[OPINI] Ayah: Bukan Sekadar Pencari Nafkah, Tapi Pengemban Amanah.
By: Date: March 18, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Anggayudha A. Rasa

Sumber gambar:http://www.todaysviral.com/wp-content

/uploads /2014/06/father-and-son-silhouette-vince-cavataio.jpg

Dahulu laki laki dikenal hanya sebagai orang yang bertanggung jawab atas nafkah famili. Pekerjaannya adalah berburu, mencarikan kuliner buat keluarga. Urusan meramu kuliner & merawat famili merupakan urusan para kaum wanita. Termasuk mendidik anak.

Tapi tampaknya paradigma tadi mulai berubah, meskipun baru perlahan-lahan. Maraknya tindak kejahatan, kekerasan pada remaja, pemerkosaan, narkoba & banyak sekali bentuk tindak kriminalitas lainnya menuntut para orangtua bertindak lebih hati-hati dalam mendidik anak. Peran mak saja sekarang tak cukup buat mengawal tumbuh kembang anak.

Menurut psikolog anak Elly Risman, kiprah ayah & ibu sama pentingnya pada mendidik serta mengasuh anak. Adanya keseimbangan pengasuhan oleh ayah dan mak akan membangun konduite yg positif bagi anak. Sisi feminis dan maskulin pada diri anak, baik anak laki laki maupun perempuan perlu ditumbuh-kembangkan secara optimal agar tidak terjadi ‘kelainan kepribadian’ pada diri anak. Agar tidak ada anak laki laki yg lebih feminim dan anak perempuan yang lebih tomboy.

Pentingnya kiprah ayah juga sebagai catatan penting dalam sebuah penelitian internasional yg dimuat di situs artikel sains, Science Daily edisi 12 Juni 2012. Penelitian tadi menjelaskan bahwa kasih sayang ayah sama krusial?Bahkan mampu lebih penting?Menggunakan kasih sayang bunda dalam pembentukan kepribadian anak.

Oleh karena itu semestinya sudah nir terdapat lagi alasan bagi setiap ayah untuk cuci tangan pada pengasuhan dan pendidikan anak. Ayah perlu mengambil peran pada mendidik anak baik secara langsung atau tidak pribadi. Demi terciptanya generasi berikutnya yang lebih baik dan kokoh.

Beberapa waktu yang lalu sempat diluncurkan sebuah buku berjudul A yah A da T api A yah T iada‘ yang diterbitkan oleh lembaga Ayah Untuk Semua. Buku itu berisi tulisan tulisan anak anak tentang apa yang mereka rasakan terhadap keberadaan ayah di rumah. Buku itu bercerita tentang jeritan hati anak anak usia 6-12 tahun yang ‘memprotes’, kecewa, marah dan sedih atas ketiadaan orangtua mereka dalam kehidupan mereka.

Berikut ini nukilan puisi yang dituliskan olehsalah seorang anakdalam kitab ‘Ayah ada, ayah tiada’ yang disunting sang Irwan Setiadi,

AYAH KEMANA

Kantukku telah datang

Ayah dan mak terdapat dimana

Aku ingin kita bertatap muka

Kenapa setiap hari begini saja

Kantukku telah datang

Aku balik bertanya

Kenapa saya dibiarkan tidur sendiri saja

Padahal saya ingin berbagi cerita

Kantukku telah datang

Tempat tidur yang sepi tanpa cinta

Selimut yang dingin tanpa kata-istilah

Bantal & guling tidak mampu bicara

Adanya fenomena ayah ada tapi ayah tiada seperti yang dikutip oleh Irwan Rinaldi – praktisi pendidikan  keayahan- seharusnya menjadi cambuk bagi kita semua tentang betapa mirisnya kondisi pengasuhan oleh ayah saat ini. Fenomena ayah yang pergi sebelum Matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam yang semakin lumrah terjadi semakin memperparah keadaan. Besarnya tuntutan pekerjaan memang membuat kondisi semakin dilematis. Antara tanggung jawab menafkahi keluarga yang ‘mengharuskan’ para ayah terjebak dalam rutinitas tersebut dan tanggung jawab mengasuh serta mendidik anak yang juga harus dipenuhi. Tidak mudah memang. Tapi kita yakin akan selalu ada solusi atas setiap permasalahan.

Sumber gambar:http://www.deanthebard.com/blog/

wp-content/uploads/2014/04/father-and-daughter-silhouette-494×329.JpgSebagai seseorang ayah yg mempunyai tanggung jawab penuh terhadap kehidupan dan keberlangsungan keluarganya ketika ini di masa yang akan datang, maka telah semestinya kita tidak memisahkan begitu saja antara kewajiban mencari nafkah dan mengayomi famili (termasuk mengawal istri kita mendidik anak). Tidak bijak cita rasanya membuahkan kewajiban mencari nafkah sebagai alasan buat cuci tangan menurut kewajiban mendidik anak. Sebab bagaimanapun masa depan anak & famili merupakan tanggung jawab kita pula. Sebab bagaimanapun kelak kita pula yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupan mereka.

Mari kita luangkan waktu meski sejenak untuk menyapa, menemani, memeluk, mengecup buah hati kita, sesibuk apapun urusan kita mencari nafkah. Mari kita luangkan sedikit saja waktu untuk menelponnya, berbincang dengannya, menanyakan apa kabarnya hari ini, apa aktivitas yang baru ia jalani, dan pertanyaan pertanyaan ringan lainnya, di sela sela padatnya aktivitas kita. Mari luangkan waktu sebentar saja untuk  membacakannya sebuah cerita yang sarat akan makna kejujuran, kebaikan, ketegasan dan mengantarkan tidurnya hingga ia terlelap.

Rasanya tak muluk muluk buat mampu meluangkan waktu meski hanya 5 mnt saja buat melakukan kegiatan kegiatan itu. Sekalipun tentu akan lebih baik jika kita meluangkan lebih banyak saat buat mendidik anak kita.

Sumber gambar:https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQpSfjXeQHJHx_g8mJ1DWQJEhv5qMI8XrhPA3SQdKHtGeKeUuL5

Apalah artinya meluangkan 5 menit di antara ratusan menit yang kita sisihkan untuk pekerjaan?

Apa gunanya bersikukuh menggunakan pekerjaan apabila anak sendiri tak mampu kita bahagiakan?

Apabila kita berdalih mencari nafkah buat mereka, lantas mengapa kita tidak luangkan hati & waktu yg kita punya buat mereka meski sedikit saja?

Materi masih bisa kita cari bahkan kita beli, tapi kebahagiaan, masa depan anak & istri takkan dapat terganti.

Sebab tanggung jawab kita tidak hanya sekedar mencari nafkah, melainkan mengemban amanah.

Renungan atas diri sendiri,

Anggayudha A. Rasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *