[PIKIR] Beda Cara Belajar Beda Tindakan
By: Date: May 18, 2018 Categories: Uncategorized

Cara belajar setiap orang tidak sama satu sama lain. Selain dipengaruhi oleh faktor genetis, cara belajar kita jua dibuat sang faktor lingkungan yang turut membangun norma kita antara lain melalui anggaran-aturan sekolah, keluarga & warga . Perbedaan cara belajar ini dalam akhirnya akan mensugesti cara kita bertindak dan menanggapi sesuatu. Banyak pertarungan terjadi dampak perbedaan cara belajar ini, misalnya pertarungan antara anak & orang tua; antara suami-istri; antara pemerintah menggunakan masyarakat juga antara aktivis pendamping lapang dengan rakyat dampingannya. Lantaran respon anak tidak sinkron menggunakan asa orang tua maka orang tua berpikir bahwa anaknya nakal, pembangkang dan susah diatur. Lantaran lebih senang menjawab soal menggunakan caranya sendiri, seorang siswa lantas dipercaya kurang pandai sang gurunya dan lantaran nir menciptakan tanggapan sesuai asa seseorang gadis menduga kekasihnya sudah tidak mencintainya lagi. Masih poly lagi konflik dan perseteruan yg timbul dampak disparitas cara belajar ini.

Tulisan ini mengangkat model cara belajar kombinasi yg diteliti sang Dr. Anthony F. Gregorg. Model ini merupakan galat satu model yg paling efektif buat tahu disparitas cara belajar. Model ini dibangun berdasarkan kombinasi cara kita memandang dilema (persepsi) & cara kita menyusun informasi yg kita terima.

Cara Memandang Persoalan (Persepsi)

Kita memandang dunia menurut persepsi kita. Persepsi itu nir sama buat setiap orang. Persepsi ini akan mensugesti kita dalam memahami sesuatu & mengambil tindakan atas sesuatu. Ada dua kualitas persepsi yg dimiliki oleh setiap orang, yaitu persepsi nyata & persepsi abstrak.

Kualitas persepsi nyata memungkinkan kita langsung menyerap kabar yg diterima oleh panca indera. Kita melihat segala sesuatu misalnya apa adanya. Kita nir mencari makna yg tersembunyi pada pulang suatu peristiwa atau mencoba menggali penyebab-penyebab menurut suatu pertarungan.

Kualitas persepsi abstrak memungkinkan kita menggali lebih jauh makna berdasarkan suatu peristiwa, membuat visualisasi maupun mencari inspirasi-pandangan baru baru pada luar hal-hal yang secara eksklusif ditangkap sang panca indera. Bagi orang yg memakai persepsi tak berbentuk, segala sesuatu tidak selalu tampak misalnya kelihatannya.

Cara Penyusunan Informasi

Penyusunan warta adalah cara kita menggunakan kabar yang kita terima. Menurut Gregorc cara penyusunan berita bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu sekuensial (urut, runtut, teratur) & rambang (random).

Kemampuan sekuensial memungkinkan kita berpikir secara logis. Informasi akan disusun secara teratur & bertahap. Mereka yang dominan kemampuan sekuensialnya, umumnya melakukan perencanaan sebelum melakukan tindakan.

Kemampuan rambang menyusun kabar secara serabutan & tidak teratur. Kemungkinan ada beberapa hal yang terlewati. Bagi mereka yang lebih banyak didominasi kemampuan acaknya terkesan impulsif, tidak berpikir panjang dan yg krusial bagi mereka merupakan selesai, ad interim tahapan penyelesaian tidak menjadi perkara.

Model Kombinasi Gregorc

Gregorc memodelkan cara belajar sebagai kombinasi cara memandang duduk perkara & cara menyusun keterangan. Kombinasi tadi dikenal sebagai: Sekuensial Konkret (SK), Sekuensial Abstrak (SA), Acak Konkret (AK) & Acak Abstrak (AA).

Keempat kemampuan ini terdapat pada setiap orang, hanya kadarnya buat setiap tipe bhineka. Berikut ini merupakan ciri secara umum dikuasai berdasarkan keempat contoh cara belajar tadi.

1. Sekuensial Konkret

Orang-orang yg dominan kemampuan sekuensial konkretnya biasanya giat, tradisional, sangat cermat, stabil, bisa diandalkan, konsisten, berpegang dalam fakta dan teratur. Mereka sangat baik pada menerapkan gagasan-gagasan dengan cara yang mudah, efisien & hemat. Mereka umumnya tepat waktu. Mereka juga mempunyai kemampuan buat melahirkan gagasan konkret berdasarkan sesuatu yang abstrak. Biasanya mereka bekerja secara sistematis, sedikit demi sedikit mengikuti jadwal & detil. Mereka suka melakukan sesuatu secara rutin & teratur. Dengan norma ini, mereka akan kesulitan menghadapi lingkungan yang berantakan, dialog yang nir kentara arahnya serta mengikuti perintah yang tidak kentara.

Dua. Sekuensial Abstrak

Orang-orang yang secara umum dikuasai kemampuan sekuensial abstraknya umumnya analitis, obyektif, berpengetahuan luas, teliti, rapi, logis, hening dan hati-hati serta sistematis. Mereka sangat baik pada pekerjaan-pekerjaan penelitian, misalnya mendeskripsikan urutan peristiwa dalam suatu urutan yg logis, menggunakan kabar buat mengambarkan atau menyanggah teori & menganalisis gagasan. Mereka mengumpulkan data-data sebelum merogoh keputusan & menyelesaikan segala sesuatu sampai tuntas. Mereka akan putus harapan apabila saat yg diberikan buat menuntaskan pekerjaan tidak cukup, mengulang-ulang pekerjaan yg sama, berpikir sentimentil atau wajib menunda diri untuk tidak membicarakan gagasan pada kurun saat yang usang.

Tiga. Acak Konkret

Orang-orang yang secara umum dikuasai kemampuan acak konkretnya umumnya bertindak dengan cepat, mengikuti istilah hati, selalu ingin tahu, realistis, mempunyai daya cipta, inovatif, naluriah dan sangat berani. Mereka mempunyai poly gagasan kreatif dan melihat banyak cara lain solusi & cara-cara baru buat menuntaskan dilema. Mereka bisa mengilhami orang lain buat bertindak. Mereka mau merogoh resiko dan bisa mengambil keputusan dengan cepat. Keputusan ini sebagian besar berdasarkan dalam nalurinya & bukan dari perhitungan yg cermat akan data dan fakta yang mendukungnya. Mereka akan putus harapan jika nir mempunyai pilihan, wajib membuat laporan formal, menghadapi hal-hal rutin, mengulang sesuatu yang pernah dilakukan maupun mengungkapkan alasan berdasarkan keputusan/jawaban eksklusif.

4. Acak Abstrak

Orang-orang yang dominan kemampuan rambang abstraknya umumnya peka, penuh belas kasih, cepat tahu, imajinatif, idealis, sentimentil, spontan dan fleksibel. Mereka mempunyai karunia untuk mendengarkan orang lain dengan benar-benar-benar-benar & menciptakan suasana damai menggunakan orang lain. Mereka menyadari kebutuhan orang lain & gampang menjalin persahabatan. Mereka menganggap krusial perasaan dan emosi dan memberikan perhatian dalam tema serta gagasan. Mereka menyelidiki sesuatu dengan caranya sendiri dan merogoh keputusan dari perasaan. Mereka akan frustasi bila harus menyebutkan alasan mengapa mereka melakukan/memutuskan sesuatu, berkompetisi, menerima kritikan dan berfokus hanya dalam satu hal setiap ketika.

Apa gunanya mengetahui disparitas cara belajar?

Banyak konflik ditimbulkan sang disparitas cara belajar. Misalnya seorang mak yg sekuensial nyata akan merasa anaknya yg acak konkret sebagai anak yang semaunya sendiri & susah diatur. Bagi orang sekuensial konkret, hayati teratur dan rapi sangat menyenangkan, sementara buat orang rambang nyata menjadi rapi & teratur merupakan sesuatu yang menyebalkan dan membebani. Dengan tahu cara belajar sang anak, si ibu bisa lebih tahu bahwa buat memenuhi tuntutannya sang anak membutuhkan usaha yang luar biasa keras. Dengan demikian beliau akan lebih toleran terhadap kesemrawutan-kesemrawutan mini yg sesekali dilakukan anaknya.

Permasalahan lain yang mungkin ada merupakan antar pasangan. Seseorang yg rambang abstrak lebih memakai perasaannya pada melakukan sesuatu & bagi mereka perhatian terhadap orang adalah sangat krusial. Jika orang ini memiliki pasangan sekuensial tak berbentuk, mungkin ia akan berulangkali merasa kecewa akan tingkah laku pasangannya yang kurang perhatian, kurang tanggap akan perasaannya & selalu menuntut argumen yg rasional menurut setiap keputusan yang diambil. Sementara itu pasangannya akan merasa ia terlalu menuntut, tidak rasional & kurang mempercayai cintanya. Dengan tahu disparitas cara belajar, pasangan ini akan lebih maklum menggunakan apa yang dilakukan sang pasangannya dan tidak selalu mengartikan perilaku-perilaku yang tidak sesuai menggunakan asa menjadi aktualisasi diri nir mengasihi juga sengaja membuat kesal/mengecewakan.

Contoh yg lain merupakan antara guru menggunakan siswa. Sistem pendidikan zaman sekarang cenderung menggunakan pendekatan disiplin & cara berpikir yang runtut buat memahami pengetahuan. Pendekatan ini menguntungkan anak-anak yang memiliki kombinasi dominan sekuensial nyata & sekuensial tak berbentuk. Anak-anak yang sekuensial konkret akan dengan mudah mengikuti keteraturan aturan-aturan sekolah. Sementara anak-anak yg sekuensial abstrak dapat dengan mudah mengikuti pelajaran yg membutuhkan analisis. Sedikit sekali perhatian diberikan buat seni & cara berpikir kreatif yg cocok buat anak-anak acak abstrak & aca konkret. Bagi anak-anak menggunakan cara berpikir acak, sekolah formal merupakan belenggu yang membosankan. Beberapa mereka memperoleh cap sebagai anak nakal atau anak udik. Padahal sebenarnya belum tentu demikian. Mereka sebagai demikian lantaran cara belajar yg diterapkan di sekolah tidak cocok menggunakan cara belajar mereka. Sekolah menjadi siksaan. Guru-guru yang tahu disparitas cara belajar ini akan lebih toleran terhadap perilaku anak-anak ini & berusaha mencari cara kreatif buat mengakomodasi perbedaan cara belajar ini.

Contoh lain yang mungkin relevan buat kita menjadi aktivis, contohnya perbedaan cara belajar antara seorang pendamping lapang menggunakan rakyat lokal dampingannya. Jika seorang pendamping mempunyai cara belajar mayoritas sekuensial tak berbentuk, mungkin nir cocok buat mendampingi warga yg konkret & acak. Orang sekuensial abstrak cenderung banyak bicara untuk menyebutkan hal-hal yang diketahui & tak jarang menggunakan bahasa yg sulit dimengerti. Masyarakat yg tidak terbiasa berpikir panjang akan kesulitan mengikuti apa yang diterangkan sang oleh pendamping dan akhirnya mengangguk-angguk namun kurang mengerti atau malah mengantuk. Akhirnya program yang direncanakan tidak berjalan lantaran warga nir paham. Orang yang sekuensial abstrak pula kurang sanggup berempati pada sesama, sebagai akibatnya tak jarang kurang tanggap akan kebutuhan orang-orang di sekelilingnya. Sehingga apabila orang tipe ini sebagai pendamping kemungkinan ia akan kesulitan memahami impian & perasaan yang berkembang di masyarakat dampingannya.

Bagaimana kita bersikap terhadap perbedaan cara belajar?

Masih banyak lagi contoh masalah atau permasalahan yg disebabkan sang disparitas cara belajar ini. Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan ini?

Pertama, kita perlu menyadari cara belajar kita sendiri. Dari sana kita bisa mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kita. Setelah itu, kita perlu menyadari, menerima kenyataan dan menghargai disparitas cara belajar setiap orang. Dengan bekal itu, kita dapat mengikuti keadaan dan bahkan memanfaatkan perbedaan-disparitas itu.

Misalnya apabila kita pada satu kerja tim, maka pembagian tugas bisa disesuaikan menggunakan cara belajar setiap anggota. Orang yang sekuansial tak berbentuk mendapat tugas buat menciptakan analisis atau menciptakan konsep aktivitas. Orang yang sekuensial nyata diberi tugas buat melaksanakan acara sebagai ketua . Orang-orang yang rambang tak berbentuk bisa diminta bekerja di bidang yang mengurus orang-orang sementara mereka yg acak konkret dapat diminta masuk pada tim kreatif. Harapannya mereka seluruh akan menikmati pekerjaannya. Dengan demikian tim bisa menghasilkan kinerja terbaiknya dan pertarungan dapat dihindari.

Contoh lain merupakan pada relasi antara pasangan hayati. Memahami cara belajar masing-masing membuat kita tahu hal-hal apa yg membuat pasangan kita senang atau tertekan. Dengan demikian kita dapat lebih mudah memilih bantuan gratis yg cocok atau merancang program liburan beserta yg pas. Kita lebih mengetahui apa saja yg menciptakan pasangan kita bahagia dan kebalikannya. Saling tahu bisa lebih gampang dilakukan & kompromi bisa lebih mudah tercapai.

Jadi, sudahkah anda mengenali cara belajar anda?

(Any Sulistyowati)

Referensi:

Tobias, Cynthia Ulrich. Cara Mereka Belajar. Jakarta: Fokus Pada Keluarga, 2000.

DePorter, Bobbi & Mike Hernacki. Quantum Learning. New York: Dell Publishing, 1992. (Edisi Indonesia diterbitkan oleh MIZAN).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *