[PIKIR] MENEMUKAN DIRI DI PUSAT KEBERADAAN
By: Date: April 18, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Umbu Justin

?To be or not to be, that is the question..?

Hamlet, Act III, Scene 1, William Shakespeare

Pangeran Hamlet berdasarkan Denmark pada cerita drama Shakespeare berbicara pada dirinya sendiri, sebuah soliloqui, atas rasa tak berdaya menjalani kehidupan dan mempertimbangkan apakah sebaiknya beliau mengakhiri hidupnya. Ia merasa putus asa terjebak pada tekanan hidup dampak terbunuhnya oleh ayah sang pamannya dan hasrat buat membalas dendam. Sekali pun terujar dalam sebuah frame yang sangat melankolis, kalimat tadi menginspirasi begitu banyak karya sastra global sesudahnya & sebagai sebuah warisan literer yg sering diungkap pulang justru sebagai afirmasi eksistensial buat memberi semangat pada usaha memenangkan kehidupan.

Di Indonesia kita mengenal penggalan puisi Chairil Anwar: ?Sekali berarti, sudah itu tewas?, Sajak Diponegoro, 1943, ? Sebagai sebuah pernyataan semangat buat menjadikan hayati yang cuma sekelebat ini nir berlalu begitu saja. Hidup yg meski cuma secuil pada pergolakan dunia yg serba janggal, pantas jadi cara buat memperjuangkan makna.

Dalam soliloqui Hamlet dan sajak Diponegoro kita melihat karakteristik kehidupan yg paling penting, ketika dihadapkan dalam masalah bereksistensi insan selalu berhadapan dengan empiris krisis hayati & mati, bukan sekedar bernyawa atau tak bernyawa, namun soal makna yg pantas mengisi jalannya hayati. Begitu individu menyadari eksistensinya, beliau sekaligus menangkap makna, bukan dalam konsep atau pengertian, melainkan pada rasa, pada seluruh atmosfer keberadaan yg melingkupinya. Rasa berada yang intens, yang hanya mampu tertangkap sepenuhnya ketika seorang menghadapi syarat ekstrim, entah sesuatu yg sangat menakjubkan atau pun menyeramkan. Di hadapan empiris yg mengancam kehidupan, seorang merasa berada pada batas hayati dan mati, entah dia akan putus asa atau melakukan tindakan ekstrim buat menyelamatkan hidupnya. Di hadapan sesuatu yg sangat menakjubkan, sesuatu yg melampaui daya tangkapnya, seseorang akan merasa kecil, hilang, & tak berarti. Hamlet merasa putus asa dan cenderung memilih tidur dalam kematian agar realitas berlalu tanpa tanggung jawabnya, sedangkan penyair sajak Diponegoro yang sudah melalui semua penindasan sanggup melihat celah sempit bagi masa depan bangsanya yang harus beliau perjuangkan menggunakan menghimpun roh sang pahlawan.

****

Enigma eksistensi, teka-teki keberadaan adalah tugas terpenting kita: ?To be or not to be, that is the question..?. Di tengah dunia kita bertanya tentang hakekat keberadaan kita dan mempersoalkan kemampuan pembebanan yang bisa kita pikul untuk melayani hidup. Pertanyaan dasar inilah yang sejak dulu telah coba dijawab oleh mitologi, agama-agama, filsafat, ilmu pengetahuan dan bahkan politik.

Agama dan mitologi terbangun menurut pengalaman krisis eksistensial & rasa tidak berdaya insan pada hadapan kondisi ekstrim, pada hadapan yg maha menakutkan dan maha menakjubkan. Agama memerintahkan manusia buat menyembah, mitologi mengharuskan kita buat melayani kekuatan kosmik dalam aneka macam ritual. Politik, pada hal ini negara atau kekuasaan, berusaha menghadirkan krisis ekstrim tersebut menggunakan sebagai sangat menyeramkan atau indah dan meniru agama dan mitologi untuk menundukkan insan sebagai individu-individu yang taat demi ?Kebaikan beserta?.

Filsafat bisa sebagai jalan keluar berdasarkan tekanan agama dan mitologi serta politik yang menekan eksistensi namun filsafat nir bisa menggunakan doktrin apa pun buat mengajarkan pendapatnya. Filsafat sesungguhnya memang bukan pengajaran, filsafat lebih merupakan sebuah tindakan, sebuah ciri insan berkesadaran untuk terus memandang ke pada eksistensinya secara rasional. Pernyataan filsafat terpenting mengenai eksistensi datang menurut Filsuf Immanuel Kant (?) menurut masa renaisans yang menegaskan keberadaan manusia menjadi kondisi terakhir dari semua aplikasi tugas insan di global. Makna insan tidak didasarkan dalam ajaran apa pun, baik dari agama maupun mitologi dan ideologi. Keberadaan manusia itu sendiri telah cukup buat sebagai alasan bertindak sahih dalam hidup.

****

Belajar menurut Dua Pangeran

Soliloqui Hamlet adalah krisis eksistensial, apa merupakan terus bernyawa, ad interim hayati menjadi beban tak tertahankan, sedangkan roh Diponegoro yg dipanggil penyair merupakan barah semangat buat mengatasi krisis kehidupan yg direndahkan kekuasaan kolonial. Chairil Anwar dalam sajak Diponegoro berbicara tentang kesadaran bereksistensi: ?Sekali berarti, telah itu mati?. Makna, keberartian merupakan soal terpenting dari persolalan keberadaan. Makna bukan dalam frame mitologis yang menjanjikan kekekalan heroik dengan senang pada kahyangan, atau kepercayaan -agama doktrinal yg memberikan upah surga bagi yang berbuat baik. Makna dalam gagasan eksistensial penyair ini adalah makna otentik ala Kant, yang tidak meminta referensi supranatural, ?? Sudah itu mangkat ? Selesai tanpa embel-embel janji apa pun.

Humanisme Kant yang tidak menggantungkan eksistensi manusia pada kebenaran pada luar kebenaran faktual, adanya kemanusiaan nir sanggup kita lihat sebagai doktrin atau ideologi dogmatik yg biasa kita lihat dalam asas paham-paham agama atau politik. Kebenaran Eksistensi insan merupakan daya, energi, tenaga yang menggerakkan seluruh kebenaran. Kita hanya sanggup menerimanya dalam tataran bergerak maju, melalui kegelisahan yang sungguh kita nikmati. Kebenaran ini bukanlah dogmatis atau ideologis, beliau adalah kita yang hidup & gelisah mencari makna kehidupan.

Eksistensi nir dapat dibuktikan sang sains atau ideologi. Ia bukanlah jargon yg mampu dilihat pada pamflet-pamflet politik atau ulasan filsafat. Eksistensi dalah kebenaran yg dirasakan masing-masing individu, dia merupakan hidup itu sendiri. Eksistensi adalah ruang otentik dimana kita menyadari bahwa kita hidup, menyatakan pada diri kita, ?Kita ada?.

Pada kebenaran ini kita menemukan diri, bahwa kita berada & mencicipi seluruh alat kita terbuka mencerap global yg mencakup kita, global yang dekat pada detak jantung kita, ruang-ruang mini di tempat tinggal kita, di lorong-lorong kota pada antara seliweran kehidupan, insan sesama yang memerlukan kehadiran kita pada dalam dunia maha luas yg tidak bisa lagi diukur menggunakan daya tempuh cahaya? Kita tetap pada pusat seluruh kebenaran, kita yang berada pada antara krisis Hamlet dan teguh berjuangnya oleh Diponegoro. Kitalah sang penyair, eksislah!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *