[JALAN-JALAN] BUMI PARAHYANGAN, SINGGASANA JELITA SARANA MENGENAL DIRI
By: Date: February 26, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Yanti Herawati

Bumi Parahyangan, Singgasana Jelita Sarana Mengenal diri Alam selalu mengundang keingintahuan. Memandang pegunungan dan perbukitan yang mengelilingi dataran tinggi Kota Bandung, akan memancing tanya. Ada apakah pada sana? Bagaimana medan buat mencapainya? Bagaimana bentang alam seperti itu bisa terjadi? Apakah kita mampu berjalan mencapai singgasana Parahyangan ini? Semuanya berkecamuk pada benak. Pertanyaan dan keraguan yg lumrah dan alami.

Keraguan memulai perjalanan hanya sulit di awalnya. Lepaskan pikiran berdasarkan beban berpretensi. Gembira & rasakan berjalan sinkron kemampuan sendiri. Bersandarlah dalam kekuatan pikiran dan donasi Tuhan. Keyakinan, keberanian, kebulatan tekad akan berproses seiring langkah menjejak bumi. Jika menyerah sebelum mulai, kita akan terpasung dalam asumsi pikiran-pikiran yg menegasikan potensi diri. Kita akan menemukan sisi diri yg lain tatkala sanggup mendorong batas-batas diri atau memutus belenggu pikiran yang membatasi.

Berjalan di alam, menyusuri jalan yg landai, menurun, menanjak, berliku. Deburan air terjun, sungai jernih mengalir, kubah lava menggetarkan, gua gamping menakjubkan, taman batu mempesona, tebing ibarat agar raksasa, lembah hijau sejuk, danau jernih melenakan adalah keajaiban ciptaan Yang Maha Kuasa. Berjalan dan berpeluh menciptakan jiwa egois & sombong pada diri seolah melebur. Kelelahan bercampur kenikmatan sujud syukur, ketika badan datang di singgasana jelita Sang Pencipta.

Setiap langkah berat, nafas tersengal, lelah keringat akan tersapu sang kesegaran & keagungan alam. Alam mengantar pikiran, batin, dan raga saling berdialog panjang mengenai kehidupan yg sudah dijalani. Ibarat drama dalam benak penjelajah. Rasa murka , dendam, sakit hati, putus asa, asa, dosa, kesalahan, kekuatan, ketabahan, kemalasan dan aneka macam sifat-sifat pada diri seolah dihadirkan. Kita akan menemukan makna relasi menggunakan sahabat, famili, orang yang kita cintai dan Tuhan. Kita akan menemukan nilai dan kualitas hubungan kita menggunakan mereka.

Lingkungan protesis pun memberi andil buat berkontemplasi. Kampung padat dinamika perjuangan manusia, artefak dan bangunan Belanda hampir 2 abad lalu, & lain sebagainya. Objek-objek buatan insan ratusan tahun silam bukti pencapaian peradaban manusia. Bagaimana manusia bertahan hidup pada kerasnya peradaban menjadi perenungan tersendiri.

Noorduyn, seorang sarjana Belanda menemukan naskah kuno di Perpustakaan Bodleian, Oxford Inggris (1627). Naskah ini berisi catatan bepergian Pangeran Jaya Pakuan, putra raja Istana Pakancilan. Dia mencari Ilmu menggunakan menempa diri di alam, berjalan kaki selama 4 tahun. Ia menyusuri Pulau Jawa & Bali, termasuk Bumi Parahyangan. Bujangga Manik julukan lain Pangeran, menuliskan kisah perjalanannya dalam bentuk puisi mistik bernafaskan Shiwaisme (Hawe Setiawan, Amanat Gua Pawon, hal 23, 2004). Puisi ini memuat sekitar 450 topomini (nama-nama loka), 90 gunung, & 50 sungai.

Seorang Pastur & Psikolog Belanda MAW Brouwer mengungkapkan pesona tanah Parahyangan menggunakan ungkapan populer: ?Tuhan menciptakan tanah Parahyangan tatkala tersenyum? (Her Suganda, Kawasan Kars Citatah: Pusaka Masyarakat Sunda, Amanat Gua Pawon, hal 15, 2004). Dahulu kala dataran tinggi Bandung merupakan danau Bandung Purba, pusat tanah Parahyangan yg dikelililingi pegunungan dan perbukitan. Dataran tinggi atau plateau Bandung ini menyimpan hikayat geologi dan cerita rakyat yang menarik.

Aliran Ci Mahi, Curug Tilu, Curug Layung, Curug Bubrug, Curug Cimahi, dan Curug Panganten

Sedikitnya terdapat 6 air terjun indah di sepanjang genre Ci Mahi. Dari Curug Tilu pada hulu hingga Curug Panganten di hilirnya (Pemukiman Katumiri, Cimahi). Lokasi keenam curug ini berjauhan. Untuk menikmatinya sambil merenung, disarankan satu curug dalam satu bepergian. Kecuali Curug Bubrug yg sanggup ditempuh sekali jalan menggunakan Curug Tilu.

Curug Tilu

Curug Panganten

Pasir Pawon, Gua Pawon dan Taman Batu

Pasir Pawon, Gua Pawon, dan Taman Batu adalah orkestra geologi di Kawasan Bentang Alam Kars Rajamandala ? Citatah Padalarang. Kawasan ini terbentuk dari batu gamping kurang lebih 20-30 juta tahun lalu, saat samudera dangkal terangkat karena proses tektonik. Batuan itu terlipat, terpatahkan dan mengalami banyak retakan. Setelah bereaksi menggunakan air hujan, batu gamping mengalami pelarutan yg dikenal menggunakan karstifikasi. Proses karstifikasi membuat bentuk-bentuk unik yang indah luar biasa dalam gua dan di taman batu Stone Garden kaya akan fosil koral (Budi Brahmantyo, Wisata Bumi Cekungan Bandung, 171). Di gua Pawon ditemukan peninggalan arkeologis manusia Pawon, yang diperkirakan berusia 9.500 tahun lalu.

Replika Fosil Manusia Pawon di Gua Pawon

Gua Pawon, Treking bersama Keluarga ITB89

 Stone Garden

?Stone Garden? Di atas Pasir Pawon, treking bersama keluarga

Sesar Lembang, Gunung Batu

Sesar atau patahan adalah retakan di kerak bumi yang telah menggeser blok yg dipisahkannya. Bagian selatan terangkat naik membangun bidang geser patahan yg miring terjal ke arah utara atau gawir sesar. Sesar Lembang merupakan keliru satu landmark geologis yang paling menarik pada dataran tinggi Bandung (Budi Brahmantyo, Wisata Bumi Cekungan Bandung, 71). Gunung Batu (480 m) terletak pada Desa Pagerwangi Lembang merupakan loka yg sangat cocok buat merenung. Pandangan luas ke semua penjuru mata angin. Sisa danau Bandung Purba di arah selatan nampak jelas. Jajaran pegunungan yg mengelilinginya seolah menjaga Cekungan Bandung.

Sesar Lembang di Gunung Batu. Tampak tebing atau Gawir terjal menghadap utara.

Gunung Batu

Rangkaian Sesar Lembang ke arah Timur Gunung Batu.

Susur Ci Kapundung – Curug Dago-Tahura Juanda-Maribaya

Dari jembatan di jalan Siliwangi, dekat Teras Cikapundung, kita bisa menyusuri gang di sisi Ci Kapundung. Lembah nan asri dan aliran Ci Kapundung bisa dinikmati dengan nyaman. Hunian padat penduduk berjejer dramatis di lembah. Setelah berjalan sejauh 1,2 km, terdapat pintu air buatan Belanda yang kokoh. Berjalan 4 km ke arah hulu, tibalah kita di Curug Dago. Air terjun setinggi 20 meter ini jatuh dari batuan lava basalt hasil letusan gunung Sunda. Ada tangga menuju kubah Curug Dago. Di sana terdapat prasasti batu tulis peninggalan Raja Rama V dan Raja Rama VII dari Siam (tahun 1902 dan 1927). Perjalanan ke hulu Ci Kapundung membawa kita ke Taman Hutan Raya Haji Juanda hingga menyusuri lembah ke Maribaya.

Curug Dago

Gunung Putri dan komplek Benteng Peninggalan Belanda

Gunung Putri yg terletak pada Lembang relatif mudah dijangkau. Gunung menggunakan tinggi 1.550 m dipenuhi pohon pinus ini, memiliki puncak yang lebar memanjang. Ada sekitar 7 komplek bangunan benteng peninggalan Belanda yang tersebar di lokasi tidak sinkron : pada puncak , punggungan dan lembahnya.

Benteng Belanda pada Gunung Putri

Gunung Puntang & Area Stasiun Radio Malabar

Gunung Puntang terletak di selatan kota Bandung ke arah Pangalengan. Hutan dan sungai di gunung Puntang yang masuk areal pegunungan Malabar ini asri dan bersih. Curug Siliwangi dengan tinggi air terjun mencapai 100 m, terkenal dengan Legenda Prabu Siliwangi. Butuh waktu sekitar 3-4 jam berjalan kaki untuk mencapainya. Selain itu, masih ada 5 curug lain dengan tinggi dan besar yang bervariasi. Di areal ini terdapat sisa bangunan stasiun radio pemancar tua dan bekas komplek pemukiman peninggalan Belanda.

Gunung Puntang dan Statiun Radio Malabar

Gunung Burangrang, Tangkuban Perahu dan Bukittunggul

Legenda Sangkuriang & Dayang Sumbi telah terdapat waktu Bujangga Manik berada di tanah Parahyangan akhir abad ke-15. Dongeng rakyat ini menceritakan kenyataan terbentuknya Gunung Burangrang, Tangkuban Perahu, & Bukitunggul. Ketiga gunung ini menyimpan pesona alam tersendiri. Bentuk morfologi yang unik berdasarkan setiap gunung akan membawa penjelajah menguji nyali, keteguhan dan kekuatan mental. Semua gunung ini bisa ditempuh dalam satu hari perjalanan.

Gunung Burangrang

Gunung Bukitunggul

Masih poly sekali singgasana jelita Bumi Parahyangan yg bisa kita dijelajahi. Sebuah penjelajahan ke alam sejatinya merupakan perjalanan mengalahkan diri sendiri. Penjelajahan ke alam merupakan penjelajahan menemukan diri sendiri dengan berjalan pada alam. Penjelajahan di alam nir selalu wajib jauh & mahal. Halaman belakang tempat tinggal , kampung, sungai, & lingkungan dimana kita tinggal sudah cukup buat memulai & mengantarkan kita mendengar suara hati, bila bisa memaknai sebuah perjalanan. Semoga tulisan ini sanggup mengantarkan pembaca buat melangkah ke alam. Seperti ungkapan seorang pakar konservasi Amerika, John Muir: ? Go to the Mountain and Get Their Good Tidings?. Mountain di sini aku artikan alam secara lebih luas. Akan banyak warta atau pengalaman yg akan kita dapatkan dengan berjalan ke alam. Kabar dari bunyi-bunyi dalam diri kita. Kabar menurut pesan Tuhan lewat ciptaannya. Selamat menjelajah !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *