[PIKIR] MASA DEPAN ADA DI KOMUNITAS
By: Date: April 28, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Sylvania Hutagalung

Menarik atau tidaknya hayati berbanding lurus menggunakan menarik atau tidaknya pertanyaanmu

Tahun 2016 menjadi tahun istimewa dalam dunia arsitektur, dimana seorang Alejandro Aravena, berturut-turut, tampil dalam dua panggung prestisius arsitektur dunia, yaitu dengan menjadi kurator Venice Architecture Biennale 2016 dan menerima penghargaan Pritzker dalam waktu yang berdekatan. Hal ini cukup mengejutkan karena baru kali ini seorang arsitek yang mempunyai pandangan sosialis mendapat kepercayaan setinggi itu. Apalagi di tengah konteks praktik berarsitektur yang masih didominasi pengaruh neoliberalisme. Dunia arsitektur global seperti mendapat kegairahan baru dengan pertanyaan-pertanyaan kritis Araven yang mencoba “menggoyang” karakter praktik arsitektur hari ini, yang steril dan elit. Tema kuratorialnya pun cukup mengigit dengan mengambil judul, “Reporting from the front.”

Poster primer menurut Arsitektur Biennale di Venesia 2016 menceritakan mengenai tantangan global praktik arsitektur yg semakin kompleks dan dorongan untuk berkolaborasi lintas batas.

Poster diunduh menurut www.Labiennale.Org/en/architecture/exhibition/

Reporting from the front, atau memberitakan dari garis depan, mempunyai makna bahwa arsitektur, di tengah globalisasi dan keterhubungan nir batas, harus mampu menjadi ‘alat’ yang merekam dan memberitakan kondisi-kondisi nyata yang ada di sekitarnya. Dengan mengambil analogi jurnalistik, arsitek dan kegiatan berarsitekturnya didorong untuk punya keberanian memberitakan, ketajaman dalam mengkritik, juga integritas dalam mengungkapkan fakta dan data. Analogi jurnalistik juga mengandung arti penting, yaitu arsitek menjadi “agen” yang kemudian harus berjejaring untuk bisa melakukan produksi pengetahuan bersama. Hal ini menjadi kunci karena tanpa produksi pengetahuan bersama, kegiatan berjejaring tidak akan memberikan terobosan apapun. Tema kuratorial yang digagas Araven memang banyak dikritik sebagai usaha melebarkan batas arsitektur konvensional. Ilmu arsitektur masih dianggap berada di domain ilmu keteknikan, bukan ilmu sosial atau ilmu budaya. Dengan mendorongnya ke arah ilmu sosial, banyak ahli yang khawatir arsitektur akan kehilangan “giginya”. Aravena juga dicap terlalu ambisius dengan berusaha menjawab tantangan global melalui arsitektur. Seakan arsitektur bisa menjadi pahlawan. Namun, terlepas dari semua pro dan kontra, kita harus mengakui bahwa, inilah, untuk pertama kalinya, perbincangan lintas batas terjadi di atas panggung arsitektur sekelas Venice Biennale.

Tentu, sebuah pameran tidak serta merta menjawab semua permasalahan global saat ini. Meskipun tema biennale menyerukan ajakan untuk berjejaring, pada kenyataannya jejaring justru adalah alat yang dipakai sistem neoliberalisme untuk mengakumulasi semua sumber daya ke puncak-puncak piramida. Seorang kritikus seni dari Perancis, Nicolas Bourriaud, menulis dalam bukunya Relational Aesthetics (1998) mengenai fenomena globalitas beserta eksesnya, yaitu matinya relasi-relasi sosial dalam masyarakat akibat komodifikasi. Ya, kita harus mengakui bahwa di masyarakat modern seperti sekarang pun, sekat dan kelas sosial itu masih begitu nyata. Perbincangan dan kolaborasi lintas batas masih menyisakan pertanyaan besar yang belum bisa dijawab dengan terbuka, mengenai siapakah yang diuntungkan dan siapakah yang dirugikan. Pertanyaan ini seringkali enggan dijawab karena kita sering kali terjebak pada batas, baik batas secara fisik maupun batas-batas imajiner secara sosial.

Dalam Relational Aesthetics (1998), Bourriaud berargumen bahwa praktik “seni tinggi” cenderung menjadi monopoli elit dan rawan komodifikasi. Seni partisipatoris menawarkan cara lain, yaitu memperbaiki relasi-relasi sosial yang rusak karena praktik ini melibatkan komunitas sebagai pelaku dan hanya bisa terjadi sekali, yang artinya tidak bisa dikomodifikasi.

Foto Nicolas Bourriaud diunduh dari http://www.philomonaco.com/intervenant/nicolas-bourriaud/

Kolaborasi dalam konteks masyarakat informasi bukanlah hal yang baru. Kolaborasi menjadi syarat mutlak mengingat spesialisasi keahlian adalah roda-roda kecil yang menggerakkan inovasi selama ini. Semakin spesifik sebuah keahlian semakin kecil cakupannya dan semakin dalam penggaliannya. Dengan kata lain, untuk bisa bersinergi, berjejaring menjadi syarat. Dalam tren maker semua orang bisa mempelajari apa saja, dan menjadi maker apa saja, secara MANDIRI. Keran informasi terbuka lebar, akses dan konektivitas ada dalam “jangakauan”. Kita bisa mengambil peran apapun, kapanpun, dan dimanapun. Di sisi lain kondisi ini menyisakan sebuah masalah baru dimana para spesialis tidak mampu berelasi dengan masalah-masalah di luar spektrum kerjanya. Ada keterputusan konteks yang membuat setiap orang berada dalam “gelembungnya” masing-masing. Spesialisasi tidak memungkinkan kita untuk menciptakan mesin yang besar, tapi kita bisa menciptakan sebuah komponen kecil dari mesin besar itu. Patrik Schumacher, seorang arsitek yang mendalami desain parametrik, pernah menganalogikan fenomena maker sebagai “satu komponen kecil dari sebuah mesin yang besar.” Seperti halnya tujuan globalisasi, kita semua berada di dalam “mesin besar” ini untuk tujuan-tujuan berproduksi, tanpa nilai-nilai yang signifikan terhadap relasi-relasi personal di antara para “komponennya”. Kita bergerak bersama dan membangun bersama atas nama “pertumbuhan ekonomi” tanpa pernah mengerti ke mana kita bergerak dan untuk siapa sebenarnya pertumbuhan yang sedang diusahakan ini.

Ephemeral architecture atau arsitektur yang sementara, menjadi salah satu isu yang panas di ajang Venice Biennale 2016. Arsitektur yang sementara erat kaitannya dengan kondisi kritis, perang, kebencanaan, juga kondisi alam yang ekstrim. Sekolah terapung Makokok di Lagos, Nigeria, menjadi salah satu respon terhadap tantangan perubahan iklim global. Karya ini mendapat penghargaan medali perak dalam Biennale Arsitektur di Venesia 2016.

Makoko Floating School di Lagos, Nigeria. Foto berasal dari NLÉ Facebook page untuk artnet.com, diunduh dari https://news.artnet.com/art-world/makoko-floating-school-collapses-architecture-522287

Mungkin kesadaran akan peran dan tujuan dari “komponen” inilah yang membuat tema kuratorial pada Biennale di Venesia tahun 2016 menjadi berbeda. Kolaborasi yang tadinya ditujukan bagi pertumbuhan industri dan ekonomi global, coba digeser sehingga lebih menyentuh tujuan-tujuan sosial dan pembangunan komunitas. Lalu, apakah yang harus kita bicarakan ketika kita berbicara komunitas? ‘Komunitas’ adalah topik yang asing bagi masyarakat modern yang terbiasa dengan kemudahan, dan ruang privasi yang besar. Keterhubungan tidak berbanding lurus dengan kedekatan dan relasi yang baik. Komunitas adalah antitesis dari tujuan globalisasi. Dengan memaksimalkan peran komunitas, kita sebenarnya sedang mendorong pemerataan dan akses ke sumberdaya alih-alih mengakumulasikannya ke puncak piramida. Keterhubungan dalam konteks global tidak lagi dipandang sebagai jalan untuk berproduksi lebih (to produce more) sebagaimana pola pikir masyarakat industri, namun menjadi jalan untuk memberdayakan dan menghadirkan kemandirian. Saat ini banyak bidang ilmu yang mulai berani menyentuh topik mengenai komunitas, walau sering kali masih gagap ketika harus mengurai intensi dan tujuan berkomunitas.

Peristiwa Tsunami di Aceh pada Desember 2004 menjadi titik awal kebangkitan kembali gerakan arsitektur berbasis komunitas. Karakter praktik seperti ini dahulu pernah dimulai oleh tokoh seperti Romo Mangunwijaya, dengan praktiknya di Kampung bantaran Kali Code. Saat ini, motif yang terkait kebencanaan, kekerasan, dan ketidakadilan ruang dalam lingkup urban, menjadi motif utama gerakan arsitektur berbasis komunitas di Indonesia.

Tsunami di Aceh diunduh dari https://weather.com/news/news/tsunami-debris-indonesia-10-year-anniversary

Hal ini pula terjadi pada global arsitektur. Ketika insiden berarsitektur harus melibatkan komunitas, yang terjadi justru komunitas berakhir ?Menjadi? Objek, sesuatu yang harus dibantu, perkara yg harus dipecahkan, sebuah tujuan. Komunitas sporadis dicermati sebagai pelaku menurut kolaborasi itu sendiri. Arsitektur di era terbaru hanya percaya diri ketika dia dibicarakan menjadi kerja-kerja keteknikan. Dengan kata lain arsitektur dibatasi hanya buat arsitek. Di sini arsitektur sebagai sebuah ilmu yg sangat elit, punya bahasa yg tinggi, jua sangat otonom. Arsitektur menjadi monopoli arsitek, seakan tidak terdapat orang lain yang mampu mengerti dan menguasainya selain arsitek. Dan ini sebenarnya sangat aneh mengingat ilmu ini merupakan sintesa dari seni & keteknikan, yang artinya pada dalam ilmu ini terkandung aspek-aspek menjadi ilmu sosial sebagaimana jua aspek-aspeknya sebagai ilmu terapan.

Di global arsitektur Indonesia sendiri, karakter praktik berbasis komunitas ini cukup banyak menerima perhatian, baik berdasarkan kalangan mahasiswa dan kalangan praktisi. Arsitek dan organisasi yg menentukan jalur ini jua bentuknya sangat cair dan lebur dengan organisasi kemasyarakatan. Kita bisa melihat contoh di Ciliwung Merdeka, yg lebih poly bergiat pada jalur advokasi & politik. Juga terdapat Arkom Yogya yg menentukan bergiat di jalur fasilitasi & pendampingan rakyat. Tak ketinggalan ASF-Indonesia yg masih setia bergerak di jalur arsitektural, walau karakter praktiknya sangat lentur dan mensyaratkan kemandirian dan partisipasi aktif berdasarkan komunitas yg dilayaninya.

Kegairahan seperti ini tentu menerima respon yg majemuk. Sebuah gerombolan riset arsitektur mandiri, REMBUK!, pernah melakukan pemetaan terhadap jejaring praktik dengan karakter partisipatoris, salah satunya adalah praktik arsitektur yang berbasis komunitas. Dari penelitian di tiga kota, Bandung, Solo, dan Jakarta, terlihat bahwa praktik arsitektur komunitas ini lahir menggunakan dilatari sang beberapa sebab, yaitu insiden bala tsunami pada Aceh, penggusuran yang semakin marak, dan krisis perumahan yg semakin nir terkendali. Ketiga motif ini juga yg sebagai alasan mengapa praktik arsitektur komunitas lebih poly ditemui di kota-kota akbar pada daerah Jawa.

Dari kalangan arsitek belia, tawaran buat terjun ke warga sebagai suntikan semangat di tengah kejenuhan karakter praktik khas biro. Ada sebuah ?Ruang main? Baru yg sangat cocok dengan darah muda mereka. Pun begitu dengan asosiasi seperti IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) yang mulai melirik karakter praktik seperti ini menjadi sebuah industri baru, yang diperkirakan akan lebih banyak mengambil kiprah pada global rancang bangun di masa depan.

Meski demikian, kekhawatiran tidak urung hadir, terutama berdasarkan kalangan akademisi, yg melihat bahwa praktik ini sebagai ekses menurut ilmu arsitektur yg ekspansif. Tidak adanya batas kentara tentang ?Kapan arsitek masuk dan kapan arsitek berhenti? Menciptakan semua kiprah seakan diambil oleh arsitek. Alih-alih mengembangkan tugas & berkolaborasi, arsitek dan warga sebagai satu entitas yg sama, tanpa ada keragaman keahlian yg sebenarnya disyaratkan pada partisipasi aktif di praktik arsitektur komunitas. Konsekuensinya, semua hal yg dilakukan sang arsitek dipercaya menjadi arsitektur. Dan rakyat yang ikut membentuk jua dipercaya sebagai arsitek. Etik dalam gelar ?Arsitek? Lalu sebagai sumir karena nir adanya justifikasi tentang ?Apakah arsitektur? Dan ?Siapakah arsitek?.

Kendala lain yang pula mengemuka merupakan kesamaan dunia rancang bangun buat menstandarkan praktik berarsitektur yg terdapat. Kecenderungan dari globalisasi memang akhirnya akan mendorong arsitektur komunitas buat menjadi sebuah industri baru di masa depan. Ini pula terlihat berdasarkan bisnis IAI yang mulai memasukkan pola menurut praktik ini ke dalam materi penataran tingkatan. Usaha ini dipandang oleh banyak kalangan menjadi sebuah pembacaan yg berlebihan mengingat motif ?Kebangkitan? Kembali praktik ini adalah sebuah kebutuhan yang sementara (kebencanaan, & ketidakadilan ruang). Dengan memaksakannya menjadi sebuah industri, secara nir eksklusif kita pula memelihara motifnya untuk terus ada demi keberlangsungan indutrinya, hal yang akhirnya sebagai sesuatu yang ironis.

Andrea Fitrianto, galat seorang arsitek yang banyak terjun bersama rakyat, pernah membicarakan bahwa keragaman karakter praktik dalam arsitektur di Indonesia saat ini seharusnya dipandang menjadi perluasan ?Ruang main? Saja, tanpa harus ?Menggoyang? Dasar-dasar etika praktik arsitek konvensional. Ketika di masa depan, karakter praktik ini tidak relevan lagi, maka dasar-dasar etik seorang arsitek seharusnya nir harus ikut berubah. Yang perlu diapresiasi adalah, praktik arsitektur komunitas mampu memperkaya perspektif berarsitektur, yang tadinya sangat otonom menjadi egaliter, yang tadinya sempit (menjadi ilmu membangun) sebagai luas (sebagai ruang partisipasi dalam pembangunan), & yang paling penting, arsitektur balik ke fitrahnya, menjadi ilmu yang mengakomodasi kebutuhan semua pihak. Arsitektur harus balik dicermati menjadi platform yang memungkinkan orang-orang berpartisipasi & berkolaborasi secara aktif. Arsitektur adalah indera, bukan tujuan.

Dengan kompleksitas permasalahan yg kita hadapi kini , dimana satu perkara berpilin erat menggunakan masalah lain, sulit buat melihat masa depan yang lestari jika kita masih bergantung dalam satu sosok pahlawan buat merampungkan semua perseteruan kita. Kita adalah bagian menurut perkara, & menggunakan kesadaran ini jua kita mengakui bahwa kita merupakan bagian berdasarkan penyelesaiannya. Kita seluruh, sebagai bagian menurut komunitas.

Ironi warga informasi merupakan, keterhubungan nir berbanding lurus dengan kedekatan. Peristiwa ?Terhubung satu sama lain? Bukanlah peristiwa yg didasari oleh inisiatif individunya, tapi menjadi kondisi yg tak terhindarkan. Kualitas relasi nir semakin baik lantaran tidak terdapat tujuan-tujuan bersama yg ingin dicapai. Globalisasi sebagai keniscayaan & kita semua ikut bergulir bersamanya. Banyak pakar beropini bahwa masa depan terdapat di komunitas. Komunitas bukan saja sebuah bentuk ?Perlawanan? Terhadap sistem dunia. Komunitas juga merupakan arena belajar nyata, dimana kita bisa terhubung langsung dengan tantangan praktis dan informasi-info lokal. Ini adalah jangkar yg membawa kita menjejak balik ke akar-akar masalah kita, pangkal yg wajib kita tilik sebelum meloncat ke pencarian solusi. Berjejaring tidak lagi wajib dipandang sebagai sebuah mesin besar dimana kita seluruh berada di dalamnya. Berjejaring seharusnya dipandang menjadi formasi komunitas-komunitas berdaya yg saling menguatkan satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *