karena setiap perubahan berawal berdasarkan diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *