[Pikir] Multi Beban atau Multi Peran: Ketidakadilan atau Anugerah?
By: Date: February 27, 2018 Categories: Uncategorized

Tini (33th), merupakan seseorang perempuan yg sudah menikah dan mempunyai satu orang anak. Sebagai perempuan muda yang cerdas dan terampil, pada tempat kerjanya Tini dipercaya menjadi manajer personalia. Setiap hari ia bangun pukul 04.00, lalu mulai mengerjakan pekerjaan rutinnya: mengolah, mengembangkan kopi & jus untuk anak dan suami, menyiapkan sandang anak & suaminya, membangunkan dan memandikan anaknya, serta menyiapkan anaknya ke sekolah jua menyiapkan dirinya buat ke tempat kerja. Pukul 06.00 mereka sekeluarga pulang, suaminya ke tempat kerja, anaknya ke sekolah dan beliau sendiri ke kantornya. Pulang dari kantor, Tini pribadi ganti sandang, membersihkan tempat tinggal , menyiapkan makan malam, memandikan anak, menemani anak mengerjakan tugas & belajar, dan menidurkan anaknya.

Rutinitas seperti ini ia jalani berdasarkan hari Senin hingga Jumat. Hari Sabtu umumnya dia isi menggunakan mencuci dan menyetrika, ikut pengajian & arisan pada RT, & menemani anak bermain di taman kota. Sedangkan hari Minggu umumnya terdapat pertemuan ibu-ibu Dharma Wanita ataupun kelompok PKK. Tini mesti ikut rendezvous ini walaupun beliau malas sebenarnya, lantaran Tono suaminya adalah pegawai negeri yg sedang dipromosikan jabatannya. Demi menunjang karier sang suami, Tini diminta buat aktif dalam kegiatan Dharma Wanita dan pula aktivitas-kegiatan lainnya pada tempat kerja Tono.

Kisah Tini pada atas adalah sebuah kisah ?Biasa? Yg dialami oleh banyak perempuan pada Indonesia.

Ketiga peran atau kerja ini, yaitu kerja reproduktif, produktif dan sosial, umumnya hanya pada?Harus?Kan bagi wanita. Kerja atau peran yang dikonstruksi & disosialisasi ini sebagai beban yang bertumpuk bagi seorang perempuan . Dari semua pekerjaan, perempuan mengerjakan lebih banyak akan tetapi dibayar lebih rendah. Jam kerja dan curahan energi kerja wanita lebih poly dari pria. Bahkan, seseorang mak pernah berkata dalam aku bahwa beliau merasa sangat bersalah ketika dia ingin berjalan-jalan di pertokoan sekedar buat bersantai sejenak. Ia merasa egois karena harus meninggalkan anak dan suaminya buat ?Bersenang-bahagia?. Hidup bagi seseorang perempuan (mak ) merupakan buat membahagiakan keluarganya (yang berarti anak dan suaminya-sering tidak termasuk dirinya).

Kondisi beban yang bertumpuk ini biasanya dikenal sebagai istilah ”Multi Beban”, dan oleh kalangan feminis disebut sebagai salah satu dari lima bentuk ketidakadilan gender (Stereotiping/pelabelan/citra negatif, kekerasan, multi beban, marjinalisasi/peminggiran secara ekonomi, dan subordinasi/penomerduaan).

Sekarang, kita lihat kelanjutan kisah Tini-Tono 2 puluh tahun lalu:

Tono (65th) baru saja memasuki masa pensiunnya. Perayaan pelepasan diadakan besar-besaran di kantornya dan juga di rumahnya. Tini dan Sofie, anaknya sibuk memasak dan menyiapkan pesta di rumah. Semua kerabat dan handai taulan hadir untuk mensyukuri masa purna kerja Tono. Pada minggu-minggu awal masa pensiunnya, Tono sungguh menikmati kebebasan hidupnya. Kini ia terbebas dari kewajiban untuk berangkat kantor dan bekerja 8 jam sehari. Ia bisa berjalan-jalan dan tidur semaunya, menonton film dan berbelanja. Tapi, setelah satu minggu, semua tempat sudah ia datangi, semua film sudah ia tonton, tidurpun sudah puas. Ia mulai bosan dan kesepian di rumah sendiri, karena Sofie bersekolah sedang Tini sekarang menjadi asisten direktur yang semakin sibuk. Tono ingin beraktifitas lagi, ia mencari-cari kesibukan di rumah. Ia ingin membuat kejutan untuk istri dan anaknya dengan membuat pesta kecil-kecilan. Ia ingin mulai dengan membersihkan rumah dan mendekorasinya, kemudian masak makanan istimewa. Tapi, ketika ia memulai pekerjaannya, Tono kesulitan mencari alat-alat rumah tangga yang ia butuhkan. Ia juga tidak tahu caranya mengepel dengan alat pel yang mereka punya, tidak tahu dimana letak pisau dan alat dapur, tidak tahu cara menyalakan kompor, juga tidak tahu segala macam bumbu yang ada. Tono akhirnya frustasi, ia menggagalkan rencananya. Ia akan membuat kopi saja untuk dirinya. Tapi sekali lagi ia tidak tahu dimana Tini menyimpan kopi dan gula, dan berapa ukuran kopi dan gula yang biasa Tini buat untuk dirinya.

Ketika Tini pergi, Tono mulai bertanya-tanya banyak hal mengenai urusan rumah tangga dalam Tini. Dasar sudah mulai tua, Tono suka lupa hal-hal yang sudah dikatakan Tini sehingga kerapkali Tono mengulangi pertanyaan yg sama. Akhirnya Tini ikut putus harapan pula.

Tono kini berpikir buat mengalihkan kegiatannya pada luar rumah. Ia yang umumnya menjadi pemimpin di loka kerja dan rumahnya akan tewas kebosanan jika hanya duduk membisu di rumah misalnya orang jompo. Ia mencoba ikut kegiatan di lingkungannya, akan tetapi kebanyakan kegiatan itu dihadiri sang ibu-ibu.

Nah, kasus si Tono ini biasanya dikenal sebagai ”Post power syndrome”, yang memang seringnya berjangkit pada bapak-bapak yang sudah mulai pensiun atau tua. Mereka yang biasanya bekerja produktif-menghasilkan uang yang notabene simbol kekuasaan; dan juga biasanya menjadi pemimpin, sekarang harus kehilangan semuanya. Ketika mereka ingin beralih ke kerja reproduktif dan sosial, seringkali mereka ”kagok ” atau tidak terbiasa.

Pembagian peran gender yang berujung pada Multi beban bagi perempuan, ternyata punya dampak juga bagi laki-laki. Beban berlipat di satu sisi menjadi multi-ketrampilan di sisi lain, yang bisa menjadi bekal untuk bertahan hidup (jika si subyek belum keburu ’tewas’ karena keberatan beban- dengan kata lain jika ia menjadi survival). Sebaliknya, kekuasaan yang berlipat di satu sisi mendatangkan ’kuasa’ tapi juga keterpurukan ketika ia hilang. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan multi peran/kerja menjadi keterbatasan modal untuk bertahan hidup ketika kuasa tidak ada lagi. (ID)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *