[MEDIA] Resensi Film: MONA LISA SMILE
By: Date: April 15, 2018 Categories: Uncategorized

Judul : Mona Lisa Smile

Tahun : 2004

Produksi : Columbia Pictures dan Sony Pictures Entertainment

Produser : Elaine Goldsmith; Thomas Paul Schiff; Deborah Schindler

Sutradara : Mike Newell

Pemain : Julia Roberts; Kirsten Dunst; Julia Stiles; Maggie Gylenhaal

Latar belakang cerita ini berdasarkan dalam tahun 1953, di mana pembakuan kiprah gender (masih) sangat ketat dipegang. Seperti telah dimulai oleh pendahulu mereka pada abad 18, dalam masa ini jugalah para feminis liberal telah memulai gerakannya. Feminisme liberal sedikit poly dipengaruhi oleh pemikiran liberalisme dan modernisme yang menekankan kebebasan individual. Para pemikir & aktivis yg tergolong dalam feminisme gelombang ini melihat adanya kebijakan yg tidak adil, menggunakan adanya perbedaan kesempatan dan hak antara perempuan & laki-laki . Pendidikan yang membuatkan rasionalitas hanya diberikan dalam pria, pada mana intelektual pria dianggap superior & pekerjaan wanita ?Hanyalah? Menjadi istri & mak ? Dan dipercaya tidak penting.

Katherine Watson, tokoh yang diperankan oleh Julia Robert ini mewakili feminis liberal abad 20 yg menginginkan perubahan lebih baik bagi wanita, lewat pendidikan. Sebagai seseorang guru sejarah seni, Katherine datang ke Wellsley College, sebuah sekolah spesifik perempuan yang terkenal sangat konvensional, untuk menciptakan perubahan! Pemikiran, gaya hidup, pendekatan & cara mengajarnya yang di luar pakem menantang institusi & segenap penghuninya untuk melihat melampaui apa yg dibayangkan & dikonstruksikan selama ini. Sekolah yang reputasinya terkenal & dipercaya sukses lantaran berhasil mendidik anak-anak perempuan menjadi istri yg baik ini, terguncang dengan adanya sebuah pemikiran dan pendidikan ?Cara lain ?, yg coba diusung dan diwakili oleh sosok Katherine ini.

Keluar dari konstruksi sosial & memilih pilihan secara bebas & kritis memang nir semudah membalikkan tangan. Menjadi pendobrak & motivator bagi proses perubahan ini lebih nir gampang lagi. Pergulatan seorang Katherine Watson pada mewujudkan idealismenya menerima tantangan dan pengkayaan lewat pertemuannya menggunakan siswa-siswa perempuan . Sebuah tawaran yg bagi sekelompok orang dianggap membebaskan & adil, mungkin ditanggapi sebagai ancaman oleh mereka yang terlanjur diuntungkan dalam sistem seks/gender yang melenakan dan sudah menghegemoni ini.

Film ini menyuguhkan kisah relatif menarik, dan didukung sang para seniman yg bermain relatif indah, walaupun dengan bumbu-bumbu yg khas Hollywood, tetapi kiranya tetap layak buat kita tonton. Nampaknya isu & usaha para feminis liberal sejak abad 18 dan berkembang hingga abad 20 ini masih relevan dalam kehidupan kita. Perjuangan para feminis gelombang pertama ini nampaknya belum kunjung usia dan terwujud sinkron harapan. Lewat film ini kita bisa lebih mengenal sebagian pemikiran dan usaha feminis liberal abad-20. Sedikit poly, kita jadi teringat pula dengan tokoh wanita kita, yang masuk dalam golongan ini, yaitu RA.Kartini. Mungkin film ini bisa ditonton dan direfleksikan dalam rangka merayakan hari Kartini, sebagai ganti lomba kebaya dan merangkai bunga! (intan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *