[PIKIR] Ayah, Mari Mengasuh…
By: Date: February 23, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Yully Purwanti

Di poly kota akbar pada Indonesia, galat satu indikator kemapanan ekonomi keluarga, mampu terlihat berdasarkan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Baik yg roda dua, maupun roda empat. Dengan semakin poly kemudahan buat mempunyai tunggangan yang menunjang mobilitas ini, ad interim perluasan, apalagi penambahan ruas jalan tidak berjalan seiring peningkatannya, maka tidak heran bila jalanan pun jadi semakin padat alias macet.

Dampaknya? Jelas, semakin lama waktu tempuh menuju tempat beraktivitas, termasuk perjalanan saat kembali pulang ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Sahabat pembaca, begitu besar tantangan para petarung jalanan, khususnya mereka yang tinggal di perbatasan kota,  untuk beraktivitas di tengah kota.

Siapa saja para petarung jalanan ini? Tak terkecuali anak-anak yg berangkat ke sekolah, sampai orang dewasa, para laki-laki – wanita pekerja ataupun pencari kerja, pengusaha kecil, menengah, sampai kelas kakap, baik yang masih melajang juga yang telah menikah, di antara mereka masih ada para AYAH & BUNDA?.

Lantas bagaimana dengan di pelosok daerah? Pada sebagian famili, para ayah menjadi ketua keluarga, mencari nafkah menggunakan cara merantau. Apabila pun nir, ada yang punya ketika berkumpul bersama famili terbatas beberapa hari sekali, seminggu sekali, sebulan sekali, atau beberapa bulan sekali, tak pasti. Bahkan di beberapa daerah yg potensi TKI-nya akbar, para suami yang ditinggal pasangannya, istri mereka, merantau pada negeri yang jauh. Sementara ayah belum tentu mempunyai bekal pengetahuan yg cukup buat mengasuh anak-anak menggunakan cara yang patut, sesuai dengan tahapan usia anak. Sahabat pembaca mungkin telah tahu, kultur pengasuhan pada banyak negara di Asia, diserahkan sepenuhnya kepada para Bunda. Padahal anak-anak, jua butuh ayah mereka. Bukan hanya butuh fisiknya, tapi pula keteladanannya, dan jiwa anak-anak ini pun membutuhkan ayah? Inilah yang masih menjadi PR.

Gambaran di atas menaruh ilustrasi yg cukup kentara, bahwa tantangan utama para ayah buat terlibat & terikat pada pengasuhan adalah WAKTU. Dan yg berikutnya, merupakan KETERAMPILAN MENGASUH.

Sahabat pembaca, inilah potret keluarga kita kini. Tantangan hidupnya kian besar, pun tantangan dalam pengasuhan anak. Masih begitu banyak anak yang belum sepenuhnya mendapat sentuhan pengasuhan ayah secara utuh. Sebuah penelitian dari salah satu lembaga parenting di Indonesia beberapa tahun silam bahkan mengungkapkan bahwa di negeri kita ini ber-Ayah Ada, ber-Ayah Tiada. Ayah ada secara fisik, tetapi tidak atau minim sekali secara psikologis. Ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah, atau ATM, singkatan untuk Ayah Tunai Mandiri. ‘Penyakit’ yang kemudian muncul pada anak-anak yang minim sentuhan ayah pun muncul, yaitu ‘Lapar Ayah’.

Ada poly insiden yg memprihatinkan sebagai impak ?Lapar Ayah? Pada pengasuhan. Berbagai penelitian para psikolog juga ahli parenting mengungkapkan, bahwa tanpa ayah berperan dalam pengasuhan, anak-anak akan tumbuh sebagai langsung yg peragu, tidak utuh tahu jati dirinya, nir berani menghadapi kasus, malah lari berdasarkan masalah. Selain itu, gampang terpengaruh & terlibat pada tindak kriminal bahkan terjerumus memakai obat-obat terlarang. Pada anak wanita, poly terjadi kasus hamil di luar nikah & nir memahami bagaimana anak-anak laki-laki seharusnya memperlakukan mereka menggunakan hormat. Amat perih melihat fenomena misalnya ini.

Sebagai orangtua, sebagai pendidik, bunda, tentu juga ayah, akankah kita  diam terpaku dengan keadaan seperti ini? Mari Ayah dan Bunda, bergerak dan melangkah, berbuat agar semakin banyak para ayah yang menyadari peran sesungguhnya sebagai ayah yang utuh seluruh. Bunda tak akan hebat jika tak didukung oleh Ayah yang luar biasa, pun sebaliknya, Ayah tak kan jadi ‘Superman’ jika tidak bergandeng tangan dengan ‘Supermom’. Anak-anak, di masa pertumbuhannya yang sangat berharga, 0 – 15 tahun, membutuhkan keduanya. Bunda, tak seharusnya sendiri dalam pengasuhan….

Sahabat pembaca, sejatinya nir ada pemisahan peran ayah & bunda dalam pengasuhan. Anak membutuhkan afeksi, bimbingan dan keteladanan keduanya, buat tumbuh kembang jiwa raganya secara aporisma. Tinggal diubahsuaikan saja dengan kebutuhan mereka di setiap tahapan usia & perkembangan anak. Ada masa, antara usia 0-15 tahun anak lebih membutuhkan mak . Sebaliknya jua ada masa saat mereka membutuhkan ayahnya.

Sangatlah penting diketahui dan dilaksanakan, bahwa pada 1000 hari usia anak (mulai sejak proses pembuahan janin hingga anak berusia sekitar 2 tahun), untuk mengupayakan semaksimal mungkin kecukupan gizi dan nutrisi serta pengasuhan anak yang ditangani sendiri oleh ayah bundanya. Bukan orang lain. Kenapa? Karena 1000 hari pertama kehidupan anak ini menentukan kualitas sumber manusia saat anak ini dewasa kelak. Oleh karena itu pendidikan anak usia dini adalah kunci untuk membangun karakter anak yang tangguh dan memiliki budi pekerti. [i]

ayah 1 – foto kredit: Sherly Novita

Saya konfiden, apabila para pembaca, Ayah & Bunda, sadar dan benar-benar tahu hal ini, tak akan menggunakan gampang menyerahkan atau menitipkan pengasuhan anak-anak mereka kepada orang lain, meski masih keluarga sendiri. Setidaknya, sebelum menitipkan anak, akan benar-sahih memastikan terlebih dahulu ilmu, pengalaman & yg terpenting akhlak orang yg dititipi buah hatinya, tentu haruslah baik serta menerapkan pola asuh yang telah disepakati bersama sang ayah dan mak . Tidak gampang ya? Benar. Namun percayalah, dengan kesadaran penuh kiprahnya sebagai orangtua, bunda, juga ayah, akan mampu menjalani & menikmati setiap proses pada masa perkembangan putra-putri yang mereka kasihi.

Kembali pada peran ayah. Jadi apa sih peran ayah seutuhnya, apabila lebih berdasarkan sekadar mencari nafkah? Sahabat pembaca, ayah merupakan figur global luar yang penuh tantangan. Maka ayah perlu memakai poly ?Topi? Buat mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menaklukan banyak tantangan itu. Beragam ?Topi? Yg ayah kenakan ini akan membantu perkembangan langsung anak, baik sosial, emosional maupun intelektualnya. Ayah jua menumbuhkan motivasi (bersikap positif), kesadaran dirinya, bukti diri (fisik ? Seksualitas) & keterampilan (kognitif) yg berpengaruh dalam perkembangan dalam setiap tahapan usia anak. Peran ayah yang paling kuat terletak dalam dukungannya terhadap prestasi anak & hubungan sosialnya yg serasi. Hal ini akan memberikan imbas signifikan di masa dewasanya kelak, di kehidupan pribadinya maupun bermasyarakat.

Ayah 2 – foto kredit: Sherly Novita

Apa saja ?Topi? Ayah? Berikut ini beberapa antara lain:

· ‘Topi’ Ayah Penghibur

 “Dalam mengasuh, ayah dapat berperan sebagai entertainer (penghibur) dengan memanfaatkan anggota tubuhnya sendiri, sehingga tidak perlu membeli mainan.”Ayah bisa menggunakan ekspresi wajah dan mata yang lucu, gerakan tangan bahkan kaki. Tak perlu ‘jaim’ (jaga image). Yang penting fun! Ayah bisa sambil mendongeng, menumbuhkan karakter positif anak untuk percaya diri dan berani berekspresi.

· ‘Topi’ Serba Ada Ayah

Dalam keadaan terbatas sekalipun, apalagi jika berkecukupan, ayah utamanya berupaya memenuhi kebutuhan materi / fisik dan keuangan anak, yang antaranya buat porto sekolah, membeli peralatan & perlengkapan belajar sehingga anak merasa aman serta bisa belajar menggunakan lancar di tempat tinggal & di sekolah.

· ‘Topi’ Guru Ayah

Sebagai pengajar, tugas ayah merupakan mendidik. Artinya menolong anak agar beliau sebagai dewasa. Dewasa secara fisik, logika & jiwanya. Tanda minimal kedewasaan anak adalah bisa membedakan yang baik berdasarkan yang jelek, dan anak bisa melaksanakan tugas & kewajiban sesuai dengan tahapan usianya.

· ‘Topi’ Motivator Ayah

Sebagai motivator, ayah menaruh dukungan dan penghargaan (apresiasi) dalam minat, potensi pribadi atau hal-hal positif yang sebagai perhatian anak. Minat yang berkembang menggunakan baik menggunakan dukungan & keterlibatan ayah bukan semata secara materi, melainkan secara moril akan mewujudkan keterampilannya lebih serius. Membantu anak lebih bersemangat menjalani hari-harinya, juga membantunya lebih siap menghadapi kegagalan.

· ‘Topi’ Persahabatan Ayah

Anak memerlukan sahabat yang membuatnya merasa nyaman dan terbuka mengungkapkan isi hati, pikiran dan duduk perkara yg tengah dihadapinya. Sebagai teman, ayah bisa bergurau dan berteman secara sehat. Tidak berjarak & bersikap santai. Bersahabat. Memahami anak berdasarkan sudut pandangnya, sekaligus menyisipkan wawasan / masukan yg mampu membuat berpikir lebih dewasa.

· ‘Topi’ Pelatih Ayah

Agar berhasil dalam kehidupannya, antaranya anak perlu berlatih dan mendapat bimbingan ke mana ia akan melangkah. Berlatih untuk fisiknya memerlukan disiplin, berlatih untuk psikisnya harus pantang penyerah. Ayah mengambil peran sebagai pelatih (coach) tanpa mengenal lelah. Karena untuk melatih perlu komitmen dan konsistensi melakukan dari waktu ke waktu, sesuai perkembangan usia anak.

· ‘Topi’ Tong Sampah & Penasehat Ayah

Dalam keseharian banyak hal dialami anak terutama mereka yang menjelang remaja. Pengalaman buruk dan tidak menyenangkan membutuhkan bantuan orang lain minimal sekadar mendengarkan curahan hati anak. Ayah menjadi rujukan berbagai masalah yang dihadapi anak yang paling mudah dijangkau. Ayah juga diharapkan mampu menasehati, tanpa harus bersikap menggurui.

Sahabat pembaca,

Terlibat dan terikatnya ayah dalam mengasuh anak-anak bukan berarti mengecilkan peran pengasuhan yang bunda berikan kepada anak-anak. Sekali lagi anak-anak membutuhkan keduanya. Pengasuhan anak, tak perlu dikotak-kotakkan. Yang terpenting antara bunda dan ayah dapat saling berbagi dan saling mengisi menjalankan kesepakatan dalam mengasuh ananda.

Tulisan sederhana ini mungkin memunculkan sudut pandang yang berbeda pada setiap pembaca,mengingat pengasuhan anak dalam tiap keluarga adalah salah satu wilayah yang personal dan berbeda dalam setiap keluarga. Berharap masih bisa memberikan manfaat.

Mari Ayah, bersama Bunda, kita asuh anak-anak kita…

ayah 3 – foto kredit: Sherly Novita

[i] Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),  Fasli Jalal pada Rapat Kordinasi Nasional Bunda PAUD tahun 2013, di Hotel Sahid Jakarta, 11/11/2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *