[Profil] Budhis Utami : Pluralisme Bagi Seorang Feminis
By: Date: April 13, 2018 Categories: Uncategorized

Kota besar yang penuh sesak seperti Jakarta sesungguhnya adalah pilihan terakhir bagi gadis kelahiran Jember ini. Keterlibatan dalam kegiatan kemasyarakatan misalnya GMNI dan Organisasi Perempuan sudah dijalani sang seorang Budhis Utami sejak di bangku kuliah.

Merasa tertantang oleh tawaran seorang teman untuk bekerja pada Komisi Migran KWI, beliau akhirnya tetapkan untuk tiba ke Jakarta.

Ketertarikannya yang besar terhadap persoalan-duduk perkara yg dihadapi wanita, membuatnya nir bisa tanggal dari rekan-rekannya yg beranjak pada Organisasi Perempuan.

Setelah bekerja kurang lebih satu tahun di KWI, pada bulan April 2001 ia memilih buat bergabung menggunakan Organisasi Perempuan yaitu Kapal Perempuan yg kebetulan waktu itu masih baru. Di loka itulah dia merasa aktivitasnya lebih menarik, aktif, dan bergerak maju. Di sana pula lah dia menemukan bidang garap yg menjadi ketertarikannya, yakni perempuan dan pendidikan. Kini beliau bertanggung jawab sebagai Koordinator Program Orientasi Pendidikan Alternatif pada Kapal Perempuan.

Sejak awal didirikan, Kapal Perempuan mempunyai concern terhadap info wanita, pendidikan cara lain atau pendidikan kritis dan pluralisme. Ketiganya itu bukan hal yang terpisah. Dalam kegiatan yang dilaksanakannya, Kapal Perempuan mencoba mengcover ketiga hal tersebut.

Dasar pendirian Kapal Perempuan itu sendiri berangkat menurut keprihatinan terhadap persoalan-masalah yang terjadi di Indonesia, terutama setelah runtuhnya Soeharto, kemudian adanya penerapan otonomi wilayah, serta semakin banyaknya pertarungan yang diakibatkan oleh menguatnya primordialisme kepercayaan dan suku.

Dalam kondisi-syarat itu sering posisi perempuan semakin terpuruk. Dalam konteks pluralisme, entah itu isunya agama ataupun suku sering wanita dijadikan sekedar simbol buat mencapai tujuan. Kalau suatu daerah ingin menguatkan gerombolan keagamaannya, maka kaum wanita lah yang pertama kali harus diatur., misalkan dalam penerapan Syariah Islam. Kemudian pada perseteruan-permasalahan itu, wanita pula sering digunakan menjadi simbol buat menghancurkan atau menjatuhkan gerombolan lawan, misalnya dengan perkosaan-perkosaan.

Menanggapi hal itu, Kapal Perempuan menciptakan Pendidikan Pluralisme buat pencegahan konflik dan upaya perdamaian. Kapal Perempuan melihat bahwa perempuan juga memiliki potensi buat sebagai juru tenang atau rekonsiliator pada permasalahan-permasalahan yg terjadi.

Sebagai langsung, pluralisme bukanlah hal yang asing bagi Budhis. Perjalanan pada mencari keyakinannya adalah suatu pengalaman tersendiri tentang suatu pluralitas. Demikian pula dalam memilih organisasi dan kegiatan yang dijalani, Ia pun mempertimbangkan pluralitas sebagai suatu hal yg harus diterima bahkan sebagai suatu seruan buat mau terbuka pada orang atau gerombolan yg tidak sama.

Ia memaknai pluralisme menjadi keterbukaan diri bagi orang-orang yang tidak sama atau suatu penghargaan terhadap perbedaan yang dimiliki sang orang lain. Baginya pluralisme itu sendiri bukan hanya perbedaan agama, tetapi pula cara pandang, jenis kelamin, ideologi, bahkan orientasi seksual yg tidak sama.

Dalam proses hubungan yang yang plural, memang perlu adanya penghargaan terhadap disparitas nilai yang ada. Tetapi menurut Budhis, itu tidak berarti bahwa kita berhenti buat mengkritisi masalah yg terdapat di dalamnya. Penghargaan yang diberikan terhadap disparitas itu wajib memiliki dasar nilai eksklusif. Jika di dalamnya ada nilai-nilai kekerasan atau ketidakadilan, maka kita perlu mempertanyakan itu.

Untuk mencapai suatu rakyat yang penuh penghargaan namun tetap kritis, diharapkan suatu ruang obrolan. Bisa jadi perbedaan pandangan tentang suatu hal itu terjadi lantaran suatu asumsi tertentu. Memang obrolan itu tidak wajib dalam bentuk yg formal.

Berbagai hambatan dalam upayanya memperjuangkan pluralisme, dianggapnya menjadi tantangan. Pandangan bahwa keberagaman menjadi sesuatu yg latif membuatnya terus memperjuangkan pluralisme. Kenangan akan usaha dan pengorbanan Sang Ibu dan keluarganya selalu sebagai spirit baginya buat melakukan sesuatu bagi orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *