[Opini] Seni yang Merakyat
By: Date: May 14, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Selly Agustina

Bagi saya, sebagai pengamat dan pelaku seni, adalah  suatu kesenangan dan  kepuasan hati ketika dapat menuangkan ekspresi diri saya dalam kegiatan melukis, bermain musik atau menulis. Kenikmatan dalam mengekspresikan diri melalui seni tentu dialami oleh orang lain juga. Orang-orang yang menyebut dirinya seniman, mengekspresikan diri melalui seni, dan mencapai aktualisasi di bidang ini.

Namun demikian, pernahkah pembaca  berpikir bahwa seni bisa mempengaruhi suatu tatanan politik dan sosial di dalam masyarakat? Meski banyak kalangan seniman mempertahankan karya seninya bebas nilai, namun perkembangan seni kontemporer saat ini  tidak terlepas dari pengaruh sistem sosial dan politik yang ada.

Kita jangan lupa dalam masa revolusi kemerdekaan di tahun 1945, bahwa

seni muncul di tembok-tembok bangunan dengan kata-kata bersifat agitatif seperti: “Merdeka atao emati!” “Oesir Kompeni!” dan lain-lain. Kata-kata dengan esensi yang sama juga muncul pada karya Affandi yaitu “Boeng, ajo Boeng!” Kekuatan perpaduan antara gambar dan kata-kata bisa menggerakkan kepekaan seseorang terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Di sini kita lihat fungsi seni sebagai media komunikasi.

Seni kontemporer muncul dari sekelompok seniman yang mencetuskan jalan alternatif sebagai bentuk perlawanan terhadap seni modern yang terkesan ekslusif. Meskipun hanya sebagai alat atau media, seni ternyata juga berperan dalam propaganda atau advokasi yang berpotensi mempengaruhi perubahan sosial.  Akhir-akhir ini, kita sering melihat seni pertunjukan (performance art) pada kegiatan demonstrasi para aktivis, dan hal ini mengundang rasa ingin tahu khalayak.

Seni mural atau graffiti adalah bentuk perlawanan lainnya. Namun, ada pihak tertentu menganggap bahwa seni mural adalah bentuk vandalisme, merusak estetika bangunan dan fasilitas umum. Ada yang menganggap graffiti lahir karena kurangnya ruang publik untuk berekspresi di tengah arus komersialisasi oleh korporasi atas ruang-ruang publik.  Di sisi lain, saat ini ruang-ruang publik kita sudah dipenuhi oleh polusi visual berupa baliho caleg ataupun iklan-iklan produk yang mendorong pada budaya konsumerisme.

Seni Mural di Babakan Siliwangi, Bandung. Sumber : www.Bandungview.Isu

Seni yang disebut di atas muncul dan berkembang pesat di belahan bumi lain seperti Eropa dan Amerika sejak tahun 80-an, yang dikenal dengan istilah street art. Salah satu yang menjadi favorit saya yaitu Banksy, seorang seniman jalanan sekaligus aktivis yang vokal menyuarakan isu politik maupun lingkungan melalui karyanya di jalanan London. Seniman graffiti tersebut tidak pernah diketahui wujud aslinya tetapi ketenarannya melebihi selebriti sehingga karyanya memiliki nilai jual sampai jutaan dolar.

Di Bandung sendiri ada nama Arman Jamparing yang mengundang kekaguman saya berikutnya. Seniman yang sudah aktif turun ke jalan sejak masa reformasi itu lebih memilih untuk menyalurkan keprihatinannya terhadap kondisi sosial-politik lewat coretan-coretan di ruang publik. Akhir November lalu saya berkesempatan menghadiri pameran seni karya Arman Jamparing di sebuah galeri seni besar dan terkenal di Bandung.  Pameran seperti ini tentu memberi peluang bagi keprihatinan Arman Jamparing untuk disebarluaskan kepada khalayak, bahwa ruang publik pun dapat dimanfaatkan secara elegan untuk meneriakkan keprihatinan sosial politik melalui seni. Keprihatinan tak lagi hanya dimiliki oleh seniman tersebut, tetapi meluas ke audiens yang menghadiri pameran tersebut.

Di bidang musik, ada Kartika Jahja atau lebih dikenal dengan panggilan Tika, seorang vokalis dari sebuah grup musik Tika and The Dissidents. Selain menjadi vokalis, Tika dikenal sebagai aktivis perempuan yang concern terhadap isu gender dan persamaan hak. Tika menulis sendiri lirik dalam lagu-lagunya. Sebut saja lagu “Mayday” yang bermuatan kritik politik yang tajam dalam membela kaum buruh. Mungkin banyak yang kurang mengenalnya di dalam negeri, tetapi lagunya menarik perhatian banyak orang di mancanegara bahkan menjadi lagu resmi serikat buruh di Detroit pada hari buruh. Tidak perlu disangsikan lagi kualitas musikalitas dan intelektualitas Tika yang merupakan lulusan Seattle ini. Dia mendapat banyak pujian dari para kritikus musik karena berhasil menggabungkan berbagai macam aliran music seperti jazz, blues, dan tango, dengan lirik yang kritis.

Yayak Yatmaka, seseorang artis lukis yang jua menciptakan lagu-lagu yg berpihak pada rakyat. Lukisan-lukisannya mencerminkan kritik kerasnya terhadap pemerintah, terutama pemerintah Orde Baru. Lagu-lagu ciptaannya dinyanyikan dan disebarluaskan oleh para aktivis mahasiswa maupun pendamping masyarakat, bahkan acapkali dinyanyikan pada ketika demonstrasi buat menyalakan semangat para demonstran, seperti lagu ?Topi Jerami?, ?Rakyat Bersatu?, ?Buruh Bersatu Tak Bisa Dikalahkan? Dan lainnya.

Beliau tahu betul, bahwa media seni, dalam hal ini ia menggunakan media gambar sebagai ‘senjata’nya untuk berjuang menyuarakan keprihatinan sosial dan politik. Berikut adalah cuplikan tulisan dari buku yang ditulisnya, “Aku berharap segala pemahaman yang diperoleh dari buku ini bisa menjadi landasan untuk menentukan pilihan keberpihakan dan penyadaran diri serta selalu awas. Setidaknya menjadi bahan untuk katarsis. Jadi tahu, bahwa di sebalik gambar, memang nyata persoalan hidup mati manusia. Bisa menjadi alat untuk memperjuangkan kehidupan bersama menjadi lebih bermartabat.”

Karya Yayak Yatmaka. Sumber : yayak-yatmaka.Blogspot.Com

Tak sedikit karya seni yang menyuarakan keprihatinan sosial maupun lingkungan mendapat kecaman dari pihak yang merasa digugat. Bahkan tak sedikit pula yang dikejar-kejar oleh pihak berwenang di jaman itu, dengan maksud untuk membungkam ekspresi seniman tersebut.  Penguasa yang diktator tentu tak ingin rakyat bangkit melawan penindasan dan ketidakadilan.Seniman yang berpihak pada rakyat lemah  memandang seni sebagai corong ekspresi jiwa, meneriakkan kegelisahan yang mereka rasakan. Mereka turut peduli dengan fenomena sosial, lingkungan maupun politik melalui karya seni mereka. Kesemuanya itu adalah ekspresi kegelisahan jiwa mereka atas peristiwa maupun fenomena yang tengah berlangsung di sekitar mereka.

Di sisi lain, rakyat memang perlu diajak buat peduli. Masyarakat perlu menuntut hak mereka buat terlaksananyapemerataan keadilan, terhindar berdasarkan penindasan & terlepas berdasarkan perbudakan. Menggugah masyarakat melalui sebuah karya seni merupakan salah satu pilihan, & sesungguhnya merupakan suatu bentuk kebebasan pada berekspresi setiap masyarakat negara.

Adalah pekerjaan rumah bagi kita seluruh, untuk mempertahankan karya seni yg bisa menyuarakan keprihatinan masyarakat. Para artis menggunakan karya seninya beserta-sama menggunakan rakyat perlu manunggal dalam arah perjuangan yg sama. Seni dan rakyat perlu saling melengkapi, lantaran seni adalah ekspresi yang otentik menurut jiwa manusia. Seni menjadi indera buat memanusiakan insan. Seni yang hakiki adalah seni yang peduli dalam pemerataan keadilan dan pemenuhan hak asasi insan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *