[MASALAH KITA] PEMAHAMAN DIRI, KEMANDIRIAN, DAN PERUBAHAN DUNIA
By: Date: March 31, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Any Sulistyowati

Aktivis dan Perubahan Dunia

Dunia berubah dengan sangat cepat. Di antara perubahan-perubahan dunia itu, ada perubahan yg kita inginkan & terdapat yang nir kita inginkan. Sebagai aktivis, kita terlibat buat menciptakan perubahan-perubahan tadi agar berjalan ke arah yang kita inginkan. Mempengaruhi sebuah proses perubahan bukan kasus mudah. Ada poly masalah yg harus diselesaikan sebelum perubahan yang diinginkan tadi bisa terwujud.

Persoalan-masalah tersebut terdapat yang terletak di luar dan di dalam diri kita. Untuk masalah-problem di luar diri kita, kita perlu bekerjasama dengan poly pihak yang terlibat pada dilema tersebut agar masing-masing dapat merogoh peran & bersinergi pada membuat perubahan itu. Untuk masalah-duduk perkara di pada kita diri sendiri, kitalah yg paling bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Persoalan-masalah pada dalam diri ini sangat krusial buat diselesaikan. Jika nir, langkah-langkah yang kita pilih akan tersendat atau terhambat sang duduk perkara-duduk perkara tersebut.

Salah satu problem yang acapkali dihadapi para aktivis merupakan pemenuhan kebutuhan hayati. Jika kebutuhan hidup kita tidak terpenuhi, maka langkah kita buat mencapai perubahan akan lebih sulit atau terhambat.

Pemenuhan Kebutuhan Hidup

Maslow merumuskan kebutuhan hayati menjadi strata anak tangga, yaitu : (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan akan rasa kondusif, (3) kebutuhan akan cinta dan keterikatan (rasa memiliki-dimiliki), (4) kebutuhan akan penghargaan, & (lima) kebutuhan akan aktualisasi diri.

Termasuk di pada kebutuhan fisiologis adalah banyak sekali kebutuhan dasar misalnya makanan, pakaian, udara dan tempat tinggal. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, maka secara bertahap pemenuhan-pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya akan terjadi. Pemenuhan kebutuhan jenis ini sangat krusial buat keberlanjutan hidup manusia. Misalnya, tanpa pemenuhan kebutuhan pangan yang relatif, insan tidak bisa melanjutkan kehidupan. Kekurangan pemenuhan kebutuhan pangan akan menciptakan insan menjadi kurang gizi, sakit & akhirnya mangkat . Berbeda dengan kebutuhan lain yang pemenuhannya tidak terbatas, pemenuhan kebutuhan fisiologis mememiliki batas. Sebagai model, jika kita lapar, maka kita memerlukan kuliner. Tetapi selesainya kita makan, kita tidak lagi merasa lapar. Kalaupun kita masih ingin makan, yg mendorong bukan lagi kebutuhan fisiologisnya, namun kebutuhan lainnya, contohnya kepuasan makan, variasi makan atau hal lain yang bisa dipenuhi dari proses makan. Demikian pula rasa mengantuk. Apabila kita merasa mengantuk, maka tidur akan terasa nikmat & saat kita bangun, kita akan merasa segar. Sebaliknya apabila kita terlalu banyak tidur, maka waktu bangun malah akan terasa pusing atau tidak nyaman.

Kebutuhan tingkat yang ke 2 adalah kebutuhan akan rasa aman. Rasa aman ini terdapat yang terkait menggunakan hal-hal fisik, namun terdapat pula yg terkait menggunakan hal-hal yg non fisik. Terkait menggunakan kebutuhan fisik, misalnya adalah kita akan lebih sulit buat merasa aman bila tempat tinggal yang kita tinggali terkena bala alam. Atau kita tidak merasa pasti apakah stok kuliner kita relatif buat hari ini. Meskipun rasa aman dari menurut pada diri, faktor luar juga bisa ikut mempengaruhinya. Di negara-negara dengan tingkat kriminalitas rendah atau kondisi ekonomi, politik dan sosial yg lebih stabil, perasaan aman warganya secara generik tentu lebih tinggi berdasarkan dalam negara-negara menggunakan taraf kriminalitas tinggi atau kondisi ekonomi, politik dan sosial yg nir stabil.

Piramida kebutuhan dalam insan

(asal: dokumen pribadi)

Setelah kedua kebutuhan di atas dipenuhi, kebutuhan selanjutnya adalah kebutuhan akan cinta dan keterikatan (perasaan memiliki dan dimiliki). Kebutuhan ini dapat diperoleh antara lain dari keluarga, sahabat dan pasangan.  Ciri-ciri kebutuhan ini terpenuhi adalah perasaan nyaman, diterima dan dicintai. Kebutuhan ini dapat menjelaskan mengapa di negara-negara dengan standar kehidupan yang begitu tinggi, masih ada beberapa orang yang bunuh diri. Padahal di negara-negara tersebut pemenuhan kebutuhan dasar bukan lagi merupakan persoalan dan konflik antar orang hampir tidak ada. Mereka bunuh diri karena merasa kesepian, hidup tidak bermakna, tidak dicintai dan mencintai, merasa merana karena tidak memiliki siapapun di dunia ini.

Kebutuhan akan penghargaan adalah kebutuhan selanjutnya. Kebutuhan ini terkait dengan konsep diri dan harga diri seseorang. Harga diri rendah atau inferiority complex dapat terjadi akibat ketidakseimbangan pemenuhan hirarki kebutuhan. Orang-orang dengan harga diri rendah sering membutuhkan pengakuan dan penghormatan dari orang lain. Namun, penghargaan dari luar tersebut tidak akan dapat membuat seseorang membangun harga diri mereka sampai mereka sendiri dapat menerima siapa diri mereka apa adanya. Jadi yang terpenting di dalam pemenuhan kebutuhan akan penghargaan ini adalah bagaimana kita memberikan penghargaan kepada diri sendiri.

Kebutuhan yg terakhir adalah kebutuhan buat ekspresi. Aktualisasi diri menunjuk ke pengembangan "ekspresi yg terbaik menurut diriku". Bagaimana aku menemukan diriku yg terbaik. Bagaimana diriku yang terbaik itu bisa ada & memberikan kontribusinya untuk dunia.

Persamaan dari keempat kebutuhan yang pertama adalah kebutuhan karena kekurangan (deficiency needs). Semakin tidak terpenuhi, maka kita semakin merasa kekurangan. Jika sudah terpenuhi, maka motivasi untuk mencari pemenuhannya akan berkurang. Sebaliknya, kebutuhan yang kelima, merupakan kebutuhan karena pemenuhan (growth need). Artinya semakin aktualisasi diri kita terpenuhi, kita akan semakin mencarinya.

Pemenuhan Kebutuhan Hidup, Kemandirian & Perubahan Dunia

Seseorang disebut semakin mandiri bila beliau dapat memenuhi sebanyak mungkin kebutuhan hidupnya tanpa tergantung menurut orang lain. Yang dimaksud nir tergantung di sini nir berarti mengerjakan semuanya sendiri, tetapi sanggup jua berarti dapat mengakses pemenuhan kebutuhan tadi secara langsung ataupun tidak pribadi melalui prosedur pertukaran. Kemandirian pada pemenuhan kebutuhan berarti kita sendiri bertanggung jawab akan pemenuhan kebutuhan tersebut. Bertanggung jawab berarti secara sadar melakukan proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Diharapkan bahwa, semakin kebutuhan tersebut dapat kita penuhi secara mandiri, maka kesempatan kita melakukan perubahan-perubahan yg kita inginkan akan semakin akbar.

Masalahnya, tidak semua aktivis melakukan proses pemenuhan kebutuhan dirinya secara sadar. Sebagian besar bahkan tidak menaruh perhatian pada dirinya  secara memadai. Hidupnya seolah habis untuk perubahan yang diinginkan. Padahal dirinya merupakan aset utama untuk melakukan perubahan tersebut. Tanpa diberi perhatian cukup, mustahil diri kita dapat melakukan proses perubahan dalam jangka panjang.

Ada poly alasan mengapa para aktivis tidak bisa menaruh perhatian dalam dirinya secara memadai. Alasan primer yg paling poly dijumpai adalah keterbatasan waktu. Roda perubahan berjalan begitu cepat. Ada banyak momentum yg harus dikejar. Kejar kini atau hilang kesempatan. Kondisi ini membuat kita terjebak pada kerja berkepanjangan tanpa ketika istirahat yg cukup memadai. Istirahat relatif adalah kebutuhan fisiologis, yg adalah semakin nir dipenuhi maka akan terasa semakin kekurangan. Saya menemukan poly aktivis makan serampangan, kurang gizi & akhirnya mengidap banyak sekali macam penyakit. Yang lebih tak jarang lagi, banyak sekali aktivis yg tidak berakibat olah raga menjadi bagian hidupnya. Padahal mobilitas atau olah raga pula adalah kebutuhan dasar yang menciptakan kita menjadi sehat. Jika kita nir sehat, maka kemampuan kita buat mengejar virtual-virtual kita akan perubahan dunia pun akan berkurang.

Olahraga buat kesehatan, mencapai terpenuhinya kebutuhan fisiologis.

(asal: dokumen KAIL)

Alasan kedua adalah “karena tidak ada orang lain yang dapat mengerjakannya maka sayalah yang  harus mengerjakannya”. Kalau pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang saya sukai dan penting untuk tujuan hidup saya mungkin tidak apa-apa. Tetapi jika pekerjaan tersebut sebetulnya bukan merupakan pekerjaan yang saya sukai, mungkin akan jadi masalah. Apalagi kalau pekerjaan itu sebetulnya bukanlah pekerjaan yang penting untuk tujuan hidup saya. Apalagi kalau saya sebetulnya sudah punya sekian banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan di komitmen sebelumnya. Apalagi jika kita (terpaksa) mengambil pilihan tersebut hanya karena orang lain tidak ada yang mengambilnya, maka kita sebetulnya tidak secara mandiri mengambil pilihan tersebut. Termasuk apabila kita disuruh atau diminta orang lain padahal kita sebetulnya keberatan atau tidak suka; tetapi tidak kuasa menolak dan akhirnya mengiyakan. Semua itu adalah bukti-bukti ketidakmandirian kita. Apalagi setelah itu kita misuh-misuh di belakang atau menyesal atau merasa terpaksa mengerjakannya. Itu artinya tingkat kemandirian kita lebih rendah lagi. Apapun alasannya, komitmen semacam itu pastilah akan menghabiskan energi diri dan (kemungkinan juga) teman kerja kita.

Dalam situasi pada atas, kita menciptakan diri kita berada pada situasi di mana pemenuhan kebutuhan dan juga impian akan perubahan sulit terjadi. Pertama, buat melakukan setiap pekerjaan diharapkan waktu. Jika ketika kita habis buat hal-hal yang tidak kita sukai atau tidak penting buat hayati kita, maka saat kita buat melakukan pekerjaan-pekerjaan terpenting buat perubahan yang kita inginkan tentu akan berkurang. Ini tentu akan mengurangi efektivitas kita sebagai aktivis. Selain itu, kita akan kehilangan kesempatan untuk melakukan hal-hal buat pemenuhan ekspresi kita. Kedua, ketika kita (terpaksa) merogoh pekerjaan yg nir kita sukai, maka sebetulnya kita membuat diri kita sendiri berada pada posisi tidak kondusif. Melakukan hal yg demikian terhadap diri sendiri, berarti kita nir cukup mengasihi, menghargai & menghormati diri kita sendiri. Apabila kita sendiri nir melakukannya buat diri sendiri, bagaimana kita bisa berharap orang lain dapat melakukannya untuk kita? Jika kita tidak secara amanah menolak pekerjaan/peran yg nir kita sukai, bagaimana orang lain memahami? Kalau kita sendiri mengabaikan kenyataan dalam diri kita tadi, bagaimana kita berharap orang lain akan mengetahuinya & mendukung kita?

Berkarya dengan kain perca, galat satu bentuk aktualisasi diri.

(asal: dokumen KAIL)

Alasan ketiga mengapa kita tidak memenuhi kebutuhan hidup kita adalah karena kita tidak menyadarinya. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran diri. Ada banyak cara untuk memperluas kesadaran diri. Ada yang mengikuti kegiatan spiritual dan keagamaan. Ada yang melakukan meditasi secara rutin. Ada yang melakukan proses konseling. Ada  yang mengikuti kegiatan-kegiatan khusus untuk meningkatkan kesadaran. Ada yang membaca berbagai buku tentang pengembangan diri. Apapun cara yang dipilih, pastikan bahwa cara tersebut nyaman untuk Anda.

Kesadaran diri adalah pengetahuan dan penerimaan akan kondisi kita apa adanya. Tanpa penerimaan, kesadaran diri bagaikan mesin peneror berdasarkan pada jurang kedalaman diri kita. Tanpa penerimaan, yg akan terjadi merupakan proses penolakan. Kadang-kadang keluar dalam bentuk menyalahkan pihak lain ataupun keadaan & bahkan Tuhan. Kita menganggap diri kita adalah korban. Korban orang lain & korban keadaan. Memposisikan diri misalnya itu hanya menerangkan betapa lemah dan nir mandirinya kita. Di dalam situasi semacam itu, sebetulnya penolakan terutama bukan kepada orang lain atau situasi (bisa jadi keduanya malah nir terpengaruh sang pandangan kita), namun penolakan terbesar sebetulnya terjadi dalam diri kita sendiri. Hal itu hanya memberitahuakn bahwa kita nir bisa mengambil tanggung jawab yg memadai buat menjalani hidup kita. Dan karena itu kita nir merasa postif terhadap diri kita.

Penerimaan membutuhkan keikhlasan. Keikhlasan artinya, secara sadar bertanggung jawab mengambil pilihan. Bertanggung jawab dalam mengambil pilihan berarti tidak ada misuh-misuh atau penyesalan di kemudian hari atau di dalam hati. Keikhlasan berarti mengambil tanggung jawab dengan bangga dan bahagia. Keikhlasan berarti kita mengambil keputusan dengan rasa aman. Hal ini akan menunjukkan bahwa kita menghormati diri sendiri, kapasitas diri sendiri, serta mengekspresikan nilai nilai yang kita  perjuangkan, dan menjadi bagian dari aktualisasi diri kita. Secara tidak langsung, hal ini akan memastikan pemenuhan berbagai kebutuhan kita. Dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, peluang untuk mencapai impian-impian kita akan lebih mudah tercapai.

Pilihan perilaku dalam bertindak

Melakukan pemenuhan kebutuhan diri sendiri di tengah hiruk pikuknya usaha mungkin terasa egois. Banyak berdasarkan kita dididik untuk selalu mendahulukan orang lain, apalagi mereka yang lebih lemah. Saya percaya nilai tersebut baik, namun caranya bukan menggunakan mengorbankan diri sendiri dan apalagi sampai akhirnya merasa menjadi korban orang lain atau keadaan. Ingat prosedur keselamatan penerbangan? Dalam syarat darurat, kita perlu memasang masker oksigen buat diri sendiri dulu, baru menolong anak kita yg masih mini , bukan kebalikannya. Kalau kita tidak selamat, kita tidak dapat menyelamatkan anak kita.

Bumi saat ini pada kondisi darurat dan tingkat daruratnya makin bertambah menurut saat ke ketika. Terjadi eskalasi dilema di berbagai bidang kehidupan. Dibutuhkan perubahan-perubahan di banyak lini kehidupan. Semua itu membutuhkan kecerdasan, bukan sekedar melakukan hal yang sama berulang-ulang hingga kelelahan dengan output minimal.

Kecerdasan membutuhkan kewarasan. Pengalaman saya, aku akan bisa berpikir dan bertindak lebih waras, minimal ketika saya sehat & senang , nir lapar atau kurang tidur atau vertigo saya kambuh lantaran kelelahan. Ini ialah, jika saya mengabaikan pemenuhan kebutuhan fisiologis saya sendiri berarti aku mengorbankan kewarasan saya & peluang saya buat menuntaskan berbagai masalah krusial pada global ini dengan cerdas. Ini berarti sebuah kehilangan akbar di dalam sejarah perkembangan peradaban.

Pada akhirnya, semua itu akan berpulang pada diri kita, pilihan apa yg kita ambil.

Referensi:

https://www.Simplypsychology.Org/simplypsychology.Org-Maslows-Hierarchy-of-Needs.Pdf

https://en.Wikipedia.Org/wiki/Maslow’s_hierarchy_of_needs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *