[Profil] Putu Oka Sukanta Progresif dengan Kesehatan Alternatif
By: Date: March 11, 2018 Categories: Uncategorized

Profil Proaktif kali ini mengangkat tokoh yg tidak asing lagi. Putu Oka Sukanta, sosok yang lebih populer di luar negeri lantaran karya sastranya daripada pada pada negeri. Terkait dengan kesehatan cara lain , ketika ini dia sedang menyelesaikan buku ?Akupresur Tangan yg Aman dan Bermanfaat.?

Sejak kecil beliau terbiasa hidup di antara masyarakat miskin, petani, nelayan dan perempuan pekerja. Ayah dan ibunya, petani yang buta huruf beserta Bude-nya, memberikan contoh keseharian bagaimana menghormati manusia lain, terutama yang lebih miskin. Salah satu hasil dari nilai yang ditanamkan oleh ketiga sosok yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupannya adalah Taman Sringanis. Lelaki kelahiran Singaraja, 29 Juli 1939 ini merupakan penggagas Taman Sringanis yang terletak di Bogor. Dari sebidang tanah yang dibeli berkat uang warisan orang tua, dibentuklah tempat yang dibuka untuk umum. Di sini publik dapat belajar berbagai jenis penguatan diri di berbagai bidang kehidupan yang tidak menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk menghormati orang tua beliau yang berasal dari Bali maka diberilah nama kegiatan dan tempat tersebut Taman (nama ibu Ni Ketut Taman) dan Sringanis (nama kakak perempuan ibu yang tidak menikah, Ni Ketut Sringanis).

Asam garam sudah mewarnai bepergian hidupnya. Pada tahun 1968, beliau di penjara terkait dengan informasi G30SPKI. Di penjara Salemba, dia ditempatkan satu sel dengan seorang dokter bernama Lie Tjwan Sen yang memeriksa akupunktur pada Korea Utara. Dokter inilah yg pertama kali mengenalkan global akupunktur kepadanya. Dengan segala keterbatasan yg terdapat di penjara, keduanya berusaha memberikan & menerima ilmu sebaik-baiknya. Tidak ada catatan lantaran tidak ada kitab ataupun indera tulis. Semua falsafah, teori dasar dan cerita tentang akunpunktur berpindah menurut otak oleh pengajar ke otak oleh anak didik. Keterbatasan jarum diganti menggunakan usaha membuat jarum berdasarkan senar gitar no. Lima. Praktek eksklusif dilakukan sembunyi-sembunyi supaya tidak ketahuan petugas. Para tahanan yg sakit sebagai pasiennya & jumlahnya banyak.

Setelah keluar berdasarkan penjara Salemba ke penjara seluas tanah air pada tahun 1976, Pak Putu memperdalam akupunktur dan mengikuti ujian pembakuan yg diselenggarakan Dinas Kesehatan dalam tahun 1978. Pada tahun yg sama, Pak Putu meminta izin praktek & mengakibatkan akupunktur sebagai sumber kehidupan. Dua tahun kemudian, Pak Putu menggandeng beberapa akupunkturis Tionghoa buat membuka klinik & menampung banyak bekas tahanan yg sudah lulus ujian negara akupunktur dan memperoleh biar praktek.

Di athun baru 80-an, Pak Putu telah dikenal oleh warga internasional. Beliau dipanggil ke Bangladesh & Srilanka buat mengajari akupresur pada peserta pelatihan. Tak hanya pada peserta training, Pak Putu jua masuk ke desa-desa buat mengajari akupresur buat para petani di sana. Kegiatan seperti ini berlanjut sepulangnya ke Indonesia. Tahun 1984, Pak Putu mengembangkan pelatihan akupresur buat kader-kader kesehatan (PKK) menggunakan sepengetahuan Dinas Kesehatan. Namun pada tahun 1989, Orde Baru yg dimotori sang Golkar dan militer menggulung yayasan Pak Putu menggunakan alasan menampung terlalu poly bekas tahanan.

Pak Putu mengalami tahanan lagi, digebuki dan disetrum karena sering ke luar negeri tanpa izin dan dianggap membuatkan metode komunis. Beliau dituduh didanai oleh gerakan komunis bawah tanah buat melakukan perjalanan. Pada awalnya beliau menempatkan praktik akupunktur sebagai mata pencaharian, tetapi peristiwa penahanan ke 2 mengubahnya. Sejak itu beliau secara konsisten menghadapi & melawan apa yg diklaim diskriminasi & stigmatisasi. Akupunktur dijadikannya media usaha buat menunjukan bahwa ada ilmu kesehatan lain selain ilmu kesehatan terkini. Dan ilmu non kedokteran modern ini dapat menjadi media pemberdayaan bagi setiap orang. Dalam teori akupresur, setiap orang nir cepat-cepat menyerahkan dirinya ke pelayanan pengobatan, melainkan mencoba kemampuan dirinya terlebih dahulu, menggunakan mengaktifkan potensi yang ada pada dalam tubuhnya.

Beliau ingin mengganti cacat bahwa nir ada ilmu kesehatan lain selain ilmu kedokteran. Pak Putu ingin menghentikan pemberangusan budaya dan tradisi berkesehatan masyarakat yg menuduh pengobatan tradisonal itu nir ilmiah & nir bisa dibuktikan kebenarannya. Yang Pak Putu inginkan adalah pengobatan tradional dapat berkembang secara masuk akal sebagai akibatnya dapat membuktikan dirinya sebagai ilmu kesehatan yg memiliki cara berpikir sendiri (baik itu terminologi, falsafah maupun paradigmanya). Dengan demikian, pengobatan tradional bisa terintegrasikan pada pelayanan kesehatan, nir diposisikan menjadi pengobatan komplementer semata. Biarlah seluruh obat kimia kedokteran & tradional terintegrasi dalam sebuah atap pelayanan, berjalan serasi menggunakan mengetahui keterbatasan masing-masing. Untuk mewujudkan keinginannya, Pak Putu masih acapkali memperbanyak kajian, membuat pendidikan secara teratur & berkala & mempraktekkannya, termasuk di Taman Sringanis.

Beliau membuka pelayanan akupunktur dan herbal di klinik pribadi selama 3 hari per minggu. Namun, akupunktur adalah profesi yang beliau kembangkan ke masyarakat. Tidak hanya mengobati, beliau juga mengajarkan cara-cara akunpunktur kepada publik. Berbekal pengalaman (tradisi) dan ilmu yang diperoleh secara otodidak dan learning by doing, beliau bersama istri yang tadinya penari kemudian beralih profesi menjadi akupunkturis dan herbalis.

Sejak tahun lalu, Pak Putu Oka Sukanta menjadi Direktur Program Komplementer untuk HIV/AIDS, sebagai bagian dari program Care, Support and Treatment, yang didukung oleh IHPCP/Aus AID. Kegiatannya adalah memberikan informasi, latihan dan terapi dengan cara akupresur, olah napas dan meditasi serta minuman sehat (jamu enak) kepada orang-orang yang terinfeksi HIV di Rumah Sakit Sulianti Saroso Jakarta, Penjara Bulak Kapal Bekasi, Penjara Paledang Bogor, dan Puskesmas Balimester Jakarta, serta menerbitkan buletin KOMPLEMENTER.

Sehat menurutnya adalah sebuah manifestasi terbentuknya ekuilibrium (harmoni) relatif antara seluruh nilai kehidupan, baik itu fisik, mental, spiritual dan lingkungan.

Menurut Pak Putu, kendala yang sering dihadapi para aktivis adalah susahnya berkata tidak terhadap pekerjaan dan tantangan yang ada. Akibatnya, banyak aktivis sering mengalami kenaikan tekanan darah sering, nafas pendek dan emosional.

Menurut dia, hambatan tersebut dapat diatasi menggunakan berdamai menggunakan diri sendiri, dan menyadari keterbatasan kemampuan, ruang dan saat. Selain itu, mengatur pola makan dan minum yang lebih sehat, berolah raga, beristirahat lebih banyak & berani mengatakan TIDAK dengan santun & hormat terhadap hal-hal yang diperkirakan akan membuat kondisi kesehatan terganggu.

Beliau melihat bahwa banyak sekali aktivis yang berpikiran maju, bersemangat tinggi, dan punya wawasan politik luas; tetapi sayang, dalam bidang kesehatan mereka masih lebih banyak berorientasi (bahkan ada yang bergantung total) kepada pelayanan kesehatan modern (industri kedokteran dan industri farmasi). Kesehatan tidak dirawat sebagaimana merawat organisasi dan programnya. Para aktivis sering lupa bahwa mereka mempunyai potensi diri dan alam yang dapat dijadikan pendukung,- alternatif perawatan kesehatan. Lupa punya sinar matahari pagi, lupa punya udara segar (oksigen), lupa punya bumbu dapur, lupa punya berbagai jenis buah dan sayuran dalam negeri, lupa punya jari tangan yang dapat difungsikan untuk kesehatan. Komentar guyonan beliau tentang para aktivis itu adalah; “Politik progresif, tapi kesehatan konservatif bahkan reaksioner”.

Tetapi Pak Putu tidak hanya berseloroh. Beliau berpendapat bahwa hal tersebut memang terjadi lantaran selama ini kita terkooptasi dalam anggapan bahwa hanya ada satu ilmu kesehatan yaitu ilmu kedokteran terkini. Pandangan seperti ini merupakan impak berdasarkan agresi industrialisme pada bidang kesehatan yg telah berlangsung semenjak zaman penjajahan Belanda. ?Ilmu kedokteran terkini memiliki keunggulan yg wajib dibayar dengan uang banyak, tetapi terdapat ilmu kesehatan non kedokteran modern (non konvensional) yang belum diaktualisasikan dan dioptimalkan pemanfaatannya?, ujarnya.

Beliau mengajar kita semua untuk menyadari hak dan kewajiban kita dalam membina kesehatan diri sendiri dan masyarakat. Caranya yaitu dengan mempelajari ilmu-ilmu kesehatan non konvensional dan memilih mana yang paling mungkin dilakukan, artinya aman, bermanfaat, rasional, mudah dilakukan, tersedia cukup banyak dan harganya terjangkau.

Beliau juga membagikan tips-tips bagi para aktivis agar tetap sehat dan prima untuk membuat perubahan, di antaranya:

Olah napas: Tarik napas dalam-dalam, simpan di dalam tubuh (bisa di paru-paru, di perut atau bagian tubuh lainnya) sekuatnya (sampai setengah menit), kemudian keluarkan perlahan-lahan lewat mulut. Lakukan di mana saja, kapan saja dan berulangkali. Maknanya: penyerapan oksigen lebih banyak bisa sampai 80% untuk memperkuat Natural Killer di dalam tubuh.

Makanan dan minuman sehat: hindarkan zat penyedap, zat pengawet dan zat pewarna, nikotin. Jadikan makanan dan minuman sebagai obat, dan obat sebagai makanan dan minuman.

Jari-jari tangan: gunakan untuk memijat titik-titik penting di permukaan tubuh sesuai dengan teori akupresur.

Berpikir positif: perbedaan adalah kekuatan, dan kesetaraan adalah dasar hidup bermitra.

***

(Ditulis berdasarkan wawancara via email sang Hilda Lionata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *