[Profil] Pelukis Hardi : Wangsit Perubahan Melalui Seni
By: Date: April 27, 2018 Categories: Uncategorized

Seneca menulis, semua seni adalah tiruan alam. Tiruan dari alam, yang dikenali semua manusia melalui proses berkesadarannya menjadi mahluk berbudaya. Selain alam raya di kekinian kita, juga boleh‘alam-alam’ lain yang dikenal oleh sang seniman.

?Seni menjadi peniruan? Menjadi alat penggambaran alam sang para insan berkesadaran, yg kita sebut seniman. Ada kalanya menampilkan fenomen-fenomen proses alam semata, namun lebih poly yang menjadikan bumi dan langit menjadi ruang untuk menyorot jejak-jejak eksistensi insan. Lewat para seniman, perubahan makin konkret tergambar dan terabadikan pada bumi.

Seni lukis gua jaman purba melaporkan musim-musim perburuan hewan. Arsitektur Borobudur

menatahkan jalan hidup menujunir-vana. Tugu Selamat Datang diciptakan Henk Ngantung untuk menyambut masa depan sebuah bangsa muda. Tak boleh lupa, hidup berkesenian para ‘peniru alam’ itu sendiri dapat dibaca sebagai bukti eksistensi seniman untuk perubahan.

Saya beruntung dapat berkenalan secara pribadi menggunakan salah satu ?Peniru alam? Itu. Pelukis senior yang amat kreatif dan energetik, Hardi. Baru saja, semenjak September 2013 lalu.

Sama seperti banyak orang, yang merasai Orde Baru, saya hampir selalu mengkaitkan nama Hardi dengan lukisan potretnya yang menghebohkan, sang pelukis berbusana Presiden RI. Belakangan baru saya tahu, lukisan yang dibuat pada masa jaya Pak Harto itu sengaja ia beri judul Presiden RI Tahun 2001, Suhardi.

Perkenalan memberi kesempatan, juga kemudahan, memahami sosok yang hampir tiap dasawarsa meninggalkan catatan perubahan yang bermakna untuk dunianya. Di era 1970-an ia menolak ‘wajib’ Realisme-Sosial dalam praktek pendidikan seni rupa yang sedang ia jalani. Di era 1980-an menolakstatus-quo kepemimpinan nasional, berakibat dirinya ditindak penguasa.

Hardi kembali dengan semangat perubahan di era 1990-an, lewat pemunculan organisasi Himpunan Pelukis Jakarta. Kemudian di era  2000-an mendeklarasikan pembaruan pada aliran seni lukis yang ditekuninya melalui gagasanNeo Pop-Art.

Di puncak kematangannya, Hardi yang telah berusia kepala enam, kembali lagi dengan beberapa gebrakan beruntun. Tahun 2010 ia mengingatkan bangsa dan penguasa akan pusaka budaya yang makin asing, melalui pameran‘Keris for the World’. Tahun 2011 di muka para wakil rakyat yang berlalu-lalang, Hardi melukiskan gedung DPR sebagai sebuah WC umum, sebagai tanda protes atas parlemen yang bermewah-mewah.

Pelukis Hardi & keris rancangannya. Sumber: www.Antarafoto.Com

Tahun 2013 ia menggebrak dengan buku berwarna ‘Wayang for the World’ karya pertama putera bangsa. Masih belum cukup, pada Oktober 2013 dalam Masamoan Budaya Pusaka Pakuan di Bogor, Hardi mempresentasikan karya seniJangker (Kujang-Keris). Sebuah wangsit dari seorang empu Majapahit mendorongnya menggagas rekonsiliasi retak budaya antara Sunda dan Jawa pasca Perang Bubat .

Pada Hardi, berkesenian tampak menjadi proses yg berkelanjutan dalam menanggapi situasi sosial kemasyarakatan & proses bernegara. Seringkali cukup menggunakan menggambarkannya pada kanvas dua dimensi. Namun dalam ketika yang tepat dia segera tahu posisi kepemimpinan strategis yg harus diisinya demi sebuah perubahan.

Tidaklah cukup menggunakan mengekor tren atau patuh doktrin anti kemapanan buat bisa menyuarakan perubahan dalam kurun 40 tahun di tengah menjamurnya kelas menengah yg kurang peka sosial. Diperlukan bisikan hati murni seniman bagak & jiwa merdeka seorang yg berkesadaran dewasa buat bisa melakukan hal tersebut.

Hardi telah dan masih melakukannya. Ia tak ragu mengucapkan dan menuliskan ungkapan lugas di ruang publik, semisal:tidak terjadi sinkronisasi antara yang memimpin dan yang dipimpinsekelompok orang merasa paling benarpartai politik memproduksi koruptortelevisi kerjanya mengadu domba para tokoh palsu

“Maka setiap hari terjadilah ‘goro-goro’, yaitu instabilitas makro dan mikrokosmos,” demikian Hardi menyimpulkan hari-hari kekinian kita bersama. Sang pelukis senior tetap sadar panggilannya ‘meniru alam semesta’. Bila perlu, dengan disemangati oleh wangsit dari leluhur yang berada di alam lain. (Bogor, Enam Desember 2013)

Dayan D. Layuk Allo:

Pelaksana Petisi Raden Saleh 2005. Sempat belajar pada ITB dan STF Driyarkara.

Menjadi LEAD International Fellow sejak 2000.

Kini turut dalam Sustainable Bogor Initiatives (SuBI) yg dirintis sejak 2013 oleh YPB/LEAD Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *