[Masalah Kita] Benarkah aktivis selalu bermasalah dengan keluarga?
By: Date: May 23, 2018 Categories: Uncategorized

MASALAH-MASALAH AKTIVIS

Gerakan mahasiswa berkembang sangat pesat pada saat bergulirnya berita reformasi. Salah satu titik klimaks gerakan mahasiwa terjadi pada bulan Mei 1998, yakni pada saat mahasiswa melakukan pendudukan gedung DPR/Majelis Permusyawaratan Rakyat, menuntut mundurnya Soeharto. Hingga kini gerakan mahasiswa masih terus bergulir, & bahkan demonstrasi menjadi wahana komunikasi yang dirasa relatif efektif sang sebagian akbar orang, terutama ketika mengalami kebuntuan komunikasi.

Berbagai sinyalemen & komentar menurut tokoh pun timbul terhadap gerakan mahasiswa tersebut, misalnya Eep Saefulloh Fattah. Dalam sebuah tulisan surat warta dikatakan sang beliau bahwa gerakan mahasiswa merupakan gerakan yg sebetulnya lumrah tetapi sayang seringkali dilakukan secara tergopoh-gopoh. Hal ini ditegaskan juga oleh seseorang pengamat gerakan mahasiswa menurut kalangan mahasiswa sendiri, yang mengatakan bahwa acapkali gerakan mahasiswa terjebak dalam kerangka ?Ketidaksabaran?.

Ketergopoh-gopohan & ketidaksabaran tadi bukanlah merupakan fenomena sosial semata. Namun bila diamati lebih jauh, kondisi tadi dapat menyiratkan adanya ekspresi ketidakmatangan yang secara kolektif melanda para aktivis gerakan mahasiswa.

Berbagai pengalaman perjumpaan secara personal kiranya dapat semakin menguatkan hal tersebut pada atas. Seringkali dijumpai seseorang aktivis mahasiswa yang di depan podium bisa bersuara menggunakan lantang, menyuarakan bunyi rakyat, namun menjadi eksklusif yg begitu pemalu, ragu-ragu, pesimis, dan begitu tertutup ketika harus berhadapan seseorang diri dengan sekelompok orang-orang baru.

Mantan seorang koordinator gerakan mahasiswa di Surabaya, mengungkapkan bahwa homogen-homogen aktivis gerakan mahasiswa kurang mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan aktivitasnya, terutama menggunakan pihak keluarga. Hal ini ditimbulkan adanya perbedaan cara pandang akan makna tugas dan kewajiban mahasiswa, perbedaan kepentingan antara orang tua dengan si anak, dan disparitas orientasi.

Hal-hal tadi pada atas semakin meruncing menjadi sebuah pertarungan, waktu akhirnya aktivis lebih menentukan melakukan menggunakan pilihannya sendiri daripada mengkomunikasikan namun ujung-ujungnya berkonflik. Aktivis sebagai orang belia tentu mempunyai kebutuhan buat menunjukkan eksistensi diri, buat mengaktualisasikan kemampuan & asa eksklusif. Pertanyaannya adalah sejalankah kebutuhan aktivis menjadi orang belia ini dengan famili?

Terkomunikasikan secara terbukakah impian-cita-cita aktivis menjadi langsung yang sedang berkembang ini?

TUNTUTAN KELUARGA

Keluarga, khususnya orang tua merupakan figur yg kiranya paling bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya. Masa depan seorang anak adalah tidak terlepas berdasarkan proses pendidikan yg ditempuhnya serta pola pergaulan yang melingkupinya. Hal ini lantaran pola pendidikan dan pola pergaulan merupakan merupakan faktor yg memberikan kontribusi relatif besar bagi terbentuknya pola pikir seorang akan masa depan, bahkan lebih jauh akan makna kehidupan seorang.

Oleh karenanya, lumrah kiranya apabila proses pendidikan formal menjadi tolok ukur bagi para orang tua akan keberhasilan seorang anak. Orang tua akan merasa lega, merasa berhasil, & merasa telah merampungkan tugas dan tanggung jawabnya adalah ketika melihat si anak mampu menuntaskan pendidikan formalnya serta memperoleh pekerjaan yg sinkron dengan bidang keilmuan dengan kompensasi yang layak. Ringkasnya kerangka berpikir keberhasilan para orang tua merupakan ketika si anak bisa hayati misalnya orang lain, hayati seperti masyarakat pada umumnya.

Sehingga, untuk mendukung keberhasilan tadi, tak jarang kita jumpai para orang tua yg rela bekerja keras, bahkan mungkin rela buat berpisah dengan keluarga dalam kurun saat yg cukup usang, demi merogoh tanggung jawab menjadi orang tua.

Paradigma keberhasilan tadi semakin dikuatkan juga sang harapan dan penilaian dari warga . Bagi orang tua keberhasilan dan kegagalan dalam mendidik anak sebagai hal yg sangat krusial, lantaran kerangka berpikir keberhasilannya dalam mendidik & membesarkan anak, akan sangat mempengaruhi bagaimana masyarakat memandang dan memberikan evaluasi terhadap suatu keluarga tertentu.

Wajar kiranya, bila lalu para orang tua menuntut si anak buat ?Membalas?Segala jerih payah tadi. Tuntutan yg sebenarnya tidak begitu tinggi. Tetapi permasalahannya adalah terletak pada kerangka berpikir keberhasilan, bahkan lebih jauh merupakan paradigma ?Balasan? Atas budi jasa para orang tua.

FAKTA AKTIVIS DI INDONESIA

Hasil penelitian yang dilakukan sang Patricia Siswandi terhadap 10 orang responden yg dari berdasarkan aneka macam wilayah yg beredar pada daerah Jawa Timur, menyampaikan bahwa 9 orang responden mempunyai masalah dalam hubungannya menggunakan keluarga. Area pertarungan yg terungkap pada penelitian ini jumlah terbesar adalah area pertarungan menggunakan keluarga, daripada menggunakan sahabat atau menggunakan pihak atasan atau pimpinan kerja.

Sementara itu penelitian tersebut juga melihat lebih jauh kebutuhan-kebutuhan fundamental yang terpendam dalam diri 10 orang responden tersebut. Ditemukan bahwa sebagian besar responden mempunyai kebutuhan yg rendah untuk beprestasi, namun justru kebutuhan buat menerangkan keberadaan diri yg cukup tinggi.

Artinya, aktivis-aktivis mahasiswa di Indonesia adalah adalah gugusan orang-orang belia, yg mempunyai impian yg relatif besar buat menerima pengakuan baik pada lingkungan pergaulan, lingkungan keluarga, juga lebih jauh lingkungan sosial. Komunikasi yg nir pernah tuntas pada lingkup keluarga, menyebabkan aktivis lebih memilih mencari media-media lain di luar lingkungan famili, yg lebih sanggup menaruh kenyamanan baik secara batin maupun fisik kepada para aktivis.

Hal ini sebagai ironis, manakala kebutuhan eksistensi diri tadi nir diimbangi oleh adanya kebutuhan berprestasi. Sehingga, kebutuhan akan pengetahuan bukan menjadi hal yang krusial. Ketika yang terjadi demikian, maka semakin kuatlah konklusi bahwa kebutuhan keberadaan diri yg sangat tinggi pada kalangan para aktivis di Indonesia, merupakan dikarenakan nir terpenuhinya kebutuhan keberadaan ini di lingkup terkecil, yakni keluarga, dan bukan berangkat dari pemaham utuh akan kepedulian ataupun keberpihakan dalam dilema masyarakat luas.

Sehingga tidaklah mengherankan, apabila sebagian besar aktivis mahasiswa kurang memiliki pencerahan yang tinggi terhadap motivasi yang melatarbelakanginya buat terjun ke dalam global gerakan. Pertanyaan-pertanyaan senada, umumnya lebih sering kita dengar menggunakan jawaban: lantaran hobby, lantaran diajak teman, karena suka , & sebagainya.

Oleh karenanya, lumrah kiranya ketika warna berdasarkan gerakan mahasiswa pada Indonesia, dinilai oleh beberapa pengamat sebagai gerakan yg tergopoh-gopoh, gerakan yang kurang diikuti oleh sebuah pemikiran jernih, yg berfokus dalam kepentingan jangka panjang.

JALAN KELUAR

Suatu ungkapan sederhana yg kiranya perlu direnungkan bersama,?Orang tua pernah menjadi anak-anak pada jamannya, tetapi anak-anak belum pernah sebagai orang tua?. Pokok pertarungan, kesenjangan komunikasi yang terjadi di kalangan famili para aktivis, sering ditimbulkan oleh para orang tua memperoleh informasi terbanyak menurut pengamatan-pengamatan yg tampak berdasarkan luar, didukung juga sang pemberitaan-pemberitaan media massa.

Konfirmasi yg dilakukan para orang tua terhadap anak-anaknya yang terjun dalam dunia gerakan mahasiswa, acapkali tidak menemukan jalan keluar, hal ini dikarenakan para aktivis tak jarang mengalami hambatan utnuk menyebutkan alasan mengapa global gerakan mahasiswa sebagai krusial bagi dirinya.

Bagi orang tua yang tampak adalah pendidikan formal yg seharusnya penting, justru ditinggalkan sang anak-anaknya yg terjun pada dunia gerakan mahasiswa. Dunia gerakan yg penuh menggunakan resiko, bahaya, justru menjadi pilihan anak-anaknya. Pertanyaan yg seringkali tidak terjawab bagi para orang tua merupakan mengapa demikian?

Komunikasi yg terputus, menyebabkan orang tua mencari memahami menggunakan caranya sendiri, akhirnya yg diketahui adalah fakta dari luar diri si anak. Oleh karenanya komunikasi dalam lingkungan keluarga para aktivis dapat jalan manakala seseorang anak bisa mengkomunikasikan motivasi dasar yang timbul pada dirinya, yang menggerakkan dirinya buat terjun dan berbuat sesuatu yg lebih nyata dalam warga .

Pilihan antara sekolah formal & global gerakan mahasiswa adalah sesuatu yang sulit, satu sama lain saling menaruh donasi bagi perkembangan seseorang. Pendidikan formal sanggup menaruh pengetahuan secara tak berbentuk, dan dunia gerakan mahasiswa justru adalah media untuk melakukan pengecekan akan semua data & teori tak berbentuk yg kita peroleh.

Oleh karenanya, bukanlah melakukan pilihan atas dua hal tersebut yang krusial, namun justru bagaimana seseorang aktivis bisa menyeimbangkan ke 2 pilihan tersebut menjadi sebuah pilihan yang saling mendukung. Orang tua kiranya tidak mempersoalkan bagaimana si anak menjalani & mengisi masa-masa mudanya, akan tetapi yg terpenting adalah anak sanggup menuntaskan tuntutan orang tua.

(Patricia Siswandi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *