[JALAN-JALAN] Mengunjungi Pengrajin Kreasi Perca Dampingan Dwaya Manikam
By: Date: May 26, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Deta Ratna Kristanti

Foto: dokumentasi Penulis

Pada suatu Jumat siang yang agak mendung di Kota Bandung, saya menaiki angkutan umum menurut Jalan Supratman ke arah Jalan Ahmad Yani. Di Jalan Ahmad Yani, aku kemudian berganti angkutan yg menuju ke wilayah Cicadas. Saya turun di depan sebuah jalan mini , Jalan Asep Berlian. Saya masuk ke jalan tadi, & sesuai petunjuk pesan di telepon seluler saya, aku menuju ke satu alamat: Gang Proklamasi Nomor 3.

Alamat tujuan membawa saya ke sebuah bangunan sederhana serba hijau. Hanya ada satu ruangan seluas lebih kurang lima x 6 meter dengan teras kecil, mirip tempat kerja RW atau posyandu. Saya longok ke pada, terdapat dua orang mak yg sedang berdiskusi. Segera aku mengucapkan salam, kemudian masuk. Saya lalu berkenalan dengan keduanya: Bu Ani dan Bu Nani.

Bu Ani & Bu Nani ternyata sedang menjahit pola-pola batik berbentuk hexagonal sebagai sebuah rangkaian. Untuk apa? Ternyata untuk dijadikan corak sampul kain pembungkus buku notes. Semuanya menurut kain perca. Wah, kok bisa sekreatif itu ya mak -mak ini? Dari mana muncul pandangan baru memanfaatkan perca kain buat menciptakan sampul buku?

Foto: dokumentasi Penulis

Tak usang kemudian tiba 2 orang bunda lagi. Yang seorang bernama mak Iyam, yg satunya dipanggil Ibu Mamah. Ibu Mamah ini tinggal pada Cicalengka, menempuh perjalanan lebih berdasarkan satu jam buat hingga di loka ini. Setelah kedatangan kedua bunda ini, mereka membandingkan hasil kerja masing-masing, mendiskusikannya sembari tangan mereka terus menjahit. Mereka masih menunggu kedatangan teman mereka & seseorang yg mereka tunggu-tunggu.

Tak usang lalu, datanglah seseorang yang mereka tunggu-tunggu. Seorang anak belia bernama Fajar Ciptandi. Rupanya Fajarlah yg mengarahkan dan membimbing gerombolan mak -bunda ini buat berkreasi memakai perca-perca kain. Lewat Fajar juga terkadang ibu-bunda ini menerima pesanan pembuatan kerajinan tangan berdasarkan perca-perca kain, misalnya ketika ini, sampul kitab bercorak heksagonal pesanan mahasiswa ITB. Jika sedang nir ada pesanan, para mak ini membuat asesoris, demikian Fajar menyebutkan kemudian.

Foto: dokumentasi Penulis

Kehadiran Fajar membuat ibu-ibu segera memberondongnya dengan berbagai pertanyaan dan permasalahan masing-masing, misalnya:  “Fajar, ini teh kok ukurannya beda ya,” “Jar, aku teh belum selesai jahit ini..”. Fajar menanggapi dengan senyum dan sabar satu persatu pertanyaan dari ibu-ibu tersebut, sambil kadang berkelakar. Fajar tampak paham betul bagaimana gaya dan pola kerja ibu-ibu ini. Meskipun waktu pengerjaan pesanan tinggal satu minggu, dan pekerjaan yang harus diselesaikan masih banyak, Fajar percaya bahwa ibu-ibu ini dapat menyelesaikan semuanya tepat waktu. Satu per satu kesulitan ibu-ibu ini ia carikan solusinya.

Tiba-tiba seseorang mengucap salam, “Assalamualaikuuum..!” Seorang ibu berkerudung putih datang. Fajar langsung memperkenalkan saya pada Ibu Ida. Sosok ibu yang satu ini lincah dan bersemangat. Bu Ida yang bersemangat langsung menghidupkan suasana dengan cerita-ceritanya. Lengkaplah sudah kelompok ibu-ibu yang berkumpul hari ini. Lima orang semuanya.

Di bawah bimbingan Fajar, sudah hampir dua tahun, kelima ibu ini – kadang berenam– berkumpul rutin seminggu sekali untuk belajar berkreasi dengan perca kain. Ibu Ani, yang ditunjuk sebagai ketua kelompok, sehari-harinya adalah kepala PAUD Anggrek, tempat yang sekarang digunakan ibu-ibu ini berkegiatan. Pagi mengurus PAUD, siang menjadi ibu rumah tangga. Sedang Ibu Nani, adalah sepenuhnya ibu rumah tangga. Anak-anak Bu Nani sudah cukup besar, sudah ada yang menuntut ilmu di bangku kuliah dan satu lagi sudah di SMK.  Bu Iyam lain lagi. Usianya lebih tua dari yang lain. Sehari-hari, kegiatan Bu Iyam mengurus cucu – mengantar dan menjemputnya di sekolah. Sedangkan Bu Mamah, menurut teman-temannya, aktif berbisnis. Ibu Ida, sekarang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Anaknya yang pertama baru masuk kuliah, dan yang kedua duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Menurut Bu Ida, semasa mudanya, ia bekerja di bagian administrasi sebuah pabrik, jadi dia paham tentang pencatatan keuangan. Karena itulah di kelompok inipun, Ibu Ida ditunjuk sebagai pengurus keuangan, kas tabungan ibu-ibu.

Lalu, siapakah Fajar Ciptandi? Pemuda kelahiran 6 Desember 1986 ini adalah seorang mahasiswa Magister Desain ITB yang juga seorang dosen Program Studi Kriya Tekstil dan Mode di Universitas Telkom Bandung. Fajar  merupakan salah satu  Young Changemaker Ashoka tahun 2012. Berkarya dengan kain sudah bertahun-tahun ia tekuni, karena ia juga memiliki sebuah usaha asesoris  kain dan batik bernama Dwaya Manikam. Tahun 2013, Dwaya Manikam mengadakan Dwaya Manikam Start Empathy  yang merupakan sebuah program sosial untuk pemberdayaan komunitas melalui pelatihan peningkatan kapasitas untuk mengubah bahan mentah menjadi produk yang bernilai lebih tinggi (lihat dwayamanikam.blogspot.com). Komunitas yang didampingi oleh Tim Dwaya Manikam adalah ibu-ibu yang ada di daerah Dayeuh Kolot dan Cicadas.

Kelompok Ibu Ani dan kawan-kawan merupakan keliru satu kelompok mak yg didampingi Tim Dwaya Manikam yg bertahan hingga saat ini. Menurut Fajar, pada wilayah Cicadas sebetulnya terdapat beberapa kelompok ibu yang ia dampingi, tempat kegiatannya berbeda-beda. Dalam seminggu, Fajar mengatur jadwal buat mengunjungi grup ibu yg tidak sama. Kalau begitu, mengapa nir disatukan saja?

“Setiap kelompok ibu sudah cocok dengan anggota kelompoknya, sudah kayak se-gank gitu, “ imbuh Fajar, “Jadi daripada disatukan malah nggak cocok, ya mendingan saya saja yang ke sana kemari.” Pernyataan ini diamini Ibu Ani dkk. “Pokoknya kita mah udah cocok banget deh, nggak pernah berantem!” kata Ibu Ida dan Ibu Mamah saling menimpali. Ya, mereka memang sudah akrab sekali. Sambil bekerja mereka saling bercerita, kadang curhat pada Fajar tentang kehidupan sehari-hari mereka.

Di Gang Proklamasi, juga ada  ibu-ibu lain. Awalnya banyak  ibu  mengikuti kegiatan berkreasi dengan perca kain ini. Namun seiring berjalannya waktu, hanya segelintir ibu itu saja yang bertahan untuk terus menekuni kegiatan ini. Menurut Ibu Ani dkk, mereka sudah berusaha mengajak ibu-ibu yang lain untuk kembali terlibat, tapi mereka tidak datang lagi. Menurut Ibu Ani dkk., mungkin ibu-ibu yang lain  belum melihat manfaat dari kegiatan ini. Bagi Bu Ani dkk., kegiatan ini berguna, untuk menambah pemasukan, bisa saling berbagi serta mengisi waktu luang mereka sebagai ibu rumah tangga.

Foto: dokumentasi Penulis

Cita-cita Ibu Ani dkk. Ke depan adalah memiliki sebuah unit usaha yg sanggup berjalan rutin, misalnya membuka warung atau berjualan pulsa. Namun, mereka masih berjuang mengumpulkan kapital sedikit-sedikit berdasarkan output membuat kreasi perca kain. Ibu Ani dkk. Yakin, suatu ketika nanti, mereka bisa memperoleh penghasilan mandiri berdasarkan kreasi kain perca yg mereka buat saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *