[Profil] Nenek Della; Tak Tunduk Pada Usia Tak Takluk Pada Hidup
By: Date: May 19, 2018 Categories: Uncategorized

Dalam satu masa kehidupan seseorang, ada kalanya seseorang ’terduduk kalah atas hidupnya sendiri’. Ada yang tetap ’duduk’, meratap, menangis meraung tanpa berusaha untuk bangkit melupakan penderitaan dan menatap masa depan. Namun, sosok lembek seperti itu tidak akan kita temui pada profil Proaktif kali ini, Nenek Della, seorang pemimpin kampung (community leader, CL) UPC Jakarta.

Penderitaan dan murung bertubi-tubi sempat menghampiri Nenek Dellayang dilahirkan pada hari terakhir (31 Desember) tahun 1950 pada Palembang ini. Ia pernah merasa hidupnya musnah & sudah tidak ada masa depan lagi buatnya. Beberapa teman, Rasdullah dan istrinya, selalu menyemangati Nenek Della buat bangkit, untuk tidak selalu bersedih. Caranya yaitu menggunakan berorganisasi. Harapannya, menggunakan bertambahnya teman & kesibukan, tentunya kesedihan lama kelamaan akan hilang. Nenek Della diajak bergabung dalam kegiatan-aktivitas UPC.

Akhirnya Nenek Della mulai ikut pada kegiatan-aktivitas UPC. Pada awalnya ia susah menyesuaikan diri. Tapi lama kelamaan dia makin tertarik menggunakan kegiatan-kegiatan pada UPC dan sedikit-sedikit mulai melupakan kesedihannya. Kegiatan pertama yang diikutinya adalah gerombolan tabungan. Sekarang beliau masuk ke bagian advokasi.

Pekerjaan sehari-hari Nenek Della selain aktif di UPC adalah, mengerik dan mencuci kemasan gelas air mineral. Untuk 2000 kemasan (1000 ngerik ditambah 1000 nyuci) ia dibayar sebesar Rp. 10 000,-. Uang ini tidak hanya untuknya, tetapi juga untuk menghidupi satu anak, satu menantu dan tujuh orang cucu. (Satu orang menikmati Rp. 1000,-/harinya).

Nenek Della, sangat bangga kepada cucu-cucunya. Cucu-cucunya yang tidak hanya berpangku tangan melihat keadaan hidup mereka. Seperti cucunya yang tertua, Peggi, kelas 2 SMU, dibebaskan dari membayar uang sekolah karena tidak segan membantu pihak sekolah membersihkan kelas-kelas di sore hari. Bukan hanya Peggi yang tidak perlu membayar uang sekolah, seorang adiknya yang bersekolah di sana pun kecipratan.

Cucu Nenek Della yang lain, Angga, kelas lima Sekolah Dasar, tidak segan mencari ikan ke pelelangan di dekat tempat tinggal mereka yang berada di Kebon Tebu, Muara Baru, Jakarta Utara. Ikan-ikan tersebut lalu dijual & umumnya Angga berhasil membawa uang Rp.6 000,- sampai Rp.7 000. Uang tadi nir dipakai buat jajan, tetapi untuk membayar uang sekolah.

Kebanggaan dan sayang yang teramat buat cucu-cucunya ini yg membuat Nenek Della permanen semangat untuk terus berjuang buat melawan ketidakadilan ataupun perlakuan semena-mena menurut penguasa terhadap masyarakat miskin kota.

?Situasi yg membuatku tetap semangat buat berjuang di UPC… Lantaran bukan hanya untukku, tetapi pula buat anak cucuku. ?

Meskipun, tanda-indikasi tidak muda lagi sudah sangat terlihat dalam sosoknya. Rambut yang telah nir hitam lagi, kulit yang sudah poly keriput atau pun gigi yang sudah tidak lengkap lagi. Usia yg sudah senja dan fisik yg tak kokoh lagi itu, tidak mensugesti semangatnya, nir mengurangi lantang suaranya saat berorasi mendemo penguasa & tidak mengurangi kegesitannya mengunjungi rakyat miskin kota lain yg menjadi korban kesewenang-wenangan penguasa.

Tekad sudah bulat, ”selama masih bernafas, tidak akan berhenti berjuang”.

Nenek Della, sosok aktivis wanita yg tak tunduk dalam usia, pun tidak takluk pada hayati. (Lola)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *