[PIKIR] PUJAAN KEPADA ROTI
By: Date: March 27, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Umbu Justin

Ode to bread

Bread, you rise from flour, water and fire.

Dense or light, flattened or round, you duplicate the mother’s rounded womb,

and earth’s twice-yearly swelling.

How simple you are, bread, and how profound!

You line up on the baker’s powdered trays

like silverware or plates or pieces of paper

and suddenly

life washes over you,

there’s the joining of seed and fire,

and you’re growing, growing

all at once

like

hips, mouths, breasts,mounds of earth, or people’s lives.

The temperature rises, you’re overwhelmed by fullness, the roar

of fertility, and suddenly your golden color is fixed.

And when your little wombs were seeded, a brown scar

laid its burn the length of your two halves’

toasted juncture.

Now,

whole,

you are mankind’s energy,

a miracle often admired,

the will to live itself.

Lantas

kehidupan itu sendiri

akan mewujud menjadi roti

mendalam dan bersahaja

tak berbatas dan murni.

Semua mahluk hidup

akan menerima bagiannya

atas bumi & kehidupan

dan roti yang kita santap setiap pagi

rejeki harian setiap orang

akan diagungkan

dan dicermati suci

karena ia didapat

berdasarkan jerih payah paling berharga

berdasarkan umat manusia?

(Pablo Neruda)

Antara Makan & Makna

Makan itu sangat memilih keberadaan. Setidaknya itulah kesan yang mula-mula kita rasakan apabila kita memaparkan berbagai kebutuhan hayati. Dalam Piramida Kebutuhan Manusia yg digagas oleh Abraham Maslow (1954), makan merupakan kebutuhan paling fundamental; ia terdapat dalam kaki piramida sebagai bagian utama menurut ketahanan fisikal-biologis. Baru sesudah terdapat cukup makan, manusia mampu bergerak memikirkan pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi nilai rohaninya dari sekedar fisik-biologis. Piramida Maslow tersusun mulai berdasarkan yg sangat jasmani, pemenuhan kebutuhan fisik dan biologis, & berangsur menuju yang bersifat rohani buat pemenuhan kebutuhan batin. Pada zenit piramida terletak kebutuhan yg paling tinggi. Sifatnya sangat rohani, yang dari Maslow, adalah ekspresi, yakni waktu manusia mulai berkontemplasi dalam makna dan nilai kehidupan. Singkatnya, makan berada pada dasar piramida sedangkan makna atau nilai berada pada puncak piramida.

Piramida Kebutuhan menurut Abraham Maslow

Sumber foto : www.simplypsychology.org

Pablo Neruda, pegiat humanisme, untuk berjuang bersama rakyat Chile, menulis larik-larik sajak untuk menghormati roti, makanan yang universal, makanan keseharian manusia: Oda al Pan (Ode to Bread). Sepertinya sajak untuk roti ini sejajar dengan gagasan umum piramida Maslow.

Neruda bersyair tentang roti, yang merupakan wujud dari tujuan perjuangan menempuh kehidupan kaum miskin Chile. Adonan yang dibakar hari demi hari adalah roti bagi seluruh kehidupan dari rumah-rumah rakyat jelata. Rakyat tidak meminta kemerdekaan atau kebebasan berpendapat. Mereka tidak menuntut hak-hak politik, kebebasan beribadah, atau bahkan martabat kemanusiaan mereka. Rakyat hanya butuh makan. Mereka hanya perlu roti untuk sekedar hidup. Jika dilihat dalam perspektif motivasi pemenuhan kebutuhan oleh Maslow, rakyat jelata dalam sajak “Pujaan Kepada Roti” tersebut benar-benar hidup dan berjuang di wilayah paling dasar piramida.

Apakah benar demikian?

Manusia mahluk Pemakan. Jika kita melihat makan menjadi sebuah tindakan dasariah, lalu diperluas secara analogis buat menjangkau seluruh aspek tindakan kita pada dunia, dengannya istilah ?Makan? Bisa diartikan menggunakan mengonsumsi, memakan, menghabiskan, menelan, memangsa, merogoh, memiliki, mencaplok, menguasai dan seterusnya, maka kita memiliki lanskap problem yg lebih baik buat mencerna sajak ?Pujaan kepada Roti?.

Pablo Neruda bersyair tentang perilaku kekuasaan yg begitu menekan rakyat miskin pada negaranya. Kekuasaan politis memakan seluruh sumber-asal kekayaan tanah air, mengganti segala sesuatu sebagai sanggup dimakan, dilahap & dihabiskan, termasuk prestise & hak-hak politik masyarakat jelata. Dengan kehilangan segala-galanya, tergerus hingga dasar penghidupannya, maka rakyat jelata hanya berharap dalam roti menjadi kondisi eksistensi. Hidup yg tidak memiliki pandangan baru pembelaan, tanpa asa, tanpa keinginan, tanpa nilai dan tanpa pemikiran apa pun. Hidup yang hanya perlu dipertahankan, dijalani & diteruskan menggunakan makan roti sehari-hari.

Di sini sajak “Pujaan Kepada Roti” memiliki nilai kritisnya. Roti itu politis, makan itu politis. Mereka yang menaiki piramida lebih tinggi, yang mulai ‘sadar’ akan nilai, menyadari bahwa manusia itu sungguh mahluk pemakan, konsumen sejati.

Manusia senantiasa bergegas menuju tempat ia bisa makan, karenanya bila ada yg menguasai roti, beliau bisa mendikte bagaimana makan berlangsung. Mereka yg sanggup mendikte, baik secara politik, kekuatan ekonomi, kekuatan kekuasaan, kebudayaan, kepercayaan , akan memproduksi jenis roti yg melanggengkan permainan konsumerisme mereka. Begitulah bagaimana kekuasan berjalan.

Di puncak-puncak pencapaian kehidupan yang berkelimpahan, para penguasa, politisi, kaum intelektual, kaum agamawan, para pemilik modal dan penggerak perekonomian merayakan kehidupan bukan dari roti saja. Mereka memangsa, melahap kehidupan dengan mendikte. Dari mimbar-mimbar suci, media massa, kata-kata dan ide-ide mereka mengubah dunia menjadi roti kepuasan yang dilahap sampai tak bersisa. Manusia umum, masyarakat biasa yang mampu berpikir, yang bersentuhan dengan ide-ide politik, nilai-nilai, makna, dengan mudah terjebak pada dogma konsumerisme. Piramida kehidupan adalah piramida konsumerisme. Isi pikiran masyarakat bermartabat, yang mengandalkan kontemplasi intelektual ternyata tidak lagi orisinil. Mereka sudah tersihir oleh cerita bahwa hidup harus berhasil mencapai puncak piramida: the pursuit of happiness, mencapai kesejahteraan dengan kesempatan terbaik mengonsumsi isi kehidupan.

Sumber foto : https://mronline.org/2018/01/12/radical-food-politics-hunger-is-political/

Sedangkan di dasar kehidupan, di mana tak ada lagi ide, pemikiran, atau gagasan yang bisa dilahirkan, hiduplah rakyat jelata yang sering tak bisa lagi ditipu oleh mimbar dan media massa karena tidak punya lagi kepedulian pada berlangsungnya dunia, mereka yang hanya butuh roti biasa yang otentik. Roti sebenarnya yang terbuat dari gandum, dari tanaman yang tumbuh di tanah asli, adonan yang dibentuk dan yang dibakar oleh pembuat roti. Rakyat yang berelasi langsung dengan kehidupan, rakyat yang mampu memuja roti yang datang dari sepetak tanah dan api pembakaran.

*******

Seluruh lapisan piramida Maslow hanyalah merupakan kerangka pragmatis untuk membedakan apa yang kita makan. Pada setiap tingkat piramida tersebut tersedia bentuk-bentuk konsumerisme, entah itu rasa aman, relasi, cinta, aktualisasi diri, prestise dan bahkan rasa keberagamaan. Piramida motivasi Maslow tidak berlangsung sebagai sebuah gambaran motivasi yang menggerakkan kita. Kita berada pada jaman dimana motivasi otentik yang seharusnya kita miliki telah digantikan oleh model-model pemenuhan kebutuhan yang didiktekan pada benak kita. Cara pandang kita pada hidup telah diracuni oleh media massa yang membangun suatu jagat raya konsumerisme yang pada akhirnya membahayakan kehidupan. Ada semacam naluri untuk menguasai benak semua manusia dan mematikan motivasi dan kreativitas otentik di dalamnya, dan sebaliknya ada naluri kawanan untuk tunduk dan patuh, kecenderungan untuk tenggelam dalam hipnotis, tersihir, pada kita. Kata kuncinya adalah makan, konsumerisme tak berujung.

Kembali pada piramida Maslow, antara Makan dan Makna, bentuk konsumerisme yang akut ini telah menihilkan nilai Makna pada mekanisme buta konsumerisme. Manusia tidak lagi berpikir atau berkontemplasi secara sadar. Yang ada hanya pola-pola konsumerisme yang sesuai dengan lapisan-lapisan piramida. Ketidakmampuan berkontemplasi pada kehidupan, hilangnya daya mencari makna membuat konsumerisme menjadi tak terukur, tak terpikirkan dan tidak bisa dievaluasi.

Kita memiliki semuanya secara palsu, teknologi dan berbagai kemajuan, budaya, agama, politik, kekayaan, makanan, harga diri, aktualisasi diri, citra diri, rasa aman. Semuanya palsu karena kita memakan makna yang didiktekan oleh sejumlah kekuatan yang efektif memanipulasi kesadaran kita. Tongkat sihir media massa membelokkan perhatian kita dari ancaman nyata kehidupan. Dari pewaris kehidupan kita dicuci otak menjadi pemangsa yang memakan habis kehidupan dengan membayar dan memperkaya kekuasaan: c orrupted to corrupting  –dirusak untuk menjadi perusak.

Tetapi korban konsumerisme bukan hanya kita yang berpikir dan para pemakan jelata. Bumi yang dikuras, dimakan oleh mesin konsumerisme ini tidak pulih lagi. Ia kehilangan begitu banyak kualitas untuk mendukung kehidupan yang adalah cirinya yang sangat unik di jagat raya ini. Polusi, berkurangnya keragaman hayati, dan hilangnya relasi otentik antara manusia dengannya adalah ancaman keberlangsungan yang nyata.

Ada sebuah kata yang mengandung bertentangan dengan harapan tentang kehadiran manusia di bumi,

anthropocene, sebuah epos yang dimulai dari revolusi pertanian 15.000 tahun yang lalu sampai sekarang dan masih berlanjut, di mana kita berlaku sebagai pemangsa kehidupan. Manusia mempengaruhi kondisi geologis bumi secara signifikan, menginisiasi kemusnahan keberagaman hayati dan memperlakukan bumi sebagai properti, obyek konsumerisme, yang tak terbarukan.

Sumber foto : www.anthropocene.info

Anthropocene adalah kisah epik hilangnya relasi otentik antara manusia dengan bumi, dengan segenap jagat kehidupan. Tetapi katakanlah bumi memiliki daya hidup yang hebat, ia melewati berbagai kemusnahan dan terus berlanjut, terus memulai baru! Mungkin daya hidup bumi mampu mengatasi polusi atau musim dingin nuklir akibat ulah manusia, tetapi manusia tidak bisa berlanjut.

Makan dan menjadi makanan. Manusia harus mengembalikan relasi otentik tersebut. Relasi otentik itu adalah makan, ia ada dalam budaya makan kita. Caranya adalah berhenti menilai makan sebagai sebuah tindakan konsumerisme, melahap tanpa akhir yang membahayakan seluruh kehidupan. Kita harus berhenti menjadi pemangsa buta yang tersihir oleh dikte politik penguasa dan perusahaan-perusahaan kaya. Kita berhenti menghapal pola-pola konsumsi yang menghabiskan sumber daya dan membangun kesadaran makan yang otentik, yang berbasis relasi dengan totalitas kehidupan.

Bumi yang memberi kita makan,

bumi yang akan diwariskan kepada anak cucu kita.

Sumber foto : www.cocreateyourlife.wordpress.com

Bumi memberi kita makan, semua mahluk diberi makan. Kita pun memberi makan bumi dan segenap kehidupan. kita berbagi, menjadi roti, menjadi makanan bagi sesama penghuni kehidupan. Di sini makan menjadi makna. Makna dari hidup adalah seni menjadi makanan, menjadi roti, seni berbagi, menjadi bermanfaat. Bumi menjadi roti bagi kita, dan atas cara yang sama kita pun menjadi roti sebab kita pun adalah bumi. Bumi adalah kehidupan, begitu juga kita sebab kita ini pun bumi. Menjadi bumi itu inklusif, kita semua adalah satu bumi yang sama yang unik di jagat raya. Di sini makan menjadi tindakan sakral. Makan itu berbagi, daya dinamis yang saling menghidupkan. Makan itu seperti cinta yang sebenarnya: saling berbagi, saling mendukung, menerima dan juga memberi dan semakin berlipat ganda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *