[JALAN-JALAN] PULAU CORON, SEBUAH CATATAN PERJALANAN
By: Date: April 21, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : David Ardes Setiady

Hari itu kalender di smartphone menunjukkan tanggal 15 September 2017, ketika langit tampak cerah nan teduh, matahari memancarkan sinarnya sembari kawanan awan memberi kesejukan atas teriknya. Saya bersama dengan rombongan beranjak dari penginapan menuju pelabuhan Coron Harbour, sekitar 30 menit lamanya melintasi pemukiman padat yang pemandangannya seperti perkampungan di Indonesia. Setibanya di pelabuhan, sebuah perahu sudah menanti kehadiran kami karena memang sudah disiapkan oleh rekan-rekan Samdhana Institute Filipina dan kami pun segera memasukinya. Lalu, ada sedikit proses loading barang dan berbagai persiapan, di antaranya pemeriksaan oleh penjaga pantai memastikan jumlah penumpang yang berangkat agar sesuai dengan yang kembali nantinya, kemudian sang penjaga pantai juga memeriksa bahwa di dalam perahu tersedia rompi pelampung yang wajib dipakai para penumpang selama perjalanan. Tak lama, perahu pun segera mengarah menuju ke tujuan, Pulau Coron.

Perjalanan ini adalah bagian dari aktivitas workshop yang diselenggarakan oleh Samdhana Institute dalam rangka menyusun program capacity building. Di sana telah menanti komunitas suku Tagbanwa yg sudah mendiami Pulau Coron semenjak lama . Nantinya kami akan berinteraksi dengan mereka buat belajar tentang kehidupan mereka dan bagaimana sinergi bisa terjalin dengan Samdhana.

Foto suasana pada kapan (Dokumentasi Pribadi)

Perjalanan menyeberang pulau ini memakan waktu lebih kurang 45 mnt, namun tak begitu terasa karena pemandangan yang tersedia di sekeliling bahtera begitu latif. Rasanya ingin terus mengabadikan setiap bagian dari pemandangan yang disajikan berdasarkan bahtera ini, namun aku wajib menyimpan daya baterai ponsel ini lantaran terdapat banyak sekali kegiatan & pemandangan lain yang mampu jadi nir terabadikan saat daya ponsel habis. Maka insting sajalah yang memilih buat mengambil pemandangan yang cocok pada hati.

Pemandangan waktu bepergian berangkat menuju Pulau Coron (Dokumentasi Pribadi)

Waktu yang mengalir tidak terasa ketika akhirnya perahu merapat ke dermaga sederhana di Pulau Coron. Kesederhanaan yang begitu serasi dengan keindahan alam yang terpahat di pulau ini, rasanya teknologi yang wah kurang pantas bersanding karena akan merusak kesahajaan yang terpancar. Rombongan pun segera mengarah ke lokasi pertemuan dimana telah menanti para tetua masyarakat Tagbanwa, yang komunitasnya bernama Tagbanwa Tribe of Coron Island Association (disingkat TTCIA). Ruangan itu tampak sudah melalui perjalanan panjang dan mencoba bertahan dengan kesederhanaannya dengan beberapa cat yang tampak sudah terkelupas. Ada beberapa bangku panjang yang tersedia, mungkin memang menjadi tempat nongkrong penduduk setempat yang bertugas mengelola kegiatan pariwisata. Tidak ada wifi di sini, pun sinyal internet dari provider lokal tidak mudah tertangkap, seolah kita dipaksa merendahkan hati menghayati kesederhanaan yang hidup di tempat ini. Listrik pun sepertinya tidak ada, hanya disediakan oleh sebuah generator yang tujuan penggunaannya tidak saya tanyakan pada saat itu.

Dermaga pada Pulau Coron (Dokumentasi Pribadi)

Pertemuan tersebut berlangsung guyub, para tetua & rombongan saling berkenalan menggunakan bahasa Inggris seadanya. Toh, tidak ada yang perlu merasa memalukan dengan bahasa yg memang bukan bahasa sehari-hari. Yang penting, terdapat usaha saling berkomunikasi & tahu. Adalah sang mantan ketua desa bernama Rudolfo ?Kudol? Aguilar yg menjadi narasumber dalam pertemuan ini yang akhirnya berlangsung selayaknya sebuah konferensi pers. Bapak ketua desa mendapatkan pertanyaan lalu bercerita menjadi jawabannya. Secara garis besar , pembelajaran yg dihasilkan sang rombongan adalah :

1. Perjuangan masyarakat Tagbanwa dalam mendapatkan kedaulatan wilayah adat mereka, lalu komitmen masyarakat untuk menjaga serta melestarikan adat beserta gaya hidup yang harmonis dengan alam. Perjuangan itu dimulai pada tahun 1985, ketika mereka membentuk Tagbanua Foundation of Coron Island (TFCI) dengan tujuan mengubah status lahan hutan seluas 7.748 ha sebagai wilayah adat mereka , sesuai dengan kebijakan Kementerian Kehutanan saat itu yang memberikan kesempatan kepada masyarakat adat untuk mengklaim hak ulayat mereka. Selanjutnya perjuangan tersebut adalah mengembalikan kesadaran budaya dan identitas sebagai suku Tagbanua kepada seluruh anggota suku, terutama generasi muda, yang pada saat itu sudah mulai lupa kebiasaan adat istiadatnya. Para tetua merasa akan percuma nantinya, bila wilayah adat ini berhasil diklaim kembali, tetapi generasi mudanya tidak memahami pentingnya mengelola wilayah adat tersebut. Maka mereka pun membagi tugas dan peran, dimana sebagian mengorganisir masyarakat Tagbanua di sekitar pulau untuk menghidupkan lagi adat istiadat dan budaya suku. Sebagian lagi, melanjutkan perjuangan administratif ke pemerintah Filipina atas wilayah adat yang juga mencakup perairan di sekitar pulau. Dengan demikian, masyarakat Tagbanua juga berhak mengelola wilayah perairan sekitar pulau sesuai dengan kebijaksanaan nenek moyang yang harmonis dengan alam. Tahun 1998, setelah perjuangan panjang yang diinisasi oleh Rudolfo Aguilar, Certificate of Ancestral Domain Claim (CADC) akhirnya diberikan atas wilayah adat masyarakat Tagbanua yang akhirnya mencapai puas 24.520 ha, tidak hanya daratan namun juga perairan. CADC adalah semacam dokumen resmi berkekuatan hukum yang diterbitkan oleh pemerintah Filipina yang menjamin hak atas sebuah wilayah adat kepada masyarakat setempat. Ref : http://pcsd.gov.ph/protected_areas/coron.htm

2. Pengelolaan pariwisata, dimana para pengunjung harus menaati peraturan yang dibuat oleh masyarakat setempat. Peraturan tersebut dirumuskan oleh semacam dewan adat yang diisi oleh para tetua suku dengan pertimbangan kebiasaan adat istiadat yang mereka hidupi. Jadi secara tidak langsung, tamu diajak untuk menghargai tempat hidup masyarakat setempat.

Wilayah norma TTCIA mencakup holistik pulau Coron ini & beberapa kepulauan kecil yang berada di sekitarnya, yg kebanyakan adalah daratan kecil yg nir dapat ditinggali oleh insan. Cerita perjuangan warga Tagbanwa buat mendapatkan balik hak adat mereka, tertuang pada sebuah spanduk yg sengaja dicetak pada 3 bahasa (bahasa Inggris, Tagalog, Tagbanwa) agar bisa diketahui oleh para pengunjung. Cerita tersebut nir hanya dibagikan pada para pengunjung, tetapi terutama diteruskan kepada generasi belia mereka agar memahami bahwa perjuangan ini tidak akan pernah berakhir lantaran merekalah yg akan mempertahankan kelestarian daerah istiadat ini.

Bapak Rudolfo Aguilar (Dokumentasi Pribadi)

Sejarah usaha TTCIA (Dokumentasi Pribadi)

Walaupun dikatakan sebagai masyarakat adat, tidak berarti mereka terbelakang karena juga mengenal teknologi yang berkembang di dunia saat ini namun memilih untuk tidak bergantung kepadanya. Sekilas hampir tidak ada yang ber-hape (handphone-red) ria saat kami berkeliling. Yang menggunakan hape juga kebanyakan adalah para pengoperasi perahu yang kebanyakan berasal dari luar pulau.

Pemandangan menuju Danau Kayangan (Dokumentasi Pribadi)

Aktivitas di danau (Dokumentasi Pribadi)

Dalam hal pengelolaan pariwisata, warga Tagbanwa bersikap cukup terbuka terhadap kehadiran turis, namun menerapkan aturan yg cukup ketat & disiplin. Setiap rombongan akan didampingi oleh penduduk setempat ketika berkeliling pulau. Adapun area yang dapat dieksplorasi sangatlah terbatas dan mereka yg menetapkannya demikian. O iya, pulau ini pun mempunyai waktu berkunjung yg sudah ditetapkan, yakni dari pukul 08.00 hingga menggunakan 17.00 waktu setempat. Di tempat ini pula tidak ada penginapan sebagai akibatnya para pengunjung betul-benar hanya berkunjung. Pada saat itu kami hanya berkunjung ke 3 titik, yaitu : Danau Kayangan, Pantai Attuangan, dan Twin Lagoon. Dari salah seorang rekan Samdhana Filipina yang memang mendampingi komunitas ini, para tetua adat Tagbanwa sebenarnya ingin membatasi jumlah pengunjung sehari sebagai 100 orang, namun negosiasi dari pemerintah daerah membuat hal itu urung terjadi.

Ada beberapa ketentuan yang harus ditaati sang para pengunjung pada pulau ini, yakni :

– Wajib membawa rompi pelampung

– Dilarang berenang menggunakan sunblock kimiawi (hanya boleh pakai yang sunblock dengan bahan alami)

– Dilarang berenang tanpa rompi pelampung

– Wajib didampingi oleh pemandu setempat

Di sana mereka jua mencoba hayati tanpa menggunakan plastik, sehingga kita akan mendapati warung (satu-satunya) yang menjual kelapa muda tanpa terdapat sedotan. Jadi, kita wajib minum menggunakan seolah kelapa itu adalah gelas, kemudian sesudah airnya habis dan kita ingin makan dagingnya, kita tinggal bilang sama si tukang untuk membelah kelapanya. Si tukang akan menyebarkan sendok menurut kulit kelapa buat membantu kita memakan daging kelapa yg lembut.

Dari sana, kami bertolak menuju pantai Attuangan buat melanjutkan sesi refleksi. Pantai ini nisbi nir poly pengunjung, saat itu hanya terdapat 3 bahtera lain & ombaknya pula termasuk mini . Pun tidak ada hiburan protesis manusia misalnya banana boat, speedboat, parasailing, dan mitra-kawannya. Jadi, loka ini sahih-benar diperuntukkan bagi mereka, para penikmat alam. Tidak juga terdapat tempat tinggal makan yang menyajikan ala restoran barat, hanya terdapat warung sederhana, yang ketika itu kami hanya ?Meminta? Air panas buat membuat kopi yg dibawa oleh salah seseorang rekan rombongan.

Pantai Attuangan

Aktivitas gerombolan pada Pantai Attuangan

Setelah sesi refleksi tuntas, kami bertolak ke Twin Lagoon yg terdiri berdasarkan batu-batu besar yang menciptakan perairan di sana sangat damai. Lokasi ini relatif ramai dikunjungi, tampak ada lebih kurang 6 perahu lain yg ditambatkan di lebih kurang bahtera kami. Penariknya merupakan perairan yang tenang sehingga nisbi nyaman buat berenang, pun menurut pemandu wisata memberikan atraksi melakukan formasi insan-kelabang, dimana para pengunjung diminta mengambang saling berkait, lalu pemandu akan menarik rantai manusia ini menyeberangi teluk kembar ini. Selebihnya, kita boleh bereksplorasi sendiri di kurang lebih area tersebut.

Hal lain yang mungkin perlu diketahui adalah di setiap perahu terdapat sebuah bilik yang bagi orang Indonesia dikenal sebagai kamar mandi, namun awak perahu menyebutnya sebagai CR, yakni comfort room. Di dalamnya air tidak selalu tersedia dan apabila habis, awak perahu akan mengambil air laut untuk kegiatan “bersih-bersih” (tentunya persepsi bersih akan menjadi sangat subjektif).

Puas berkegiatan di Twin Lagoon, kami pun pulang ke Coron-Palawan, tempat dimana kami berdiam selama pada Filipina. Perjalanan balik , walau jalurnya sama menggunakan berangkat, menyajikan pemandangan yg tidak kalah latif dan selalu menggugah asa berfoto yg tidak henti-hentinya juga. Komposisi awan & matahari senja mungkin menjadi santapan juru foto pemandangan, ditambah mobilitas air bahari yang hening. Tentu saja, kita boleh hanya duduk menikmati terpaan angin yang ?Ditabrak? Sang bahtera dan melihat pemandangan yang mengiringi bepergian.

Pemandangan waktu bepergian pulang menurut Pulau Coron

Perjalanan yg relatif singkat ini, meninggalkan kenangan dan pembelajaran bagi saya, bahwa Pulau Coron adalah model pariwisata dimana pengunjung bukanlah raja yang dilayani sinkron gaya mereka. Melainkan, pengunjung merupakan saudara dari jauh yang datang dan berkenan untuk tahu dan mengikuti istiadat setempat pada menikmati alam.

Kapan ya sanggup pulang lagi?

Penulis di Pulau Coron, Filipina

Catatan :

Perjalanan ini pada rangka Workshop Capacity Development yang diselenggarakan sang Samdhana Institute menggunakan tujuan mengembangkan acara kerja organisasi buat dapat membantu penguatan masyarakat dampingan mereka. Samdhana Institute merupakan sebuah organisasi non-profit yg mempunyai visi mewujudkan sebuah keadaan dimana keanekaragaman hayati, budaya, dan spiritualitas dihargai dan mengatasi pertarungan berbasis lingkungan menggunakan adil & setara buat seluruh pihak. Lebih lebih jelasnya mengenai Samdhana Institute dapat mengunjungi http://www.Samdhana.Org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *