[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO. 18/DESEMBER 2017
By: Date: March 14, 2018 Categories: Uncategorized

Pembaca yg budiman,

Kalender 2017 telah hingga di lembaran terakhirnya buat segera berganti dengan lembaran baru. Telah banyak insiden yg terjadi pada tahun ini, baik pada taraf dunia juga lokal, aneka macam gosip yang mungkin pernah hinggap di antaranya ada yang masih permanen teringat sampai waktu ini. Salah satu berita yang masih menjadi perbincangan merupakan gosip lingkungan yg terasa berkejaran menggunakan saat. Pembicaraan di antara negara-negara seolah berjalan di loka, perdebatan soal pemanasan global malah misalnya berjalan mundur ketika Presiden Amerika Serikat menyatakan nir percaya akan fenomena tersebut. Di tingkat lokal, secara generik, buat negara Republik Indonesia, berita lingkungan masih gencar disuarakan poly pihak terutama menyikapi pola pembangunan yg digalakkan pemerintah saat ini. Pembangunan yang pada satu sisi menerima dukungan menurut poly pihak serta pujian dunia internasional, tetapi pada sisi lain justru merampas hak warga tradisional atas nama pembangunan itu sendiri. Perdebatan demikian, sekiranya kita tinggalkan sejenak buat melihat pulang bagaimana hidup kita sendiri, apa yg telah kita lakukan buat menjaga alam ini supaya nir semakin menurun kualitasnya?

Untuk itulah, sebagai pengantar menyambut tahun yang akan datang, Proaktif Online edisi Desember 2017 mengangkat tema Hidup Selaras dengan Alam.

Berbagai goresan pena yg telah kami kumpulkan berupaya buat mengangkat balik konteks gosip alam dan lingkungan dengan perspektif yang sedikit tidak sama. Ada yg mengkritisi pola hayati & pola pembangunan yg terjadi, namun jua sekaligus memberikan sebuah jalan lain yg mampu diambil supaya hayati kita bisa berguna bagi peningkatan kualitas alam.

Untuk rubrik MASALAH KITA kali ini, kami menyajikan 3 tulisan yang menggugah kesadaran tentang krisis alam dan lingkungan yang kian hari (sebenarnya) kian mendesak. Tulisan pertama adalah tulisan kolaboratif dari Any Sulistyowati dan Navita Astuti yang memperlihatkan hubungan perkembangan peradaban yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi   dengan kerusakan alam di Indonesia. Perkembangan tersebut walau telah membuat kualitas hidup manusia menjadi lebih baik, namun di sisi lain, telah menghancurkan hidup sekelompok masyarakat di belahan dunia yang berbeda. Tantangan pemulihan lingkungan hidup masa kini yang makin mendesak adalah mengkampanyekan gaya hidup yang selaras dengan alam.

Upaya buat mengkampanyekan gaya hidup yg selaras menggunakan alam, beserta edukasi mengenai impak negatif menurut gaya hidup konsumtif waktu ini, sesungguhnya nir sedikit. Aktivis-aktivis yg peduli akan berita lingkungan hidup mencoba menyebarkan kepedulian dengan masyarakat awam. Tetapi tantangan buat bertahan dengan idealisme & menghadapi realita kehidupan, sebagai sisi lain dari krisis ekologis itu sendiri. Cerita dari Jenal Mustofa (tulisan kedua) bisa diklaim menjadi salah satu contoh yg jamak terjadi pada perjalanan hayati seorang aktivis lingkungan hidup, yg awalnya berjuang tewas-matian menghidupi prinsip selaras alam & menyuarakan kepedulian, bisa mendadak banting setir ke arah yang berlawanan waktu berhadapan menggunakan realita.

Berlanjut kepada kisah hayati dari pengalaman Ratna Ayu Wulandari (tulisan ketiga) sebagai seseorang aktivis yang masih bertahan pada bidang lingkungan hayati. Kisahnya saat beraktivitas di Taman Nasional Bukit Duabelas, mendampingi salah satu komunitas Suku Anak Dalam, mendeskripsikan suka sedih menjadi seorang aktivis lingkungan. Berbagai tantangan yg muncul, baik dari rakyat dampingan juga dari pemerintah, menunjukkan betapa terjal perjuangan terhadap info lingkungan hayati ini. Perlu sikap yang positif agar info lingkungan hayati bisa terus berkumandang & semakin meluas menjangkau banyak orang.

Rubrik PIKIR kali ini, kami jua hidangkan 3 goresan pena yang mengundang pertanyaan terhadap kerangka berpikir kita mengenai pembangunan dan alam tempat kita hayati ini. Fictor Ferdinand, salah satu penulis, mengangkat kisah Waduk Sepat pada Jawa Timur yang hari-hari ini wajib berjuang mempertahankan diri dari pemerintah kota Surabaya. Penulis menerangkan kepada kita bagaimana proses penghancuran waduk terjadi secara perlahan-lahan lantaran sikap insan yang justru menjauhkan dirinya dari alam. Partisipasi pemerintah melalui regulasi yang mengganti fungsi peruntukan huma waduk itu menjadi pemukiman kompleks perumahanlah yang memicu terjadinya kepanikan rakyat, yg seolah baru tersadar, bahwa mereka akan kehilangan tempat hidupnya.

Bergerak sedikit ke timur, di daerah Atambua-NTT, masih ada warga Uma Kalisuk yang masih menjalankan norma nenek moyangnya yg memasukkan alam dalam konteks spiritual kepercayaannya. Penggambaran relasi alam dengan manusia sebagai tubuh, menjaga konduite anggota rakyat berdasarkan tindakan pengrusakan. Cara hayati rakyat Uma Kalisuk dipotret oleh Eventus Ombri Kaho menjadi upaya merenungkan kembali rekanan manusia menggunakan alam, bahwa praktek spiritualitas mempunyai fungsi sebagai penjaga moral rakyat pada merawat alam lingkungan hidupnya.

Umbu Justin, penulis lainnya, mengisi rubrik PIKIR menggunakan renungan filosofis mengenai galat satu sisi kemanusiaan kita yang memang nir bisa dilepaskan menurut alam. Umbu menyoroti peran kepercayaan & sains yg kurang berhasil mendekatkan manusia menggunakan alam, malah semakin menjauhkannya. Yang turut sebagai problem merupakan peran kepercayaan & sains yg justru memperkuat kerangka berpikir kita bahwa alam hanya sekedar tempat hayati manusia; bahwa manusia bukanlah bagian dari alam itu sendiri. Akibatnya insan cenderung merasa berhak untuk mengatur alam, termasuk menghancurkannya demi kehidupan yg lebih baik (yang belum tentu benar sebagai baik).

Any Sulistyowati kemudian memberikan TIPS bagaimana menerapkan prinsip hidup selaras menggunakan alam melalui cara-cara yg gampang dan murah. Kita perlu memperhatikan dan mengamati hal-hal yg telah terdapat pada sekeliling kita yang mungkin belum dimanfaatkan dengan aporisma. Memahami prinsip pembangunan berkelanjutan, mencari cara lain atas gaya hayati yang lebih ramah lingkungan, penggunaan barang, turut dan menghasilkan bahan pangan, adalah beberapa saran yg dipaparkan pada artikel ini. Tips yg paling penting merupakan menikmatinya.

Selanjutnya, masih menurut penulis yg sama, kita akan berkenalan dengan seorang mama dari Flores bernama Veronika Lamahoda. Dari sosok beliau kita akan belajar mengenai bagaimana perjuangan buat ?Mencari? Air kemudian berkembang sebagai sebuah pemberdayaan rakyat. Pengalaman perjuangan itu membawa sosok Veronika Lamahoda menyadari bahwa poly duduk perkara pada negeri ini yang solusinya disederhanakan sebagai dilema membuat undang-undang semata. Padahal buat menjawab duduk perkara yang kompleks pada masyarakat, justru lebih diharapkan penemuan di tingkat teknis & sosial ekonomi.

JALAN-JALAN kali ini akan dipandu sang Ayu ?Kuke? Wulandari & aku sendiri, masing-masing ke loka yg tidak selaras. Ayu akan membawa kita menjelajahi daerah Kawah Putih, Bandung beserta komunitas Matabumi sambil belajar mengenai alam. Penjelajahan itu berakhir pada Pinisi Resto yg sedang tren di warga Bandung lantaran bentuknya merupakan kapal pinisi yg dulu dipakai sang nenek moyang pelaut kita.

Sedangkan saya akan mengajak para pembaca mengunjungi Pulau Coron-Palawan pada Filipina dan berkenalan sedikit dengan rakyat istiadat Tagbanua yang mendiami pulau tersebut. Perjalanan ini membuka mata kita bahwa pemerintah dapat merogoh peran menjadi fasilitator buat merawat sebuah tradisi bisa permanen hidup dan memberikan kedaulatan kepada rakyat itu sendiri untuk mengelola alam loka hidup mereka. Pulau Coron ini merupakan wujud kedaulatan menurut sebuah warga adat buat melestarikan budaya mereka yg tetap terbuka dengan global luar.

Rubrik MEDIA diisi oleh Asra Wijaya yg menaruh pelajaran tentang jenis film yang memiliki fungsi sosial sinkron menggunakan dinamika yg berkembang pada masyarakat. Secara khusus, goresan pena ini menyoroti isi film dokumenter mengenai para pejuang perempuan di pada pertarungan agraria pada Indonesia. Umumnya, permasalahan itu sendiri sangat bernuansa maskulin karena pada warga tersebut, wanita tidak mempunyai bunyi dalam pengelolaan huma pertanian. Pentingnya keberadaan wanita dalam konflik agraria ini turut mencegah beralihnya kepemilikan huma pada pihak swasta yg didukung oleh pemerintah.

Rubrik RUMAH KAIL akan memperlihatkan bagaimana prinsip hayati selaras dengan alam dapat diterapkan pada praktek sehari-hari melalui pengalaman KAIL. Any Sulistyowati memaparkan relatif runut apa saja yg sudah dilakukan sang KAIL pada dalam RUMAH KAIL, mulai dari proses pembangunan rumah hingga penyelenggaraan kegiatan, menerapkan prinsip tersebut. Bahkan kita akan terpapar menggunakan pemilihan bahan bangunan dan permakultur sebagai keliru satu bentuk penerapannya.

Akhir istilah, tema Proaktif Online kali ini kiranya bisa menjadi perenungan kita beserta sekaligus mempersiapkan kita menyambut tahun yg akan datang menggunakan semangat yang semakin membara. Isu lingkungan akan selalu relevan selama manusia masih hayati pada dalam bumi.

Mari hidup selaras menggunakan alam.

David Ardes Setiady

(Editor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *